
Tes darah sudah keluar, Fajri menunggu di depan lab untuk mengetahuinya. Dokter yang menanganinya terlihat tak bersemangat.
"Ada apa?" tanya Fajri curiga dengan hasilnya.
"Baca saja sendiri, aku jadi gemas gemas gimana gitu ma kasus ini" jawabnya sambil menyerahkan hasilnya kemudian pergi.
Fajri membukanya perlahan. Hasilnya adalah tes darah menunjukan ketidak cocokkan darah Bima dengan cairan ****** yang didapat di baju Nabila saat dia ditemukan.
Fajri menghela dengan keras, dia jadi ingat ucapan Hasna yang meragukan pekerjaannya.
"Sialan!" seru Fajri.
Beno menatapnya dengan sedih, dia sangat tahu bagaimana mereka begitu keras berusaha.
Bima yang menunggu dengan pengacaranya terlihat sedang bicara. Fajri datang dan melempar hasil tes darah ke meja.
"Saya minta, semua pria yang bekerja di rumah anda melakukan tes. Hasil dari tes darah anda tidak cocok dengan bukti. Tapi saya masih membutuhkan anda untuk menjadi saksi" ucap Fajri menahan harga dirinya.
Pengacaranya hendak protes, tapi Bima menghalanginya.
"Baiklah, saya cukup berterimakasih karena kamu udah nggak nahan saya. Itu sudah cukup" ucapnya.
Bima keluar dengan pengacaranya. Fajri melempar semua barang yang ada di mejanya.
"Kesaksian Nabila rancu, dia bahkan tidak yakin itu Bima atau bukan. Sekarang hasil tes nya negatif" ucap Beno.
Wajah Fajri merah padam. Dia menatap Agung yang sejak kemarin tak mengatakan apapun. Seolah membaca tindakan yang akan dilakukan Bima selanjutnya.
"Menurut ayah, apa yang akan dia lakukan setelah ini?" tanya Fajri padanya.
"Tidak ada, bukan dia pelakunya!" ucap Agung yang bangun dari kursi di depan Fajri yang menancapkan tangannya di pinggannya.
Fajri semakin keras menghela. Beno berdecak semakin tak mengerti. Agung menghampiri mereka berdua lebih dekat. Yang lainnya ikut mendekat dan penasaran dengan apa yang akan dikatakan petugas yang sudah tua itu.
"Nabila ditemukan polos tanpa bungkus atau koper, lengkap dengan pakaiannya. Pelaku ini hanya meniru perilaku pembunuh yang sebenarnya" jelas Agung.
Semua orang terkejut dengan pendapat Agung.
"Pertahankan untuk terus menjadikannya saksi" ucap Agung.
Hasna berdiri dan melangkah pergi tanpa kata. Fajri menatap kepergiannya. Agung memandang mereka bergantian, dia mendengar semua ucapan Hasna malam saat dia bertengkar dengan Fajri.
Agung mulai berpikiran sama dengan Hasna. Mereka sangat licin di tangan hukum. Dia mulai setuju dengan tindakan Hasna yang selama sepuluh tahun ini dia hindari.
Agung pergi menyusulnya. Fajri hanya diam menatap mereka.
###
Vino senang dengan hasil tes yang mengatakan bahwa ayahnya bukan pelakunya. Dia datang ke kantor dan mencari Hasna. Tapi dia tak ada di sana. Vino berusaha menelponnya.
Sementara Hasna masih di kantor polisi baru mau masuk ke mobil. Agung memanggilnya.
"Hasna!"
Dia menoleh dan menatap ayah angkatnya itu.
"Aku ikut dengan mu, boleh?" tanya Agung.
"Tentu saja ayah. Ayo!" ucap Hasna.
Mereka masuk ke mobil. Agung memasang sabuk pengamannya.
"Kau dengar apa yang aku katakan pada Fajri kan?" tanya Agung.
"Jelas, Hasna juga baru memikirkannya. Nabila tak dibungkus sama sekali. Sedangkan yang lainnya di potong dan dikemas rapi tanpa identitas. Pelaku yang ini hanya meneruskan" ucap Hasna.
"Dia juga sangat rapi, dia bahkan tak menyemburkan spermanya di tubuh dan membersihkan alat vital korban dengan baik. Sedangkan Nabila, dia terlalu kotor, terlalu ceroboh sebagai Bima" lanjut Hasna.
