My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
119



Vino terlelap setelah mengatakan semua rencananya. Hasna yang tak bisa tidur, menatapnya di sisinya. Tangannya membelai wajah Vino yang manis saat tidur.


Tak berapa kemudian, ponsel Hasna berdering. Wira menelponnya. Tangan Hasna gemetar saat melihat nama Wira di ponselnya. Dia menatap Vino, tapi tak berani membangunkannya.


"Hallo! " ucap Hasna menjawab telpon Wira setelah dia menjauh dari ranjang.


"Bersiaplah Hasna, malam ini kau sudah harus menggantikan posisi mu dengan Dania. Dia sudah sangat ketakutan" ucap Wira kemudian menutup telponnya.


Hasna panik, dia hendak membangunkan Vino dan mengajaknya melakukan semua rencananya. Tapi pesan Wira menghentikannya.


Terlihat sebuah foto dimana Dania didandani dan diikat di sebuah kursi. Hasna menangis melihatnya. Dia langsung berganti pakaian dan menuju tempat yang Wira minta.


Saat di perjalanan, Hasna mengirimkan pesan pada Vino.


{Aku pergi pada Wira, entah akan berjalan lancar atau tidak tentang semua rencana mu, tapi aku tidak bisa membiarkan Dania terluka. Maafkan aku Vino, aku sangat mencintaimu}


Dia menghapus tangis yang menetes di pipinya. Dengan mengambil nafas dalam, Hasna menguatkan diri untuk menghadapi persembahan malam ini.


***


Hening di dalam ruang aula itu. Fajri sama sekali tak melakukan apapun selain diam manatap lantai.


Sementara itu, Vania berhasil melepaskan ikatan setelah berusaha terus menerus melonggarkannya. Hadi juga melakukan hal yang sama, namun akhirnya dia dibantu oleh Vania.


"Cepat, aku mendengar langkah kaki di luar" bisik Vania.


Mereka membuka ikatan tangan Fajri yang masih diam saja. Tapi saat mereka akan keluar, suara langkah kaki yang ramai mulai mendekati aula dan mereka terpaksa kembali duduk dan berpura-pura masih terikat.


Vania dan Hadi cukup terkejut dengan semua orang yang datang. Orang-orang penting yang punya kekuasaan di beberapa perusahaan dan instansi ternama. Mereka menelan salivanya, tak bisa membayangkan berapa korban yang sudah mereka persembahkan untuk mendapatkan semua kekayaan yang mereka miliki.


Kedatangan mereka diiringi beberapa pelayan yang datang melayani mereka. Meja ditata dengan sajian makanan yang mewah dan segar. Sangat terlihat bahwa pertemuan ini diadakan secara mendadak.


Seorang pimpinan perusahaan yang mengenali mereka, tersenyum dan mendekat.


"Apa kabar kalian? Jangan tegang, kalian akan menikmati pertunjukan malam ini" bisiknya di telinga Vania.


Vania meludah padanya, dia terlihat kesal dan hendak menamparnya, tapi seorang lainnya menahannya. Dia menjauh dengan tangan membersihkan jas yang terkena ludah Vania.


Di sisi lain, Hadi diinjak kedua kakinya oleh mereka. Vania kesal dan hampir terpancing untuk mendekat dan menghajar mereka. Dia juga kesal melihat Fajri hanya diam saja. Tapi dia hanya bisa diam agar dia bisa mengambil waktu yang tepat untuk keluar dari sana.


Tak berapa lama, seseorang dengan pakaian khusus hserba hitam, mengumumkan sesuatu.


"PERHATIAN! " serunya setelah dia mendentingkan gelas dengan sendok.


Semua orang menoleh kemudian memperhatikannya.


"Malam ini, adalah malam persembahan untuk perkumpulan tercinta kita. Wanita yang seharusnya sepuluh tahun lalu mati, akan menjadi persembahan untuk melengkapi apa yang telah hilang"


Riuh suara mereka yang membicarakan siapa yang hendak menjadi persembahan. Pria itu tersenyum mendengar rasa penasaran mereka.


"Seperti yang kalian lihat, di sudut ruangan ini, mereka yang akan menyaksikan persembahan malam ini, mereka dihukum karena masuk sebagai anggota perkumpulan ini dengan alasan ingin menyelidiki dan mencari kelemahan kita. Sayangnya mereka tak paham bahwa kita tidak punya kelemahan. Karena kita.... "


"SANGATA KUAT! " seru semua orang-orang itu.


