My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
118



Hasna menaruh semua peralatan obat di lemari. Dia mulai bisa mengendalikan suasana hatinya. Dia berencana untuk menghubungi Wira, untuk menentukan waktu untuk menjadi persembahan mereka.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Vino.


Hasna berhenti mencari kontak Wira di ponselnya. Tapi layarlayar ponsel menunjukkan daftar nama kontak persis di nama Wira.


"Menanyakan kapan aku harus mempersiapkan diri" jawab Hasna.


"Bisakah kau mengurungkan niat mu? " tanya Vino seraya mendekat.


"Tidak, Dania harus selamat. Aku juga tidak mau ada korban lain. Aku harus.... "


Vino memeluk Hasna dari belakang. Hasna memejamkan matanya merasakan kehangatan dari pelukannya.. n


"Aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkan kau pergi ke sana" bisik Vino.


"Ucapan mu bertentangan dengan niat mu, aku muak dengan semua ini Vino" jawab Hasna.


Vino melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Hasna.


"Tidak, kau tidak tahu apa rencana yang aku buat. Ini hanya sebagai...."


"Kau, Keanu, bahkan mungkin Fajri menyembunyikan semuanya dari ku. Mungkin benar kalian punya rencana agar aku tak menjadi mangsa mereka, tapi....


Kenyataannya kalian, aku bahkan siapapun tak bisa menghentikan semua ini"


Vino menangis.


"Tidak, masih ada jalan. Aku yakin masih ada jalan untuk menghentikan ini, kita hanya perlu bicara dan mendiskusikan semua ini sejenak" ucap Vino.


Hasna menatapnya dengan penuh kesedihan.


"Apa yang bisa kita kompromikan? Dania mungkin sudah sangat lelah menghadapi ketakutannya saat ini, aku yang paling tahu betapa menyakitkannya itu Vin"


"Aku tahu, aku pun tahu bagaimana kau selalu terbayangi oleh mimpi buruk yang terjadi. Dan itupun karena ayahku. Tapi sayang, aku bisa melakukan sesuatu agar kau tak sampai menjadi mangsa mereka, sekaligus kita bisa menghentikan sekte ini lagi" jelas Vino.


Mata Hasna membulat, dia percaya dengan ucapan Vino. Merasa ada harapan untuk melakukan sesuatu yang mungkin dapat menghancurkan perkumpulan itu tanpa harus mengorbankan siapapun.


Vino tersenyum, dia senang Hasna masih mempercayai dirinya. Dia menjelaskan semua rencana yang telah dia rancang.


***


Sementara itu di aula hotel.


"Ini benar-benar terjadi dan aku tidak pernah membalikkan fakta"


Wira bicara seolah dia kerasukan, Fajri bahkan terkejut melihat bagaimana dia begitu emosi.


Wira mundur perlahan dan kembali duduk di kursi itu.


"Bima berhasil masuk, dia mendapatkan semua yang diinginkan semua orang, kekayaan dan kekuasaan"


Fajri menatapnya dengan sinis.


"Bima juga menyokong semua kebutuhan dan apa yang aku inginkan sehingga aku harus masuk ke perkumpulan ini. Awalnya aku juga hanya ingin mendalami dan mencari kelemahan perkumpulan ini. Tapi tak semudah itu, kalian pun tahu tak semudah itu kan? " ucap Wira dengan mata menatap Fajri.


"Hufft, Korban pertama Bima adalah ibu mu" ucap Wira dengan sedikit tertawa.


Fajri tersentak, matanya membulat mendengar ucapan Wira. Dia meronta berusaha ingin meraih Wira dan menghajarnya.


"Bima berhasil melakukannya dan mendapatkan kekayaan, dia gagal menolak persembahan pertama dan merasa ketagihan untuk melakukan pengorbanan lainnya"


Fajri menangis, dia kesal dengan semua cerita Wira.


"Lama bergabung, akhirnya Bima mengetahui siapa yang memulai sekte ini"


Sejenak Wira terdiam, Fajri, Hadi dan Vania fokus mendengarkan.


Fajri terpaku tak bisa bicara mendengar kenyataan itu.


