
Matahari belum muncul, tapi Hasna sudah mandi dan bersiap untuk pergi dari rumah Fajri. Dia menatap dirinya di cermin milik Fajri. Tatapannya dia alihkan ke sekeliling kamar yang sederhana itu.
"Dia tidak pandai menata rumah. Percuma dapat gratifikasi kalau begini" gumam Hasna.
Tatapannya berhenti pada sebuah peti kecil yang ada di meja dekat ranjang.
"Peti ini? " gumam Hasna.
Peti yang diberikan Agung untuk mereka. Masing-masing mendapatkan satu peti. Peti kecil untuk menyimpan barang yang sangat penting.
"Peti ku rusak, saat Bima melemparnya. Apa yang dia sembunyikan di sini? "
Hasna mencoba membukanya. Matanya membulat saat peti terbuka dan memperlihatkan tumpukan foto Hasna sejak kecil hingga lulus wisuda.
"Aku? "
Hasna melihat satu persatu fotonya, beberapa foto diambil secara sembunyi-sembunyi. Hasna tersenyum saat melihat pose dirinya yang sedang menunggu Fajri menjemputnya di sekolah.
"Dia punya kamera bagus sejak SMA, tapi dari mana dia mendapatkan foto masa kecilku? "
Hasna hanya bicara pada dirinya sendiri. Dia mengembalikan semua fotonya dan merapikan peti itu.
Sudah tak aneh, dia mengetahui perasaan Fajri sejak SMA. Tapi untuk menghargai Agung dan semua orang, juga dirinya sendiri, dia mengabaikannya. Memilih untuk tak menerima perasaan dari siapapun.
Tiba-tiba Hasna terdiam saat menatap jendela. Dia melihat bayangan seorang pria berdiri di dekat mobilnya. Hasna berjalan keluar dengan perlahan dan mencari tahu siapa pria itu.
"Astaga, dia tahu aku di sini" gumam Hasna saat mengetahui bahwa itu adalah Nendi.
Hasna langsung membuka pintu dan memergokinya. Nendi yang sedang terlalu mengantuk, tak bisa cepat-cepat sembunyi dan akhirnya diam membeku saat Hasna meraih jaketnya.
"Siapa yang menyuruh mu? " tanya Hasna.
Nendi diam membisu, tapi tangannya berusaha melepaskan tangan Hasna dari jaketnya. Hasna mulai kewalahan, tak habis akal, dia memukul kepala Nendi dengan tangan lainnya.
"Aduh! " keluh Nendi.
Hasna menendang kakinya dan membuatnya tersungkur. Nendi jatuh ke tanah dan pasrah saat kaki Hasna menginjak kakinya.
"Siapa?" tanya Hasna lagi.
Glek...
Nendi tak bisa menangkisnya.
Tak lama berselang, Fajri datang untuk ganti pakaian. Dia tercengang melihat Hasna menginjak kaki seorang pria.
"Ada apa ini? " tanya Fajri seraya hendak mengeluarkan senjata dari dalam jas nya.
"Tidak, bukan apa-apa. Masuklah! " jawab Hasna tanpa melihatnya.
Fajri terheran dengan jawaban Hasna yang seolah tak ingin dia ikut campur.
"Ok! " Fajri menurungkan niat mengambil senjata dan berjalan santai masuk ke dalam rumah.
Hasna menunggunya menutup pintu, kemudian dia mulai menekan pijakannya.
"Awww! " seru Nendi kesakitan.
"Katakan, atau kau ingin dia keluar dari rumah dan menodongkan senjata di kepala mu? " ancam Hasna.
Nendi masih merapatkan mulutnya.
"Ohhh, jadi kau tidak akan mengatakannya? " Hasna melonggarkan pijakannya.
Nendi mengambil kesempatan itu, dia berdiri dengan cepat dan berusaha sekuat tenaga untuk lari darinya.
Tapi tangan Fajri sudah meraih lengannya sebelum dia sempat berlari jauh. Dengan santai, Hasna melipat tangan dan menatapnya dari kejauhan.
Nendi menyerah dan mengikuti semua keinginan mereka. Fajri menyeretnya untuk duduk di kursi. Hasna mendekat dan mulai menanyakan lagi.
"Siapa? " tanya Hasna seraya melirik Fajri.
Fajri memperhatikannya, tapi dia diam saja mengikuti alur yang diberikan Hasna.
"Pak Vino, suami mu" jawab Nendi ringan.
Raut wajah Hasna berubah. Sementara Fajri terus menatap merdeka berdua secara bergantian.
***
Vino bicara dengan pengacara yang dia tunjuk untuk membantunya bisa keluar dari penjara lebih cepat. Mereka berdiskusi di ruang kunjungan.
Tak lama kemudian seorang petugas kepercayaannya datang dan membisikkan sesuatu padanya.
