
Di panti asuhan.
Fajri dan Hadi berjalan menuju jalan yang Hasna arahkan. Dia melihat sebuah rumah dan lega karena dari luar, rumah itu terlihat baik-baik saja. Fajri mendekat dan mengetuk pintu.
Tak berapa lama, Dania membuka sedikit pintunya dan menatap mereka.
"Siapa? " tanya Dania.
"Aku Fajri, dan ini Hadi. Kami teman Hasna" jawab Fajri.
"Kak Hasna tak mengizinkan kami membuka pintu untuk siapapun" ucap Dania.
"Ya, dia bilang seperti itu tadi pagi. Sesuatu terjadi padanya, dia meminta ku untuk melihat keadaan kalian" jelas Fajri.
Dania masih ragu untuk membuka pintu, dia hendak mengabaikan mereka, namun Bagas membuka pintu dengan polosnya dan menunjuk mereka.
"Dia polisi yang membantu ku waktu itu" ucap Bagas.
Fajri membulatkan matanya, dia menatap Bagas dengan seksama mencoba mengingatnya.
"Paman ingat? " tanya Bagas lagi.
Fajri tak mengingatnya, dia tersenyum bodoh. Bagas menarik tangannya untuk masuk, Hadi pun mengikutinya kemudian langsung memeriksa sekitaran rumah
"Ini Melani, adik ku yang kau bantu waktu itu paman! " seru Bagas dengan menunjukkan Melani ke hadapannya.
Fajri tersenyum, dia belum mengingat kejadian yang Bagas maksud. Tapi tatapannya beralih pada seluruh ruangan rumah itu.
Dania mengawasinya dengan seksama, mengingat semua peringatan yang Hasna beritahu. Semua menjadi tanggung jawabnya sekarang.
Fajri melihat kekhawatiran di kening Dania. Dia berdiri dan mendekat.
"Hasna sakit, tapi dia sangat khawatir pada kalian, jadi dia meminta ku untuk datang dan memastikan kalian baik-baik saja" jelas Fajri.
"Kak Hasna sakit apa? " tanya Dania semakin khawatir.
Fajri mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berpikir tentang alasan sakitnya Hasna. Dia tak mungkin mengatakan bahwa Hasna diculik saat hendak kemari.
"Sedikit demam karena terlalu banyak bekerja" jawab Fajri.
Dania tertunduk, dia mengerutkan dahinya.
"Dia pasti teralu bekerja keras untuk kami" gumam Dania.
Fajri mendengar ucapannya dan memperhatikan raut wajahnya.
"Ada banyak kasus yang dia kerjakan, jadi wajar jika dia drop. Semua pengacara seperti itu" ucap Fajri mencoba menghilangkan rasa bersalahnya.
Hadi yang baru datang dari luar, langsung berbisik pada Fajri.
"Gagang pintu belakang, ada yang hendak membongkar" bisiknya.
Fajri menatap Hadi, kemudian menatap anak-anak. Teringat ucapan Hasna yang mengatakan bahwa seorang pria yang sering datang ke sana pernah berada di tempat hiburan milik Venus.
Tak bisa dipungkiri, Fajri mengaitkan kejadian ini dengan bisnis milik Venus juga kasus yang sedang dia tangani. Terlebih, mereka anak-anak yang cukup sehat.
"Pintu belakang ada yang mau merusak. Aku akan minta tukang untuk memperbaiki dan sekaligus memasang pintu teralis. Bolehkan?" tanya Fajri.
Dania dan anak-anak lainnya hanya diam menatapnya.
Hadi menghubungi tukang sekaligus meminta pintu teralis yang dimaksud Fajri. Sementara Fajri berusaha menghubungi Hasna.
***
Di rumah, Hasna masih diam dalam pelukan Vino. Ponselnya bergetar dan Vino melihatnya. Vino meraih ponselnya dan menjawab telpon yang dia ketahui adalah Fajri.
"Hmmm, ada apa? " tanya Vino.
Fajri terdiam sejenak, menerka siapa yang menjawab telpon Hasna.
"Ini aku Vino" ucap Vino.
"Aishhh, aku kira orang-orang itu lagi" keluh Fajri.
"Tidak, aku akan menjaganya. Tidak akan aku biarkan dia terluka lagi" ucap Vino seraya membelai rambut Hasna.
