
Suasana menjadi tegang, Vino dan Keanu masih beradu tatap. Vino tak suka dengan kedatangan Keanu. Dia memang tak suka Keanu mencoba mendekati Hasna.
Keanu yang tak menyangka akan mendapati Vino di sana, hanya bisa diam menatap Vino yang tak mengizinkan Hasna berdiri di tempat yang bisa dia lihat.
"Aku akan bekerja besok, kau bisa pulang saja" ucap Hasna berusaha melerai tatapan sinis mereka.
"Tidak, istirahat lah saja dulu. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja" ucap Keanu.
Vino tak suka dengan perhatian yang Keanu berikan.
"Dia akan baik-baik saja karena suaminya ada di sini sekarang. Kau bisa pulang" usir Vino pada dengan ketus.
Keanu mengalihkan pandangannya karena kesal mendengar kata suami dari mulut Vino. Tapi dia berpikir, tak mungkin jika harus meributkan hal itu sekarang. Terlebih dia tahu beberapa anak buah Wira sedang mengawasi rumahnya. Dia tahu sudah ada sesuatu yang terjadi, tapi berusaha untuk menghargai Hasna yang belum mau menceritakannya.
"Baiklah, aku permisi! " ucap Keanu sambil mundur dan pergi.
Vino langsung menutup pintu, Hasna protes dengan sikapnya.
"Kau terlalu kasar, dia tidak seburuk yang kau pikirkan" keluhnya.
"Ohhh, sekarang kau membelanya? Kenapa? Karena dia menerima mu di kantor hukumnya? Karena dia membantu mu memperjuangkan izin profesi mu lagi? " Vino terbakar api cemburu.
Hasna diam saja, sudah pasti bukan itu alasan dia menerima pekerjaan dari Keanu. Tapi sulit untuknya menjelaskan pada Vino.
"Aku sudah bilang, aku sedang berjuang untuk keluar dan kembali padamu, tapi kau tetap ingin berpisah dari ku, apa dia salah satu alasan mu bersikeras berpisah dari ku? Atau.... "
Belum selesai Vino bicara dan meluapkan kekesalannya, Hasna langsung menyambar mulutnya dengan bibirnya. Vino langsung terdiam, wajahnya memerah.
"Kau.... mencium ku?" Vino tergagap.
"Kau terus bicara, aku sudah bilang, aku dan dia tak seperti itu, bagaimana aku bisa dekat dengan pria lain sementara isi pikiran ku hanya kamu" ucap Hasna dengan suara pelan.
Vino tersenyum mendengar Hasna hanya memikirkannya. Dia menggigit sedikit bibirnya sendiri merasakan kembali sambaran bibir Hasna tadi.
Hasna sedikit malu atas tindakannya sendiri. Dia hendak masuk ke kamar. Namun Vino menarik tangannya. Dia memeluknya dengan erat dari belakang.
"Aku cemburu, sangat cemburu, bahkan pada Fajri pun aku masih terus merasa cemburu" bisiknya.
Hasna terdiam. Vino melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan tubuh Hasna. Tangannya memegang dagu istrinya dan mendekatkan bibirnya agar bersatu dengan bibir istrinya.
Hasna menikmati cumbuannya, mereka larut dalam suasana malam yang mulai hening. Vino mulai mendorong Hasna untuk masuk ke kamar, Hasna yang memang menginginkannya juga pun ikut arus tubuhnya.
Sampai di ranjang, mereka terduduk dan saling menatap. Vino membelai rambut Hasna yang dia selipkan ditelinganya. Tangannya mulai turun dan memegang kedua lengannya.
Hasna masih meraba wajah Vino dengan tatapannya. Wajah suaminya, yang sangat dia cintai. Kali ini Hasna tak mau lagi menolak perasaannya. Dia ingin memiliki Vino, pria yang sudah membuatnya kembali yakin akan cinta. Pria yang juga membuatnya jatuh cinta dengan caranya mencintainya.
Tangan Hasna mulai bergerak memegang wajah Vino yang mulai tumbuh sedikit janggut. Mereka mendekat satu sama lain dan menempelkan bibirnya. Bercumbu dengan seluruh hasrat yang mereka miliki malam itu.
Setelah sekian lama menjalin pernikahan, malam ini mereka melampiaskan hasrat yang terpendam karena dendam dan rasa bersalah yang pernah ada.
