My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
16



Vino mengetuk pintu rumah Hasna, dia membawa sebungkus makanan yang Hasna minta saat tahu dirinya sedang akan pulang. Hasna membukanya dan mempersilahkannya masuk.


"Kau sakit?" tanya Vino.


"Hmm!" Hasna mengangguk.


Vino mendekat dan menaruh tangannya di dahi Hasna.


"Apa harus sedekat ini?" tanya Hasna yang tersenyum melihat wajah Vino dekat sekali.


"Tentu saja, ini supaya aku benar-benar bisa merasakan orang yang sangat aku cintai sedang demam" ucap Vino.


Hasna terdiam, dia merasa sudah berbuat jahat padanya yang selalu mencintai dan menjaganya tanpa lelah.


"Kau selalu mengatakan hal itu, itu membuatku merasa bersalah" ucap Hasna.


"Kalau kau merasa bersalah, terima cintaku, kau akan terbebas dari rasa bersalah itu" ucap Vino yang bibirnya hampir menyentuh bibir Hasna.


Hasna mendorongnya.


"Aku lapar!" ucap Hasna sambil mengambil piring dan sendok.


Dia membuka kantong berisi makanan dan menuangnya ke piring. Vino tersenyum, sudah bukan hal aneh jika Hasna menghindar. Justru akan terasa aneh jika suatu hari dia diam dan menerima ciumannya. Vino tersenyum memikirkannya.


"Kenapa tersenyum?" tanya Hasna sambil makan.


"Kau selalu menghindar, tapi akan jadi aneh kalau suatu hari kau bisa menerima ciumanku, aku pasti akan terkejut bukan?" ucap Vino.


"Kau yang tahu dirimu kenapa tanya aku" ucap Hasna.


Vino duduk dan menduduki jaket Fajri. Dia mengambilnya karena mengganjal punggungnya. Saat melihat itu adalah jaket Fajri, dia melemparnya ke lantai.


Hasna membulatkan matanya melihat jaket Fajri, kemudian mengalihkan pandangannya ke Vino.


"Aku tidak suka ada itu di sini, mulai sekarang aku akan tegas, aku tidak mau ada barang miliknya yang tertinggal di sini" ucap Vino marah-marah.


"Terserah, tapi jangan dilempar, dia juga tak pernah melempar barang mu jika ada yang tertinggal"


Hasna marah dan menggantungnya dekat pintu. Vino berdiri dan memakai jaketnya, dia hendak pergi karena Hasna selalu membelanya. Hasna terdiam melihat tingkahnya yang mulai random. Sebentar romantis, sebentar marah dan kadang menyebalkan.


Namun dia sedang ingin ditemani olehnya hari ini. Dia menarik jaketnya dan menyuruhnya duduk. Vino sedikit menahan senyumnya karena kepulangannya dicegah. Dia duduk dan menuruti isyarat yang diberikan Hasna.


"Boleh aku minta tolong?" tanya Hasna.


Vino mengangkat kedua alisnya.


"Ambilkan obat di kamarku!" pinta Hasna.


Vino berdiri dan mengambilkannya. Dia masuk dan mencari di meja namun tak ada, yang ada hanya laptop yang terbuka sedikit. Dia mencari dengan menyentuh laptop itu.


Hasna yang ingat bahwa laptopnya masih di meja dan belum dia simpan di laci, buru-buru masuk kamar dan membuka pintu dengan keras. Vino yang sedang membungkuk mengambil kantong obat yang terjatuh, tertabrak pintu yang dibuka Hasna. Vino langsung memegang kepalanya kesakitan.


Hasna mengigit bibirnya, dia merasa bersalah setelah tahu bahwa Vino sedang mengambil obatnya saja. Dia meraih kepala Vino dan mengusapnya dengan rambutnya.


Hal yang biasa dilakukan orang jaman dulu saat kepala anaknya terbentur. Banyak yang bilang, perlakuan itu akan membuat rasa sakitnya berkurang.


Vino tertawa mendapatkan perilaku manis Hasna yang terbilang kolot.


"Kau ini manis sekali, sering menolakku, tapi sangat takut aku tinggalkan dan takut aku terluka. Bagaimana sebenarnya persaaanmu padaku?" tanya Vino.


Dia duduk sambil mengaitkan kedua tangannya di salah satu lututnya. Tersenyum melihat Hasna yang jadi canggung dengan perhatian yang dia berikan padanya.