"Dulu, bagaimana caranya kau bisa lolos?" tanya Agung ragu-ragu.
"Istrinya memergoki dia menindih ku, aku yang tak bisa bergerak hanya bisa mendengar mereka bertengkar. Dia meninggalkan aku saat mengejar istri dan anaknya. Aku keluar dengan sekuat tenaga dan ayah menemukan ku"
Hasna diam sejenak belok ke kanan di pertigaan menuju sebuah cafe hendak mengajak Agung makan.
"Setelah itu, ayah tahu sendiri ceritanya bagaimana. Ayah juga tidak bisa membuatnya masuk ke penjara, bahkan meskipun kenyataannya ibu Fajri adalah salah satu korbannya" ucap Hasna.
Agung menatapnya terkejut dengan apa yang dia ketahui.
"Kau tahu?"
"Maaf, aku membuka kotak rahasia mu tahun lalu" jawab Hasna datar.
Agung menunduk memandang kedua tangannya yang tak pernah mampu menangkap Bima.
"Jangan katakan semua itu pada Fajri" ucap Agung.
Hasna menyeringai.
"Itulah kesalahan ayah, dia jadi tidak terlalu menggebu dalam memecahkannya" ucap Hasna menyimpulkan pekerjaan Fajri yang nihil.
"Nak, jangan sampai balas dendam mu membuat mu buta dengan semua kebaikan di sekitar mu. Fajri bahkan sama sekali tak menyukai pekerjaannya, tapi dia melakukannya untuk mu" ucap Agung membela Fajri.
Hasna melirik pada ayah angkatnya yang terdengar kesal.
"Aku turun di depan saja" ucap Agung.
"Ayah....maafkan aku...aku salah!" Hasna meminggirkan mobilnya.
"Ayah ada perlu, bukan karena ucapan mu" jawab Agung.
"Ayah mulai mudah tersinggung" ucap Hasna.
"Aku sudah bilang, aku ada perlu"
Agung membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Hasna menghela, dia menyesal sudah bicara mengikuti alur keras hatinya.
Hasna menjalankan mobilnya, dia fokus pada jalan di depannya. Beberapa saat dia melihat seorang pengemudi menjalankan mobil dengan cepat dari arah berlawanan. Hasna menatap kaca spionnya, Agung sedang menyebrang. Mata Hasna membulat, pengemudi itu seolah sedang menatap tajam pada ayah angkatnya itu.
Hasna menghentikan mobilnya, belum sampai dia membuka pintu mobil, suara rem berdecit kencang terdengar.
Bruukkk
Tabrakan tak terhindar, Agung terpental hingga 5 meter dari tempatnya berjalan. Hasna menatap tubuh Agung yang terlempar. Langkah kakinya menjadi cepat saat menatap tubuh Agung hampir ditabrak kembali oleh mobil yang melaju didekatnya.
Hasna menghentikan mobil itu dengan tiba-tiba, dia sedikit tertabrak dan jatuh di hadapan ayahnya yang nafasnya mulai hilang. Mata Hasna merah dan basah menatap pria yang tadi bicara dengannya di mobil. Tangannya hendak meraih, namun kakinya terasa sakit karena tertabrak. Hasna pingsan, mereka dibawa ke rumah sakit.
###
Fajri berlari di lorong rumah sakit, setelah mendapat kabar bahwa Agung dan Hasna mengalami kecelakaan. Dia hampir gila berlari dari kantornya menuju rumah sakit. Dengan terengah menatap tubuh Agung yang sudah kaku, ditutupi kain putih rumah sakit hingga wajahnya.
Tangannya yang gemetar menyentuh tubuh yang dikatakan adalah ayahnya itu. Membuka kain perlahan dari wajahnya dan muncul tangisan menatap wajah ayahnya yang pucat pasi tanpa darah.
Beno yang baru datang, terengah menatap Fajri meremas kain putih yang menutup wajah pria yang beberapa minggu ini tinggal bersamanya. Beno menangis dan memalingkan wajahnya, dia mengusap wajahnya merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Fajri terjatuh ke lantai, dia menangis tanpa suara. Beno menyentuh bahunya kemudian memeluknya.
"AYAAAAHHHH!"
Teriakan Fajri menggema di lorong dekat kamar mayat rumah sakit itu. Teman-temannya yang menyusul menunduk menatap detektiv yang gagah itu menangis hiteris.