My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
43



Hasna berlari di lorong rumah sakit, seperti orang gila. Vino menyusul dengan perasaan yang sangat tak nyaman melihat Hasna begitu panik mendengar Fajri masuk ICU karena terjatuh di tangga. Tapi dia tak sempat mengatakan apapun atau mengeluh, karena Hasna langsung tancap gas ke rumah sakit tanpa minta izin dari dirinya.


Sampai di depan ruang ICU, Hasna berhenti kemudian menatap Fajri yang terbaring tak berdaya di sana. Nafas Hasna tersengal, begitupun Vino. Namun perasaan Vino bercampur dengan rasa kesal yang tak terucapkan.


"Hasna, aku nggak..."


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Hasna sambil menangis.


"Silahkan ke ruangan dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas. Tadi hanya rekan kerja dan atasannya yang datang. Tapi mereka sudah pergi lagi. Pihak keluarga belum menandatangani persetujuan operasi" jelas seorang suster yang ditanyanya.


"Operasi?" gumam Hasna.


Dia langsung pergi ke ruangan dokter. Lagi-lagi Vino ditinggalkan, dia hanya bisa menghela nafas dan menyusul lagi.


"Fajri, katakan padaku apa yang terjadi padanya" Hasna langsung duduk di kursi menatap dokter.


"Kau siapa?" tanya Dokter.


"Aku Hasna, adiknya" jawab Hasna mantap.


Vino tersenyum mendengar jawaban Hasna. Akhirnya dia bisa meredam rasa kesalnya. Dia ikut duduk mendengarkan penjelasan dokter.


Akhirnya Fajri dioperasi, Hasna menunggunya seharian. Bibirnya tak henti bergumam, mendoakan Fajri. Vino memperhatikannya, dia berpikir, apa jika dia yang ada di posisi Fajri, Hasna akan sama khawatirnya.


###


Beno menatap meja Fajri, dia tetap merasa sangat bersalah, meskipun semua terjadi karena ketidaksengajaan. Dia mengingat saat dia menyelinap masuk ke uang kendali CCTV. Dia menghapus rekaman di bagian dia dan Fajri bicara dan saat dia terjatuh.


~Aku sudah melakukannya dengan rapi, tidak ada yang akan mencurigaiku~ ucap hati Beno.


Tak lama kemudian, Vania datang untuk mengajak Beno ke rumah sakit.


"Kau mau ikut kami?" tanya Vania.


"Kemana?" tanya Beno datar.


"Ke rumah sakit, menjenguk Fajri" jelas Vania.


"Nanti malam, aku akan menungguinya nanti malam" jawab Beno beralasan.


"Oh, ok. Bye Beno" Vania pamit.


Dia pergi dengan beberapa rekan kerja lainnya. Sementara itu Beno menatap mereka dari jendela dekat meja nya.


Tiba-tiba seorang pria menelponnya.


"Ya Pak!" jawab Beno.


Beno terlihat diam mendengarkan ucapan pria itu. Sesekali dia menjawab "ya" dan "baiklah". Kata-kata yang dibenci Fajri, yang menurutnya kata-kata yang keluar dari seorang kacung.


Beno ingat semua kebiasaan dan pelajaran hidup yang Fajri berikan sejak pertama mereka menjadi rekan kerja. Begitupun dengan Pak Agung, ayah Fajri. Namun kenyataan hidup membuat Beno mengingkari semua yang dia anggap benar dan melanggar semua prinsip-prinsip itu.


Beno menutup telpon kemudian keluar dari kantornya. Dia bergegas pergi menuju rumah sakit, tapi bukan menjenguk Fajri. Beno pergi menjenguk Dara adiknya.


Sampai di depan pintu ruang rawatnya, Dara terdengar histeris meminta tolong. Beno buru-buru masuk dan melihat Dara sedang mengacungkan pisau buah pada perawatnya.


"Jangan dekati aku, pergi kau dari sini. PERGIII!" Dara semakin histeris.


Beno berusaha mendekat untuk menenangkannya, dia berjalan dengan perlahan sambil memperhatikan gerak-gerik Dara.


"Ini abang, Dara. Dara tenang ya, abang ada di sini buat Dara" ucapnya dengan tangan hampir menyentuh tangan Dara.


Dara terdiam dengan nafas terengah dan menatap Beno. Kemudian tangis pecah mulai keluar dari mulut Dara.


Dara histeris, Beno meraih tangan dan tubuhnya dia peluk. Pisau yang ada di tangannya, Beno lempar jauh-jauh. Perawat itu keluar sambil mengusap dadanya.


