My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
105



Hasna menatap kaca spion yang memperlihatkan sorot cahaya dari mobil Fajri.


"Pak, belok kanan di depan! " pinta Hasna.


Jalan ke panti sebenarnya ke arah kiri, tapi Hasna ingin mengecoh Fajri. Dia mengetahui itu Fajri dari plat nomor mobilnya. Fajri mengikutinya terlalu dekat.


Supir menurut, dia menjalankan mobil dan membawa Hasna ke arah yang dia minta. Namun, tanpa permintaan dari Hasna, supir itu berbelok lagi menuju ke arah taman dekat rawa di pinggir kota.


Fajri mengerutkan dahinya merasa heran dengan arah kemana Hasna pergi. Sementara itu Hasna hanya diam menatap supir yang mengemudikan mobil sambil menodongkan pistol ke arahnya.


"Jangan melawan jika kau tidak ingin terluka!" ucap supir itu.


"Apa yang kau inginkan? " tanya Hasna yang sedang berusaha menenangkan dirinya yang sebenarnya takut.


"Diam! " seru supir itu.


Hasna diam saja. Supir itu keluar dari mobil dan membuka pintu belakang. Hasna keluar dengan todongan pistol di hadapannya.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya? " tanya lagi Hasna.


"Ku bilang diam! " supir itu mulai meninggikan nada suaranya.


Tak berapa lama, ponselnya berdering. Dia merogoh jaketnya dan menerima telpon dari seseorang.


"Ya, aku sudah bawa dia ke dekat rawa yang di pinggir kota. Ini sudah sangat larut, tak ada siapapun yang mengikuti ku" ucapnya.


Hasna berusaha mendengarkan suara orang yang dia telpon, tapi percuma, suara alam di rawa itu membuatnya tak terdengar.


"Baiklah, aku akan mengikatnya" ucap supir itu.


Hasna panik, dia mengikuti arah supir itu pergi.


"Tidak, tidak usah di ikat, aku tidak akan lari! " seru Hasna.


"AKU BILANG DIAM! " Supir itu semakin keras bicaranya.


Hasna tercengang, dia memilih diam. Melihat dari postur tubuh supir itu, Hasna merasa takkan bisa melawannya. Badannya tinggi tegap, sedikit lebar di bagian dada. Caranya menodongkan pistol pun seolah sudah terbiasa dan bisa memainkannya.


Hasna ingin bersiasat, dia ingin menelpon seseorang agar mengetahui keadaan dan keberadaannya. Dia merogoh saku celananya untuk meraih ponsel, tapi sayang, ponsenya dia taruh di tasnya tadi.


'Sial!' seru hatinya.


Supir itu mengambil tali dan mengikatnya, dililitkannya dengan kencang ke tubuh Hasna.


"Siapa yang menyuruh mu? " Hasna masih mencoba untuk bertanya.


Supir itu menatapnya, tapi tak menjawab.


"Siapa? Setidaknya aku tidak mati karena penasaran" ucap Hasna.


"Kau tidak akan mati semudah itu" kali ini supir itu menjawabnya.


Tapi Hasna sangat terkejut mendengar ucapan pria itu.


'Suara ini? Kenapa aku merasa tidak asing mendengarnya?' tanya hati Hasna.


Dia mulai gelisah, ingatan tentang masa kelam saat Bima melecehkannya mulai teringat kembali. Keringat dingin mengucur deras di dahinya.


"Kau mulai takut? " ucap pria itu.


Hasna tak berani menatapnya.


"Kau yang belasan tahun ini terlihat sombong, kini, detik ini, kau merasa takut? " ucap pria itu.


Hasna masih menghindari wajahnya yang mulai mendekati tubuhnya.


"Seharusnya kau mati malam itu, tapi Bima terlalu bodoh untuk melakukan semuanya. Dia teralu tolol! " ucapnya.


Hasna semakin ketakutan, semua yang dikatakannya adalah hal yang sangat dia benci.


Tetes air matanya mulai mengalir, Hasna mulai merasakan pusing karena mengingat masa kelam itu. Dadanya kembang kempis menahan tangis dan rasa sesak.


"Bagaimana rasanya terbebas dari kematian selama belasan tahun, dan kini kau akan memulai kembali masa-masa itu?" bisiknya di telinga Hasna.


Pria itu terkejut dengan reaksi Hasna, dia mundur, tapi kemudian tersenyum.


