
Revan mengabari Beno tentang Hasna yang sudah sadar.
"Ya, dia sudah sadar" ucap Revan lewat telpon.
Beno yang baru sampai dari kampung halaman Vania.
"Benarkah? "
Akhirnya, setidaknya ada satu kabar baik yang dia dengar.
"Tapi.... " Revan berhenti sejenak.
Beno mengangkat satu alisnya, menunggu kelanjutan ucapan Revan.
"Dia tak mau merespon apapun"
"Apa maksud mu? " tanya Beno.
"Dia diam saja, seperti patung. Dia bahkan tidak merespon senter yang ku sorotkan pda matanya" jawab Revan.
"Dia stroke? " Beno menebak.
"Bukaaaan! "
"Lalu apa? " tanya Beno dengan nada suara yang cukup kesal.
"Semua pemeriksaan menunjukkan hal yang baik, tapi dia tidak mau mengatakan apapun. Atau bahkan bergerak sekali pun"
Revan yang sedang di dalam ruang rawat Hasna bicara sambil menatapnya.
"Aku tidak paham dengan apa yang kau katakan, aku akan ke sana sekarang" ucap Beno.
Tapi dia melihat sebuah papan alamat rumah Vania.
"Tidak, mungkin malam aku baru bisa ke sana" ucap Beno.
"Kau pasti sedang sibuk" ucap Revan.
"Hmmm, begitulah" jawab Beno.
"Baiklah aku akan... "
Belum selesai Revan bicara, Beno sudah menutup telponnya.
"Ahhh, dasar. Dia semakin bertingkah" gumm Revan kesal.
Dia memasukkan ponselnya ke saku kemudin kembali menatap Hasna.
Beberapa detik menatapnya, Revan semakin merasa Hasna cantik alami. Kemudian dia mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang terbuka.
Venus ada di sana, berdiri dengan senyumannya yang khas.
"Hai! " sapa Venus.
"Hallo Pak, selamat siang" ucap Revan.
"Siang, aku mau.... " Venus menatap Hasna di ranjangnya.
"Ya, silahkan. Aku baru saja memeriksanya, Hasna membaik dengan cepat" jelas Revan.
"Terimakasih"
Venus mendekat dengan mata menatap mata Hasna yang sendu dan kosong.
"Hai! " sapa Venus pada Hasna.
Tapi Hasna tak merespon. Revan tersenyum dan menjelaskan.
"Aku rasa, Hasna mengalami trauma yang cukup dalam. Dia menolak untuk menjawab, ataupun sekedar merespon apapun"
"Trauma?" gumam Venus.
Venus menyentuh tangan Hasna, berlakon sebagai kakak di depan Revan.
"Aku sudah di sini, kau jangan takut. Kakak mu akan melindungi mu" ucap Venus.
Revan senang dengan perlakuan Venus pada Hasna.
"Kalau begitu aku pamit" ucap Revan.
"Sekali lagi terimakasih Dok! " ucap Venus.
Revan mengangguk dan pergi.
Venus melepaskan tangannya dan duduk di hadapan Hasna. Dia bergerak ke kanan dan kiri untuk memastikan Hasna benar-benar diam atau hanya pura-pura.
"Kau mengenaliku kan? " tanya Venus.
Dia bangun dan berjalan mengitarinya.
Hasna diam saja, percuma Venus bicara panjang lebar tentang pertanyaannya. Dia bagai mayat hidup, tak bergerak dan tak merespon.
Venus duduk di sofa dengan melipat tangan di dadanya. Matanya memperhatikan Hasna yang masih saja diam. Menunggu dan berpikir Hasna akan melakukan sesuatu, karena pikirnya tak ada yang bisa diam dalam waktu yang cukup lama.
Tak lama berselang, Keanu datang. Dia yang sudah diperbolehkan pulang, datang dengan senyuman riang.
"Hasna! Aku punya sesuatu untuk mu! " serunya dari arah pintu.
Keanu berhenti saat yang dia lihat adalah Venus. Dia sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa Venus.
Tak ingin membuat Hasna terganggu, Keanu menaruh hadiahnya di meja dan mengajak Venus untuk bicara di luar. Venus mengikuti keinginannya dan ikut keluar.
Mereka duduk berdua di kursi dekat taman. Keanu menghela dengan wajah menengadah menatap langit.
"Kau akan membawanya? " tanya Keanu.
Venus menoleh dengan mata membulat, dia terkejut dengan pertanyaan Keanu.
