
Hasna dan Vino selesai makan, dia mengantarnya ke apartemen karena Vino tak membawa motornya. Hasna hanya keluar dari mobilnya dan berpindah kursi. Vino memegang tangannya.
"Maukah kamu mampir sebentar? Aku punya sesuatu untuk mu" tanya Vino.
Hasna tersenyum dan mengangguk. Dia ikut bersama Vino ke atas. Vino menggandeng tangannya, Hasna diam membiarkannya.
Mereka masuk ke rumah Vino, Hasna diminta duduk dan menunggu, sementara Vino mengambil sesuatu yang ingin dia berikan pada Hasna.
Vino mengambil sebuah kotak cincin di lemarinya. Dia berniat mengajak Hasna untuk serius malam ini. Dia kembali dan melihat Hasna tersenyum padanya.
Vino duduk di sampingnya dan menghadap wajahnya. Dia membuka kotak cincin itu.
"Ini hadiah yang aku inginkan, menikahlah dengan ku. Tidak usah pacaran dulu atau tunangan. Kita langsung menikah dan hidup bersama selamanya" ucap Vino.
Hasna tak terkejut, itu cincin yang sama yang dia hendak berikan tahun lalu saat masih magang di kantor hukum teman ibunya. Hasna malah tersenyum menertawakan permintaannya.
"Vino, ayolah, kamu tahu apa jawaban ku kan?" Hasna menolak dengan candaan.
Vino menunduk sedih, Hasna berhenti tertawa dan menatapnya.
"Maafkan aku Vino. Maksudnya begini, aku benar-benar belum siap" ucap Hasna merasa bersalah.
"Baiklah, aku tidak apa-apa. Sudah biasa kan aku di tolak oleh mu? Aku akan baik-baik saja. Santai saja" ucap Vino setelah menarik nafas dalam.
Dia berusaha tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Vino berdiri meninggalkan Hasna untuk mengambil minum untuknya. Hasna menjadi tak enak karena selalu menganggap pengakuan cinta Vino sebagai gurauan.
Hasna menghampiri Vino yang meraih gelas di lemari. Hasna berdiri terlalu dekat di sisi Vino. Sikutnya tak sengaja mengenai kepala Hasna dengan keras.
"Awwww!" seru Hasna kesakitan.
Vino meraihnya dan mengusap kepalanya. Dia menyesal karena sikutnya mengenai kepala Hasna.
"Sakit? Ahhh....ini salah mu sendiri" Vino malah menyalahkan Hasna.
Hasna membulatkan matanya merasa kesal disalahkan. Seharusnya Vino meminta maaf dan mengelus kepalanya.
"Iya salah mu, kenapa kamu pendek!" ucap Vino sambil tersenyum.
Mata Hasna semakin membulat, dia memukul Vino, tapi dia menghindar. Dia lari dan Hasna mengejarnya. Kaki Hasna terbelit karpet bulu saat melintas ranjang Vino. Dia hampir jatuh mengenai meja dekat ranjang, tapi Vino meraih pinggangnya dan berhasil menariknya ke ranjang dan mereka pun jatuh bersamaan.
Hasna menindih Vino, mereka saling menatap dan diam. Nafas Hasna terengah karena lelah mengejar Vino. Sementara Vino sibuk menatap bibir Hasna yang berwarna merah.
"I love you" ucap Vino.
Hasna terkejut, dia menundukkan pandangannya dari mata Vino. Tapi dia malah menatap bibir Vino yang perlahan mendekati bibirnya. Hasna ingin bangun dari posisinya. Tapi Vino masih memeluknya. Hasna memaksa untuk bangun dan mereka duduk setelah Vino melepas pelukannya.
Mereka saling diam, Hasna tidak suka suasana canggung ini. Dia berdiri untuk pamit, namun Vino menarik tangannya dan mencium bibirnya. Hasna terduduk di pangkuan Vino dalam pelukannya.
Hasna berpikir untuk menolaknya. Namun lama kelamaan dia merasa nyaman. Hasna membuka matanya dan menatap mata Vino. Dia melepas ciumannya dan memeluk Hasna dengan erat.
Hasna menyamankan diri di pelukan Vino. Namun dia melihat bingkai foto di meja ranjang Vino. Awalnya tak jelas, namun lama kelamaan foto itu mulai jelas memperlihatkan Vino yang masih SMP, berdiri berdampingan dengan Bima Sebastian. Hasna terkejut, dia menatap tangannya yang memegang pundak Vino.
"Aku haus!" ucap Hasna menahan diri.
Vino melepaskan pelukannya dan membiarkan Hasna duduk di ranjang. Dia pergi mengambil segelas air untuk Hasna. Tapi ponselnya yang berdering membuatnya keluar ke balkon untuk menerimanya.
Hasna mendekati bingkai foto itu, kemudian menatap dalam pada wajah Vino dan Bima. Hasna menutup mulutnya dengan tangannya yang lain. Dia menjatuhkan bingkai foto itu di karpet. Dia mundur dan meninggalkan rumah Vino.
Hasna pergi dengan mobilnya. Dia mengebut hingga berhenti di dekat dermaga kecil yang sering dia lewati. Nafasnya tersengal, dia memegang dadanya dengan terlihat merasa kesakitan. Hasna menangis dengan keras karena mengetahui Vino adalah putra dari Bima Sebastian. Cintanya adalah anak dari pria yang dia juluki 'iblis'. Pria yang menghancurkan hidupnya.