"Aku hanya terbiasa melakukan hal itu, siapa saja yang terbentur" ucap Hasna mengelak.


Vino berdiri saat Hasna berdiri, karena sangat gemas dengan Hasna yang selalu mengelak akan perasaannya, dia mendorong Hasna ke pintu dan mendadak mencium bibirnya. Kemudian mencubit dagunya yang lancip.


Hasna terkejut dengan 'serangan' Vino. Dia hendak marah, namun Vino malah melempar bahunya dan membuka pintu lalu duduk di sofa, menyalakan tv.


Hasna merasa sedang dipermainkan. Dia datang dengan kantong obat ditangannya. Dia hanya melihat Vino yang sedang memindahkan saluran televisi. Karena merasa diacuhkan, dia membuka obat dan meminumnya sendiri.


Tatapannya masih pada Vino, dia berpikir akan ketakutan bahwa Vino membuka laptop dan melihat isinya. Tapi dia menghela karena hal itu tak terjadi. Hasna mengatur nafasnya karena menelan air bercampur udara, hal itu menyebabkan dadanya sakit.


Vino meliriknya dan melihat dia sedang memukul dadanya dengan perlahan. Vino panik dan mendekat.


"Kau baik-baik saja? Kau merasa sesak?" tanya Vino khawatir.


"Sepertinya aku menelan air bercampur udara, dada ku sakit" ucap Hasna.


"Apa yang harus aku lakukan? kita ke dokter saja ya?" Vino panik.


"Tidak usah, aku akan mengatur nafasku. Sebentar lagi membaik" ucap Hasna sambil mengatur nafas.


Vino duduk di depannya, hanya bisa memegang sofa yang Hasna duduki. Kemudian dia ingat kejadian saat sekolah, Fajri selalu membawa inhaler di sakunya.


"Kau menyimpan inhaler dimana? biar ku ambilkan!" ucap Vino.


Hasna ingat, namun inhaler itu ada di kamar, di lacinya. Dia tak bisa menunjukkannya, dia takut Vino mengetahui apa yang dia lakukan selama ini.


"Di kamar mu?" tanya Vino.


Dia berdiri dan hendak mengambilnya ke kamar. Hasna panik, dia menarik tangan Vino dan membuatnya jatuh di sofa di dekatnya. Hasna menempelkan kepalanya di dada Vino untuk membuatnya tak beranjak lagi.


"Begini saja, ini sudah sangat nyaman!" ucap Hasna.


Benar saja, Vino menjadi patung untuk beberapa saat karena Hasna bersandar di dadanya. Kemudian dia mulai menyamankan diri dengan posisinya. Dia membelai rambut Hasna hingga mengusap punggungnya.


"Ya, tepuk di sana, dipijat juga boleh. Agak sedikit sakit soalnya" ucap Hasna saat tangan Vino mengusap punggungnya.


Vino tersenyum, dia tahu Hasna hanya memanfaatkan situasi agar dia mau memijatnya. Tapi dia sangat menyukai momen itu, dia memijat punggung Hasna dengan lembut.


Tak berapa lama dipijat, Hasna sendawa cukup keras dan membuat Vino yang hampir tertidur, terkejut dan menatapnya.


Hasna tertawa melihat wajahnya yang lucu saat terkejut. Vino memukul pelan lengan Hasna karena suara sendawanya.


Mereka bersenda gurau, kembali Hasna menghindarinya dan memakai alasan lain untuk tidak duduk terlalu dekat dengannya.


Vino suka dengan situasi ini, Hasna pun sama. Ada hal yang disukainya dari Vino. Namun karena dendam, dia menahan diri untuk menjalin hubungan dengannya.


~Jika aku menjalin hubungan dengannya, dia pasti akan kecewa saat mengetahui pacarnya adalah orang yang menyakiti banyak orang karena dendamnya. Aku akan meninggalkannya tanpa menaruh harapan padanya suatu saat nanti. Namun aku juga ingin membuat kenangan manis di setiap momen bersamanya. Aku menyukai mu Vino. Tapi aku tak mau melibatkan mu~


Hasna ingin bersama Vino, namun tak ingin membebaninya. Meskipun dia tahu dengan selalu bersamanya hanya memberinya harapan palsu, namun setidaknya akan ada kenangan manis bersamanya yang bisa diingat.