
Fajri melihat ke arah Hasna yang baru keluar dari rutan. Dia mendekat dan mencoba menanyakan apa yang sudah terjadi. Tapi Hasna langsung masuk ke mobil dan pergi begitu saja.
Fajri menghela, tatapannya mengantar kepergian Hasna hingga hilang keluar lingkungan rutan.
"Mereka bertengkar? Baru kali ini aku melihat Hasna begitu sedih. Baru kali ini juga mereka bertengkar" gumam Fajri.
Tak berapa lama, Maya memanggilnya.
"Fajri! Fajri! " seru Maya yang berlari dari arah rutan.
"Ada apa? " tanya Fajri.
"Mana Hasna? " tanya Maya dengan nafas tersengal.
"Pergi" jawab Fajri seraya menunjuk ke arah jalan keluar.
"Aishhh, dia langsung pergi setelah membuat Vino mengamuk seperti itu? " keluh Maya.
"Ngamuk? " tanya Fajri heran.
Maya mengangguk, dia menghela mengatur nafasnya.
***
Hasna berhenti di dermaga kecil, dia terdiam baru menyadari bahwa dia tak bisa kembali ke rumah karena kuncinya belum ketemu.
"Aku lupa, seharusnya aku ke tukang kunci dan menggantinya" gumam Hasna.
Matanya menatap ke arah jalan dimana dia pernah berhenti dan mendapatkan pelukan hangat dari Vino.
Hasna menghela, dia menahan tangis yang sejak tadi ingin keluar dari kelopak matanya.
"Seharusnya aku tidak mengatakan hal bodoh itu" gumam Hasna menyesali ucapannya.
~Kenapa aku begitu marah hanya karena dia mengirim orang untuk mengikuti ku? Bukankah seharusnya aku senang, dia masih memperhatikan aku meski berulang kali aku membuatnya kecewa. Astaga, apa yang sudah aku lakukan~
Hasna terdiam, kepalanya tertunduk ke stir mobil.
***
Fajri masuk ke sel tempat Vino melempar semua barang dan mengamuk tak karuan. Fajri menatap semua barang yang berserakan.
"Waah, kau sudah sangat berpengaruh ya, mengamuk seperti ini tapi tak mendapatkan hukuman tambahan. Tak ada satu pun yang menegur mu" ucap Fajri seraya menyingkirkan beberapa barang dengan kakinya.
Vino menoleh dengan mata menatap tajam padanya. Terngiang suara Hasna yang mengatakan bahwa tadi malam mereka sudah tidur bersama. Vino memalingkan wajahnya, tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa melewati malam bersama.
Sementara itu, Fajri memperhatikan sikap Vino dengan heran. Dia mendekat seraya melihat-lihat barang yang belum Vino lempar.
"Kau juga akan melempar ini? " tanya Fajri.
Vino tak memperdulikannya. Fajri tetap berjalan perlahan mengelilinginya yang berdiri di dekat lemari.
"Pergilah, aku tidak suka kau di sini" ucap Vino sambil menahan kekesalannya.
"Aku datang cuma sebentar, mumpung pimpinan belum datang. Katanya kau sedang mengamuk dan hilang kendali, jadi aku kemari" ucap Fajri santai.
Vino meraih kerah baju dan mencekik Fajri.
"Pergilah, aku sudah tidak tahan mendengar suara mu yang begitu riang karena telah bermalam dengan istri ku" ucap Vino.
Fajri terdiam sejenak kemudian tersenyum.
"Ohh, jadi itu yang dia katakan" ucap Fajri sambil menyeringai.
Vino semakin kesal, dia menekan tangannya hingga Fajri terdorong ke dinding.
"Kau puas dengan semua ini? " Vino geram.
Fajri tertawa meski merasakan sakit di lehernya.
"Kau menggodanya saat aku terpenjara" lanjut Vino.
Fajri hanya menatapnya.
"Dengar, jangan kau pikir hanya dengan kalian pernah tidur bersama aku akan melepaskannya untuk mu. Aku tidak akan melakukan hal itu. Kau dengar! " Vino mengancamnya.
"Baguslah, karena aku tidak pernah bermalam dengannya" ucap Fajri dengan wajah yang mulai pucat karena tekanan tangan Vino.
Vino terdiam, dia melepaskan tangannya dan menjauh.
"Uhuk... uhuk... ya" Fajri terbatuk kemudian mengatur nafasnya.
"Apa maksud mu? " tanya Vino.
