My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
83



Hasna duduk di mobil menatap kosong ke arah jalan di depannya. Fajri datang dari arah lapas dan masuk dengan wajahnya yang muram. Dia duduk di samping Hasna dan ikut diam menatap jalanan.


"Dia mencuri minyak tanah dan mengunci dapur kemudian membakar dirinya sendiri" ucap Fajri.


Hasna diam saja mendengar ucapannya.


"Hadi mengabari bahwa Bayu juga meninggal karena menenggak racun yang dia siapkan di sakunya" lanjut Fajri.


Kali ini Hasna menoleh dengan matanya yang membulat.


"Apa? " Hasna bereaksi.


Dia tak percaya mereka merencanakan bunuh diri.


"Perkumpulan macam apa yang mampu mempengaruhi mereka sampai seperti ini? " ujar Fajri.


"Bagaimana ini bisa terjadi? " gumam Hasna.


"Apa? " Fajri tak jelas mendengar ucapannya.


"Nunik meminta bantuan ku seolah dia sangat ingin kembali berkumpul dengan Nina dan tak ingin apapun terjadi padanya. Bagaimana bisa dia begitu mudah melakukan hal itu? " lanjut Hasna.


Fajri menatap wajah Hasna yang begitu terluka dengan kejadian ini.


"Apa yang akan dilakukan Nina tanpa kedua orang tuanya? "


Tangis Hasna mengalir begitu saja di pipinya. Fajri hendak menyadarkan kepala Hasna di bahunya. Tapi dering telpon mengurungkan niatnya.


"Ya hallo! " seru Fajri.


Mendengarkan beberapa saat, mata Fajri membulat menatap Hasna yang sedang menghapus tangisnya.


"Kau sudah memastikannya? " tanya Fajri.


Fajri menutup telponnya, dia meletakkan ponsel di dashboard dan menghela keras.


"Kita harus ke rumah sakit" ucap Fajri.


"Ya, kita harus memastikan bahwa mereka benar-benar bunuh diri" ucap Hasna.


"Bukan, kita harus memastikan bahwa gadis yang ditemukan meninggal di lorong pertokoan adalah Nina"


"APA? " Hasna menganga tak percaya.


Fajri menyalakan mobilnya dan menginjak gas. Tapi tangan Hasna memegang stir, dia belum paham dengan apa yang dikatakan Fajri.


"Apa maksud mu mengatakan kita harus memastikan bahwa itu Nina?"


Fajri terdiam sejenak kemudian menatapnya.


"Beberapa warga melaporkan penemuan mayat seorang gadis di lorong pertokoan. Anak buah ku mengatakan bahwa dia adalah anak dari Bayu" jelas Fajri dengan suara pelan.


Tangan Hasna terkulai, dia lemas menghadapi semua ini.


"Kalau kau mau pulang, aku antar sekarang, nanti aku akan ke rumah mu membawakan mobil mu" ucap Fajri.


Hasna masih gemetar dan menghela beberapa kali untuk menenangkan dirinya.


"Tidak, aku akan ikut" jawab Hasna.


Fajri menuruti keinginannya, mereka pergi ke rumah sakit. Rumah sakit yang sama tempat jasad Nunik, Bayu dan Nina diperiksa.


Sampai di sana, Hadi berdiri di depan pintu masuk, dengan wajah cemas dan takut Fajri akan memberikan hukuman padanya.


Hasna berjalan perlahan, sementara Fajri berjalan cepat. Dia langsung bicara pada Bayu.


"Sudah periksa CCTV kantor? " tanya Fajri.


"Ah, sedang diperbaiki. Tadi... saat aku beli kopi, CCTV-nya rusak beberapa menit" jawab Hadi gugup.


"Jadi kau meninggalkan nya sendirian? " nada suara Fajri cukup tinggi.


"Maaf Pak, saya telah lalai" ucap Hadi sambil menundukkan kepalanya.


Fajri kesal, tapi dia menahan diri untuk memukul kepalanya. Dia malah jadi ingat Beno saat hendak memukulnya.


"Dimana mereka? " tanya Hasna.


"Mereka? Siapa? " tanya Hadi dengan mata yang bulat penuh.


"Bayu, Nunik dan Nina" jawab Hasna.


"Jasad Nina? " Hadi semakin terkejut.


Hasna dan Fajri pergi meninggalkan nya yang masih diam. Mereka mencari dan ditunjukkan ke ruang jenazah. Beberapa petugas sudah menunggu di sana.


Fajri menarik tangan Hasna.


"Kau tidak boleh masuk! " ucap Fajri mencegah langkah Hasna.


