
Giliran Nabila yang memberikan kesaksian.
Mata Nabila menatap ke arah semua orang yang menonton persidangan itu. Dia juga menatap ke arah Wisnu kakaknya.
"Nona Nabila Frisia, katakan pada kami semua yang terjadi" ucap Jaksa.
Nabila menelan salivanya.
"Aku mendapatkan panggilan kerja di rumah pak Bima Sebastian. Karena aku sangat membutuhkannya, aku langsung pergi tanpa memberitahu kakak ku"
Wisnu menatap pilu pada adiknya yang sangat ingin membantu dirinya dalam memenuhi kebutuhan rumah.
"Sampai di sana, aku bertemu pak Iwan, penjaga rumah. Dia sudah bersiap untuk pulang karena dia bilang pekerjaannya sudah selesai"
Nabila mengambil nafas dalam.
"Dia bilang pak Bima tidak ada di rumah. Aku kecewa dan hendak pulang. Namun pak Dudung datang dan meminta pak Iwan untuk membiarkan aku masuk. Mereka terlihat berdebat, tapi aku tidak dengar apa yang mereka debatkan"
Pak Iwan yang sedang duduk di kursi penonton menghela, memperlihatkan dadanya yang bidang karena diafragma nya yang bergerak.
"Pak Dudung bilang agar aku menunggu di dalam sementara menunggu pak Bima datang. Aku menurut dan masuk"
Nabila terhenti untuk mengingat lagi.
"Lalu apa yang terjadi di dalam? " tanya Jaksa.
Nabila menatap Jaksa itu.
"Aku melangkah diambang pintu, tapi aku tidak ingat apa-apa"
"Maksudnya? "
"Tiba-tiba saja aku tersadar dan terbangun diatas tempat tidur yang besar di ruangan kamar yang besar. Aku merasakan sakit di selakangan ku. Tapi aku melihat seorang pria sedang melakukan sesuatu di sana"
"Apa yang dia lakukan? " Jaksa mengecilkan matanya menatap Nabila.
"Entahlah, aku hanya merasakan perih di sisi kiri paha ku. Aku juga sulit membuka mata ku meskipun aku mau dan ingin mengetahui apa yang dia lakukan padaku"
"Anda lihat siapa pria itu? " tanya Jaksa.
Nabila menatap Wisnu, dia diam untuk beberapa saat.
"Nona Nabila! Apa anda melihat siapa pria itu? " Jaksa bertanya lagi.
Nabila mengalihkan pandangannya lagi.
"Tidak, aku hanya melihat bagian kepalanya saja. Rambutnya sama seperti rambut pak Dudung" jelas Nabila sambil menunduk malu.
"Katakan dengan yakin, jangan seolah ragu dan berpikir" seru Jaksa.
"Keberatan pak Hakim, Jaksa penuntut tidak berhak menekan psikis saksi" ucap Jaksa pembela.
"Keberatan diterima. Saksi mengalami hal keji, bisa jadi dia tak bisa menyampaikan nya dengan mudah" ucap Pak Hakim.
Jaksa penuntut mendelik kesal karena Nabila masih saja tak mengatakan siapa pria itu.
Sidang hari ini selesai, semua saksi sudah dihadirkan. Sidang putusan pengadilan akan diadakan bulan depan.
***
Nabila duduk di sebuah ruangan dengan tangan meremas di pangkuannya. Fajri datang dengan kesal dan menunjuknya.
"Kau, kau ini kenapa sebenarnya? " tanya Fajri.
Wisnu datang menghadang Fajri, dia berdiri tepat di belakang Nabila.
"Jangan mendesaknya" ucap Wisnu.
"Kalian sengaja melakukan ini? " tanya Fajri dengan terengah menahan amarah.
Wisnu mengalihkan pandangannya.
"Nabila juga terguncang secara psikis, sama halnya dengan Dara. Kenapa kau hanya menyalahkan Nabila? " Wisnu membelanya.
"Berbeda, kau tahu sendiri semua berbeda. Kalian berbohong" ucap Fajri kesal.
Dia berbalik dan hendak pergi.
"Tapi sayangnya, dia akan ditetapkan sebagai pembunuhnya. Meskipun dia sudah mati" ucap Fajri tanpa berbalik.
"Aku tidak bohong! " seru Nabila.
"Pria itu bukan pak Bima, pria itu pak Dudung. Dia juga yang membuang ku. Aku setengah sadar saat itu" lanjut Nabila.
Fajri berbalik, matanya menatap semakin kesal padanya.
