My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
99



"Kau menerima sebuah surat? " tanya Hasna seperti sedang menginterogasi tersangkanya.


Fajri fokus pada jalanan.


"Apa isinya? " tanya Hasna lagi.


Fajri masih diam.


"Kau menyembunyikan sesuatu dari ku? " Hasna mengutarakan dugaannya.


Fajri masih berpura-pura fokus pada jalanan. Hasna memperhatikan jalan dan kemudian menginjak remnya. Fajri marah dengan tindakannya, kali ini dia yang menatap tajam pada Hasna.


"Kau gila? " seru Fajri.


"Ini jalan pedesaan, tidak ada mobil lain dan kita sudah hampir sampai di dekat rumah ayah. Kau berpura-pura fokus pada jalan dan mengabaikan pertanyaan ku. Kau jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Apa itu? Apa isi suratnya yang membuat mu mengebut seperti ini? Apa yang begitu membuat mu terganggu hingga kau harus memeriksa rumah ayah? " ucap Hasna.


Fajri menghela tapi dia tetap menghindari pandangannya dari mata Hasna.


"Tidak terlalu penting" jawabnya.


"Kau tidak menatap ku saat mengatakannya, kau bohong" jawab Hasna.


Fajri kalah dan menatap Hasna.


"Apa ayah meminta mu menemui Wira jika kau menginginkan sesuatu? " Fajri malah bertanya.


"Apa Wira? Menginginkan apa? " Hasna tak mengerti.


"Ya benar, ayah tak pernah membicarakan Wira padamu" ucap Fajri.


"Apa ayah tahu aku pernah membantunya dalam sebuah kasus? Aku rasa tidak, Ayah bahkan tidak tahu kalau aku lulus karena kasus itu" jelas Hasna.


Fajri mengambil nafas panjang seraya menatap Hasna.


'Apa? Secara tidak langsung Wira sudah membantunya dan melancarkan semua balas dendamnya. Apa ini? Apa maksud Wira? Dia membantu Hasna dan kini meminta Vino untuk kembali mengorbankannya'


Fajri bicara pada dirinya sendiri dengan mata menatap Hasna yang sama sekali tak mengerti.


Suara perut Hasna yang kelaparan memecah keheningan diantara mereka. Hasna menelan salivanya karena malu. Fajri menyalakan kembali mobilnya dan melaju menuju warung nasi langganan ayahnya.


Mereka makan siang dalam suasana saling diam. Hasna yang diam karena merasa malu menjadi wanita yang mengandalkan makan siang gratis agar bisa menyisihkan uang untuk anak-anak panti asuhan. Sedangkan Fajri yang terus mengorek semua pemikirannya tentang Wira yang menjadi perantara sekte sesat itu.


***


Vino menandatangani beberapa berkas di ruang pimpinan lapas.


"Selamat, dua minggu lagi kau sudah bisa keluar dari penjara. Mulailah kendalikan diri dan bersikap bijak dalam memutuskan sikap apa yang harus kau ambil dalam situasi segenting apapun. Intinya, jangan sampai terpaksa kembali kemari" ucap ketua lapas.


Vino hanya mengangguk kemudian pergi tanpa mengatakan apapun. Dia kembali ke selnya dengan mata memperhatikan ruang tahanan Venus yang dia lewati.


Venus sedang diam menatap sebuah berkas di hadapannya. Vino penasaran dengan apa yang dia lakukan. Dia mundur kembali dan bicara padanya.


"Hei Bos besar! " seru Vino seraya mendekat memegang jeruji besinya.


Venus melirik dan menatapnya sebentar.


"Mau main catur? " ajak Vino.


Venus tertegun sebentar. Vino diam memperhatikannya, merasa ajakannya diabaikan.


"Apa kau takut kalah dari ku? " Vino mengomporinya.


"Pak lebih baik anda kembali ke ruangan anda" pinta penjaga yang bersamanya.


"Diam kau, aku hanya ingin main catur. Bukan berkelahi" ucap Vino pelan.


Venus berdiri dan mendekat.


Vino tersenyum.


"Oke! " jawabnya senang.


Vino berjalan dengan cepat dan mengambil papan caturnya. Beberapa teman satu selnya hanya menganga menatapnya pergi lagi dari ruangannya.


