My Dave

My Dave
Group Wilson



Semua mata tertuju pada laki-laki tua yang tengah berjalan dengan elegan itu. Laki-lali tua itu digandeng oleh perempuan muda yang sangat cantik dengan balutan dress putih selutut dan rambut terurai lurus. Ada hiasan jepitan di rambutnya menambah perempuan itu semakin cantik saja.


“Ketua?” Dewan Ye menyambut kedatangan lelaki tua.


Lelaki tua itu sudah berada di depan Keisya. “Lepaskan Cucu menantuku!.” Tegas lelaki tua itu pada dua orang yang dari tadi memegangi tangan Keisya berniat menjebloskan Keisya ke penjara.


Dewan Ye menatap tajam Sena, seakan sedang bertanya pada Sena melalui telepati batin. “Jelaskan apa yang terjadi?” Begitulah kira-kira pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh dewan Ye pada putrinya.


Kedua orang bawahan dewan Ye sudah melepaskan tangan Keisya. “Kakak, apa kakak baik-baik saja?” Ucap perempuan muda yang sedang bersama laki-laki tua yang tidak lain adalah Manda.


“Apa kau baik-baik saja nak?” Tanya Lelaki tua yang biasa di sapa Kakek John.


“Aku tidak papa Kek.”


Kakek John pun menatap tajam dewan Ye. Dewan Ye yang menyadarinya langsung mendekat membual pada Kakek John. Tapi sayang sekali Kakek John sudah tidak peduli lagi. Kakek menyuruh Dewan Ye dan Sena untuk berlutut seraya meminta maaf pada Keisya.


“Tidak mau!Aku tidak sudi minta maaf padanya!” Ketus Sena.


Dewan Ye berbisik di telinganya Sena. “Kau jangan berulah lagi!Kau tidak tau kita berurusan dengan siapa?Apa kau mau jatuh miskin?” Bisik dewan Ye pada putrinya penuh dengan penekanan.


“Ayah, aku tidak mau merendahkan diriku hanya untuk meminta maaf pada perempuan j*la*ng itu.” Sena tetap kekeh pada pendiriannya. Ia tidak mau meminta maaf pada Keisya.


Manda penuh amarah mendengar kakak kesayangannya di sebut ja*ang oleh Sena. “Apa katamu?Kau sebut kakakku apa?”. Manda sudah hampir menampar Sena jika tidak dihentikan oleh Keisya.


“Sudahlah Manda, Kakak tidak papa.” Lirih Keisya memegangi tangan Manda.


Sena masih saja menatap sinis pada Keisya, dia tidak menyadari situasinya. Dewan Ye mengancam Sena akan menarik semua fasilitas Sena jika tidak mau meminta maaf pada Keisya. Dengan berat hati Sena pun mengikuti kemauan ayahnya. Dia dan ayahnya hendak meminta maaf pada Keisya. Mereka bersiap untuk berlutut.


Keributan yang terjadi pun terdengar sampai di ruang pribadi dimana Dave sedang bersama klien. Mendengar ada keributan Dave dan kliennya langsung mengakhiri pertemuan mereka dan mencari sumber keributan.


“Ada apa ini?” Tanya Dave di balik kerumunan orang-orang. Dave berjalan mendekat, dia melihat Keisya yang berdiri dengan gaun kotor dan didepannya ada dua orang bersiap berlutut. “Sayang, apa yang terjadi?Kenapa gaun mu kotor?” Tanya Dave saat sampai di sebelah Keisya. Dave menyadari ada sosok tak asing di sebelah adik iparnya. “Kakek?!Apa yang kakek lakukan disini?” Dave melotot pada kakeknya.


“Memangnya apa lagi?Kakek menyelamatkan cucu menantuku yang hampir di seret ke penjara!” Tegas Kakek John.


Dave mencari-cari sosok pengawal Keisya. “Stevi!Apa yang terjadi?”


Stevi pun menceritakan kejadiannya, apa yang dialami Keisya dari awal sampai akhir. Sampai kakek John dan Manda datang.


Dave murka setelah mendengar cerita dari Stevi. “Alex bereskan kekacauan disini!” Titah Dave pada Alex. Alex dan anak buahnya segera menyeret Sena dan Dewan Ye meninggalkan ruangan.


Setelah kekacauan di bereskan Manda menemani Keisya untuk berganti gaun. Sementara Dave bersama Kakek John.


“Kakek, Jelaskan padaku!”


“Nanti saja dirumah, aku sedang sibuk sekarang!” Kakek John tengah duduk di sudut ruangan acara, menempati tempat duduk yang sudah disiapkan untuk para petinggi Group Wilson.


“Sibuk apa?Dari tadi kakek hanya duduk disini.”


Kakek beranjak dari duduknya. “Ini aku mulai sibuk. Aku akan menyapa kolega lamaku. Kau sebaiknya jemput istrimu diruang ganti!” Ucap kakek santuy berlalu meninggalkan Dave untuk menyapa para tamu yang datang.


Dave melirik Leo yang berdiri di dekat tempat duduknya. Seakan tau arti lirikan Dave, Leo pun bersuara. “Saya benar-benar tidak tau Tuan besar sudah kembali!” Ucap Leo dangan mengangkat dua jarinya.


“Sudahlah!”


.


.


.


.


Bersambung ..


1 Bab lagi nanti malam yaa ..