Membawanya, maksud dari ucapan Keanu mungkin adalah membawanya pulang bersamanya ke rumahnya. Yang semua orang tahu, mereka adalah kakak beradik.
"Ya" jawab Venus.
Bukan keinginan tulusnya membawa Hasna. Dia hanya ingin menguasainya saja.
"Aku mencintainya, bolehkah aku mengunjunginya setiap hari? Kurasa kondisinya sekarang membutuhkan banyak hiburan dan... "
"Aku bisa mengatasinya" jawab Venus sebelum Keanu menyelesaikan ucapannya.
Keanu menatapnya kesal.
"Aku tidak begitu setuju jika dia bersama mu, meskipun kau adalah putra pengacara ternama, ataupun pemilik Firma Hukum terkenal sekalipun. Aku belum yakin mau memberikan Hasna padamu" ucap Venus dengan mata menatap tajam pada Keanu.
Glek...!
Keanu menelan salivanya.
'Astaga, ini lebih menegangkan daripada berhadapan dengan Fajri, mungkin karena dia adalah kakak kandungnya, atau mungkin karena Venus cukup menakutkan menjadi seorang kakak dari Hasna' ucap hati Keanu.
Venus sendiri merasa heran dengan semua ucapan yang keluar dari mulutnya.
'Aku bertingkah seperti kakak laki-laki yang protektif baginya?' ucap hati Venus.
"Ya, aku tahu. Tapi aku akan membuktikan kalau aku layak menjadi pelindungnya" ucap Keanu yakin.
"Ya, kita lihat saja nanti"
Venus berdiri dan kembali ke ruang rawat Hasna, meninggalkan Keanu yang diam saja.
Saat Venus masuk, Revan sedang ada di ruangannya. Revan sedang memberikan terapi padanya dengan bicara terus menerus, menceritakan semua pada Hasna tentang rumah sakit itu.
Venus memperhatikan dan diam.
"Hari ini aku mendapatkan pasien yang cukup unik, dia takut di suntik, tapi dia harus mendapatkan penanganan pemasangan infus. Kau bisa bayangkan bagaimana sulitnya melakukan itu. Dia terus histeris saat aku menyiapkan suntikannya, hahaha! "
"Apa kau yakin ini akan berhasil? " tanya Venus tiba-tiba.
Revan terdiam dan menatapnya.
"Ya" jawab Revab singkat.
Dia menyelesaikan pemeriksaannya dan keluar. Venus mengikutinya.
"Dia kehilangan orang-orang yang sangat berarti baginya. Jadi cukup sulit untuk menerima hal itu. Aku menyaksikan bagaimana dia terus meronta memanggil nama Vino dan Fajri. Butuh waktu untuk membuatnya percaya bahwa seseorang bisa menjadi kakaknya lagi seperti Fajri. Atau menjadi pria yang mencintainya seperti Vino. Jadi terapi bercerita tentang semua yang terjadi pada kita sehari ini, itu akan membuatnya mendengar. Meskipun dia masih enggan merespon " jelas Revan.
"Jadi aku harus menceritakan semua kegiatan ku sehari-hari padanya? " Venus sedikit enggan.
"Kau akan membawanya? " tanya Revan.
"Ya, tentu saja. Aku kakaknya" jawab Venus.
Revan cukup terkejut.
'Kenapa aku merasa akan kehilangan sesuatu yang cukup berarti? ' tanya hatinya.
"Kapan dia diperbolehkan pulang? " tanya Venus.
"Aku akan melakukan pemeriksaan sekali lagi, untuk memastikan dia benar-benar bisa pulang"
Revan mengucapkan kata pulang dengan hambar. Venus pun mendengarnya merasa seperti itu. Dia menatap Revan terus hingga Revan masuk ke ruang kerjanya. Venus pun kembali masuk dan melihat Hasna berbaring.
Saat berjalan lebih mendekat, Venus terkejut karena melihat busa keluar dari mulut Hasna. Venus panik, dia memencet bel, memanggil suster dan bantuan beberapa kali. Beberapa suster datang disusul Revan.
"Mulutnya, aku tidak tahu kenapa mulutnya tiba-tiba berbusa" ucap Venus.
Beru kali ini Venus merasa khawatir akan keadaan seseorang. Dia bahkan merasakan detak jantungnya semakin kencang melihat keadaan Hasna.
Dia mundur ketika suster dan Revan mulai menanganinya. Tatapannya tak bisa lepas dari Hasna yang kini kejang-kejang.