
Fajri kembali ke kantor, saat semuanya sudah pulang dan tak ada siapapun di kantor. Dia menemukan bungkusan kertas koran di mejanya.
"Apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Fajri membukanya, dia terkejut saat melihat isi bungkusan itu. Semua foto rumah besar dan foto Nabila saat masuk ke sana. Fajri mengingat rumah itu, dia tadi ke sana dan bertanya pada penjaganya. Dia bilang hari itu dia tidak bekerja karena bosnya sedang ke Bali.
Fajri berpikir keras, dia melihat dari arah mana foto ini diambil. Kemudian dia menyadari kamera CCTV rumah itu yang dia lihat kemarin.
"Apa pemilik rumah itu? Dia memberikannya karena dia takut? atau bagaimana?" Fajri berpikir sendiri.
Kemudian sebuah flashdisk jatuh dari tumpukan foto itu, Fajri mengambilnya dan memeriksa isinya.
Benar saja, semua rekaman saat Nabila berjalan masuk ke perumahan itu hingga dia masuk ke rumah besar, semuanya ada di sana.
Fajri berpikir keras siapa yang mengirimnya. Tapi dia memilih memasukkan semua rekaman itu sebagai bukti agar dia bisa mengeluarkan surat penangkapan dan menggeledah rumah itu.
Pagi harinya, Beno dan Agung diminta kembali ke kantor dan melapor. Mereka melihat Fajri tertunduk tidur di mejanya.
Agung mendekat dan mengusap kepalanya. Fajri bangun dan menggeliat menatap mereka yang sudah datang. Dia menguap sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Wah, dia berusaha dengan keras hingga mendapatkan semuanya" ucap Beno dengan semangat saat menatap komputer Fajri.
Agung melihatnya, dia terheran. Jelas-jelas mereka pergi bersama kemarin dan mereka sama sekali tak mendapatkan apapun.
~Darimana dia mendapatkan semua ini?~ tanya hati Agung.
Dia hanya menatap Beno kemudian tersenyum. Agung duduk menunggu Fajri keluar, dengan semua pertanyaan yang hendak dia tanyakan pada anaknya itu.
Fajri keluar dengan menggosok kepalanya yang basah. Beno memeluknya dengan erat dan membuatnya merasa kesal karena teman kerja yang lainnya menatap mereka dan menertawakan pelukan Beno.
"Apa-apaan kau ini, orang-orang melihat kita!" ucap Fajri melepaskan pelukan Beno dengan melempar tangannya.
"Wahh kau benar-benar hebat, kau sudah mendapatkan semuanya. Itukah alasan mu memintaku kembali ke kantor?" ucap Beno dengan terus menempel pada Fajri.
Fajri lemas, dia tak ada tenaga untuk menyingkirkan Beno dari dekatnya. Dia merogoh sakunya dan memberikan uang pada Beno.
"Ini, belikan aku kopi panas dulu, baru aku ceritakan" pinta Fajri.
Beno merubah ekspresinya karena tak suka saat Fajri menyuruhnya membeli kopi panas, karena akan mengantri lama. Tapi demi Fajri yang sudah menemukan bukti, dia akan melakukannya.
Beno pergi, Agung menatap kepergiannya. Kemudian dia menatap Fajri yang bersiap bicara padanya meski tak diminta.
"Ayah, ada seseorang yang menaruh semua foto dan flashdisk ini. Aku memeriksanya, kita bisa mengeluarkan surat penangkapan dan penggeledahan ke rumah itu dengan ini" jelas Fajri.
"Syukurlah!" jawab Agung datar.
Fajri jelas bingung dengan respon ayahnya.
"Ayah takut, takut semua ini berimbas pada Hasna?" tanya Fajri.
"Wisnu memintanya jadi pengacara mereka" ucap Agung.
Fajri sudah bisa menebak itu. Hal itu yang di incar Hasna.
"Dia akan melawan pria itu, aku takut sesuatu terjadi padanya" ucap Agung.
"Kita akan melindunginya, yakinlah. Semua ini akan berakhir dengan baik" ucap Fajri.
Agung hanya mengangguk, tapi di hatinya tetap merasa gelisah.
###
Hasna menatap ponselnya yang tertera pesan yang di kirim Fajri. Dia tersenyum melihat foto surat penangkapan yang sudah keluar.
[Terimakasih!]
[Ya, aku juga berterima kasih, padamu]
[Apa maksudnya?]
[Aku harus pergi sekarang, bye!]
