
Hasna keluar dari ruang jenguk itu. Hatinya sangat terluka, tapi dia hanya bisa mengepalkan tangannya saja.
Tak lama kemudian telpon masuk pun datang, mengabari bahwa Bayu dan Nina sudah keluar dari hotel. Hasna langsung pergi menyusul mereka.
Sampai di depan gapura depan lingkungan rumah Bayu, Hasna mendengarkan sesuatu dari alat penyadap yang dia letakkan di tas yang dia berikan untuk Nina.
"Dia baru membuka hadiahnya" gumam Hasna yang masih duduk di dalam mobil.
(Ibu.... tolong aku. aku tidak mau menjadi alat mereka)
"Itu Nina kan? alat? apa maksudnya?" Hasna bicara sendiri.
(perkumpulan itu memuakkan, ayah juga melakukan hal yang tidak baik buu....)
Hasna semakin kebingungan dengan apa yang dikatakan Nina.
"Casting apa yang sebenarnya dilakukan mereka? "
Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan Hasna. Dia bekerja sendiri, dia menyesali hal itu. Dulu dia bisa berbagi pemikiran dengan Fajri. Tapi, kali ini dia tak bisa melakukannya, dia harus memecahkan misteri ini sendiri.
Hasna menelpon teman yang berjaga di sekitar hotel M.
"Apa kau tidak bisa menanyakan pada orang dalam tentang casting yang diadakan di suit room itu? " seru Hasna.
(Tidak bisa Na, kau pikir aku bagian penyelidik. Tidak bisa gegabah seperti itu, pekerjaan ku pun akan jadi taruhannya. Sebisa mungkin kerjakan sendiri, bukankah kau menganggur?) keluh Hadi.
"Cckk, kau ini malas sekali! " Hasna malah mengeluh tentang penolakan nya.
(Seharusnya aku yang mengatakan itu)
Hadi menutup telponnya dan Hasna pun menghela dengan keras.
Suara Nina menghilang setelah tangisan itu. Kemudian terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki. Hasna mengerutkan dahinya, sangat fokus mendengarkan semuanya.
"Dia tidak bilang apa-apa" gumam Hasna.
Kemudian suara keras terdengar yang akhirnya alat yang dia gunakan terdengar korslet dan mati.
"Ah,, si@lan! Dia melempar tasnya. Sepertinya menginjaknya juga" Hasna menduga.
Tak lama kemudian Bayu berlari keluar dan naik taksi. Hasna hendak mengejarnya, namun Armand memintanya datang perihal perceraiannya dengan Vino. Dia pun menelpon Hadi dan memintanya untuk mengikuti Bayu.
Hadi yang tadi sempat marah, akhirnya mau karena terikat hutang budi dari kebaikan yang pernah Hasna lakukan.
Sementara itu, Hasna datang ke firma hukum dan menemui Armand.
"Apa yang tidak bisa ditunda hingga aku harus kemari? " tanya Hasna.
Armand yang terkejut karena kedatangan Hasna yang tak mengetuk pintunya dulu, terperanjat dan menatapnya.
"Ahh,, kau membuatku kaget! " keluh Armand.
"Cepat katakan, aku ada urusan" pinta Hasna.
"Urusan apa? Bukankah kau masih menganggur? " Armand menatapnya curiga.
Hasna mengalihkan pandangannya, salah tingkah karena terlalu buru-buru.
"Tentu saja aku menganggur, tapi kan aku.... banyak kegiatan yang harus aku lakukan" kilahnya.
"Ya, kau benar. Tak baik berdiam diri di rumah. Semua masalah mu sudah selesai dan tersisa yang satu ini" ucap Armand.
"Ada masalah apa? "
Hasna menjadi ikut khawatir karena ekspresi yang ditunjukkan Armand.
"Itu.... "
Armand menatap Hasna yang menunggu kelanjutan ucapannya.
"Vino menolak untuk bercerai, dia membatalkan persetujuannya hari ini" lanjut Armand.
Hasna menghela, dia berpikir dan menatap ke arah lain ruangan itu.
Tapi Hasna harus mengurus Nina, dia tak bisa berlama-lama tinggal disana.
"Kalian harus mediasi setelah Vino keluar penjara, dia sama sekali tak mau menceraikan mu" lanjut Armand.
~Mediasi, dia dihukum 8 tahun penjara. Ada kemungkinan remisi dan lain sebagainya, terlebih dia sudah menjadi bagian dari mereka sekarang. Jika aku melanjutkan tuntutan cerai ku, akan menjadi lama dan aku harus bolak balik ke sini. Tidak bisa, aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Nina. Bukan hanya karena janji ku pada Nunik, aku penasaran, mengapa Venus juga ikut andil dalam casting ini~ Hasna bergumul di dalam hatinya.