Vino masuk ke sel tahanan Venus dengan riang. Dia membuka papan catur dan merapikannya dengan mata memantau berkas yang ada di samping Venus.


"Akhirnya ada lawan tanding yang berat untukku. Kau tahu, teman satu sel ku tak bisa berkutik hanya dengan beberapa gerakan dari ku" ucap Vino membanggakan dirinya.


Venus hanya diam saja, meskipun tangannya mulai membantu Vino merapikan bidak caturnya.


"Ok! Ayo kita mulai! " seru Vino seraya bertepuk tangan.


Vino mengambil satu langkah, Venus mengikutinya, begitu seterusnya. Vino berusaha untuk bisa kalah darinya, tapi semua langkah yang diambil Venus hanya langkah pemain amatir. Dia berpikir dan mulai mengambil keputusan untuk mengalahkan Venus saja. Membalikkan rencana yang sudah dia buat dari awal.


'Aku akan mengalahkannya dan membuatnya kesal' ucap hati Vino.


Tapi Venus mengambil langkah yang tak pernah dipikirkan Vino.


"Skak Matt! " ucap Venus dengan ekspresi datar.


Vino mengangkat kedua alisnya, dia kalah dan memasang wajah sedih, tapi hatinya senang karena semua rencananya berjalan dengan lancar.


"Waaah, kau benar-benar hebat. Dugaan ku benar Bos, kau memang orang yang hebat! " puji Vino dengan mengacungkan kedua jempolnya.


"Sejak tadi kau memujiku terus, apa mau mu?" tanya Venus tanpa menatapnya.


Vino memperhatikan wajahnya.


"Aku? Hahahaha... aku tidak bermaksud seperti itu Bos, aku.... " Vino berpura-pura tergagap.


"Kau putra Bima kan? " kali ini Venus menatapnya.


Vino berhenti merapikan bidak dan menaruhnya. Dia membalas tatapan Venus dengan raut wajah yang kesal karena disebutkan nama ayahnya lagi.


"Ya" jawab Vino kemudian menelan salivanya.


"Katakan apa yang bisa aku bantu, aku akan membantu mu. Bima sudah banyak membantu ku selama hidupnya. Aku tak sempat balas budi" jelasnya.


'Fajri benar, Venus dan ayah punya hubungan istimewa' ucap hati Vino.


"Kau teman ayah ku? " tanya Vino seraya menatap seluruh tubuhnya.


"Hahaha, ya, tapi aku lebih menganggapnya sebagai senior ku. Ya...karena usia kami juga cukup jauh untuk bisa dikatakan teman" ucap Venus.


'Dia mulai bicara dengan akrab pada ku' ucap hati Vino.


"Aku dengar pembicaraan mu dengan Wira tempo hari, aku senang kau menerima semua bantuan Wira. Manfaatkan dengan baik, lakukan apa yang dia minta. Kau akan punya segalanya. Seperti aku" ucap Venus.


"Lalu di penjara lagi seperti mu? " ucap Vino datar.


"Hahahahah, ini hanya formalitas. Aku masih mengerjakan semua bisnis ku dari sini. Ini hanya karena Komandan Fajri yang menangkapku. Dia juga harus mendapatkan nama baik dan prestasi di instansi nya bukan" Venus mengatakan semuanya seolah Vino adalah orang yang mudah dipercaya.


Vino tertegun, dia memikirkan benang merah yang terpaut dari Wira, ayahnya, Venus, dirinya dan Fajri.


"Jangan terlalu dipikirkan, nanti setelah kita bertemu di pertemuan pertama mu, kau akan mengerti apa maksud semua ini" ucap Venus sambil menepuk bahunya.


Vino keluar dari selnya dengan wajah yang menunjukkan rasa bingungnya. Langkahnya pelan hingga sampai di depan selnya.


"Mana papan caturnya Bos? " tanya teman satu selnya.


Vino menyerahkannya, kemudian duduk di sudut ruangan. Teman yang lainnya main catur lagi. Sementara dia berpikir dengan semua perkataan Venus padanya.


'Dia, Wira dan Fajri tahu kalau aku harus mengorbankan Hasna. Aku sendiri tak tahu apa maksud dari semua ini. Mana mungkin aku melakukannya? Aku tidak bisa, aku sangat mencintai Hasna. Jika dia harus terluka lagi, aku bisa mati' ucap hati Vino.