
“Bibi kenapa menangis?” Manda lupa jika saat ini di apartemen nya tidak hanya dia sendiri. Ada Boy dan juga Sasya.
Sasya menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, sementara Boy kala itu langsung berlari ke arah pintu menyambut kedatangan Manda. Tak di sangka, Boy malah melihat bibi tersayangnya pulang dengan keadaan wajah sembab dan ingus yang masih tersisa di sekitar an hidung Manda.
“Bibi tidak menangis, Boy. Hanya kelilipan.” Sanggah Manda.
“Memang ada kelililipan yang menyenbabkan ingusan?” Tanya Boy heran.
Manda memandang Sasya, sorot matanya meminta bantuan agar Sasya menjauhkan Boy dari dirinya. Sasya mengangguk paham, lalu berjalan ke arah Boy dan menyentuh kedua pundak Boy. “Sayang, bibi Manda pasti lelah. Bagaimana kalau kita pergi ke supermarket membeli Ice Cream saja?” Bujuk Sasya.
“Ice Cream vanila?”
“Iya, apapun yang Boy mau.”
“Tapi mommy melarang Boy makan Ice Cream di malam hari.” Teringat ucapan Keisya, ‘Jangan makan Ice Cream malam hari ya Boy, nanti kamu gendut an.’
“Tapi mommy mu tidak ada disini sekarang, bibi Sasya akan menjaga rahasia makan Ice Cream agar mommy Kei tidak tau. Bagaimana?”
“Janji?”
“Janji.”
Sasya menggandeng tangan Boy dan berjalan ke keluar dari apartemen, ia menepuk kecil bahu Manda. “Ceritakan nanti.” Ucapnya lembut. Manda mengangguk, “Terimakasih, Sya.”
**
Ting tong ting tong ting tong.. bel apartemen Manda tak berhenti berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu. Manda sengaja mengacuhkan nya, karena ia tahu siapa yang bertamu.
“Apa masih lama?” Tanya Jasson tidak sabaran pada Harry yang ia minta untuk membobol pasword masuk apartemen Manda.
“Sebenarnya lagi, Tuan.” Dan, seperti kata Harry. Pintu itu terbuka.
Klik.. “Silahkan, Tuan.” Kata Harry mempersilahkan tuannya masuk.
“Kau memang selalu bisa diandalkan, Harry.” Puji Jasson bangga pada asisten serba bisa nya.
“Terimakasih atas pujiannya, Tuan.”
“Pulanglah, hari ini kau bisa istirahat lebih awal.”
Habis manis sepah di buang. Begitu yang Harry fikirkan saat ini, setelah ia berhasil membobol pintu apartemen Manda, Jasson dengan santainya mengusir Harry.
“Baik, Tuan.”
Harry pamit undur diri sambil mendumel di sepanjang perjalanan, “Nasib bawahan di panggil saat di butuhkan, di usir saat tidak di perlukan.”
Sementara di dalam apartemen Manda, Jasson perlahan mendekat ke ruangan dengan pintu yang ditutup namun tidak rapat, pintu yang sepertinya kamar Manda.
Perlahan Jasson mendorong pintu kamar itu dan menerobos masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Manda tengah meringkuk di atas tempat tidur sambil menangis sesenggukan.
“Menerobos masuk ke apartemen orang lain tanpa izin bukankah adalah tindak kriminal?” Sindir Manda yang menyadari kehadiran Jasson.
Jasson mempercepat langkahnya mendekat tempat tidur dan duduk di bangku sebelah tempat tidur dengan posisi menghadap Manda. Kedua tangannya ia lipat dan letakkan di atas pupu.
“Jika kau menganggapku seorang penjahat, maka kau bisa memenjarakan diriku.” Kata Jasson tenang.
Cih.. Manda berdecih, “Kamu memang penjahat!” Seru Manda.
“Ya aku tau.” Tangan kanan Jasson meraih punggung Manda sedikit menariknya agar gadis itu menghadap kearahnya. Posisi Manda saat ini meringkuk dengan memunggungi Jasson. “Sayang, tidakkah kita perlu bicara?”
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kau sungguh pria tidak tau malu.” Tangan Jasson masih tertahan di bahu Manda karena gadis itu bersikukuh tidak mau merubah posisinya.
