
Fajri membuka tas yang dia bawa. Dia memperlihatkan pakaian mana saja yang dia ambil. Dia menunjukkannya pada Hasna yang terlihat malas merespon.
"Dengar, aku tidak membawa pakaian dari rumah Vino. Aku tidak mau kesana, jadi, kau pilih diantara yang aku bawa ini untuk ganti pakaian"
Tangan Fajri menunjuk ke beberapa pakaian yang dia bentangkan di sisi Hasna.
"Pilih! " seru Fajri karena Hasna masih diam menatap semua baju itu.
Hasna menunjuk pada baju berwarna coklat di sisi yang jauh darinya. Fajri membantu mengambilkan dan menyerahkannya pada Vania untuk membantunya berganti pakaian, dengan dilempar.
"Jangan bersikap seperti itu padanya!" ucap Hasna kesal.
Fajri yang sudah berbalik, tersenyum. Dia berhasil membuat Hasna bicara, dengan bersikap acuh dan mengesalkan pada Vania.
Mata Vania membulat melihat wajah Fajri yang merasa menang, kemudian beralih pada Hasna. Dia senang Hasna tiba-tiba bicara dan membelanya.
Fajri berbalik.
"Nah, gitu dong, ngomong" ucap Fajri.
Hasna menghela, dia berbaring kembali.
"Nanti saja ganti pakaiannya Van, aku mau istirahat dulu" ucap Hasna.
"Siap Bu pengacara! " seru Vania.
Suaranya terdengar riang, dia merasa senang Hasna mau bicara lagi. Vania keluar dari ruangan Hasna mengikuti langkah Fajri.
"Aku tidak sangka kalau sikap dingin Pak Fajri adalah bagian dari rencana untuk membuat bu Hasna kembali bicara"
Fajri tersenyum, di senang bisa berhasil.
"Kalau begitu, berarti, sikap Pak Fajri tidak sungguh-sungguh acuh terhadap ku kan? " ucap Vania dengan menabrakan lengannya ke lengan Fajri.
Fajri melirik, kemudian menjauh darinya.
"Hei, hei. Sadarlah, jangan terus berangan! " ucap Fajri.
Vania terus saja tersenyum, dia tak memperdulikan ucapan Fajri.
Tapi Fajri hanya ingin Hasna tak diam seperti dulu lagi. Dia akan melakukan apapun agar Hasna kembali menjadi Hasna yang dia bawa kembali ke dunianya.
**
Pak Rahmat menunggu, begitu pun Beno. Mereka siap mendengarkan apa yang hendak Pak Wira katakan.
"Loloskan kasus Pengacara Hasna Maulida Fadilah"
Kalimat pertama yang keluar membuat Pak Rahmat dan Beno tercengang. Mereka tak menyangka hal itu akan keluar dari mulut Pak Wira yang mereka kenal sangat ketat dan tanpa ampun.
"Tapi Pak... " Pak Rahmat hendak menyela.
"Kasus Wahyudin, di membantu untuk memecahkan masalah penyelundupan narkoba yang membantu pengobatan beberapa jenis kanker"
Mata Beno semakin membulat saja.
"Kasus " JURAGAN GARANG" jelas, dia membantu membongkar semua praktek rentenir bahkan merambat ke seluruh wilayah lain. Orang-orang jadi tak takut melaporkan kasus yang sama"
Pak Rahmat masih menunggu kelanjutan ucapan Pak Wira.
"Tapi Pak, kasus longsor itu..? " Beno kembali menyela.
Kali ini Pak Wira menatap tajam padanya. Beno mengalihkan pandangannya. Pak Rahmat hanya melirik saja padanya.
"Kasus longsor, aku yang menyuruhnya" ucap Pak Wira.
"Apa? " Pak Rahmat terkejut.
Terlebih Beno, matanya semakin membulat seolah akan lepas dari wajahnya.
"Kasus bangunan roboh tahun lalu, aku menyerah dan hendak meminta seseorang untuk menyelidikinya. Tapi kalian semua sibuk karena penemun mayat wanita dalam koper"
Pak Rahmat mengerutkan dahinya.
"Lalu aku bertemu Hasna yang sedang memperhatikan perumahan itu"
***
Hasna duduk di kursi panjang sebuh warung tepat di depan rumahnya. Sebelumnya dia sudah bertanya perihal pemilik dan kejadian yang mungkin mereka tahu tentang rumah itu.
Hasna mendapatkan jawaban yang membuatnya kesal. Semua orang berpura-pura tak tahu dan seolah bungkam juga takkan pernah mengungkit kejadian itu.
