
Di kantor urusan agama, Hasna dan Vino menyelesaikan pencatatan pernikahan mereka. Dan akhirnya mereka sudah sah menjadi suami istri. Vino merangkul pinggang Hasna dengan leluasa di depan Armand dan Bianca juga teman-teman mereka.
Akhir dari acara, Hasna meminta suatu permohonan pada Vino untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya juga makan Agung, ayah angkatnya.
"Kenapa tidak sayang, kita juga akan ke makam ibu ku" ucap Vino menyetujui permintaan istrinya.
Mereka pun berangkat.
###
Fajri menunggu di dekat loket penitipan berkas dengan pakaian petugas penitipan. Setelah lama menunggu, dia akhirnya menemukan seseorang meminta berkas miliknya untuk diperiksa kembali.
"Beno!" gumam Fajri.
Beno meminta berkas itu, kemudian memeriksanya di meja kerja dengan leluasa karena Fajri sudah izin padanya untuk menghadiri pernikahan Hasna.
Fajri mengintainya, Beno memutar video yang tersimpan dalam USB itu. Tak ada yang mencurigakan. Fajri masih mengawasinya dari jauh. Beberapa kertas di dalam map juga diperiksa sebentar dan dia memasukkannya lagi dengan rapi.
~Apa yang kamu lakukan Beno? Kenapa berkas di ambil dan diperiksa. Kita yang memeriksanya kemarin, kau juga yang menaruh di kotak. Apa yang sedang berusaha kau pastikan?~
Fajri masih mengawasinya hingga dia mengembalikan kembali kotak alat bukti itu di loket penitipan. Fajri berhenti menyamar dan keluar dari kantor lewat belakang.
Dia berjalan dan merasa ingin mengujungi makam ayahnya. Dia pun pergi ke sana menggunakan taksi.
Sampai di pemakaman, matanya memandang pemandangan yang membuatnya merasakan sesak di dadanya. Dia melihat Vino merangkul Hasna yang sedang berdiri di dekat makam ayahnya.
Fajri berjalan perlahan mendekat dan berhenti di makam orang lain. Dia memperhatikan pakaian Hasna dan Vino yang terlihat serasi sebagai pasangan pengantin. Meski riasan mereka tak seperti raja dan ratu sehari lainnya.
"Paman, aku sudah menikahi Hasna. Aku akan melindunginya juga mengendalikannya" lirik Vino pada Hasna yang ekspresinya tak berubah meski dia bercanda.
Vino menatap wajah Hasna yang sangat serius menatap makam ayah angkatnya itu.
~Ayah, aku menikahi putra dari "iblis" itu. Ya, ini sebagian dari rencanaku. Aku akan menyerangnya hingga ke dalam rumahnya. Aku punya banyak senjata untuk menyerangnya. Dia akan meminta ampun pada ku tanpa suara seperti aku dulu saat dia melakukan pemaksaan padaku. Dia akan berakhir seperti ayah, jika hukum tak bisa menyentuhnya. Terkubur dengan semua dosanya. Bantu aku untuk mengatakan pada Tuhan agar Dia merestui jalan ku ini. Jika tidak, aku akan mati gantung diri seperti yang ayah kandung ku lakukan~
Hasna bicara di hatinya, seolah langsung bicara pada ayah angkatnya. Kemudian dia mengusap nisan yang masih terbuat dari papan kayu itu.
Vino membantunya untuk berdiri, mata Hasna tak sengaja menatap Fajri. Vino melihat Hasna yang jadi terdiam, dia mengikuti arah mata Hasna memandang kemudian berdecak saat melihat siapa yang ada di sana.
"Dia lagi!" gumam Vino.
Fajri mendekat karena mereka sudah melihatnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah kalian menikah hari ini?" tanya Fajri.
"Kami...." Vino hendak menjelaskan.
"Hanya ziarah!" ucap Hasna memotong pembicaraan Vino.
Suara Hasna sangat datar, Vino memperhatikannya. Vino merasa Hasna tak senang dengan situasi ini. Dia berpikir mungkin Hasna menyesal telah menikahinya.
"Kami sudah menikah, ucapkan selamat sekarang, soalnya aku mau pulang" ucap Hasna.