Jasson tidak kehilangan akal, dia beralih duduk di tepi tempat tidur. “Jika kau tidak bangun, aku akan menciummu!” Ancamnya terdengar serius. Dan, ancaman Jasson cukup berpengaruh. “Apa maumu?” Manda bangun dari tidurannya menjauh kan diri dari Jasson. Manda turun dari tempat tidur dan memilih pergi keluar dari kamar. Jasson mengikuti kemana langkah kaki Manda yang berakhir di ruang tamu.
“Jangan dekat-dekat!” Memberi jarak dengan meletakan bantal sofa di tengah-tengah mereka.
Jasson mengalah, “Baiklah. Aku tidak akan mendekat asal kau mau bicara denganku.”
“30 menit.” Tawar Jasson.
“5 menit.”
“Baiklah, 20 menit.” Lagi-lagi Jasson harus mengalah dari pada ia di usir oleh Manda.
Tik tok tik tok .. jarum jam berjalan sebagaimana mestinya namun Jasson tak kunjung memulai pembicaraan. Lelaki itu justru membisu dan malah menatap wajah cantik Manda yang sembab.
“Jika kau tidak mau bicara, pergi saja!”
“Kenapa kau menangis?” Jari jemari Jasson menyentuh lembut bagian pipi Manda hingga lingkaran bawah mata. Seakan lelaki itu menghapus sisa air mata yang tertinggal di bawah Manda.
Sial, aku membencinya tapi aku merindukan sentuhan lembut nya. Umpat Manda kesal di dalam hatinya. Manda tidak bisa berbohong jika ia sangat amat merindukan sentuhan lembut Jasson.
Manda membiarkan saja jari jemari Jasson menelusuri setiap inchi bagian wajahnya.
“Aku sungguh merindukan wajah cantik ini.” Ucap Jasson lirih.
Manda melengos saat Jasson menatap dalam padanya. “Kau pembual yang ahli.” Ketus Manda.
“Tidak, aku adalah pria yang mencintaimu.”
“Pembohong.”
“Lihat aku.” Tangan kiri Jasson merah wajah Manda agar ia menatap kearahnya, dibimbingnya wajah Manda menatapnya. Ditatapnya lembut perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Hening, keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Sampai ketika Jasson mulai mendekatkan wajahnya, Manda tersadar dan mendorong keras tunggu Jasson hingga pria itu terjungkal dari sofa.
Brukk..
“Kenapa kau mendorongku?” Jasson terkesiap saat bokongnya menyentuh lantai yang keras.
“Kau pikir bisa menipuku?” Manda tersenyum meremehkan. Hampir saja gadis itu kalah dan jatuh pada rayuan Jasson.
Tidak semudah itu Jasson! Kau perlu di beri pelajaran. Batin Manda.
“Dasar perusak suasana.” Gerutu Jasson kesal sambil berdiri dan mengelus elus bokongnya.
***
1 jam kemudian, Manda mengunci diri di dalam kamar sementara Jasson enak-enakkan menonton televisi di ruang tamu saat Boy dan Sasya kembali ke apartemen.
“Paman Jasson?!”
“Hai, jagoan kecil paman.” Merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Boy yang langsung menghambur ke pelukan Jasson.
“Paman menemui bibi Manda?” Tanya Boy. Jasson mengangguk mengiyakan.
“Dimana Manda?” Tanya Sasya. Kini Sasya bisa menebak dengan jelas apa yang membuat Manda menangis. Jasson hanya menjawab dengan mengarahkan kepalanya ke kamar Manda. Dengan isyarat seperti itu Sasya cukup paham dan langsung berjalan menuju kamar Manda.
**
“Tamu tak di undang itu yang tadi kau tangisi?” Tebak Sasya sambil menutup rapat pintu kamar Manda agar percakapan mereka nantinya lebih privasi. Manda menoleh dan tersenyum tipis, “Kau sudah pulang?” Bukan menjawab justru bertanya hal lain.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Amanda Louis! Kenapa Jasson bisa datang? Apa dia sudah menjelaskan semuanya?” Cecar Sasya.
Manda mengangguk, “Ya, dia sudah menjelaskan semuanya. Sama seperti yang kak Dave katakan. Hanya saja aku sulit menerima penjelasannya.” Jawab Manda.
“Tapi kau bahagia ‘kan dia akhirnya kembali?”
.
.
.