
Bima berbalik dengan panik, takut Vino bertanya tetang apa yang dia lakukan di kamarnya. Namun tak ada siapapun di sana, Hasna mendekat dan menodongkan pisaunya hingga melukai kulit Bima.
"Sakit?" tanya Hasna setelah merasakan Bima sedikit menggeliat.
"Dasar wanita ******!" Bima mengumpat.
"Bersabarlah, aku akan menunjukkan setahap demi setahap proses kehancuran mu. Jangan takut hanya karena kehadiran Vino di antara pembicaraan kita. Aku berjanji dia akan jadi orang terakhir yang percaya bahwa kau adalah iblis" ucap Hasna.
Bima mundur saat Hasna maju perlahan untuk mengusirnya dari kamar. Bima keluar dan Hasna menutup juga mengunci pintunya.
Dia menghela keras dan terduduk di dekat pintu. Tangannya meremas dada, sambil mengatur nafas, Hasna menenangkan dirinya yang sedari tadi menahan rasa takutnya.
Hatinya menangis dan menjerit, kemudian dia menutup mulutnya agar suara yang keluar dari hatinya tak sampai keluar dari mulutnya.
~Aku harus bertahan, sebentar lagi Hasna. Kuatlah, sebentar lagi~ ucap hatinya.
###
Dini hari, Vino baru selesai membaca. Dia kembali ke kamar dan melihat Hasna sudah tidur. Seperti biasa, keringat dingin keluar dari dahi Hasna yang wajahnya sangat terlihat khawatir dan katakutan.
Vino menyekanya dengan tisu, kemudian sedikit mengecup dahi Hasna untuk menenangkannya. Benar saja, wajah Hasna perlahan mulai tenang. Vino tersenyum kemudian membelai rambut Hasna.
Vino membenahi posisi tidurnya menengadah menatap ke atap dan berpikir tentang sikap Hasna yang terkadang menggodanya, terkadang pula menghindarinya.
Sampai saat ini mereka bahkan belum melakukan hubungan suami istri. Vino menelan salivanya saat menatap leher Hasna yang putih bersih. Hasratnya mulai kembali keluar, dia mulai menyentuh pipi Hasna dan menciumnya.
Mata Hasna terbuka, dia menatap Vino yang tersenyum padanya. Hasna memeluk Vino dengan erat kemudian kembali tidur. Vino menghela, dia merasa Hasna tak merespon keinginannya.
"Aku mau melakukannya" bisik Vino di telinga Hasna.
"Hmmm, ke kamar mandi?" tanya Hasna sambil melepas pelukannya.
Vino merengut.
"Udah sana, malah merengut" ucap Hasna sambil berusaha membuka matanya.
"Bukan itu!" keluh Vino.
"Lalu apa?" Hasna merengek.
Vino menyambar bibir Hasna, membuatnya membuka mata karena terkejut.
"Vino...!" keluh Hasna.
"Ya?" tanya Vino meminta persetujuan istrinya untuk mulai menyentuhnya.
Hasna diam saja, dia kebingungan dalam keadaan yang masih mengantuk. Tapi Vino sudah memulai dan membuat Hasna terbangun dan tersadar dengan foreplay yang dilakukan suaminya.
Rasa takut yang dia bayangkan saat sebelum melakukannya, menghilang saat Vino menyentuhnya dengan lembut. Perlakuan manis dan membuatnya nyaman.
Sentuhan demi sentuhan membuat dada Hasna kembang kempis. Vino tersenyum merasa senang melihat Hasna memejamkan matanya karena merasakan sentuhannya.
Belum sampai Vino melakukan hal yang sangat dia inginkan, suara ponsel Hasna membuatnya berhenti dan menatap ponsel itu dengan wajah yang kesal. Hasna mendorong tubuh Vino hendak meraih ponselnya. Tangan Vino menahan tangan Hasna.
"Ada yang menelpon jam segini, ini pasti penting" ucap Hasna sambil mengatur nafasnya.
Vino mendelik dan melepaskan tangan Hasna tanpa beralih dari dekapannya di atas tubuh istrinya.
"Hallo!" sapa Hasna.
Vino menyandarkan kepalanya di dada Hasna, sedikit mendengarkan suara Armand di ujung telpon Hasna.
"Bisakah kau ke rumah sakit sekarang? Dia mau bicara, dia mencari mu" ucap Armand.
Mata Hasna membulat, dia hendak bangun namun tubuh Vino masih menindihnya.
"Vino...!" keluh Hasna.
"Aku mohon, ini titik terang dari kasus ku yang satu ini. Bukankah kita akan mengadakan resepsi setelah kasus ini selesai?" ucap Hasna membujuknya.
