
“Apa Farhan memperlakukan mu dengan baik?”
“Dia tidak pernah sekali pun tidak memperlakukan ku dengan baik.” Jawaban Keisya membuat Dave cemburu.
“Tidak perlu cemburu, aku hanya mencintaimu.” Keisya memeluk suaminya lembut.
Krucuk..krucuk.. Tiba-tiba saja perut Keisya berbunyi. “Kau lapar sayang?”
Keisya mengangguk, ia beranjak dari duduknya dan mengajak Dave pergi kedapur.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Pak Mo berdiri diambang pintu dapur.
Dave menatap Keisya. “Tidak, Pak Mo bisa istirahat saja. Aku ingin memasak sendiri.” Balas Keisya.
Dave melambaikan tangannya agar pak Mo menjauhi mereka. “Apa kau bisa memasak?” Keisya menatap suaminya penuh harap.
“Em..” Dave menggelengkan kepalanya pelan. “Tapi aku bisa memasak Mie instan.”
Keisya hampir tertawa mendengar perkataan suaminya. “Semua orang bisa memasak Mie instan Dave.”
“Tapi akan berbeda jika aku yang memasaknya, sayang.” Dengan sigap Dave membuka kulkas mencari-cari Mie instan.
“Bukan disana tempatnya, Dave!Tapi disini!” Keisya mengambil Mie instan dari laci yang menelan pada dinding.
Seraya menunggu Mie Instan siap dimakan. Keisya mengajak Dave untuk bermain di dapur. Entah apa yang mereka lalukan sampai membuat Keisya begitu serius menatap jari jemarinya.
“Aaa .” Dave menyuruh Keisya untuk membuka mulutnya. Ini mungkin kali pertama Dave menyuapi Keisya.
Keisya menikmati setiap perhatian dari Dave dengan suka cita. “Aku harus keluar negeri minggu depan, Kei.” Ucap Dave di sela-sela kegiatannya menyuapi Keisya.
“Apa akan lama?”
“Mungkin, satu minggu. Apa kau keberatan?”
“Tidak, pergilah.”
“Aku tau, jangan khawatirkan aku. Ada Manda dan kakek bersamaku, kau fokus saja pada pekerjaanmu.” Sejujurnya Keisya tidak mau jauh dari Dave, ia masih takut kejadian penculiknya terluang lagi. Apalagi sampai saat ini Dave masih belum menemukan keberadaan Farhan.
Tapi Keisya mencoba menutupi ketakutannya, ia paham posisi Dave di perusahaan. Tanggung jawab yang di pikul Dave sangat besar, kesejahteraan beribu-ribu karyawan ada di tangan Dave. Keisya tidak boleh egois, hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Apa kau mau ikut bersamaku?” Tanya Dave, ia bisa melihat dengan jelas raut kekhawatiran di wajah Keisya.
Keisya menggelengkan kepalanya, bukanya tidak mau ikut tapi tidak bisa ikut. “Apa kau lupa, dokter memintaku untuk tidak bepergian jauh karena kandunganku yang lemah.”
Dave pun mengingat apa yang di katakan dokter mega kemarin. Apalagi Keisya belum sepenuhnya istirahat setelah menempuh perjalanan jauh dari kastil Farhan sampai ke Villa.
“Aku ingat.” Jawab Dave lesu.
“Sudahlah, aku baik-baik saja. Lagipula kau hanya pergi seminggu kan?” Keisya mengelus bahu suaminya, meyakinkan Dave bahwa ia akan baik-baik saja selama Dave keluar Negeri.
“Kau harus membawa pengawal kemanapun pergi?” Dave ingat saat pertama kali meninggalkan Keisya, bagaimana Lusi mencelakai Keisya sampai Keisya keguguran.
Dave tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali, apalagi kali ini kandungan Keisya sudah terlihat. Meskipun Dave tidak tau siapa musuh yang sedang mengintainya sekarang, tapi ia akan tetap waspada jika itu menyangkut Keisya dan calon anaknya.
“Aku akan selalu membawa Stevi dan beberapa pengawal bersamaku.” Ucap Keisya.
“Aku janji!” Keisya mengangkat jari manisnya dan mengaitkan nya pada jari manis Dave.
Suara ribut dari pintu utama menggangu ketenangan Dave dan Keisya.
“Kenapa ribut sekali?” Gerutu Dave.
.
.
.
Bersambung..
Aku update sedikit, maaf yaa. Hari author banyak kerjaan di dunia nyata..🙏