"Gila, mereka semua tertata dan terorganisir. Bagaimana caranya untuk menghancurkan mereka? " gumam Vania.


"Untuk menjamu kalian, kami sudah menyiapkan seorang pelayan di setiap kamar. Silahkan istirahat terlebih dahulu, agar kalian terlihat lebih segar saat malam persembahan tiba" ucap pria itu mengakhiri pengumuman nya.


Mereka semua menyambut penutupannya dengan tepuk tangan yang meriah.


Vania mendengus keras karena kesal melihat kekompakan mereka. Pria yang tadi mengganggunya mendekat dan menyentuh dagunya.


"Seandainya bisa kau yang melayani ku di kamar, aku bersedia membayar dengan apapun" ucapnya.


Pria yang menganggunya langsung tersenyum setelah mendengar ucapannya.


"Baiklah, aku sanggup" ucap pria itu.


Pria dengan pakaian serba hitam itu tersenyum kemudian meninggalkan mereka. Dia menyuruh dua pelayan untuk membawa Vania.


Sontak Vania terkejut dan meronta tak ingin ikut. Tapi mereka memeganginya dengan erat.


"Apa ini? Kalian mau membawaku kemana? Apa yang dia sanggupi? " Vania terus berteriak.


Mereka tak bergeming, hanya diam menarik tubuhnya keluar dari aula itu.


"FAJRI! FAJRI! TOLONG AKU FAJRI! "


Fajri baru menoleh padanya saat dia diseret keluar aula. Tapi Fajri diam sejenak melihat situasi dan berpikir.


Hadi dan Fajri saling menatap, mereka bergerak membuka tali ikatan setelah semua orang pergi.


Suara teriakan Vania masih terdengar, Fajri dan Hadi mengikuti hingga dia masuk ke salah satu kamar.


Dengan aba-aba dari Fajri, Hadi menunggu dua pelayan keluar dan pergi. Mereka masuk setelah Fajri berisyarat dalam hitungan ketiga.


Vania sedang dalam kesulitan, mereka mengikatnya di ranjang. Pria itu bahkan sudah membuka semua pakaiannya sendiri dan hendak melucuti satu persatu pakaian Vania.


Fajri dan Hadi yang datang, langsung memukul pria itu dengan seluruh tenaga yang tersisa. Sempat baku hantam karena pria itu melawan, juga karena mereka cukup lemas setelah semalaman disekap.


Fajri menutupi tubuh Vania yang hampir tak berpakaian. Sementara Hadi membantu melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.


Vania menangis, meringkuk di ranjang. Dia ketakutan karena kejadian itu. Fajri memberikan pakaiannya dan berbalik. Hadi mengurus pria itu. Menyeretnya ke kamar mandi dan mengikatnya. Dia juga menyumpal mulutnya dengan ****** ******** sendiri.


Fajri terdiam sejenak, membayangkan dan menyadari betapa Hasna tersiksa dengan semua kenangan masa lalunya setelah melihat kejadian biadab ini.


Vania yang selesai berpakaian, langsung berdiri.


"Aku sudah berpakaian" ucap Vania pelan.


Fajri berbalik untuk menatapnya. Vania tertunduk menangis karena malu. Fajri langsung memeluknya.


"Maafkan aku, aku terlalu larut dalam kesedihan ku sendiri" bisik Fajri.


Vania tak membalas pelukannya, dia malah menangis lebih keras di pelukannya. Hadi yang keluar dari kamar mandi, langsung berbalik lagi saat melihat adegan itu.


"Aku sudah selesai mengikatnya Pak! " ucap Hadi melapor.


Fajri melepaskan pelukannya dan merapikan rambut Vania.


"Baiklah, kita bisa keluar dari sini sekarang" ucap Fajri.


Vania menahan tangan Fajri yang hendak pergi. Fajri berbalik menoleh padanya.


"Kita harus mencegah persembahan malam ini, kita harus menyelamatkan Hasna" ucap Vania.


Fajri terdiam melihat wajah Vania yang masih pucat.


"Kita juga harus memberikan rekaman ini padanya, dia bisa tahu alasan dia selalu menjadi incaran mereka" ucap Vania seraya menunjukkan ponselnya.


Fajri tercengang, Vania merekam semua pembicaraan Wira.


.