My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
86



Hasna berdiri di depan pintu rumahnya, tangannya merogoh tas kemudian ke saku celana dan kemejanya. Dia mencari kunci rumahnya, tapi tak menemukannya.


"Cck! " decaknya.


~Dimana aku menjatuhkan nya? ~ pikir Hasna.


Dia berusaha mengingat, tapi tak ada yang bisa dia ingat lagi. Dia hanya terus memikirkan ucapan Wulan yang terdengar sangat kentara sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ahhh, aku terlalu memikirkan sikap Wulan. Bisa saja ini hanya karena aku yang terlalu terobsesi dengan kasus ini" keluh Hasna tentang otak isinya sendiri.


Nendi yang masih mengikutinya, memperhatikan tingkahnya.


"Apa dia kehilangan kunci rumahnya? " gumam Nendi.


Hasna menoleh padanya, Nendi salah tingkah. Dia berusaha bersembunyi dan benar-benar tak terlihat.


Hasna melihatnya, dia buru-buru masuk ke mobil dan pergi meninggalkan Nendi di sana sendiri.


Nendi keluar setelah mendengar suara mobilnya pergi. Nendi mendendang batu dengan kesalnya.


"Sial! Dia tahu aku mengikutinya" ucapnya dengan kesal.


Hasna pergi, tapi dia tak tahu harus kemana malam ini. Dia harus membuat kunci baru. Tapi dia harus menginap di suatu tempat malam ini.


"Aku tidak bisa menginap di rumah Fajri, apa yang dia lakukan tempo hari, membuat mood ku berubah saat mengingatnya. Bagaimana aku bisa melihat wajahnya apalagi tinggal bersama nya" keluh Hasna.


Hasna diam sejenak. Dia merasa dirinya mengakui telah mengakui perasaan Fajri.


"Tidak, aku tidak akan pernah mengakui perasaan Fajri. Aku juga tak akan pernah merasa canggung jika bertemu dengannya. Kejadian itu, ya, aku akan melupakannya. Ya, aku harus bisa menunjukkan padanya kejadian itu bukan apa-apa. Aku sama sekali tidak terpengaruh. Ya, begitu saja" ucap Hasna bicara pada dirinya sendiri.


Tak terasa, dia sudah sampai di depan rumah baru Fajri. Mobil Fajri terparkir di sana. Masih ada ruang untuknya memarkirkan mobilnya Tapi dia malah diam, ragu untuk maju.


Sementara itu, Fajri mengintip keluar jendela. Tak biasanya ada mobil atau kendaraan lain yang berhenti di depan rumahnya.


"Siapa itu? " gumam Fajri.


Kornea matanya membesar untuk melihat lebih jelas plat nomor mobilnya.


"Hasna? " seru Fajri.


Dia terkejut, tangannya yang sedang memegang gelas pun bergetar dan seolah akan menjatuhkannya.


Dia mulai gugup, terlebih saat mengingat bagaimana dia mencium bibir Hasna.


~Apa yang dia lakukan di depan rumah ku? Apa karena kejadian itu?~ tanya hatinya.


Jantungnya berdegup semakin kencang saat suara mobil Hasna mendekat dan terparkir di dekat mobilnya.


"Astaga, kenapa aku jadi gugup begini. Bukankah tak ada rasanya, lalu kenapa aku takut menghadapinya? " gumamnya.


Ting.... tong....


Suara bel rumahnya membuat Fajri meloncat dari tangan sofa yang dia duduki. Wajahnya pucat dengan mata membulat menatap ke arah pintu.


Cukup lama dia mencoba mengabaikan suara bel yang Hasna pencet. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Fajri semakin gugup karena justru Hasna mengubungi nya langsung. Dia menelpon karena Fajri tak membukakan pintu untuknya.


"HEII! " seru Hasna kesal.


Fajri menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Hasna cukup keras dan membuat telinganya pengang.


"Apa? " jawab Fajri dengan malas seraya mendekati jendela dekat pintu.


"Aku di depan rumah mu dan memencet bel sejak tadi, kenapa tidak dibuka? " seru Hasna dengan keluhannya.


"Kau... di rumah ku? " ucap Fajri berpura-pura terkejut.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, sejak tadi kau duduk di sofa tapi mengabaikan kedatangan ku" ucap Hasna seraya mengintip ke arahnya.


