
Di kantor Brian.
"SIAPA YANG MENYUSUN SEMUA PESAN INI?!!!!"
Brian teriak pada semua bawahannya. Tak ada yang berani menjawab. Matanya merah, membulat seperti hendak keluar dari tempatnya.
"AKU TANYA SIAPA YANG MENYUSUN SEMUA PESAN INI?!!!"
Suaranya semakin keras ditambah pukulan di atas meja yang cukup membuat orang-orang di kantornya ketakutan.
Vino yang baru datang terheran dengan pemandangan yang baru saja dia lihat. Semua orang bagai patung menatap kearah Brian yang sedang dibakar amarah.
"Ada apa?" tanya Vino santai.
"Kejagung mengirim surat untuk membuka kembali kasus Dudung dan sedang ditangani Hasna Maulida Fadilah" jawab Brian dengan wajah yang merah padam karena kesal.
Vino tak bisa berkata-kata karena menyangkut Hasna. Tapi dia merasa Hasna sedang tak menangani kasus itu.
"Aku rasa dia tidak sedang menangani kasus Dudung" jawab Vino tapi ragu.
"Pesan ini sudah dua minggu, mereka pasti hampir selesai" ucap Brian bertambah marah dengan nafas tersengal.
Dia meraih ponselnya dan meminta seseorang mencari tahu.
"CARI TAHU SUDAH SAMPAI DIMANA LANGKAH MEREKA!" teriak Brian.
Dengan kesal, Brian melempar semua berkas yang ada di mejanya. Sekertaris dan asistennya buru-buru merapikan kembali mejanya.
Sementara itu Vino mengalihkan pandangannya dan berusaha berpikir jernih. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Hasna tak mungkin mengkhianatinya.
###
Hasna berdiri menatap Beni yang juga menatapnya di dekat pintu masuk ruang rawat Dara.
"Apa yang sedang berusaha kau lakukan untuk Dara?" tanya Beni dengan suara pelan.
"Aku tidak yakin harus mengatakannya pada mu atau tidak" jawab Hasna dengan wajah yang santai.
"Jangan membawa adik ku dalam perseteruan mu dengan Bima Sebastian" ucap Beno.
Hasna menyeringai.
"Aku kesal setiap kalangan seperti mu tersenyum menyeringai seperti itu. Seolah kami adalah orang bodoh yang mudah diperdaya" ucap Beno kesal.
"Hahahaha" Hasna malah tertawa.
Beno membulatkan matanya.
"Maaf, maafkan aku. Aku merasa sedikit lucu dengan ucapan mu" ucap Hasna masih tersenyum.
Beno menggertakan giginya.
"Kau bilang jangan membawa Dara dalam perseteruan ku dengan Bima, tapi kau melakukan semua kecurangan ini untuk Dara yang keadaannya dikarenakan oleh pria yang kau bantu kejahatannya" ucap Hasna sambil memainkan berkas yang dia bawa.
"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti!" Beno mulai menaikkan nada suaranya.
"Apa Dara tak pernah mengatakan alasan dia berada di sini selama ini?" Hasna malah bertanya.
"Nyonya pengacara yang saya hormati, katakan saja jawaban pertanyaan yang saya ajukan" ucap Beno semakin kesal.
Hasna menghela keras dan mengambil nafas dalam.
"Dara adalah salah satu korban selamat dari mayat-mayat perempuan yang ditemukan di beberapa tempat dan memiliki luka yang sama yaitu inisial korban di paha atau selakangan mereka. Kasus yang kau dan Fajri tangani dan merujuk pada Dudung pelakunya" jelas Hasna.
Wajah marah dan kesal Beno berubah drastis menjadi sedih dan matanya berair.
"Dan kau tahu apa yang sebenarnya terjadi" lanjut Hasna.
Mata Hasna memperhatikan tangan Beno yang mengepal. Matanya yang kemudian berlinang air mata. Dan urat lehernya yang muncul karena amarah yang tak terluapkan.
"Kau mau marah? Menemuinya dan meninju wajahnya?" Hasna menduga sambil menatapnya.
"Ya, sebelum hal itu bisa kau lakukan, kau dulu yang akan mati karena pukulan para pengawalnya. Ada sekitar 10 orang dengan badan tegap di rumah itu, aku tahu karena aku baru pindah ke sana beberapa hari yang lalu" jelas Hasna santai.
