My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
62



Setelah pulih, Hasna menjalani sidang yang sudah siap sedia menantinya. Sidang yang akan membuatnya dipecat dari profesi sebagai pengacara dan menjalani hukuman penjara.


Fajri datang untuk memberinya semangat. Dia berdiri di dekat pintu tempatnya menunggu persidangan di mulai.


Seorang petugas penjara mendekat padanya.


"Maaf Pak, Anda tidak bisa menemuinya" ucap petugas itu.


Fajri menunjukkan identitas petugasnya dan pria itu menunduk dan mempersilakan untuk masuk. Fajri mendekat dan duduk di sisi Hasna.


"Kau menggunakan identitas mu agar bisa masuk kesini" ucap Hasna.


"Ya, yang biasa dilakukan semua orang saat mereka mendapatkan kesempatan itu" jawabnya santai.


Tangan Fajri melingkar dan memeluk bahu Hasna. Tangan Hasna mengalihkan tangannya untuk tetap di sisi mereka. Tapi Fajri melakukannya lagi.


"Kau akan segera bebas" bisik Fajri di telinga Hasna.


Mata Hasna membulat, dia mengalihkan pandangannya pada wajah Fajri yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Kau mabuk? " tanya sambil mengendus wajahnya.


Fajri melepas pelukannya dan menatap Hasna dengan wajah yang menyiratkan kekesalan.


"Aku mabuk hanya sekali, itupun saat aku benar-benar kesal padamu yang selalu memikirkan Vino. Jangan bahas itu lagi"


Hasna mengalihkan pandangannya ke arah petugas yang memberi kode bahwa persidangan akan dilakukan.


"Pergilah! " ucap Hasna.


Fajri menatapnya. Sekali lagi, setelah berulang kali dia diusir dan diminta untuk tak tinggal lebih lama dengannya. Hati Fajri merasa sangat sakit setiap mendengar kata itu darinya.


"Tak bisakah kau sekali saja mengatakan "Jangan pergi Fajri, aku mohon, aku sangat ingin kau bersama ku di sini" alih-alih selalu meminta ku pergi dn menjauh dari mu" keluh Fajri.


Hasna berdiri dan menghadapinya. Fajri mundur sedikit karena Hasna berdiri begitu dekat.


"Minggir, aku mau lewat! " ucap Hasna.


Fajri menghela keras, dia semakin kesal dengan sikap Hasna.


"Maaf Pak, persidangannya akan segera di mulai" ucap petugas di belakangnya.


Fajri memejamkan matanya, semakin kesal dengan mereka berdua.


"Ya, bawa dia pergi" ucap Fajri.


Dia tak berbalik saat membiarkan Hasna pergi ke ruang sidang.


**


Sidang dimulai. Semua orang berdiri saat hakim datang.


Jaksa penuntut membacakan tututan terhadap Hasna. Semua orang mendengarkan, termasuk seorang pria yang duduk diantara para penonton sidang.


Matanya memperhatikan wajah Hasna yang menunduk dan sesekali menatap wajah jaksa yang bicara di depannya.


Pada satu waktu, mata mereka beradu dan saling menatap satu sama lain. Hasna tak berkedip, pikirannya ingin dia tetap menatap pria yang juga menatapnya itu.


"Nona Hasna, silahkan duduk di kursi di depan" ucap petugas persidangan.


Perhatian Hasna teralihkan, dia menurut dan duduk.


Sidang berjalan dengan baik, Hasna mengatakan semua yang dia lakukan. Semua mata menatap dirinya dengan sinis.


"Mohon dipertimbangkan Pak Hakim yang terhormat, Nona Hasna melakukan semuanya memang benar adanya. Tapi karena hal itu juga kepolisian bisa menangkap gembong narkoba. Nama ketua saja yang mendapatkan pujian sementara Nona Hasna sendiri yang sudah secara langsung banyak membantu, malah di hukum"


Armand memberikan pembelaannya. Para Hakim dan pengacara lain saling berbisik membicarakan hal yang diutarakan Armand. Dia mendekat dan memberikan sebuah berkas berisi semua bukti dari ucapannya.


"Silahkan pembela, hadirkan saksi yang sudah dijadwalkan" ucap Hakim.


Mata Hasna membulat, dia tak tahu dengan rencana Armand hari itu. Dia bahkan menolak untuk dibela oleh Armand. Namun Fajri membujuknya hingga dia mau menerima pembelaannya.


Pak Wira datang dan bersumpah atas nama kitab agamanya.


"Saya bersumpah, semua yang saya ucapkan adalah kebenaran" ucap Pak Wira.