Hasna meremas gelas plastik berisi ampas kopi bekasnya minum. Kedatangannya siang itu sia-sia karena mereka tak mau mengungkapkan kasusnya.
Tak berapa lama, Wira yang memang juga tinggal di lingkungan dekat sana, datang membeli sebungkus rokok juga segelas kopi hitam. Dia duduk tepat di sisi Hasna yang mulai hendak berdiri dan pergi.
"Kau memperhatikan rumah itu sejak tadi. Boleh aku tahu alasannya? " tanya Wira.
Langkah Hasna terhenti, dia menoleh dan menatap juga memperhatikan sekujur tubuh pria paruh baya itu.
"Rumahnya cukup besar, aku rasa aku cukup tertarik untuk aku jadikan rumah ku dan calon suami ku nanti" ucap Hasna membual.
"Rumah itu, milik satu keluarga yang bahagia. Orang tua bersama putri tunggal mereka" jawab Wira.
Hasna terkejut dengan ucapan Wira. Dia tak tahu akan mendapatkan jawaban itu dari mulut pria yang dianggapnya sama saja dengan mereka yang ada di sana.
Wira menunduk seolah sedih hendak menceritakan semuanya. Hasna kembali duduk dan menatap Wira dengan penasaran.
"Putri mereka menjadi korban pelecehan, tapi kurangnya bukti membuat mereka buntu dan menjadi menyerah pada keadaan. Sayang sekali" ucap Wira.
Hasna terdiam, tangannya mengepal diatas pahanya.
"Tidak ada kisah horor, mereka pindah karena tak bisa melunasi hutang pada rentenir. Kamu tidak usah takut untuk membelinya" ucap Wira.
"Dimana pemilik baru rumah itu?" tanya Hasna.
"Entahlah, aku dengar semua surat tanah milik beberapa kepala keluarga di sini sudah diambil alih oleh seorang rentenir. Aku juga tidak tahu persisnya, apalagi rumahnya"
Jawaban Wira tak berarti baginya, karena saat itu dia sudah mulai berhasil menghasut Ryan untuk menentang pekerjaan ayahnya.
"Anda tinggal di sekitar sini? " tanya Hasna penasaran karena dia tahu dan mau menceritakan kisahnya.
"Aku tinggal di dekat sini, aku juga adalah pimpinan dari polisi yang mengusut laporan itu, karena kasus itu juga aku dipecat dan dipindahkan ke pedalaman selama beberapa tahun" jelas Wira.
Hasna diam, namun matanya memperhatikan Wira dengan baik.
Wira berdiri dan hendak pergi setelah minum kopi dan bicara banyak dengannya.
"Aku harus pergi, kali ini aku sedang ditugaskan untuk menangani kasus tower yang rubuh itu. Senang bisa bertemu dan bicara dengan mu" ucap Wira.
"Tower itu rubuh karena sabotase" usap Hasna.
Ucapannya mencegah kepergian Wira, yang kemudian berbalik dan menatapnya.
"Hasna Maulida Fadilah, pengacara baru Pak, tapi saya cukup paham apa yang terjadi di gedung tinggi bersejarah itu"
Ucap Hasna sambil menawarkan jabatan tangannya. Wira menatap wajahnya yang bersinar penuh semangat dan harapan.
Wira tersenyum kemudian menyambut jabatan tangannya. Dia merasa punya teman bicara yang tepat untuk kasus yang akan membawanya kembali menjadi kepala pimpinan.
**
Pak Wira menghela dengan keras mengingat semuanya.
"Dia melakukan semua demi sebuah bukti atas kasus Bima Sebastian" ucap Pak Wira.
Pak Rahmat dan Beno tambah terkejut mendengar Pak Wira memberikan bukti milik kepolisian pada Hasna.
"Tapi Pak, hal itu sangat tidak sesuai dengan aturan. Anda bisa diberikan sanksi atas perbuatan Anda" ucap Beno.
Pak Rahmat menatap Beno dengan hela nafas, seharusnya dia yang mengatakan hal itu. Tapi dia kalah cepat karena Beno sangat cerewet sejak tadi.
"Ya, tidak apa-apa jika aku harus dipecat dari jabatan ini. Aku juga merasa berat dengan jabatan ini" jawab Pak Wira.
Pak Rahmat berdiri dan merapikan jasnya.
"Aku tidak bisa jamin Hasna bisa lolos, kasus ini sudah masuk ke kejagung. Penangkapan Hasna ditangguhkan karena dia sudah tertembak oleh Bima. Akan sulit melakukan apa yang kau minta"
Pak Rahmat bicara sambil berjalan menuju mejanya. Pak Wira menatapnya, sementara Beno mengangkat kedua alisnya merasa Pak Rahmat bersikap angkuh.