My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
52



Hasna tak tidur, semalaman dia hanya duduk di depan cermin dan tak bergerak sedikit pun. Dia membersihkan diri setelah melihat jam di ponselnya. Dia pergi meninggalkan Vino yang tidur sambil duduk di depan pintu kamarnya.


Hasna langsung pergi ke kantor tanpa mengatakan apapun pada pelayan rumah yang menatapnya dengan rasa kasihan.


Sampai di kantor, Armand yang baru datang menatap wajahnya yang jelas sembab karena menangis. Armand juga mengerutkan dahi saat melihat kantung matanya yang sangat membentuk.


"Kau baik-baik saja?" tanya Armand.


Hasna menoleh dan mengangguk.


"Ya, aku baik-baik saja" jawab Hasna.


Dia mengeluarkan laptopnya dan mulai berkerja. Armand masih menatapnya, dia merasa sikap Hasna membuatnya cemas.


"Beno akan datang hari ini pukul 11 siang" ucap Hasna sambil menatap Armand.


"Hari ini?" Armand tak percaya secepat itu.


"Mereka menyelidiki di waktu yang sama dengan tempo yang saat kita melakukan penyelidikan tentang Bima. Sayangnya, aku rasa Bima melarikan diri. Akan sulit menangkapnya. Jadi pasti kasus ku terlebih dahulu yang akan di proses" jelas Hasna.


"Ini pasti atau hanya dugaan mu saja" Armand tak yakin.


"Aku menerima telpon Beno tadi di perjalanan, dia meminta ku untuk bersiap" jawab Hasna.


"Bagaimana bisa kamu sesantai ini, kasus mu bisa berdampak pada karir mu di hukum, apalagi jika tindakannya sangat fatal, kamu bisa diblacklist Na!" Armand khawatir.


"Aku menanam kebencian di profesi yang ku pilih ini, sejujurnya aku tidak terlalu nyaman bekerja dengan penuh dendam seperti ini. Melelahkan, tak ada ujungnya. Berhenti, itu lebih baik. Tapi setelah Bima mendapatkan ganjarannya" Hasna menekankan.


"Bagaimana jika Bima tidak ditemukan hingga kamu diberhentikan?" Armand semakin khawatir.


"Dia akan ditemukan, seseorang tahu dimana dia berada" ucap Hasna sambil menatap layar laptopnya.


Armand menghela keras, dia masih khawatir dengan situasi ini.


"Tenanglah! Oh ya, usahakan berkasnya mendapat jawaban malam ini. Besok seseorang harus mulai mengerjakan penangkapan Bima" pinta Hasna.


Armand menatap mata Hasna yang merasa pasti dengan apa yang dia katakan.


"Baiklah, aku percaya padamu, lakukan sesuai rencana" ucap Armand.


###


Di rumah.


Vino baru bangun dan melihat pintu kamarnya terbuka. Dia langsung masuk dan mencari Hasna, namun tak menemukannya.


Tak lama kemudian, Brian menelpon dan memintanya untuk segera datang ke kantor.


"Ini pasti tentang kasus Hasna" gumam Vino.


Dia bersiap dan meminum segelas air putih yang dia ambil di dapur. Matanya meraba isi rumah yang hening.


"Pak Bima kemana bu?" tanya Vino.


"Bapak pergi sejak semalam den, bawa koper" jawab pelayan rumahnya.


Vino menghela.


"Dia kabur" gumam Vino.


Pelayan itu membulatkan matanya mendengar ucapan Vino.


"Lalu Hasna?" Vino bertanya dengan ragu.


"Nona pergi menggunakan taksi, seperti biasanya, membawa tas kerjanya" jawab pelayan itu.


Vino terdiam.


~Bagaimana bisa dia begitu datar dan kembali bekerja setelah mengatakan semuanya padaku?~ ucap hati Vino.


"Saya ke dapur dulu den!" ucap pelayan itu.


"Ya, makasih Bu!" ucap Vino.


"Iya sama-sama den" pelayan itu menundukkan pandangannya sambil terlihat kasihan pada Vino.


Sementara Vino berjalan dengan pelan menuju mobilnya hendak menyusul Hasna ke kantornya.


###


Di rumah sakit.


"Apa Pengacara Hasna tidak menelpon?" tanya Vania karena melihat Fajri hanya menatap ponselnya.


Mata Fajri menatap Vania sambil berpikir bahwa Vania seolah mulai tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Kau tahu sesuatu?" tanya Fajri.


Mata Vania membulat, dia ingat kejadian saat Hasna bicara dengan Beno soal penangkapannya atas kasus tindakan di luar profesi.


~Tahu, hari ini Beno mau nangkap Hasna atas laporan yang dibuat pengacara Brian~ ucap hati Vania.


Vania menghela, dia merasa Fajri sama sekali tak tertarik padanya. Beberapa hari dirawat dan bersama dengannya tak membuatnya sedikit menjaga perasaannya untuk tak begitu memikirkan Hasna.