Mata Vino membulat, dia menatap petugas itu.
Pengacara Kamal menatapnya.
"Ada tamu? " tanya Kamal.
"Ya, istri ku. Maaf, kita bisa bicarakan ini lagi besok" pinta Vino.
"Baiklah! " ucap Kamal seraya tersenyum melihat Vino yang riang akan kedatangan istrinya.
Kamal berdiri dan pergi. Langkahnya terhenti saat dia berpapasan dengan Hasna yang berjalan cepat melewatinya. Kamal yang kagum dan selalu mengikuti semua sidang yang dilaksanakan Hasna, hanya menatapnya saja. Dia tak sempat menyapa apalagi mengajak bicara.
"Dia terlihat kesal" gumam Kamal kemudian pergi.
Sementara itu, Vino merapikan rambutnya untuk menyambut kedatangan Hasna. Dia menoleh ke arah kedatangan Hasna.
"Sayang! " seru Vino sambil melebarkan kedua tangannya meminta pelukan.
Hasna berhenti cukup jauh darinya. Vino terheran tapi kemudian mendekat dan memeluknya.
"Aku merindukan mu! " bisik Vino.
Hasna terkejut, wajahnya memerah mendengar bisikkan Vino yang sengaja didekatkan langsung ke telinganya.
"Kau membawa sarapan untukku? " tanya Vino sambil melepas pelukan dan memegang tangannya.
Tapi Hasna melepaskannya. Vino terdiam menatapnya.
"Ada apa? " tanya Vino dengan lembut.
"Aku tidak tahu harus menanyakannya seperti apa" ucap Hasna seraya mengatur nafasnya.
"Apa? " tanya Vino seraya mendekat dan bicara dengan lembut.
Hasna berusaha menatap matanya.
"Kau menyuruh seseorang menguntit ku?" tanya Hasna dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Vino melepaskan tangan Hasna.
"Sudah aku duga, dia memang amatir" Vino malah mengeluh dengan kinerja Nendi.
Hasna menganga tak percaya dengan ucapan Vino.
"Apa maksud mu melakukan ini? " tanya Hasna kesal.
"Aku mau tahu kegiatan istri ku saat aku di penjara, jadi aku menyuruh wartawan itu membuntuti mu" jawab Vino kesal.
"Kau paling tahu bagaimana tidak nyamannya hidup di buntuti seseorang. Lalu kenapa kau melakukan itu padaku? " Hasna menaikkan nada suara nya.
Vino berdiri dan meraih kedua bahu Hasna. Dia mencoba menolak tapi Vino tetap berusaha mengarahkan tubuh Hasna menghadap padanya.
"Dengar, aku hanya ingin tahu tentang apa yang kau lakukan. Tidak ada niat lain. Maafkan aku ya? " ucap Vino memasang wajah polos.
Hasna menghela, dia masih tak mau menerima alasan Vino.
"Baiklah, aku akan selingkuh dan membuat mu mendapatkan bukti bahwa aku bukan istri yang baik. Dengan begitu akan jauh lebih mudah bagi kita untuk bercerai saat kau keluar dari penjara" ucap Hasna.
Hasna malah menunjukkan kekesalannya dengan menyimpulkan alasan lain tentang tindakan Vino.
"Bukan itu yang aku mau" ucap Vino.
"Tapi aku mau seperti itu" ucap Hasna.
"Sayang! " Vino berusaha membujuk.
"Nendi, teman wartawan mu itu belum memberikan informasi tentang ku kemarin kan? Akan aku beritahu, semalam aku menginap di rumah Fajri. Aku tidur di ranjangnya dan.... "
Vino menepis tangan Hasna dan berbalik tak mau mendengarkan ucapannya lagi. Hasna terdiam, dia menelan salivanya untuk melanjutkan karangan bebasnya yang akan membuat Vino kesal padanya.
"Aku tidur dengannya" lanjut Hasna.
Vino berbalik dengan mata menatap tajam padanya. Hasna mengalihkan pandangannya.
"Sebegitu besarkah keinginan mu membunuh perasaan ku padamu? Sehingga kau mengatakan hal yang menyakitkan seperti ini" ucap Vino.
"Itu kegiatan ku semalam, karena Nendi ketahuan dan tak bisa menemui mu, jadi aku yang mengatakannya padamu, kau mau tahu kegiatan istri mu kan? " Hasna bersikap mengesalkan.
Wajah Vino merah padan karena sangat marah mendengar ucapan Hasna. Dia pergi dari ruangan itu seraya membanting pintu dengan keras.
Tubuh Hasna tersentak karena terkejut dengan suara pintu. Tangannya gemetar, dia baru melihat sikap Vino yang marah seperti itu. Dia terduduk lemas dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dia sangat marah" gumam Hasna.
Ruangan itu menjadi hening.