"Ya, untuk membalas semua dendam kami, kami berencana untuk mengorbankan Hasna dan mengakhiri sekte ini. Dia wanita satu-satunya keturunan keluarga Hasan. Jika dia mati maka perkumpulan ini tidak perlu dilaksanakan lagi. Karena kepintaran mu, Venus bisa dipenjara. Karena dendam Hasna sisa keluarganya mati"


Fajri mengingat semua kasus yang Hasna tangani yang berhubungan dengan keluarganya. Hasna digiring untuk melakukan dendam dan menghabisi keluarganya sendiri.


"Kami sepakat, setelah Hasna dan Venus mati, perkumpulan ini tidak akan pernah ada lagi dan kami tidak akan pernah meminta apa yang sudah diterima dan diberikan"


Fajri sedikit terpengaruh dengan cerita Wira. Dia juga ingin membalaskan dendamnya setelah mendengar bahwa ibunya menjadi korban pertama dari Bima.


Fajri kini tahu mengapa ayahnya begitu ingin menyelidiki sekte ini. Tapi menyembunyikan nya darinya. Fajri baru sadar, dia baru paham mengapa kotak milik ayahnya berisi foto Hasna dan keluarganya. Ayahnya sudah menyelidiki dan mengetahui bahwa Hasna adalah keturunan keluarga Hasan.


Wira berdiri, dia merapikan jasnya dan berjalan mendekati Fajri.


"Itulah mengapa aku ingin sekali Hasna yang menjadi korban malam ini. Kau akan menyaksikan hal itu dengan mata kepala mu sendiri di ruangan ini. Kau juga harus menikmati bagaimana membalaskan dendam ibu mu"


Wira pergi meninggalkan Fajri yang berpikir dan diliputi kekecewaan terhadap keluarga Hasna.


Vania yang melihat itu berusaha meyakinkan Fajri untuk bisa melepaskan diri dari sana.


"Fajri!"


"Fajri! "


"FAJRI! "


Vania berteriak agar Fajri mau menoleh karena terus berpikir.


"Dengar, kau harus dengarkan aku. Wira berbohong, alasan mereka terlalu omong kosong. Hasna bahkan tidak pernah tahu kalau Venus adalah kakaknya, ataupun keturunan keluarganya yang melakukan semua ini"


Tapi Fajri masih diam menangis menatap langit-langit ruangan.


"Sadarlah Fajri, Wira mengarahkan dirimu untuk membencinya. Hasna tidak tahu apa-apa! " Vania terus berusaha membuat Fajri sadar.


Fajri tertunduk dan diam.


"Fajri aku mohon, kita harus menyelamatkannya. Malam ini dia tidak boleh jadi korban" ucap Vania.


"Lalu apakah kau mau jadi penggantinya? " ucap Fajri.


Sontak Vania terkejut dengan pertanyaan konyol Fajri.


"Apa? " Vania tak percaya Fajri bisa mengatakannya.


"Jika Hasna tidak jadi korban malam ini, akan ada Nabila dan gadis-gadis lainnya yang menjadi korban dari kekejaman bisnis Venus dan perkumpulan sialan itu. Kau mau jadi salah satunya?" Fajri meninggikan nada suaranya.


"Pak! " Hadi hendak menyela.


"KAU, ADIK MU, BAHKAN PULUHAN ORANG AKAN JADI KORBAN PERSEMBAHAN SEKTE SIALAN INI! " teriak Fajri.


Vania menganga semakin tak percaya Fajri mudah terpengaruh karena mendengar ibunya jadi korban.


"Dia harus mati, semua keturunan Hasan harus mati" gumam Fajri.


"Apa jaminannya mereka menghentikan praktek jual beli organ dalam setelah kematian Venus dan Hasna? Apa jaminannya mereka menghentikan praktek yang justru mereka tergiur untuk melakukan pelecehannya?" ucap Vania lirih.


Hadi menatap Vania kemudian Fajri secara bergantian. Dia mengangguk menyetujui ucapan Vania.


"Iya Pak, itu yang ingin aku katakan" ucap Hadi.


Fajri menghela, sejenak dia terdiam kemudian dia tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.


Vania menghela melihat reaksi Fajri.