Beno menutup matanya sejenak merasakan kekesalan di hatinya.
"Huuhhffff, benar, sangat ironis. Kau membantu orang yang membuat adik mu nyaris gila" ucap Hasna dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
###
Vino mendapat laporan bahwa Dudung mendapat kunjungan seorang pengacara. Dia bergegas ke penjara untuk memastikan itu.
Sampai di penjara, Vino menunggu Dudung di ruang kunjungan. Seorang penjaga terlihat sedang melaporkan sesuatu melalui HT nya. Vino berdiri dan mendekat padanya.
"Kau melapor pada siapa?" tanya Vino.
Penjaga itu terkejut dan gugup.
"Saya...!"
"Siapa? Aku hanya tanya pada siapa?" Vino sangat penasaran.
"Pada ...." penjaga itu masih terbata-bata.
"Katakan padanya hadapi aku secara langsung, aku akan menunggu nya sekarang juga" ucap Vino menantang karena merasa tak mendapatkan jawaban.
"Baik Pak!" jawab penjaga itu dengan suara pelan.
Dudung sudah datang, Vino duduk setelah dia duduk. Vino menatapnya dengan tajam.
"Aku dengar seorang pengacara datang mengunjungi anda. Siapa? dan apa tujuannya datang kemari?" tanya Vino.
"Dia datang dengan membawa pesan dari rumah sakit tempat istri ku dirawat. Istri ku mengatakan bahwa aku bukan manusia sekeji itu" jawab Dudung sambil menangis.
Vino terheran melihat reaksi Dudung yang sangat berbeda dari saat pertama dia mengakui semua perbuatannya.
"Istri ku sekarat, mendengar aku adalah pria jahat yang membunuh wanita-wanita itu dan melukai Nabila, tidak ada lagi yang mau menunggui dia di rumah sakit. Tidak ada yang mau merawatnya meski aku menawarkan imbalan besar" tangis Dudung pecah.
Vino masih diam, awalnya dia hanya penasaran dengan pengacara yang datang menemui Dudung. Namun dia sangat terkejut dengan reaksi Dudung dengan hanya satu pertanyaan darinya.
Vino jadi bingung harus melanjutkan pertanyaan nya lagi atau tidak. Tapi Dudung terus bicara dan membuat Vino semakin bungkam dibuatnya.
"Aku harus bagaimana? Aku kira dengan melakukan yang tuan katakan, istri ku akan sembuh dan keluar dari rumah sakit"
Vino menghela denga keras, tubuhnya lemas mendengar ucapan Dudung. Sangat jelas, tuan yang dia maksud adalah ayahnya.
"Kau melindungi ayah ku? Jadi benar dia adalah pelakunya?" Vino baru menyadarinya.
Dudung terdiam, matanya menyiratkan rasa gugup yang lebih nyata. Dia tak bisa mengatakan hal ini langsung pada Vino, putra Bima Sebastian. Seperti yang dikatakan Hasna, Dudung harus mengikuti semua arahannya.
Seorang penjaga menatap memperhatikan mereka, kemudian masuk dan meminta Dudung kembali ke ruang tahanan.
"Waktu kunjungan habis Pak, tahanan harus kembali ke ruang tahanan" ucap penjaga itu.
Vino tak melepas pandangannya dari Dudung yang dibawa ke dalam.
Tapi, meskipun dia tak mendapatkan jawaban langsung dari Dudung, dia sudah paham dengan semuanya. Kini dia mengerti mengapa Hasna begitu menggebu menyelidiki kasus ini.
Vino kembali ke kantor hukum Brian, dengan memaksakan kakinya untuk tetap melangkah karena Brian memintanya kembali dan menemuinya.
Brian sudah ada di ruangannya, sedang menatap berkas dengan sesekali tersenyum dan seolah puas dengan isinya.
"Ada apa?" tanya Vino langsung karena Brian tak menyadari kedatangannya.
Brian menoleh dan tersenyum padanya.
"Vino! Kemari, duduk di dekat ku dan baca semua ini" pinta Brian.
Vino menurut dan membuka berkas kemudian serius membacanya. Matanya menutup sebentar, tak percaya dengan apa yang dia baca.