"Oh ok, selamat atas pernikahan kalian. Aku ikut senang. Semoga bahagia" ucap Fajri.
Vino memperhatikan sikap mereka berdua yang seolah seperti sebuah drama tanpa ekspresi. Vino sedikit kesal, dia merasa hanya dia yang menginginkan pernikahan ini. Tapi dia berusaha mengendalikan diri dan terlihat tetap biasa saja.
"Terima kasih, dan percayalah, aku akan membuatnya bahagia" ucap Vino.
"Ok, ayo kita pulang. Bye Fajri!" Hasna berjalan terlebih dahulu.
Dia agak kesulitan berjalan karena memakai heels. Vino memegang tangannya, Fajri menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
~Aku tahu ini bagian dari rencana Hasna untuk balas dendam, tapi kenapa rasanya masih sangat sakit saat melihat Vino bisa menggenggam tangan wanita yang ku cintai dengan erat~
"Hai ayah, bisakah kau datang dalam mimpi Hasna? Katakan padanya aku sangat terluka melihatnya menikah dengan orang lain, meskipun itu hanya untuk balas dendam" ucap Fajri.
Lama dia berdiri di sana, hingga matahari terbenam.
###
Sampai di apartemen, Hasna merapikan bajunya di koper. Vino terheran, dia mendekat memeluknya dari belakang dan bertanya.
"Mau kemana berkemas?" bisiknya di telinga Hasna.
Hasna berhenti dan menaruh pakaiannya di ranjang. Dia tak terkejut dengan pelukan Vino, tapi memang masih merasa takut dengan sentuhan pria di tubuhnya.
"Pindah ke rumah ayah mu. Dia tidak datang ke pernikahan kita" ucap Hasna yang dalam hatinya berharap Vino melepas pelukannya.
Tapi sayang, Vino malah mempererat pelukannya dan berbisik lagi.
"Kita tidur di sini dulu malam ini, nggak usah mikirin yang lain"
Hasna menelan salivanya. Matanya terpejam saat Vino mengecup lehernya.
"Vino!" seru Hasna yang tak bisa menahan rasa takutnya.
Vino terkejut karena Hasna melompat melepas pelukannya.
"Aku...."
"Kamu kenapa sayang? Kok tangannya gemetar gitu?"
Vino mendekat dan memegang tangan Hasna yang dingin.
"Dingin sayang, kamu kenapa sayang?" Vino semakin khawatir.
Wajah Hasna pucat, nafasnya tersengal. Matanya menatap tangan Vino yang menggenggamnya. Tak lama kemudian, tubuhnya terjatuh. Vino menangkapnya dan membaringkannya di ranjang.
"Sayang!"
Vino panik, dia berusaha membangunkan Hasna. Beberapa saat kemudian, Hasna sadar.
"Huhfff, kamu bikin aku panik" ucap Vino.
Keringat Hasna yang keluar dari dahinya, dihapus Vino dengan lembut. Hasna masih merasa takut menatap Vino yang begitu dekat dengannya.
~Aku harus melawan rasa takut ini, demi jalan membunuh mu Bima. Akan aku lawan rasa takut dalam diri ku~
Hasna memeluk Vino, membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Vino terkejut, dia heran dengan sikap Hasna.
"Hari ini, tidur saja tidak apa-apa kan?" ucap Hasna.
Vino tersenyum, dia membelai rambut Hasna.
"Ya, nggak apa-apa sayang. Kamu juga lagi nggak enak badan kayaknya" ucap Vino.
Vino kira Hasna masih terjaga dan dia masih bisa memanfaatkan momen itu untuk sekedar bermesraan dengan pengantinnya itu, berharap Hasna berubah pikiran setelah merasakan sentuhan bibirnya.
Vino mengalihkan kepala Hasna dari dadanya, mata Hasna terpejam, wajahnya sangat cantik. Vino mendekatkan bibirnya ke wajah Hasna. Namun tak ada reaksi dari Hasna. Ternyata dia sudah tertidur, Vino menghela kemudian tersenyum menertawakan dirinya sendiri.
Meski dia merasa kecewa di malam pertamanya, dia tetap berusaha terlihat biasa saja. Semua karena rasa cintanya untuk Hasna.
Vino membuat Hasna nyaman tidur di pelukannya.