"Kau tahu apa yang terjadi padanya? Ah tidak, seharusnya aku tanya kenapa kau sudah keluar hari ini?" Fajri meralat pertanyaannya.
Vino terdiam mengingat ucapan Wira.
Fajri terdiam, dia punya firasat Vino dimudahkan lagi oleh Wira. Tapi dia berusaha untuk berpikir positif dan menganggap ucapan Vino benar adanya.
"Katakan pada Hasna, aku akan berada di panti hingga besok. Tadinya aku akan minta dia untuk tidur di rumah ku saja, tapi karena kau sudah ada di sini, jadi aku sedikit lega" jelas Fajri.
"Panti? " tanya Vino.
"Nanti aku cerita, katakan ya saja pada Fajri" ucap Hasna dengan mata masih terpejam.
"Oh, ok. Hasna bilang ya, aku rasa aku juga akan membawanya ke apartemen ku saja" ucap Vino pada Hasna sekaligus Fajri.
"Baiklah, lakukan apa yang menurut mu baik untuknya. Aku tutup telponnya" ucap Fajri.
Vino meletakkan ponsel Hasna dan kembali memeluk nya. Tapi Hasna melepaskan pelukannya.
"Tidak usah pindah, di sini juga tidak apa-apa" ucap Hasna di hadapan Vino.
Vino terdiam menatap wajah Hasna yang begitu dekat dengannya. Dia juga berpikir tentang dua orang yang mengikutinya dan mengawasi rumah Hasna.
"Ya! " Hasna membujuk Vino.
Vino kembali menatapnya.
"Tidak, kita harus ke apartemen ku. Di sana lebih aman" Vino tetap pada pendiriannya.
Hasna merengut, dia tak ingin pergi karena apartemen Vino jauh dari arah ke panti. Akan lebih jauh lagi jika harus bolak balik panti nantinya.
"Soal panti.... " Vino hendak membahasnya.
"Tidak, bukan apa-apa" Hasna menjawab sedikit kesal.
Dia beranjak dari sofa hendak meninggalkan Vino. Tapi Vino meraih tangannya.
"Tunggu! " ucap Vino seraya berdiri.
Hasna berbalik dan bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Kau marah?" tanya Vino.
Hasna menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin terjadi apapun lagi padamu, jadi aku ingin kita pindah saja. Rumah mu ini terlalu mudah didatangi orang tak dikenal" bujuk Vino seraya sedikit demi sedikit mendekat dan memeluk pinggang Hasna.
Hasna diam saja, Vino mulai mendekatkan wajahnya. Dia menatap bibir Hasna dan hendak mencumbu nya.
Tapi suara bel pintu rumah Hasna membuyarkan momen romantis mereka. Vino menatap sinis ke arah pintu kemudian menatap Hasna.
"Fajri sedang di panti, siapa yang datang berkunjung menjelang malam begini? " gumam Vino.
Hasna juga tidak tahu, tapi matanya membulat saat pikirannya tertuju pada Keanu yang tadi pagi hendak menjemputnya bekerja.
'Apa dia kembali untuk menjenguk ku? ' tanya hati Hasna seraya menatap pintu.
Bel berbunyi lagi, kali ini dengan suara panggilan nama Hasna.
"Hasna! Kau di dalam? " seru Keanu.
Vino mendengarkan suaranya dengan seksama, matanya membulat menatap Hasna saat dia sadar suara yang dia dengar adalah Keanu.
"Pria itu sering datang kemari? " tanya Vino dengan kerutan di dahinya.
"Tidak, tidak seperti yang kau pikirkan... " Hasna gagap untuk menjelaskan.
Vino melangkah hendak membuka pintu. Tapi Hasna menahannya.
"Biarkan saja, jika aku tidak menyahut dia akan pergi sendiri" ucap Hasna.
Vino tak peduli, dia melangkah terus dan membuka pintunya.
Keanu yang awalnya tersenyum hendak menyambut Hasna yang dipikirnya yang membuka pintu, langsung merubah raut wajahnya karena melihat Vino yang berdiri di hadapannya.
"Kau sudah keluar dari penjara?" ucap Keanu.
"Ya, ada apa kau mengunjungi rumah istri ku menjelang malam seperti ini? " tanya Vino ketus.
Glekk.....
Keanu menelan salivanya, begitu pun Hasna. Vino menarik tangan Hasna agar tetap berdiri di belakangnya. Sementara Keanu menatap tangan Vino yang memegang tangan Hasna.