My Dave

My Dave
S2 Villa luxury



Flash back on malam sebelum rapat dewan direksi di Group Wilson.


Suasana Villa luxury menjadi menegangkan saat Dave tiba-tiba muncul dan memerintahkan Alex untuk mengumpulkan semua maid dan pengawal yang selama ini bekerja di Villa luxury.


“Dave, ada apa ini?Kenapa kau mengumpulkan mereka semua?” Keisya yang mendengar ribut-ribut pun keluar dari kamarnya menuju ruang tengah tempat Dave mengumpulkan semua pekerja.


“Aku hanya menertibkan mereka, kenapa kau keluar kamar?Apa Boy sudah tidur?” Melingkarkan tangannya di pinggang Keisya dan merengkuh perempuan itu. Dave berubah menjadi lelaki yang lembut saat di hadapan Keisya tidak seperti beberapa saat yang lalu.


“Aku meninggalkan nya bersama Manda karena mendengar keributan.”


“Kembalilah ke atas sayang, temani Boy. Aku akan menyusul setelah menertibkan mereka.” Titah Dave sambil mengecup puncak kepala Keisya.


Keisya pun mengangguk, “Baiklah.”


Dave melepaskan tangannya dari pinggang Keisya saat perempuan itu berjalan kembali menuju kamarnya.


Setelah memastikan Keisya masuk kedalam kamar, Dave mulai melanjutkan aktivitasnya. Semua maid dan para pekerja pun sudah berkumpul.


“Silahkan Tuan.” Jack mempersilahkan Dave untuk duduk di kursi yang sudah ia siapkan.


Dave pun langsung duduk di kursi itu dan menyilangkan satu kakinya diatas kaki yang lain. Saat duduk pun aura Dave tetap terlihat berwibawa dan sedikit menakutkan jika dilihat saat ini.


“Alex..” kata Dave sambil memberi perintah lewat sorot matanya. Alex mengangguk paham.


“Apa kalian tau kenapa kalian di kumpulkan sekarang?” Tanya Alex pada para pekerja.


Semuanya menggelengkan kepala.


“Baik, saya tidak akan banyak bicara. Silahkan siapa pun yang saat ini menjadi mata-mata maju ke depan!” Tegas Alex dengan suara lantang.


Satu detik, dua detik hingga satu menit berlalu. Tidak ada satu pun yang maju.


“Ck.. kalian pikir dengan tidak mau kalian akan lolos?”


Beberapa maid memandang iba kepada pak Moo seakan meminta pertolongan. Beberapa juga mengatakan bahwa mereka bukan mata-mata dari sorot mata mereka.


“Tuan Dave, sepertinya tidak ada mata-mat -.”


Dor...!


Belum selesai pak Moo berbicara satu tembakan lolos begitu saja dari pistol yang Dave pegang.


“Auwh.” Rintih seorang perempuan.


“Stevi??Dave!!”


Deg!!


Shitt! Sial.


Dave menoleh ke lantai dua, firasatnya tidak pernah meleset. Keisya pasti tidak mendengarkan perintah Dave dan mengintip.


Bruk..


“Key..” Dave langsung beranjak dari duduknya berlari menuju lantai dua dimana Keisya jatuh tak sadarkan diri.


“Key, sayang?” Merengkuh Keisya, menopang bagian tengkuk belakang Keisya dengan lengannya. Dave menepuk-nepuk lembut pipi Keisya namun tak ada reaksi apapun dari perempuan itu.


“Panggil dokter!” Teriak Dave.


Dave mengangkat tubuh Keisya dan merebahkannya di sofa. Ia kemudian memberi aroma terapi di hidung Keisya berharap agar istrinya itu sadar.


Sementara di ruang tengah, Stevi nampak kesakitan saat lengan kanannya tertembak. Stevi ketakutan mendengar ancaman dari Alex, ia berusaha untuk menelan pil racun yang ia bawa namun sayang Dave melihat gerak gerik Stevi. Sebelum perempuan itu meminum pil yang dia bawa Dave sigap menembak lengan Stevi. Dave sendiri memang sudah memprediksi hal ini akan terjadi, oleh sebab itu Dave membawa pistol di sakunya.


“Kalian lihat!! Apa yang didapat oleh seorang mata-mata!” Alex menjambak rambut Stevi yang sedang kesakitan memegangi lengannya tanpa rasa belas kasihan di hadapan para pekerja.