***
Sementara itu di panti, Fajri memeriksa lemari es. Dia melihat bahan makanan yang masih menumpuk di dalamnya. Memeriksa satu per satu dan mengendusnnya.
"Kak Hasna baru membelinya hari minggu kemarin" ucap Dania.
Fajri mengangkat kedua alisnya.
'Oh, jadi ini alasan dia selalu terburu-buru saat hari minggu' ucap hati Fajri.
"Ya, dia orang yang perfeksionis. Dia pasti akan melakukannya dengan baik" ucap Fajri.
"Kau mau memeriksa CCTV nya?" Dania menawarkan.
"CCTV?" Fajri tak menyangka.
"Ya, Kak Hasna memasangnya juga, katanya untuk jaga-jaga" jelas Dania.
"Boleh, dimana? " tanya Fajri seraya mengikuti langkah Dania.
"Apa kita pasang juga di sana? " tanya Hadi.
"Ya, seharusnya begitu. Tapi ini sudah malam, besok pagi saja. Bagaimana dengan pintunya? " tanya Fajri.
"Sudah beres, ini kuncinya" jawab Hadi seraya menyerahkan kuncinya.
Fajri menyerahkannya pada Dania.
"Ini, karena kau yang paling tua diantara adik-adik mu, jadi kau yang memegangnya" ucap Fajri.
"Iya! " jawab Dania.
Fajri menghela seraya melihat ke sekeliling rumah.
"Kami akan menginap malam ini, kalian tidurlah setelah makan malam, ok! " pinta Fajri.
Dania mengangguk kemudian menghampiri semua adiknya. Dia juga meminta beberapa adiknya yang sudah mengerti untuk menyiapkan tempat tidur.
Fajri dan Hadi membantu untuk menyiapkan alas tidur mereka.
***
Pagi buta di rumah Hasna.
Vino terbangun dengan mata menatap Hasna yang dipeluknya semalaman. Dia meraba tubuh Hasna yang polos tanpa busana yang hanya tertutup selimut. Senyumnya mengembang mengingat betapa bahagianya dia semalam.
Tangannya membelai wajah istrinya yang begitu dia cintai. Vino terus tersenyum mengingat ekspresi pertama kali mereka melakukannya.
Tak berapa lama, Hasna terbangun dan menatap Vino.
"Kau sudah bangun? " tanya Hasna.
"Hmm, aku sedang mengingat semalam" jawan Vino.
Hasna memukul dadanya.
"Kau malu? " tanya Vino.
Hasna tak menjawabnya, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Vino membuka tangannya dan menatap wajah Hasna.
"Terimakasih, aku sangat bahagia mengetahui hanya aku yang ada di pikiran mu dan di hati mu" ucap Vino.
"Sebenarnya aku ingin kau mendapatkan wanita yang lebih baik dari ku... "
Vino menutup bibir Hasna dengan jarinya.
"Tidak ada wanita yang ingin aku miliki selain pengacara cantik Hasna Maulida Fadilah. Wanita yang tangguh, kuat dan berpendirian. Wanita yang ingin aku lindungi meskipun aku harus mengorbankan nyawa ku"
Hasna menutup bibir Vino dengan tangannya.
"Tidak, jangan melakukan itu. Aku tidak mau kehilangan mu lagi. Aku juga bisa mati jika kau mati" ucap Hasna dengan sedikit tangis yang keluar dari matanya.
Vino mengusap air matanya.
"Baiklah, aku tidak akan membahas itu" ucap Vino seraya memeluknya.
***
Masih pagi buta, Fajri terbangun karena bermimpi. Keringat deras mengucur di dahinya. Hadi yang semalaman terjaga menghampiri dan bertanya.
"Kenapa Pak! " tanya nya khawatir karena melihat Fajri berkeringat.
"Tidak, bukan apa-apa" jawab Fajri seraya membuka selimutnya.
Hadi kembali ke kursi dan mulai terkantuk. Sementara Fajri terdiam sejenak menatap kosong ke arah pintu rumah.
'Kenapa aku begitu takut Vino bersama Hasna? Dia adalah suaminya, dia juga sudah berjanji akan menjaganya. Lantas apa maksud mimpi itu? Kenapa justru dia yang menyerahkan Hasna pada Wira? Tidak, tidak, ini hanya mimpi. Vino sangat mencintai Hasna, dia takkan melakukan itu padanya' ucap hati Fajri.