
Di markas King..
“Semuanya sudah siap, Tuan.”
“Oke!”
‘Aku akan menjemputmu sayang. Tunggulah, aku.”
Suara berisik beberapa helikopter mendarat di markas King. Dave berjalan kearah helikopter itu di ikuti oleh Leo dan Alex, juga 50 anak buahnya yang sudah berpakaian lengkap dengan rompi anti peluru dan senjata api.
📲 Dave: Jangan berulah, aku akan menjemput kakakmu.
📲 Manda: Siap 👌
Setelah mengirim pesan pada adik iparnya Dave mamatikan ponselnya. Ia menerima earpiece dari Alex dan memakainya. Alat itu akan digunakan untuk berkomunikasi dengan anak buahnya selama penjemputan Keisya. Padahal belum tentu Keisya mau di ajak pulang.
***
“Farhan!”
“Kenapa lagi?”
“Aku lapar.” Ucap Keisya memelas.
“Lapar lagi?Astaga Kei, kau baru saja makan satu jam yang lalu.” Farhan yang baru saja setengah jalan itu akhirnya berbalik kembali menghampiri Keisya.
“Kau tidak tau wanita hamil nafsu makannya tinggi!”
“Makanya aku bilang kau harus makan nasi!Agar rasa kenyangmu lebih lama.” Farhan sudah berdiri di hadapan Keisya.
Keisya pun bangkit dari sofa tempat dimana ia duduk. “Ya, sudah.” Keisya berlalu meninggalkan Farhan.
“Mau kemana?Katanya lapar?”
“Sudah tidak berselera.” Keisya berlari menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya di lantai 2.
“Hei.. hati-hati kau sedang hamil.” Teriak Farhan.
Sampai di kamar Keisya naik keranjang lalu masuk ke dalam selimut, ia mulai menangis.
‘Coba saja ada Dave, dia pasti akan melakukan apapun untuk anaknya.’ Batin Keisya.
Keisya masih terus menangis dibalik selimut karena merasa sangat lapar, cacing-cacing di dalam perutnya sudah menari-nari tanpa permisi.
“Apa salahku, apa salah jika wanita hamil lebih sering merasa lapar hiks hiks.” Meskipun lirih suara Keisya masih cukup terdengar oleh Farhan yang baru saja masuk ke kamar dengan nampan di tangannya.
“Bukan salahmu, aku yang salah.” Farhan meletakan nampan berisi sepiring roti bakar di meja kaca pelengkap sofa yang ada di kamar Keisya.
Farhan lalu berjalan mendekati Keisya dan duduk di tepi ranjang. Ia berusaha menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Keisya. Selimut itu di pegang erat oleh Keisya hingga Farhan pun menyerah. “Maafkan aku, Kei.”
“Untuk apa kau kesini?Aku tidak mau bicara denganmu!”
“Aku membawakan mu roti bakar dan susu hangat.”
Keisya pun membuka sedikit selimutnya, terlihat kepalanya menyembul dari balik selimut.
Farhan tersenyum melihat wajah Keisya yang masih sembab. “Kenapa hanya mau makan saja menangis?lihat ingusmu itu.” Goda Farhan.
Keisya langsung mengambil tisu di nakas sebelah tempat tidurmu untuk mengelap sisa air mata di wajahnya. “Aku tidak mengeluarkan ingus.”
“Baiklah, baiklah.” Farhan berbalik mengambil piring yang penuh dengan tumpukan roti bakar.
“Aku bisa sendiri.” Keisya merah roti bajar di tangan Farhan, ia tidak mau Farhan menyuapinya.
Keisya langsung memakan roti bakar itu dengan sangat lahap, sementara Farhan masih duduk di kursi sebelah ranjang Keisya, menemani Keisya memakan roti bakar itu sampai habis.
“Keluarlah!Aku ingin mandi.” Ketus Keisya agar Farhan keluar dari kamarnya. Sudah 2 jam berlalu setelah Keisya menghabiskan roti bakarnya, tapi Farhan tidak kunjung keluar dari kamarnya. Farhan justru terlihat bekerja di sana, dia sibuk dengan laptopnya.
“Baikah.” Farhan bangkit dari sofa yang ia duduki, keluar dari kamar Keisya seraya menawa laptopnya.
.
.
Bersambung..
Mampir ya guys..