Fajri terkejut karena wajah Hasna muncul saat dia juga hendak mengintip.


Dia membuka pintu dan membiarkan nya masuk. Hasna masuk dan langsung ke arah dapur mencari gelas. Fajri memperhatikan juga mengikutinya.


"Tumben kemari" ucap Fajri seraya bersandar di sisi daun pintu dapur.


Dia sangat berusaha terlihat tak gugup dan mencoba tak membahas kejadian ciuman itu.


Glek... glek...glekk...


Hasna minum setengah gelas air sekaligus.


"Aku kehilangan kunci rumah setelah kembali dari lapas" ucapnya sambil terengah.


Hasna menatap wajahnya, dia mengalihkan pandangannya saat mulai teringat ciumannya.


"Jadi aku menginap malam ini, besok aku panggil tukang untuk mengganti kuncinya" lanjut Hasna seraya pergi ke ruang tamu dan melewatinya.


Fajri menahan nafas saat Hasna lewat. Dia berusaha menahan diri dan mengendalikan degup jantungnya yang semakin kencang.


"Hanya ada satu kamar" ucap Fajri pelan.


Hasna mendengarnya, dia yang awalnya hendak menyalakan televisi jadi terdiam.


"Kau tidak mengizinkan ku menginap? " tanya Hasna


Dia memasang wajah yang cukup membuat Fajri mengerti dia tersinggung dengan ucapannya.


"Bukan begitu... "


"Aku bisa tidur di sini, berikan bantal dan selimut saja. Jangan katakan kau juga hanya punya satu bantal dan satu selimut saja" ucap Hasna menyimpulkan sendiri.


Fajri menggaruk belakang kepalanya. Dia tersenyum bodoh. Hasna menghela menyadari tingkahnya yang menyatakan ucapannya benar.


"Astaga! Kak, dengan rumah sebesar ini dan kau hanya punya satu ranjang dengan satu bantal dan satu selimut saja? " Hasna tak menyangkanya.


Fajri terdiam mendengar panggilan yang Hasna berikan padanya. Dadanya terasa panas. Dia teramat kesal dan ingin rasanya meluapkan amarahnya.


Fajri meletakkan gelasnya, dia pergi ke kamar dan memakai jaketnya. Hasna memperhatikannya.


"Kau marah karena ucapan ku? Kau akan pergi? " tanya Hasna sambil berdiri.


"Tidur saja di kamar, aku lupa harus patroli malam ini" ucap Fajri tanpa menoleh.


Dia keluar dan masuk ke mobilnya. Hasna menatapnya dari arah pintu dengan wajah yang heran dengan tingkah Fajri.


"Ada apa dengannya? " gumam Hasna.


Sementara Fajri menatapnya dengan kesal.


"Dia sengaja memanggilku seperti itu, dia juga bersikap seolah ciuman ku benar-benar tidak berarti untuknya. Astaga Fajri.... Kau yang bodoh, kenapa harus merasa gugup? Dia gadis yang tumbuh dewasa dengan mu, kau bahkan sempat tidur seranjang dengannya karena rumah ayah sangat sempit. Kenapa kau harus gugup dan merasa marah hanya karena dia masih menganggap mu kakak" Fajri bertengkar dengan dirinya sendiri.


Fajri menyalakan mobilnya. Dia mundur dan keluar dari rumahnya. Dia pergi ke kantor, meskipun tak ada jadwal patroli, cerita yang dia karang pada Hasna.


Semua rekan kerja dan anak buah yang sedang tugas malam menatap kedatangannya. Mereka berdiri dan memberikan hormat. Fajri melambaikan tangannya, beri syarat agar mereka menurunkan tangannya.


"Anggap aku tidak ada, kembali bekerja" ucap Fajri.


Mereka semua semakin kebingungan, tapi tetap kembali ke pekerjaan masing-masing.


Fajri masuk ke ruangannya dan tidur di sofa. Dia meraih remote AC dan menaikkan suhunya. Hadi yang sedang bekerja di sana menoleh ke arah sofa.


"Pak, anda di sini? " tanya Hadi.


"Hmmm, jangan bicara. Aku tidur di sini malam ini. Abaikan saja! " ucap Fajri sambil memejamkan matanya.


Hadi mengerutkan dahinya, dia merasa aneh dengan sikap bosnya.