Hujan deras di luar, seolah menambah ketir perasaan Hasna malam itu. Hasna bahkan meraung memanggil nama ibu dan ayahnya karena merasa sangat terluka. Dia tak bisa menahannya.
Sementara itu Vino turun dan bertanya pada penjaga apartemen tentang Hasna.
Vino berjalan hingga teras lobi. Dia menatap jalanan yang sedang diguyur hujan yang deras. Dia berusaha menelpon Hasna namun tak diangkatnya.
"Kemana dia, kenapa tiba-tiba pergi? Apa semuanya baik-baik saja?" gumam Vino.
Ponsel Hasna terus bergetar, hingga saat Fajri yang menelpon, terjatuh dan ponselnya tak sengaja menerima panggilan Fajri.
"Hei Hasna, kau dimana? Bukankah kita harus membicarakan kasus Nabila?" ucap Fajri.
Namun dia hanya mendengar suara raungan Hasna memanggil ibu dan ayahnya.
"Hei, kenapa? Kau dimana?" Fajri khawatir.
Dia tak bisa mendengar apapun selain suara tangis Hasna. Fajri menutup ponselnya dan memeriksa tautan GPS yang pernah dia sadap dari Hasna untuk melacak keberadaan.
Beno menatapnya, dia heran dengan wajah Fajri yang sangat cemas.
"Ada apa?" tanya Beno.
"Tidak, tidak ada apa-apa" jawab Fajri.
Dia berdiri dan berjalan hendak keluar. Kemudian berhenti sejenak.
"Ajak ayahku pulang. Katakan aku harus pergi, nanti ku kabari" seru Fajri.
Dia menghentikan taksi di tengah hujan deras dan menyuruh supir ke tempat Hasna berada, sesuai dengan petunjuk GPS. Fajri menemukannya, dia melihat mobil Hasna terparkir di sisi jalan. Dia membayar taksinya dan keluar. Fajri mengintip dan melihat Hasna masih menunduk di stir kemudinya.
Fajri masuk dan mengangkat bahu Hasna. Dia menatap Fajri dengan mata yang masih menangis.
"Ada apa? Kenapa menangis? Kau terluka?" tanya Fajri dengan memeriksa tangan dan kaki Hasna.
Namun Hasna hanya menangis dan tak mengatakan apapun.
"Katakan padaku, ada apa... kau membuatku khawatir!" Fajri membentaknya.
Hasna semakin keras menangis. Fajri tak tahan, dia memeluknya dengan erat. Suara tangis Hasna tak mereda. Fajri berusaha bertahan memeluknya meski hujan mengguyur sebagian punggungnya. Meski telinganya cukup pengang mendengar suara tangis Hasna juga suara derasnya hujan.
Dia membelai rambut Hasna perlahan. Tak lama kemudian Hasna mulai diam, hujan pun ikut mereda. Fajri melepas pelukannya dan membiarkan Hasna duduk bersandar di kursi kemudi.
Fajri menggaruk kepalanya menatap Hasna yang menundukkan pandangannya ke bawah. Dia tak mengerti kenapa Hasna begitu histeris menangis. Dia menghela dan meminta Hasna bergeser ke kursi di sebelahnya. Sementara Fajri duduk di kursi kemudi dan menyalakan mobilnya. Mereka pun pulang.
Fajri berhenti di depan pintu rumah Hasna. Dia menatap Hasna yang masih diam saja sepanjang perjalanan. Fajri keluar dan membuka pintu mobilnya. Hasna sama sekali tak bergerak. Fajri menghela, dia menarik lengannya dan mengantarnya.
Tepat di depan pintu, dia lupa dengan kuncinya. Hasna masih diam tak bergerak. Fajri menatap ke blazer dan tasnya. Dia ingat Hasna selalu mengambil kunci rumah dari tasnya. Dia membuka tasnya dan mencari kunci rumah. Dia mendapatkannya dan membuka pintu.
Hasna masuk, dia langsung menutup pintunya tanpa memperdulikan Fajri yang kepalanya hampir beradu dengan pintu. Fajri menatap tas Hasna yang dipegangnya kemudian beralih pada kunci yang masih menggantung di luar.
"Astaga, dia ini benar-benar! Apa yang membuatnya seperti ini" keluh Fajri.
Dia hendak masuk namun teringat dengan ponsel Hasna yang dia lihat ada di dekat kakinya di mobil. Fajri kembali ke mobil dan mengambilnya, sekaligus mengunci mobilnya.
Dia melihat delapan panggilan tak terjawab dari Vino. Fajri berpikir, dia mengerti sekarang, Hasna menangis karena Vino.
"Apa yang dilakukan si brengsek ini pada Hasna?" Fajri kesal dan menaruh ponsel Hasna di tasnya.
Fajri masuk dan menaruh semuanya di meja. Tapi Hasna harus mengunci pintunya. Dia mengetuk pintu kamarnya.
"Hasna, kau harus mengunci pintu mu. Nanti ada yang masuk" seru Fajri.
Tak ada jawaban. Fajri mengetuk lagi tapi masih tak ada jawaban. Dia membuka pintu kamarnya dan melihat Hasna sudah memakai selimutnya. Terpaksa Fajri menginap dan tidur di sofa luar. Dia khawatir ada yang masuk ke rumahnya. Lebih khawatir jika Hasna pergi lagi keluar rumah tanpa sepengetahuannya.