Hasna mengerutkan dahinya, tapi dia merasa Fajri sudah tahu darimana dia mendapatkan bukti itu. Walaupun sebenarnya Hasna memberikan hanya sebagian dari yang dia dapat.
Vino menghampirinya setelah bertemu artis yang sedang tersandung kasus pencemaran nama baik. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Hasna dari belakang kemudian membuatnya terkejut.
Hasna tersentak kaget, dia memukul dahi Vino yang ada di sisinya.
"Dasar kurang kerjaan!" keluh Hasna.
"Justru ini karena aku terlalu sibuk hingga aku sangat merindukannya mu" ucap Vino yang beralih ke hadapan Hasna kemudian memegang tangannya.
"Mau makan di luar? aku traktir" ajak Hasna dengan senyum manis.
Vino memperbaiki rambutnya kemudian berlagak jual mahal pada Hasna.
"Bagaimana ya, sepertinya aku sibuk" ucapnya menolak dengan gaya.
Hasna menunduk tersenyum, Vino sangat tampan saat melakukan gaya seperti itu. Tapi dia malu untuk mengakuinya.
"Tapi....karena kamu sangat cantik saat tersenyum, aku akan menerima tawaran mu" lanjut Vino meraih tangan Hasna dan menciumnya.
"Kamu sedang salim pada ibu mu?" Hasna berkelakar.
Vino menepis tangan Hasna karena tak mau menganggapnya ibu. Hasna tertawa terbahak-bahak. Vino hanya diam menatap wanita yang disukainya tertawa lepas.
Mereka pergi makan. Dengan riang Vino menarik kursi untuk Hasna duduk. Dia juga memasangkan serbet di pangkuan Hasna. Mereka makan di restoran Eropa. Vino duduk di hadapan Hasna dengan senyum lebar yang menunjukkan lesung di pipinya.
"Kau terlihat sangat senang. Aku suka itu" ucap Vino.
"Ya, aku mendapatkan kasus yang aku inginkan. Mereka akhirnya memintaku untuk melakukannya" ucap Hasna.
"Wisnu dan Nabila?" Vino memastikan.
Hasna mengangkat kedua alisnya dengan senyum bangga.
"Hee euhhm!" jawab Hasna.
"Wah, berarti aku harus mendapat hadiah dari mu, karena sudah menjadi bagian dari kasus mu!" Vino menengadahkan tangannya pada Hasna.
Hasna menepuk tangan Vino.
"Hadiah apa?" tanya Hasna.
"Nanti aku beritahu setelah makan" jawab Vino.
Hidangan sudah datang, mereka makan dan menikmatinya dengan cerita Vino mengenai kasus yang dia kerjakan.
###
Fajri dan Beno juga beberapa teman yang lainnya datang ke rumah kediaman Bima. Dia menunjukkan surat penggeledahan pada penjaga yang menjaganya.
"Kami punya izin menggeledah rumah ini atas tuduhan sebagai tempat kejadian perkara dimana seorang gadis bernama Nabila di rudapaksa di sini" ucap Fajri.
Penjaga membuka pintu gerbangnya.
"Bukankah kamu yang kemarin ke sini?" tanya Penjaga itu.
"Ya, aku sudah dapat surat izin penggeledahan. Kamu harus bicara dengan majikan mu tentang ini" lanjut Fajri.
"Tuan sedang di Bali. Aku rasa dia pulang seminggu lagi" jawab Penjaganya.
"Telpon dia, aku ingin bicara" ucap Fajri.
"Tapi Pak..."
"Kamu mau menghalangi pekerjaan pihak yang berwajib?" Beno ikut bicara sambil menantang pria tegap itu.
"Tidak Pak, sebentar saya telpon" ucapnya.
Dia menelpon di depan Fajri dan Beno.
"Iya Pak, baik Pak!" ucapnya.
Fajri dan Beno meringis karena panas matahari siang itu. Mereka menunggu penjaga itu bicara.
"Lakukan yang perlu dilakukan, itu yang Tuan Bima katakan. Silahkan!" ucap penjaga itu.
Beno menyuruh yang lainnya masuk dan mencari barang bukti. Sementara Fajri terdiam mendengar penjaga itu menyebut nama Bima. Dia mengalihkan pandangannya ke rumah besar itu. Berjalan masuk dan mulai mencari di semua sudut ruangan, bukti yang bisa memberatkan Bima. Fajri sangat bersemangat, begitupun Beno.