Pak Wira tersenyum saat menatap Hasna. Sebelumnya dia sudah datang ke rumah sakit, tapi saat itu Hasna sedang tak mau ada yang menjenguk. Dia tak jadi menemuinya untuk mengatakan semua rencananya.


~Apa yang dia lakukan di sini? Dia mau apalagi dari ku? ~ ucap hati Hasna.


Kesaksian Pak Wira membuat Hakim dan semua orang tercengang. Kepala Polisi meminta semua kejadian itu diusut tuntas.


"Sidang lanjutan akan diadakan bulan depan di tanggal 12. Terimakasih"


Hakim mengetuk palunya satu kali. Sidang hari itu berakhir. Hasna dibawa ke ruang tunggu khusus. Fajri datang dan langsung memeluknya.


"Sudah ku bilang kan, kau akan bebas" bisiknya lagi.


Hasna melepas paksa pelukannya.


"Kenapa dia kemari? " tanya Hasna kesal.


"Apa maksudnya kau bertanya? Tentu saja dia hendak membela dan mengeluarkan mu dari kasus ini. Aku sudah duga, kau melakukannya dengan apik. Semua selalu ada tujuan yang baik. Itulah Hasna ku" ucap Fajri senang.


Hasna hendak marah, namun matanya langsung tertuju pada Pak Wira yang berdiri diambang pintu.


Fajri mengikuti arah tatapan mata Hasna.


"Pak Wira, silahkan masuk Pak! " ucap Fajri.


"Saksi tidak bisa menemui terdakwa saat proses persidangan masih berjalan" ucap Hasna.


Langkah Pak Wira terhenti, Fajri menatap Hasna dengan heran. Dia tak mengerti mengapa Hasna bersikap ketus pada Pak Wira.


"Hasna, beliau ini... "


Fajri hendak marah, tapi tangan Pak Wira menahan bahunya dan memintanya untuk menahan diri.


"Hasna benar, aku tidak bisa leluasa masuk ke ruangan ini. Terlebih jika terdakwa tidak menginginkannya" ucap Pak Wira dengan mata menatap Hasna.


Armand datang, di mengajak Pak Wira dan Fajri untuk keluar dan membicarakan langkah selanjutnya. Hasna menatap kepergian mereka. Dia di bawah ke penjara lagi setelah beberapa waktu menunggu.


**


"Terimakasih Pak Wira, berkat Anda, kami mudah melepaskan Hasna dari kasus ini" ucap Armand.


Pak Wira tersenyum, Fajri menatapnya. Dia jadi memikirkan alasan Hasna ketus padanya.


~Dia pribadi pemilih, jika dia ketus, itu berarti orang yang dihadapinya adalah orang yang bermasalah dengannya~ ucap hati Fajri.


Pak Wira menjabat tangan Armand, mereka berpisah setelah Pak Wira pamit pergi lebih dulu.


Fajri terus menatapnya, Armand terheran dengan sikapnya.


"Kenapa menatapnya begitu?" tanya Armand.


"Hasna tak suka dibelanya" ucap Fajri.


"Heuh, apa yang dia suka, mengerjakan semuanya sendiri? Dia juga tidak mau aku bela. Hasna dan suaminya sama saja" ucap Armand.


Fajri menatap Armand yang menyebutkan suami Hasna.


"Ya, Vino juga tidak memakai pengacara untuk membelanya. Dia menerima semua tuntutan yang diajukan padanya" Armand menjelaskan karena mata Fajri seolah memintanya.


"Bukannya aku kesal, tapi, jika mereka melakukan sesuatu, aku jadi curiga ada yang mereka rencanakan di belakang kita" ucap Fajri.


"Ha...itu benar, mungkin juga karena mereka adalah pengacara andal, kita jadi terpengaruh dengan semua kejadian dan prilaku mereka" ucap Armand menyetujui argumen Fajri.


"Apa dia benar-benar tidak mengatakan apapun lagi pada Anda? " tanya Fajri.


"Tidak, dia hanya meminta ku untuk mengusut tuntas kasus Bima Sebastian" jawab Armand.


"Mungkin juga karena Bima ditembak Vino, semua yang dia rencanakan menjadi berantakan? " Fajri malah bertanya pada Armand.


"Aku tidak tahu pasti, aku hanya berharap dia tidak dihukum berat atas kasus ini. Aku dengar, beberapa tahanan berprilaku tak baik padanya" Armand membocorkan cerita yang Hasn minta untuk dirahasiakan.


"APA? " Fajri terkejut dan tak menyangka.