"Dia juga bicara pada pak Bima saat dia melakukannya padaku. Dia melakukan semua itu atas perintahnya. Di menangis saat melakukannya, tapi aku tidak dapat melakukan apapun" Nabila menangis tak kuasa menahan kesedihan kejadian itu.
"Kau puas? " Wisnu bicara ketus pada Fajri.
"Aku sudah mengatakan semuanya sesuai kejadian itu, bukan karena apapun. Pak Bima datang hanya memohon agar aku hanya mengatakan bahwa hanya pak Dudung yang ada di sana. Jika aku mengatakan dia ada di sana, dia dan anak buahnya akan membunuh kakak ku"
Nabila semakin tersedu. Wisnu memeluknya sambil mengusap punggungnya.
"Sudah aku duga" ucap Fajri.
Wisnu memejamkan matanya mendengar ucapan Fajri. Mereka memang bersaksi, tapi tak mengatakan semuanya. Nabila takut kakaknya menjadi buruan Bima dan anak buahnya, sedangkan Wisnu takut Nabila menjadi seperti Dara.
***
Armand datang ke ruangan tempat Hasna menunggu. Dia masuk dengan wajah yang kesal. Hasna memperhatikannya.
"Nabila tak mengatakan bahwa itu Bima"
Hasna menebak, Armand menatapnya.
"Darimana kau tahu? " tanya Armand.
Hasna tak diperbolehkan mengikuti sidang setelah memberikan kesaksiannya. Dia juga seharusnya sudah dibawa kembali ke rutan, tapi karena Armand meminta sedikit kelonggaran waktu, dia masih menunggu di sana.
"Wajah anda Pak! " jawab Hasna dengan menunjuk membuat lingkaran pada wajah Armand.
"Huffh, memang benar, kau memang ahli menebak pikiran orang" keluh Armand.
"Dia sudah mengatakan apa yang dia mampu katakan. Lagipula, Dudung memang melakukannya, hanya saja perlu dikaji ulang. Apakah dia melakukannya dengan inisiatif sendiri atau dipaksa orang lain" ucap Hasna menjelaskan.
Armand menatapnya terkagum.
"Tidak salah aku mengidolakan mu sebagai pengacara terbaik, kau punya intuisi yang bagus" ucap Armand memuji.
"Kasus ini, dulu dipaksa menyudutkan Dudung, sekarang Bima. Apa itu karena dia sudah mati? " tanya Hasna sambil bergumam.
Armand tak begitu jelas mendengarkan, dia sedang merapikan berkas untuk sidang Hasna selanjutnya.
Tiba-tiba, Fajri datang dan membuka pintu. Mata Armand dan Hasna tertuju padanya.
"Nabila mengatakannya! " ucap Fajri terengah.
Armand dan Hasna saling menatap.
"Dudung yang melakukannya atas perintah Bima, Nabila masih ditekan oleh seseorang sepeninggal Bima" lanjut Fajri masih terengah.
Hasna berpikir, Armand dan Fajri ikut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
~Kenapa nama mu yang terlintas di benak ku, apa kau terlibat? ~ hati Hasna bicara sendiri.
"Katakan apa yang kau pikirkan? Jangan pernah menyembunyikan sesuatu lagi dari ku" seru Fajri memperhatikan Hasna yang diam berpikir.
Hasna membulatkan matanya.
"Kapan aku kembali ke penjara? Kenapa belum ada yang menjemput? " seru Hasna sambil melihat ke arah pintu.
Armand tersenyum, mengerti bahwa Hasna tak ingin dicecar keluhan Fajri.
"Aku baru datang dan kau sudah mau pergi lagi? " Fajri mulai mengeluh lagi.
Seorang petugas rutan datang menjemput Hasna. Dengan sigap, dia berdiri dan mengangkat kedua tangannya untuk mereka borgol.
Fajri menghela sambil sedikit mencubit baju Hasna.
"Dengar, jangan bertindak sendiri. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu" bisiknya.
Petugas rutan menatapnya kemudian tersenyum. Mata Fajri membulat bertanya padanya apa yang dia tertawakan. Petugas itu mengalihkan pandangannya merasa sudah salah karena tersenyum.
"Jangan menakutinya! " Hasna mengelak dari pegangan tangan Fajri yang masih mencubit bajunya.
Fajri melepaskan baju Hasna dan melepaskan kepergiannya. Hela nafasnya terdengar saat di ruangan itu hanya tinggal mereka.
"Aku pergi, jangan lupa, besok kita berkunjung ke rutan untuk sidang Hasna" Armand menepuk bahu Fajri.
Dan akhirnya, Fajri ditinggalkan sendiri.