Vino menghela menatap bibir istrinya yang baru saja dia ***** dengan penuh kasih sayang tadi.
"Lebih cepat kasus ini selesai, lebih cepat kita resepsi. Semua orang akan memanggil ku "nyonya Vino". Akan sangat membanggakan mendengarnya bukan?" Hasna semakin menggambarkan kebahagiaan yang ingin Vino capai.
"Baiklah, tapi berjanjilah nanti malam kau akan pulang cepat. Karena jika Armand sudah menelpon mu, biasanya kau menginap di kantor pulang larut" Vino memajukan bibirnya merasa tidak mau dikecewakan lagi.
Hasna menyambar bibirnya yang maju itu.
"Ya, aku janji. Pulang jam 8 malam" ucap Hasna setelah melepaskan bibirnya.
Vino tersipu malu, perlahan tubuhnya beralih ke sisi dan melepaskan Hasna yang buru-buru masuk ke kamar mandi dan bersiap.
Selesai bersiap, Hasna melihat Vino tertidur karena lelah menunggu. Hasna mendekat dan membelai rambutnya.
~Maafkan aku, aku telah membual padamu. Aku akan selalu mengingkari janji ku pada mu Vino. Maafkan aku!~ ucap hati Hasna.
"Perlu ku antar?" ucap Vino sambil terpejam.
Hasna terkejut, sekaligus merasa lega karena hanya bicara dalam hati.
"Tidak usah, Pak Armand sudah di depan, kau tidur saja. Aku pergi ya!" ucap Hasna sambil mengecup keningnya.
Vino tersenyum dan tidur lagi. Dia tak khawatir karena Hasna dijemput Armand.
###
Armand terlihat sangat serius mengendarai mobil selama perjalanan.
"Apa yang membuat anda begitu terlihat serius dan cemas?" tanya Hasna sambil merapikan rambutnya.
Armand melirik ke arah nya.
"Aku tidak habis pikir oleh tindakan mu akhir-akhir ini" ucap Armand.
"Apa? Yang mana?" tanya Hasna santai sambil memoles bibirnya dengan lipstik warna merah muda.
"Kau sedang mencoba membuat mertua mu terbukti bersalah. Kau tahu, Vino pasti terluka akan hal ini" ucap Armand.
"Ya, pasti. Memangnya kenapa?"
Lagi-lagi Hasna menjawab dengan santai. Armand mengerutkan dahinya mendengar semua jawabannya.
"Huuhhhfff, aku hanya ingin menangani kasus ini dengan baik, karena kau sudah membuatku yakin bahwa Dudung terpaksa mengakui semua kesalahan Bima Sebastian. Sisanya terserah padamu" ucap Armand.
"Yup, ayo selesaikan tanpa banyak bertanya alasannya. Pada akhirnya anda akan mengerti dengan semua tindakan saya" jawab Hasna sambil menaruh lipstik di tas nya.
###
Sampai di ruangan pasien yang sangat ingin bertemu dengannya, Hasna menatap wajahnya yang juga menatapnya penuh harap.
Hasna sangat berusaha dengan keras dalam mendekatinya. Kondisinya yang sangat tidak stabil membuatnya sangat sulit di sentuh oleh ucapan Hasna.
Hanya karena Hasna berbisik bahwa dirinya adalah salah satu korban Bima Sebastian, Dara akhirnya mau sekali lagi memberikan Hasna kesempatan untuk menggali kasus ini dengan semua kesaksiannya.
Hasna tersenyum, mendekat dengan perlahan dan memeluknya dengan erat. Membuatnya merasa hangat dan tak sendirian. Membangun keberaniannya lagi dan menyatakan perang pada batinnya untuk menyelesaikan semuanya. Membuat Bima membayar semua yang telah dia lakukan pada kami, makhluk yang terkenal tak berdaya namun selalu diperdaya.
Dara menangis tersedu, suster dan dokter ikut mengawasi agar tak terjadi apa yang tidak diinginkan.
Armand merinding melihat pemandangan itu, dia merasa Hasna mampu menenangkan Dara yang selalu histeris jika bertemu dengan orang lain, seperti saat Beno menenangkannya.
~Inilah kelebihan wanita yang terkenal dengan julukan "Pengacara Cantik" ini. Bisa membuat seseorang tenang dan mengatakan apa yang sulit dikatakan. Meskipun ternyata banyak hal yang dia sembunyikan sendiri. Apa yang akan membuatku terkejut diakhir cerita ini? Aku sangat penasaran dan ingin segera menyelesaikannya. Aku harap hal ini bukan tentang mu Hasna. Kau sudah menjadi pengacara favorit ku sekarang~ ucap hati Armand.