Beno menatap perawat itu, dia merasa takut perawat itu kapok, tak mau lagi merawat Dara, seperti perawat lain sebelumnya.


Sambil mengusap rambut Dara, dia juga berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.


##


Malam itu, Dara pulang dengan pakaian yang basah kuyup dan kotor penuh lumpur. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat Beno menemukannya terduduk lemas di bawah pancuran air di kamar mandi.


Beno yang memang datang hanya seminggu sekali ke rumahnya, tempat tinggal orang tuanya yang sudah meninggal, hanya menganggap Dara sedang kembali sedih mengingat kedua orang tuanya.


Beno merawat Dara selama seharian penuh. Tanpa bicara, dia hanya membantu Dara. Menyiapkan makan dan obatnya, juga tanpa bicara apapun. Hubungan mereka sangat canggung, terutama setelah kedua orang tua mereka yang meninggal karena kecelakaan. Beno menyalahkan Dara karena saat itu mereka sedang menyusul Dara ke tempat karya wisata Dara akibat lelucon telponnya yang membuat mereka panik berlebihan.


Keesokan harinya, Beno kembali bekerja dan membiarkan Dara sendiri di rumahnya. Beberapa minggu berlalu, Beno mendapat kabar dari tetangganya bahwa Dara berusaha bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya.


Beno menemui Dara terbaring lemah di rumah sakit. Dia menangis menatap adik sekaligus keluarga satu-satunya itu sedang berada diambang kematian. Dokter mengatakan dia kehilangan banyak darah. Beno harus berjuang keras untuk mendapatkan darah yang jenisnya cukup sulit didapatkan.


Beberapa oknum, menjual darah itu dengan harga tinggi. Beno tak mampu membelinya, dia putus asa, dia juga hampir berpikir untuk mengakhiri hidup bersama adiknya di rumah sakit.


Namun Bima Sebastian datang dengan membawa amplop coklat berisi tumpukan uang yang sangat diperlukan Beno. Tapi sayang, Dara sudah di vonis menjadi pasien rumah sakit jiwa. Dokter mengatakan dia mengalami trauma hebat yang membuatnya tak bisa lagi mengendalikan diri.


Tapi, Bima tak henti mengirimkan uang untuknya. Dia menjadi bergantung dan sangat berterimakasih pada Bima Sebastian.


Itulah alasan Beno mengabaikan bukti dan membantu Bima sampai di titik dimana dia harus mengorbankan teman sekaligus sahabatnya, Fajri.


##


Hari mulai malam, Beno masih duduk di samping Dara yang sudah terlelap akibat suntikan obat penenang. Sesekali Beno menghela nafas dengan berat. Dia tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Segala pengobatan sudah dia lakukan, tapi semuanya tak ada perkembangan yang baik. Dara semakin menjadi dan lebih sering histeris. Beno hilang harapan.


Beno keluar dari ruang rawat Dara, dia melihat perawat itu masih duduk menunggu di kursi di luar ruangan.


"Mba Nia!" seru Beno.


"Pak!" jawab Nia sambil berdiri.


"Huhhff, saya kira Mba Nia kabur kayak perawat sebelumnya" ucap Beno sambil tersenyum bodoh.


"Nggak Pak, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi saya akan tetap bertahan" jawab Nia.


Beno tersenyum dengan alasan yang disampaikan Nia. Sama halnya dengan dirinya, dia sangat membutuhkan uang itu, makanya dia melakukan segalanya untuk uang itu.


"Makasih ya! Saya janji, kalau saya dapat uang lebih, saya akan kasih Mba Nia bonus" janji Beno.


"Terimakasih Pak!" ucap Nia.


Beno hendak pamit, namun Nia mengajukan sebuah pertanyaan aneh.


"Apa Dara suka bikin tato?" tanya Nia.


"Apa? Tato?" Beno tak paham.


Nia berpikir kembali, dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang di ketahui. Dia merasa, mungkin ini adalah privasi dari Dara yang tak pernah dia katakan pada kakaknya.


"Ah, mungkin tanda lahir. Maaf Pak, saya salah kira" ucap Nia.


"Oh, tanda lahir itu. Ya, itu tanda lahir" ucap Beno mengingat tanda lahir yang cukup terlihat seperti bekas tato di punggung Dara.


Beno merapikan jasnya, dia hendak pamit. Pembicaraan mereka terputus di malam itu. Beno pergi rumah sakit dimana Fajri dirawat.