My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
67



Siang ini Hasna harus pergi ke sidang kasus Bima Sebastian. Hasna bersiap dengan memakai kemeja putih dan celana hitam.


Dewi, Nunik dan Wulan menatapnya dengan kagum melihat berapa cantiknya dia, meski hanya memakai sedikit bedak.


"Touch up dulu sebelum sidang, biar semua pria kagum pada kecantikan mu" ucap Dewi menyindir.


Hasna melihatnya dari pantulan kaca, dia sedikit kesal dengan cara Dewi tersenyum. Tapi Hasna memutuskan untuk mengabaikannya.


"Kali ini, pasti sidang putusan, dimana dia akan dibebaskan karena dia adalah seorang pengacara" Dewi masih terus bicara.


Hasna mendelik saja dan melanjutkan merapikan pakaian.


"Ya, mau bagaimana lagi, kita tidak punya jabatan atau kuasa untuk membungkam hukum seperti dia. Jadi kita mendekam di sini sangat lama" lanjut Dewi.


Nunik dan Wulan menatap mereka berdua secara bergantian. Ada rasa was-was di hati mereka, takut Hasna mulai terpancing amarah atas ucapan Dewi.


Hasna sendiri tak mengatakan satu patah kata pun, meski dicecar perkataan Dewi yang makin melantur.


Tak lama kemudian, seorang petugas menjemputnya.


"Kau sudah siap? " tanyanya.


"Hmmm" jawab Hasna singkat.


Dia pergi keluar sel dengan tanpa menatap Dewi, tapi tetap tersenyum pada Wulan dan Nunik.


Dewi kesal, dia melotot pada mereka berdua seolah bola matanya hendak keluar dari tempatnya.


***


Sampai di ruang sidang, lagi-lagi Fajri datang dan langsung menghampirinya. Mata Hasna menatap ke seluruh tubuh Fajri yang hari ini terlihat lebih bergaya.


"Hai!" sapa Fajri sambil duduk di samping Hasna.


Mata Hasna masih berkerut menatapnya, dia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya kemudian bertanya.


"Kau baik-baik saja kan? " tanya Hasna.


Fajri memajukan bibirnya.


"Kau pikir aku sedang sakit? " Fajri kesal.


"Penampilan mu, aku rasa ini bukan Fajri Megantara yang aku kenal" ucap Hasna.


Fajri menatap dirinya sendiri.


"Apanya yang salah? " tanya Fajri sambil memperlihatkan gayanya.


Hasna tersenyum, dia merasa lucu dengan tingkahnya. Fajri ikut tersenyum, dia senang Hasna kembali tersenyum.


Fajri menghela kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Hasna.


"Terima bantuan dari Pak Wira dan segeralah keluar, aku sangat merindukan mu" bisik Fajri.


Hasna menunduk, dia diam tak menjawabnya.


Tak berapa lama kemudian petugas sidang mempersilahkan Hasna untuk masuk ke ruang sidang. Fajri bangun dan mengantarnya. Tangan Hasna tak di lepas hingga dia masuk ke ruang sidang.


***


Vino bersiap untuk menjadi saksi juga di sidang kasus Bima, dia merapikan jasnya dan menatap wajahnya yang sudah di bersihkan sebelumnya. Masih terlihat memar dari pukulan tongkat milik petugas di dahinya. Sesekali di menutupinya dengan rambutnya yang tak dia cukur semenjak masuk rutan.


"Kau sudah siap? " tanya seorang petugas.


Vino menoleh, dia mengangguk dan berjalan mendekati pintu. Teman-temannya hanya mengantar dengan tatapan mata mereka hingga Vino hilang di lorong sel lainnya.


Sampai di pengadilan, Vino menatap tempat dimana dia dan Hasna selalu berdiskusi sebelum menjalani sidang ataupun hanya sekedar membahas sidang.


Hela nafas Vino terdengar, petugas pengadilan dan rutan yang berjalan bersamanya menatap dengan heran.


Mata Vino menatapnya.


~Ya, dia benar. Hasna ada di sini, di sedang menjadi saksi sebagai korban dari Bima Sebastian~ ucap hati Vino.


"Dia tidak menjawab" ucap petugas pengadilan.