"Hahahahah! " gelak tawanya terdengar menggema di rawa sepi itu.


"Aku mohon, jangan lakukan apapun padaku. Aku akan memberikan mu uang, asal jangan melakukan itu, aku mohon! " Hasna memohon dengan tangisnya.


"Uang? Hahahahahha! " pria itu mulai hilang kontrol.


Dia menarik rambut Hasna dan bicara di depan wajahnya.


"Dia jauh lebih banyak memberikan segalanya padaku, jadi aku akan mengabdi padanya. Bukan pada siapapun" ucapnya.


Hasna menangis terus menerus. Dia tak bisa melakukan apapun. Kakinya lemas, rasa takut pada malam itu muncul di malam ini. Dia benar-benar takut semua terulang kembali.


Pria itu berdiri dan menelpon kembali.


"Ini terlalu lama, kau tidak bisa cepat sedikit?" serunya dengan kesal.


Pria itu menghela keras, dia melihat ke sekeliling dan merasakan sesuatu. Matanya berkerut untuk memastikan apa yang dia lihat di balik semak-semak di hadapannya.


Dia mulai melangkah mendekat meski perlahan. Tapi serangan dari Fajri datang secepat kilat. Dia memukul pria itu tepat di kepalanya.


Pria tegap itu tumbang seketika. Nafas Fajri tersengal karena mengeluarkan seluruh tenaga untuk menghajarnya.


Fajri menendangnya untuk memastikan dia benar-benar pingsan. Kemudian tatapannya beralih pada Hasna yang menangis di dekat rawa.


Fajri berlari dan memeluknya.


"Tidak apa-apa, semuanya sudah selesai. Aku sudah memukulnya" ucap Fajri seraya mengusap punggungnya.


"Fajri, Fajri! " Hasna menahan isak tangisnya.


Fajri fokus melepaskan ikatannya.


"Dia.... bilang...! " Hasna tak bisa bicara lancar.


"Dia bilang apa?" Fajri berusaha merespon dengan tenang.


"Dia ... bilang.... aku.... harus.... mengalami... hal yang sama" tangis Hasna pecah.


Fajri terkejut, dia paham dengan ucapan Hasna. Tapi dia tak tega melihat Hasna yang begitu ketakutan.


Fajri memeluknya untuk membuatnya lebih tenang. Diapun menjernihkan pikirannya untuk mengaitkan siapa yang sudah melakukan ini pada Hasna.


Saat mereka masih menenangkan diri, supir itu pergi bersama mobilnya.


"Fajri! Dia pergi, Fajri! Hentikan dia Fajri, jika tidak dia akan melakukan hal ini lagi padaku....! " seru Hasna.


Fajri memeluknya dengan erat.


"Tidak, dia sudah pergi. Aku sudah tau wajahnya, anak buah ku akan mencarinya. Tenanglah! " ucap Fajri.


Tapi bukan itu yang akan dia lakukan, dia tahu siapa yang sudah melakukan ini. Dia hanya akan pergi menemuinya untuk memintanya menghentikan semua ini.


Fajri mengantar Hasna kembali ke rumah. Sampai di kamarnya, Hasna berbaring, Fajri menyelimutinya. Kemudian baru dia sadar dengan kepergian Hasna ke daerah itu.


"Oh ya, kemana kau malam-malam begini? Apa ada urusan yang sangat mendesak? " tanya Fajri seraya merapikan selimutnya.


Hasna pun baru teringat dengan niatnya untuk menjenguk dan menginap di panti asuhan. Dia ingat saat meminta supir itu berbelok ke arah lain untuk menghindari Fajri. Tapi justru dia diselamatkan oleh orang yang dia hindari.


Hasna kembali memeluk Fajri yang terkejut dengan pelukan tiba-tibanya.


"Maafkan aku Kak, aku berjanji tidak akan pergi lagi saat larut malam" ucap Hasna.


Fajri tertegun, sikap Hasna sama seperti saat Hasna melakukan kesalahan yang sama karena pergi malam hari sebelum ujian sekolah dulu. Hasna terjatuh dan membuat tangannya terluka, sehingga dia menunda ujiannya.


Fajri menangis, mengingat masa lalu. Dia menyesali semua yang sudah terjadi di dalam hidup mereka.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Jika tidak, aku pasti mati" ucap Fajri.


Hasna semakin erat memeluknya.