My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
9



Hasna bergegas pergi ke rumah sakit menemui Armand yang telah dia beri sedikit makanan yang membuat perutnya sakit, agar dia bisa menangani sendiri sidang hari ini. Hasna merasa bersalah dan buru-buru datang membawa makanan kesukaan Armand.


Di pintu kamar, terlihat Vino yang berbicara dengan istri Armand, Bianca. Mereka melihat Hasna yang baru datang.


Hasna tersenyum dan membuka tangan untuk memeluk Bianca.


"Apa kabar Kak! Gimana Pak Armand?" tanyanya.


Bianca adalah kakak kelas Hasna di sekolah dulu. Mereka cukup akrab, Bianca orang yang sangat baik dan mengerti orang lain dengan mudah. Dia tak pernah menanyakan kesedihan seseorang namun berusaha untuk menghiburnya. Namun senantiasa bahagia dengan kebahagiaan teman-temannya.


Kini wajahnya sangat khawatir dengan keadaan suaminya yang terbaring di ranjang rumah sakit.


"Dokter bilang cuma salah makan, tapi dia memang sensitif banget sama makanan kotor. Dari kemarin dia makan apa sih Na?" tanya Bianca.


Armand dan Hasna memang lembur di kantor untuk mempersiapkan sidang itu. Hasna mengerutkan dahinya, dia ingat memberikan mie instan yang pedas untuknya. Karena rasa pusing menahan kantuk, Armand melahapnya tanpa merasa pedas. Hasna juga memberikan susu hangat agar dia tak sadar bahwa mie yang dia makan itu sangat pedas dan berbahaya untuk perutnya.


"Mie, kurasa mienya kadaluarsa, aku juga merasa mual" ucap Hasna.


Bianca menghela dan tak heran dengan keadaannya sekarang. Matanya menatap Armand yang terbaring di dalam.


Vino menatap bingkisan yang dibawa Hasna.


"Senior belum boleh makan makanan dari luar, itu untukku saja. Aku lapar sekali" ucap Vino sambil menunjuk dengan memasang wajah polos.


Hasna tersenyum, dia menatap Bianca yang terlihat pucat juga.


"Kau sudah makan? Kita makan bersama!" ajak Hasna.


Bianca terdiam, dia menggelengkan kepalanya, menolak.


"Pak Armand akan baik-baik saja, nanti sore dia sudah akan bisa pulang ko!" ucap Hasna yakin.


Bianca masih tak yakin dengan ucapan Hasna. Namun dia ikut saat Hasna menariknya menuju kantin untuk makan.


Vino yang sedari tadi menarik-narik bingkisan yang Hasna pegang terus mengikuti seperti anak kecil meminta permen.


Sampai di kantin, Hasna memesan makanan, kemudian menyerahkan bingkisan pada Vino yang tak sabar. Vino langsung membukanya dan melahapnya.


Hasna mengusap punggung Bianca untuk menguatkannya. Dia juga merasa sangat bersalah karena itu.


Selesai makan, mereka kembali ke ruangan. Dokter datang untuk memeriksa. Kemudian keluar dan mengatakan sesuatu.


"Sepertinya Pak Armand sangat mengantuk, dia lanjut tidur. Keadaannya sudah baik, perutnya sudah tak bermasalah. Setelah bangun, dia boleh pulang" ucap Dokter.


Bianca lega dan mengusap dadanya. Vino tersenyum dan Hasna mengangkat kedua dahinya.


"Tuh kan, apa ku bilang!" ucap Hasna.


Bianca memeluk Hasna.


"Makasih Na" ucap Bianca.


"Masuklah, aku ma Vino nunggu di sini" ucap Hasna.


"Ngga, kamu pulang aja, bukannya baru selesai sidang?" ucap Bianca.


Hasna terdiam.


"Udah...pulang aja. Nanti ada supir yang jemput ko" ucap Bianca meyakinkan.


Hasna mengangguk dan pamit, Vino ikut dengannya. Dia datang ke rumah sakit memakai mobil Hasna dan tinggal hingga Bianca datang. Sekarang akan pulang bersama Hasna.


Hasna terhenti, Vino menabraknya. Hasna berbalik.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Hasna.


"Aku mau pulang dengan mu" jawab Vino polos.


Hasna menghela.


"Aku ada urusan, pulang lah memakai taksi" pinta Hasna.


"Tidak mau!" jawab Vino manja seperti anak kecil.


"Kemarikan kunci mobilnya, aku benar-benar buru-buru" pinta Hasna.


"Kau mau menemui Fajri? Mau makan malam dengannya?" ucap Vino.


Hasna yang tadi meraba saku jas dan kemeja Vino jadi terdiam. Dia menaruh tangan di kerah Vino.


Vino menatap wajah Hasna yang sangat dekat dengan wajahnya, kemudian tersenyum malu karena Hasna merapikan kerahnya seperti seorang istri.


"Lalu menemui Fajri menanyakan kasus baru" lanjut Hasna melepas tangannya dari tubuh Vino.


Vino sangat merasa dongkol mendengar ucapan terakhir Hasna.


"Mana?" pinta Hasna sambil menengadahkan telapak tangan meminta kunci mobilnya.


"Setidaknya antar aku sampai depan apartemen" ucap Vino sambil merogoh kunci di saku celananya.


Hasna mengangkat kedua alisnya, tak menyangka kuncinya akan di taruh di saku celana.


"Ya...ya...baiklah" ucap Hasna menyerah dengan tingkah Vino yang kekanakan.


Vino bergegas masuk setelah Hasna membunyikan kuncinya. Hasna duduk di kursi kemudi.