"Bagaimana aku bisa bermalam, tidur dengannya, menciumnya saja dia langsung menendang kaki ku hingga memar" Fajri masih mengatur nafasnya.
"Kau menciumnya? " Vino masih tak bisa menerima perbuatan Fajri meskipun dia sudah sedikit lega karena mereka tak bermalam.
Fajri duduk di lantai, Vino ikut duduk dan akhirnya mereka bisa tenang bicara.
"Kau ini menyukainya sejak SMA, tapi tak begitu mengenal sifatnya" ucap Fajri.
"Dia selalu menunjukan sikap dinginnya, alih-alih bersikap seperti gadis SMA lainnya" jawab Vino.
"Dia marah karena dia diikuti dan diambil fotonya secara diam-diam. Dia sudah tahu beberapa hari terakhir, tapi mencoba menahan diri untuk tak memperdulikannya. Dia jauh lebih marah saat mengetahui kau yang menyuruh wartawan itu mengikutinya"
Vino tertunduk.
"Sebenarnya dia tak suka perubahan mu selama di penjara, sikap sok berkuasa mu dan keputusan mu menjadi pimpinan para warga binaan di sini"
Fajri menarik nafas dalam.
"Dia jauh lebih suka Vino yang dulu, tampan dan berwibawa karena dia seorang pengacara, jadi dia sedikit emosional saat ini. Ya, perasaan yang complicated, you know" ucap Fajri.
Vino tersenyum, dia terlihat lega mendengar semua ucapan Fajri.
"Dia terlihat sedih saat dia keluar dari sini tadi. Kau mendiamkannya? " tanya Fajri.
"Aku membanting pintu di hadapan nya" jawab Vino merasa bersalah.
"Kau tahu hal itu tak berpengaruh untuknya. Dia pasti menyesal karena bicara omong kosong padamu. Percepat proses bebas mu, kau punya uang yang banyak untuk melakukan hal itu. Bujuk dia agar tidak marah dan menjauh dari mu. Kau bisa melakukannya bukan?"
Fajri menatap wajahnya. Vino terdiam, mereka saling menatap beberapa saat kemudian menghela dan menatap ke arah pintu keluar.
"Kau sudah membuat kekacauan ini, bersihkan sendiri. Jangan minta orang lain yang melakukannya. Kau dengar itu! " seru Fajri dengan nada memerintah.
Vino menyeringai, menertawakan sikapnya.
"Awas kalau ini terjadi lagi, aku akan memberikan hukuman ruang gelap untuk mu selama satu bulan penuh. Aishh, dasar tahanan sombong! " lanjut Fajri seraya berjalan keluar dan memukul pintu ruang tahanannya.
Vino tersenyum, kemudian menghela melihat hasil perbuatannya sendiri.
Orang-orang memperhatikannya, dia merapikan sel tahanannya sendiri tanpa menyuruh orang lain.
"Wah, petugas itu membuatnya membersihkan sel nya sendiri. Dia hebat! " ucap salah seorang warga binaan lain.
Sementara itu, Maya memperhatikan mereka juga. Maya tersenyum, mengingat semua ucapan Fajri dan Vino yang dia dengar tadi.
***
Hasna menunggu tukang kunci yang sedang berusaha membuka pintu rumahnya. Dia terlihat baik-baik saja dan tak memikirkan lagi permasalahan nya dengan Vino.
"Selesai Nona! " seru tukang kunci.
"Ok, ganti saja dengan gagang pintu baru. Aku akan masuk, tolong kerjakan dengan baik ya Pak" pinta Hasna.
Dia masuk dan duduk di sofa sambil memilah surat yang dia pungut saat dia masuk tadi.
Sebuah surat tanpa nama pengirim membuatnya tertegun. Hasna membukanya dan membaca.
{Pengorbanan mu belum selesai, sampai berjumpa di pertemuan berikutnya}
Mata Hasna membulat saat membacanya.
"Pengorbanan? " gumam Hasna.
"Pertemuan? " lanjutnya dengan semua pertanyaan yang ada di benaknya.
"Nona, aku pasang gagang pintu dengan kunci kode, supaya praktis dan tak perlu khawatir kehilangan kunci lagi. Kau tinggal mengatur kode sandinya saja" ucap tukang kunci.
Hasna menoleh, dia berdiri dan memeriksa pekerjaannya.
"Terimakasih Pak, bagaimana cara mengatur sandinya? " tanya Hasna.
Tukang kunci itu mengajarkannya, tapi otak Hasna tak bisa melepaskan pikirannya tentang surat kaleng itu.