Semua orang ketakutan, mereka berharap tidak ada lagi mata-mata agar tidak ada tontonan seperti ini.


“Auwh, sakit Alex.” Ringis Stevi.


“Masih tau sakit rupanya?” Alex semakin kuat menjambak rambut Stevi, pak Mo bahkan sampai memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat penganiayaan yang dilakukan Alex.


“Ampun Alex.” Iba Stevi.


“Hei, kalian.. Bawa perempuan ini ke ruang bawah tanah, tuan Dave sendiri yang akan menentukan hukumannya.”


“Ba-baik, Tuan.” Dua pengawal dengan cepat menuruti perintah Alex.


“Pak Mo, disiplinkan mereka semua.” Lalu Alex memberi perintah pada pak Mo.


***


“Bagaimana keadaan istri ku?”


“Tidak papa, Tuan. Nyonya akan sadar sebentar lagi, nyonya hanya terlalu terkejut hingga tak sadarkan diri.” Balas dokter maya.


“Baiklah.”


Dokter maya pun pamit is antar oleh Jack.


“Apa yang terjadi, kak?Kenapa kak Keisya sampai tidak sadarkan diri?” Tanya Manda khawatir. Setahu Manda awalnya Keisya baik-baik saja, Keisya hanya menitipkan Boy padanya karena Keisya akan menemui Dave. Tidak tahunya Keisya malah semaput.


“Ceritanya panjang, kakakmu melihat aku menembak Stevi.” Jawab Dave.


“Astaga.. Kenapa kak Dave ceroboh sekali? Kakak ipar tau ‘kan, seberapa lemahnya kak Keisya dengan kekerasan.” Manda pun tidak menyangka Kakak ipar nya itu bisa se ceroboh itu.


“Sudahlah, aku memang salah.”


“Lain kali, lakukan di ruang bawah tanah saja.” Kata Manda mengingatkan.


Manda memang tidak seperti Keisya yang lemah. Dia lebih bisa memahami karakter kakak iparnya yang beringas, karena dirinya pun termasuk perempuan bar-bar.


“Malam ini Boy tidur dengan mu, aku perlu mengurus Keisya.”


“Tidak masalah.”


***


Juan dan James baru saja tiba di Villa luxury, ia langsung menuju kamar Keisya saat tau Keisya tidak sadarkan diri.


“Siapa yang memberitahu kalian?”


“Pak Mo.” Jawab James dan Juan serentak.


“Kak Keisya baik-baik saja, hanya perlu istirahat. Ayo keluar, kalian disini justru mengganggu istirahatnya.” Ajak Manda pada si kembar.


“Ta-tapi..” James hendak menolak namun Juan paham maksud Manda. Juan langsung menyeret kembarannya keluar dari kamar Keisya.


Sementara Manda, ia mengambil Boy dari box bayinya dan menggendong bayi gembul itu mengikuti Juan dan James.


“Kenapa dia bersamamu?” Tanya Juan melihat Boy di gendongan Manda.


“Dia akan tidur bersamaku malam ini, kak Dave harus menjaga kak Keisya, dia dititipkan padaku.” Sambil mengecup pipi Boy. Bayi gembul itu menggeliat saat merasakan sesuatu menempel di pipinya namun bayi itu tidak membuka mata nya.


“Biar dia tidur bersama kami saja.” Ucap James.


“Memang kalian bisa menenangkannya saat terbangun?”


“Bisa!” Jawab Juan cepat yang langsung diangguki oleh James.


“Bisa membuat susu?”


“Bisaa!”


“Mengganti popok?”


“Em, itu..” Juan dan James saling pandang lalu menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu dia tidak bisa bersama kalian.” Ucap Manda menang.


“Sayang sekali.” Keluh James.


“Mulai besok, aku akan belajar mengganti popok.” Kata Juan serius.


James menggelengkan kepalanya, “Sepertinya aku tidak, aku tidak tahan bau pipis.” Ucap James.


Manda berlalu dengan Boy menuju kamarnya. Sampai di kamar, Manda meletakan Boy di ranjang. Manda juga memberikan pembatas berupa guling dan bantal untuk melindungi Boy disisi kanan Boy tidur. Sementara Manda tidur di sisi kiri Boy.


“Selamat tidur jagoan,” sekali lagi mengecup pipi gembul bayi itu dan membenarkan selimutnya.


.


.


.


Stevi mata-mata siapa ?? Besok yaaa atau lusa.. se Selo aku ..