"Ada kasus baru apa? Pasti bukan kita yang menangani, karena aku belum dapat kabar apapun" ucap Vino.


"Belum selesai penyelidikannya, belum ada yang bisa dijadikan tersangka. Pembunuh sangat pandai, pekerjaannya sangat rapi" ucap Hasna sambil memasang sabuk pengaman.


Mereka pergi sambil berbincang dalam perjalanan, hingga akhirnya sampai di apartemen megah tempat Vino tinggal.


"Sampai!" ucap Hasna.


"Cepat sekali!" ucap Vino membuka sabuknya.


Hasna tersenyum melihatnya kecewa.


"Dengar! Meskipun dia orang yang selalu bersama mu bukan berarti dia jodoh mu. Bisa jadi aku yang jadi jodoh mu" ucap Vino.


Kepalanya masih masuk ke mobil saat bicara, tangan kanan memegang sisi lain mobil dan tangan kirinya memegang pintu mobil yang perlahan kemudian dia tutup sambil melambaikan tangan pada Hasna.


Hasna menatap stir mobil, mengulang kembali ucapan Vino dalam hatinya.


"Bukan itu yang aku cari, bukan itu tujuan hidupku Vino. Hal lain yang tidak kau ketahui terus menghantui malam ku, aku ingin cepat-cepat mengakhirinya. Dengan cara apapun" gumam Hasna.


Dia menjalankan mobilnya kemudian pergi dari halaman apartemen itu.


Vino masuk gedung, langkahnya terhenti saat dia menatap seorang pria paruh baya yang menatapnya sambil tersenyum di lobi.


Vino canggung, orang yang ada di hadapannya adalah Bima Sebastian, ayahnya Vino Anggara Sebastian. Sudah lama mereka tak bertemu. Mungkin 3 tiga tahun setelah ibunya meninggal.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vino ketus.


"Aku mengunjungi putra semata wayang ku, kau tidak merindukan ayah mu Nak?" ucap Bima sambil membuka kedua lengannya untuk memeluk anaknya.


Namun Vino terdiam, dia tak menghampiri.


"Aku lelah, aku mau istirahat. Kau bisa datang lain kali" ucap Vino sambil berjalan menuju lift.


"Terimakasih mau menerima ku di lain hari. Aku senang kau mengatakan hal itu" ucap Bima.


Vino terhenti mendengar ayahnya sangat optimis untuk bisa mendapatkan kembali hati nya.


"Aku pergi!" ucap Bima lagi.


Vino melihat bayangan ayahnya dari dinding lift yang keluar dengan supirnya. Tangan Vino mengepal menahan kekesalan luar biasa yang dirasakannya. Matanya terpejam terbayang wajah sang ibu yang selalu menangis saat hidup bersamanya.


Vino masuk lift dan naik menuju rumahnya. Apartemen nya cukup luas, Vino punya banyak uang untuk membelinya. Dia mendapatkan harta warisan dari keluarga ibunya yang merupakan anak tunggal. Jika dia mau, dia bisa mendapatkan lebih dari pemberian ayahnya. Namun rasa sakit yang dia lihat dari mata ibunya, membuatnya tak mau menerima apapun dari ayahnya.


Apartemennya gelap, dia berjalan perlahan dan tak menyalakan saklar lampunya. Duduk di sofa dalam kegelapan. Hanya cahaya lampu dari luar yang sedikit menerangi wajahnya yang sedih.


"Kenapa kau kemari? Kenapa kau mencari ku?" gumam Vino.


Dia ingat kejadian 10 tahun yang lalu. Ibunya menemukan ayahnya sedang tidur dengan seorang wanita lain di kamarnya. Bukannya minta maaf, ayahnya malah mengusirnya untuk tinggal sementara di rumah ibunya di Jogja.


Vino yang baru pulang dari ekstrakurikuler, langsung diajak ibunya ke Jogja tanpa penjelasan. Hingga tiba di Jogja mereka disambut oleh neneknya. Kemudian tak sengaja saat malam, dia mendengarkan ibunya bicara pada neneknya bahwa dia melihat kejadian itu dan langsung ke sana.


Vino kesal dan marah, dia berteriak pada ibunya yang menangis. Bertanya mengapa dia hanya diam saja dan tak melawan. Wanita itu yang seharusnya pergi dari rumah. Dia hendak kembali ke Jakarta namun sang ibu menahannya. Dengan memohon ibunya meminta agar dia tak kembali sampai ayahnya yang menjemput.


Namun hingga 1 bulan, ayahnya baru menjemput. Kembali ke rumah, mereka bertengkar. Vino mendapat pukulan dan tamparan dari ayahnya. Ibunya menangis histeris hingga pingsan.


Karena kalut dalam kesedihan, ibunya sakit kemudian meninggal. Namun sang ayah sama sekali tak meneteskan airmata saat ibunya meninggal hingga berbulan-bulan lamanya. Tak pernah sedikit pun Vino melihat dia sedih atau merenung kehilangan istrinya.


Vino menyerah, dia tak mau hidup dengan pria yang tak mencintai ibunya. Dia kabur ke tempat saudara jauh ibunya. Mereka menerima karena Vino mendapatkan harta warisan dari neneknya yang meninggal setelah beberapa bulan tinggal di sana.


Kesedihan bergumul di hati dan pikirannya. Vino menangis tak mau menghadapi ini lagi. Dia tak mau hidup berdampingan dengan ayahnya lagi. Bertahun-tahun bersembunyi tak mau keberadaannya diketahui, kini dia ditemukan. Dia tak tahu apa yang akan dia hadapi nanti.