"Tidak, tidak ada. Aku merawat mu seharian, mana aku tahu sesuatu tentang dia" jawab Vania sambil memasukkan pakaian Fajri ke tas nya.


"Apa dia tak tahu hari ini aku keluar dari rumah sakit?" gumam Fajri.


Vania mendengarkan.


"Tapi aku kirim pesan semalam, bahkan aku mengirimkan foto rongent kaki ku yang membaik" gumamnya lagi.


Vania tak mempedulikannya. Fajri menghela, dia berdiri dan berjalan pelan untuk keluar dari kamar rawatnya.


"Hei, meskipun sudah sembuh, kau harus menggunakan kursi roda" ucap Vania.


Fajri menoleh dan melihat dia begitu repot karena membawa kursi roda juga tas nya. Fajri menghela, dia duduk setelah kursi roda sudah ada di dekatnya. Kemudian menarik tas dari tangan Vania untuk di simpan di pangkuannya. Mata Vania membulat.


"Ayo jalan, aku harus ke suatu tempat" pinta Fajri.


Vania tersenyum merasa senang diperhatikan Fajri, meskipun alasannya adalah hanya ingin cepat-cepat pergi dari rumah sakit.


###


Kantor Hasna.


Armand masih menunggu hasil tanggapan kejagung atas kasus yang mereka kirim. Sambil mengerjakan beberapa permintaan klien yang meminta bantuan hukum padanya beberapa waktu sebelumnya.


Sementara Hasna sedang mengirim pesan pada Dara.


[Kakak ku sudah datang?] tanya Dara.


[Belum, mungkin sebentar lagi] jawab Hasna.


[Aku sangat khawatir, apa kau benar-benar baik-baik saja?] Dara cemas.


[Ya, aku baik-baik saja] jawab Hasna singkat.


Tak berapa lama, Vino datang dan masuk begitu saja. Armand berdiri menatapnya yang mulai mendekat dan memeluk Hasna. Dia yang awalnya akan melarang Vino untuk masuk, mengurungkan niatnya dan kembali duduk.


Tak ada yang diucapkan Vino, dia hanya menghela dengan keras di pelukan Hasna.


"Kau kenapa?" tanya Hasna singkat.


Vino melepaskan pelukannya karena merasa heran dengan pertanyaan Hasna.


"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu" ucap Vino.


Armand berdiri dan mulai ikut bicara karena merasa dugaannya tentang sikap aneh Hasna dan merasa ada yang terjadi semalam.


"Apa yang kau lakukan padanya? Kau menyakitinya?" tanya Armand pasang badan.


Vino hanya melirik ke arah Armand tanpa mempedulikannya.


"Kau pergi bekerja seolah tak terjadi apa-apa, aku sangat khawatir" ucap Vino.


"Hei, kau mengabaikan aku!" seru Armand mulai mendekat.


Hasna melirik pada Armand, Vino memperhatikan reaksi Hasna. Dia sadar apa yang terjadi mungkin saja bisa membuat Hasna merasa malu pada Armand.


"Aku khawatir karena kau tak sarapan tadi, jadi aku panik" lanjut Vino mematahkan anggapan Armand.


Vino memeluk Hasna lagi dan berbisik.


"Maafkan aku, aku akan diam. Dan juga tak akan pernah meninggalkan mu"


Hasna diam saja karena matanya menatap Fajri yang ternyata saat itu sedang berdiri menatapnya dari luar. Hasna mengalihkan pandangannya dan melepaskan pelukan Vino.


"Aku sudah makan, Bianca mengirimkan makanan enak tadi. Ya kan Pak!" ucap Hasna.


"Ya, kami makan berdua tadi" jawab Armand membenarkan.


Selang beberapa waktu, saat mereka bicara, Beno datang dengan beberapa polisi wanita.


Semua mata tertuju padanya. Termasuk Fajri yang tadi menahan langkahnya dan bertanya apa yang sedang dan akan Beno lakukan di sana.


"Nona Hasna Maulida Fadilah, anda ditangkap atas laporan tindakan di luar profesi dan menyebabkan klien anda rugi. Juga dugaan sabotase longsor di perumahan harapan. Ini surat penangkapannya, silahkan ikut kami dan bersikap kooperatif" ucap Beno.


Vino meradang.


"Apa-apaan kau ini. Dia tidak melakukan semua itu. Surat penangkapan ini tak berlaku" ucap Vino.


Dia mengambil surat penangkapannya dan hendak merobeknya. Namun Hasna merebutnya dan berjalan mendekat.


"Aku ikut kalian" ucap Hasna.


"Tapi sayang.." Vino hendak menahan langkahnya.


Hasna tak mempedulikannya, dia ikut bersama petugas wanita dan Beno ke mobil mereka.


Sementara Armand terkejut mendengar dugaan tindakan yang dilakukan Hasna. Dugaan sabotase longsor.