"Apa keputusan mu? " tanya Armand.
"Ya sudah, aku tarik pengajuan cerai ku. Kau bisa mengurus perihal pengambilan hak asuh Nina mulai sekarang" ucap Hasna.
Meski terkesan memerintah, tapi Armand sangat menuruti apa yang Hasna ucapkan. Dia mengangguk dan mengurus semua gugatan cerai Hasna.
"Aku harus pergi"
Hasna berdiri dan melangkah keluar.
"Jangan katakan apapun pada Fajri, kalian lebih dekat akhir-akhir ini"
Ucap Hasna setelah hendak mencapai pintu dengan menyipitkan kedua matanya dan menunjuk dengan dua jarinya ke arah Armand yang mengartikan bahwa dia mengawasi mereka.
"Ya... " jawab Armand.
Dia menatap Hasna yang berlalu dari dinding kaca ruangannya. Kemudian menatap foto keluarganya yang terpajang diatas meja.
"Entahlah Na, aku senang kau mencabut gugatan mu. Bianca begitu menggebu mengurusi perceraian kalian. Sampai saat Vino memutuskan untuk membatalkan persetujuannya, Bianca baru diam dan yakin bahwa Vino hanya menginginkan mu. Keputusan mu menyelamatkan rumah tangga ku Na, terimakasih" gumam Armand.
Tak lama kemudian, pria yang dimintai tolong oleh Hasna yang juga teman mereka, menelponnya.
"Pak, aku sudah pusing dengan mantan rekan kerja mu itu. Dia mulai mengorek tentang hotel M dan audisi casting yang diadakan di sana" keluh nya.
"Audisi casting hotel M?" Armand merasa pernah mendengarnya.
"Ya, dan dia sangat merepotkan. Dia meminta ku untuk mengikuti seseorang, seorang pria yang istrinya sedang di penjara. Kau pasti tahu siapa itu" lanjutnya lagi.
"Baiklah, aku akan minta dia menghentikannya. Lalu bagaimana penyelidikan tentang Venus, ada perkembangan? " tanya Armand.
"Itu dia, audisi itu menjadi sangat tertutup dan tidak banyak yang lolos pula. Mereka yang gagal pun tak mengatakan sepatah kata pun seolah terikat sebuah sumpah" jelasnya.
"Sumpah, aku tidak mengerti. Beritahu aku semuanya. Kita harus mendapatkan bukti bahwa Venus bukan hanya memiliki bisnis narkoba, itu yang harus bisa membuat dia dihukum mati" ucap Armand.
"Ya, kendalikan juga mantan pengacara itu. Aku kesulitan, aku tidak bisa menolaknya karena hutang budi ku padanya" pintanya.
"Ok, aku akan mengurusnya" ucap Armand kemudian menutup telponnya.
"Aishh, dia ini benar-benar pembangkang. Dia menguntit Bayu sampai begitunya. Tapi, kenapa Bayu ikut audisi aneh itu. Bukankah hanya wanita yang didaftarkan dalam acara itu?"
Armand bicara pada dirinya sendiri.
"Ahhh.... anaknya, Nina. Jadi ini alasan Hasna meminta pengalihan hak asuh Nina. Apa audisi itu berhubungan dengan prostitusi? "
Armand semakin bingung.
"Aishh... semenjak tidak ada Hasna, pemikiran ku selalu buntu. Sekarang dia malah berlagak menjadi detektif, Hasna.... Hasna....! " keluh Armand sambil menatap mejanya yang tak berubah.
Sementara itu Hasna mendapat kabar bahwa Bayu ke penjara untuk menemui Nunik.
"Kau memberitahu Armand? " tanya Hasna seraya memukul kepala Hadi.
Dia mendengarkan pembicaraan mereka saat dia menelpon di mobil. Hadi gelagapan, dia sangka Hasna mendengarkan pembicaraannya dengan Armand.
"Aku sedang bekerja, aku tidak bisa terus melakukan semua perintah mu bukan" keluh Hadi sembari mengusap kepalanya.
"Pada akhirnya, apa yang aku selidiki selalu berakhir dan berkaitan dengan kasus yang kalian selidiki" ucap Hasna yakin.
"Wah, ku percaya diri sekali" Hadi meragukan ucapan Hasna.
"Semua ini berhubungan dengan Venus bukan? Pria yang kaya dengan menjual narkoba skala besar yang kalian tangkap beberapa hari lalu, benarkan? " Hasna menatap yakin pada Hadi.
Glek...
Hadi tak bisa berkata-kata lagi, dia mengakui kepintaran Hasna, juga merasa kerepotan karena itu.