
Rapat dewan direksi Group Wilson.
Robert bersikap angkuh di hadapan pemegang saham yang lainnya. Ia tak henti-hentinya mengoceh jika Dave sudah meninggal. Suasana pun menjadi riuh, apalagi Dave sudah satu bulan lebih tidak menampakkan batang hidungnya di Group Wilson, bahkan kepemimpinan nya sebagai CEO di pegang langsung oleh ketua Group Wilson yaitu kakek John.
Para pemegang saham mulai curiga kala Robert menunjukan video CCTV vila luxury yang tidak lain adalah kediaman Dave. Disana Keisya terlihat beraktivitas seperti biasa namun tidak ada Dave. Hanya hampir semua sudut ruangan di Villa luxury di tampilkan di dalam video yang di bawa Robert. Namun, semua isi kamar tidak bisa terlihat karena privasi.
“Bagaimana ini, apa anda menyembunyikan kenyataan bahwa cucu anda telah meninggal, Tuan John?” Tanya salah satu pemegang saham dengan nada tinggi.
“Sudah ku katakan cucuku berlibur, kenapa kalian meributkan seseorang yang sedang berlibur?” Balas kakek John datar.
Robert berdecih, “Sudahlah, paman. Paman tidak perlu menutupinya lagi.” Robert melirik anak buahnya agar memutar rekaman video yang selanjutnya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan rapat melihat ke arah layar lebar. Disana terlihat sebuah mobil membanting setir dan masuk ke jurang lalu terbakar.
“Mobil siapa itu?”
“Seperti mobil mewah.”
“Ya, tentu saja mobil mewah. Itu adalah mobil milik CEO kita.” Ucap Robert.
“Apa?” Kaget, semuanya menjadi kaget. Hanya kakek John yang terlihat tenang bahkan santai. Kakek John menyangga dagunya dengan kedua tangan melihat video itu dilayar lebar.
“Apakah itu mobil tuan Dave? Kalau begitu apakah yang didalam nya tuan Dave?” Beberapa mulai bertanya-tanya siapa sosok yang mengendarai mobil itu dan apakah orang itu selamat atau tidak.
“Kalian tentu tau siapa yang di dalamnya, orang yang menyetir mobil itu adalah CEO kita, Dave Wilson. Dia ikut terbakar mobil yang meledak.” Kata Robert serius.
Semua orang langsung menatap ke arah kakek John usai Robert mengatakan hal tragis tersebut.
“Mana mungkin, jika cucu ku yang berada di dalam mobil itu kalian pikir aku masih bisa duduk tenang disini?” Ucap Kakek John.
“Haha, mau sampai kapan paman menyembunyikan kenyataannya. Harusnya paman jujur saja agar kita bisa ikut mendoakan cucu tersayang paman.” Usul Robert.
Kakek John mengibas-ibaskan tangannya. “Aku tau kau orang yang tulus, tapi itu bukan Dave. Mana mungkin Dave mati meninggalkan anak istrinya.”
“Jika yang mati bukan Dave, apa paman bisa menjelaskan siapa yang ada di dalam mobil itu?Mustahil selamat dari kecelakaan tragis itu!” Robert sengaja memojokkan Kakek John.
“Betul.”
“Kalian tamya sendiri saja dengan yang bersangkutan.” Jawab kakek John.
“Maksud paman apa?” Robert bingung sekaligus was-was.
Brak.. pintu ruang rapat terbuka lebar, di buka oleh dua orang Bodyguard. Terdengar suara sepatu pantofel dan langkah kaki yang berwibawa.
“Selama siang semunya, apakah saya terlambat?”
Jeng .. Jeng ..
“D-Dave?” Robert terbata-bata melihat Dave masuk ke ruang rapat dengan gagahnya terlihat sehat bugar tanpa luka sedikitpun.
“Sudah lama tidak bertemu, paman.” Sapa Dave sambil tersenyum devil.
Glek.. Robert menelan salivanya sendiri. Ia seakan harus siap mempersiapkan lubang untuk kuburannya sendiri..
.
.
.
*Hai guys, aku usahakan up rutin meskipun tipis-tipis yaa.. Sampai end season dua. Terimakasih untuk dukungannya semuanya **🥰*