"Jri, please! " Hasna memohon.


"Aku tidak mau profesi mu sebagai pengacara dicabut selamanya" ucap Fajri.


Fajri meraba wajah Hasna dengan tatapan matanya.


"Ini kasus besar, tapi dengan meninggalnya mereka, kasus ini akan semakin rumit. Jadi bersabarlah untuk saat ini. Tunggu hingga skorsing mu selesai, baru kau lakukan sesuka mu" pinta Fajri.


Hasna menunduk, dia duduk di ruang lain yang cukup tak terlihat oleh petugas lain. Fajri meninggalkan nya.


~Fajri benar, langkah ku kali ini masih tersendat. Aku harus bersabar saat ini, dan aku akan menunggu hingga waktunya tiba, aku akan membongkar perkumpulan si@l@n itu~


Hasna diam duduk, Hadi datang dengan lemas duduk di sampingnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" ucap Hadi.


Hasna melipat tangannya di perut dan bersandar ke belakang.


"Nina meminta ku untuk melindungi dirinya dan Bayu, kenapa mereka berakhir seperti ini. Aku gagal melakukan apa yang Nina minta" lanjut Hadi.


Hasna bereaksi, dia menyentuh bahu Hadi dan mengalihkan tubuhnya agar menghadap padanya.


"Nina bilang apa? " tanya Hasna.


"Beberapa kali kami bicara, Nina bilang mereka terjebak oleh sesuatu. Dia meminta ku untuk mengatakan pada siapapun yang bisa membantu selain polisi. Maka dari itu aku menghubungi mu. Nina bilang, jika polisi, mereka semua akan mati mengenaskan. Aku menyesal mengatakan semua ini pada komandan" jelas Hadi.


"Terjebak sesuatu apa? " Hasna bergumam.


"Nina sangat menyayangi Bayu, dia bilang Bayu sangat melindunginya. Dia berjanji akan melepaskan dirinya dari hal menyeramkan ini. Tapi aku tak mengerti apa yang dia maksudkan. Saat aku bertanya, dia buru-buru pergi karena Bayu datang" lanjut Hadi.


"Nunik membakar dirinya di dapur lapas, Bayu menenggak racun dan Nina ditemukan meninggal di lorong pertokoan. Apa itu yang dia maksud mengenaskan? " gumam Hasna.


Hadi ikut berpikir dengan apa yang dikatakan Hasna.


"Perkumpulan si@l@n macam apa yang mampu membuat mereka seperti ini? " Hasna mengumpat.


***


Vino duduk mendengarkan Nendi menceritakan semua yang terjadi.


"Sudah beberapa hari berlalu, Hasna masih diam di rumahnya. Fajri tak bisa menuntaskan kasus itu karena saksi meninggal bunuh diri juga dia kehilangan semua buktinya lagi" ucap Nendi.


Vino mengusap wajannya.


~Hasna masih bersedih untuk mereka, dia juga sedang berpikir keras untuk kasus itu~ ucap hati Vino.


"Fajri juga mendapatkan kasus baru. Venus, dia menemukan semua rekan bisnis Venus dan menangkap mereka semua. Untuk kasus itu, Venus tak pernah membuka mulutnya" lanjut Nendi.


Vino mengambil foto Hasna yang berdiri di samping Fajri saat pemakaman keluarga kecil itu.


"Dia tak pernah sekali pun menemui Fajri, meski seringkali Fajri datang mengetuk pintu rumahnya" Nendi menambahkan.


~Kau butuh dia untuk semua ini, setidaknya untuk bersandar di bahunya. Aku mengizinkan mu melakukan hal itu. Kau juga tak datang untuk meminta hal itu dari ku. Jadi aku izinkan, hanya sebagai kakak angkat mu~ ucap hati Vino.


"Hanya itu yang bisa saya sampaikan, Pak! " ucap Nendi menutup buku jurnalnya.


"Bakar buku itu, jangan sampai ada yang tahu kau menyelidiki mereka" ucap Vino sambil berdiri.


Nendi menatapnya dengan heran.


~Sejak tadi aku memberikan informasi, dia baru bicara sekarang? Sekalinya bicara minta buku ku dibakar~ keluh Nendi dalam hati.


"Uangnya sudah ditransfer, lebih dari cukup untuk membeli buku jurnal yang baru" ucap Vino sambil beralu.


"Ya Pak, terimakasih" Nendi menundukkan sedikit bahunya.


Dia menatap pintu, memastikan Vino masuk dan sudah tak ada di sana.


"Wahh, dia bahkan bisa membaca isi hati ku" gumam Nendi.