"Ya, dia jadi pendiam setelah beberapa hari masuk rutan. Mungkin dia cukup terkejut menghadapi kenyataan yang ada. Notabene, dia seorang pengacara kaya bukan? " jawab petugas rutan.


Jelas Vino mendengar semua ucapan mereka, tapi benar, dia menjadi pendiam dan tak banyak tingkah semenjak masuk rutan.


**


Masuk ke ruang sidang, mata Hasna tertuju pada Vino yang sedang masuk dan duduk.


~Dia tak melihat ku~ ucap hati Hasna.


Tak lama kemudian, Vino menatapnya. Cukup lama mereka saling menatap, bahkan kedatangan hakim pun mereka abaikan.


Mata Hasna meraba wajah Vino yang sangat jelas terlihat memar di keningnya. Bening mengembang di kelopak matanya, tak bisa menahan rasa khawatirnya.


~Apa kabar? ~ tanya Hasna dalam hatinya.


~Kau sendiri bagaimana? Aku sangat tidak baik~ ucap Vino dalam hati.


~Bisakah kita bicara sebentar? Sejak hari itu, kita sama sekali tak pernah bertemu~ ucap hati Hasna.


~Aku sangat ingin bicara dengan mu, tapi aku tidak mampu menatap mata mu dari dekat karena rasa malu ku yang besar atas kesalahan ayah ku~ ucapan hati Vino.


~Aku tidak bisa menyangkal bahwa kau adalah putra dari orang yang merenggut kebahagiaan hidup ku. Tapi aku juga tidak bisa melupakan bahwa kau yang membuatku yakin bahwa cinta masih ada dan pantas aku dapatkan~ Hasna mengusap air matanya yang mulai menetes.


Hakim meminta Hasna untuk memberikan kesaksiannya. Dia diminta berdiri di kotak saksi dan bicara dengan sebelumnya bersumpah atas nama kitabnya.


"Aku bersumpah, apa yang aku katakan adalah kebenaran" ucap Hasna, seperti biasa dengan lantangnya.


"Nona Hasna Maulida Fadilah, apa yang terjadi pada 25 September 1998? " tanya seorang jaksa.


Hasna mengambil nafas dalam, memejamkan matanya sebentar, kemudian menceritakan semua kejadian kelam itu.


Tak sedikit orang yang terkejut dengn cerita Hasna, Vino pun kembali mengingat malam dimana Hasna mengungkapkan semuanya.


~Seandainya aku langsung mempercayai mu malam itu, mungkin tak harus kita menjadi warga binaan seperti ini~ ucap hati Vino.


"Anda mengatakan, Bima Sebastian mengukir inisial nama anda di paha, sebelah mana? " tanya Jaksa.


"Kiri, ukirannya belum sempurna" jawab Hasna.


Jaksa mengangguk, apa yang Hasna katakan sama dengan ucapannya saat interogasi. Hasna bahkan tak memegang secarik kertas sebagai pengingat tentang apa yang akan dia katakan.


Semua orang mendengar, melihat bukti yang ditunjukkan Hasna berupa foto. Vino menutup matanya saat bukti foto ukitan inisial nama Hasna di pahanya.


Hasna menunduk, kini semua orang tahu dia adalah korban rudapaksa. Mata yang menatap dengan rasa iba akan bertambah banyak. Tatapan yang Hasna benci dan tak mau dia terima dari siapapun.


Vino menunduk malu mendengar semua luka yang Hasna terima. Perasaan kesal bercampur aduk dalam hatinya.


Setelah Hasna, giliran Dara yang memberikan kesaksiannya. Dimana dia mengatakan apa yang dia alami dan apa yang dia terima.


"Ya, pria itu yang melakukan itu" ucap Dara saat Jaksa menunjukkan foto Bima.


Dara mulai menangis dan meremas pegangan kayu yang ada di dekatnya.


"Nona Dara, apa kita bisa melanjutkannya? " tanya jaksa.


Meningat Dara adalah mantan pasien rumah sakit jiwa, mereka memberikan kesempatan jika Dara tak bisa menahan diri.


"Kita lanjutkan saja, aku ingin semua ini berakhir dengan segera" jawab Dara.


Matanya beradu dengan Beno yang menunggunya di kursi lain. Beno pun siap mengajaknya pulang jika dia tak bisa melanjutkan sidang ini. Tapi melihat kegigihannya, Beno juga siap memberikan semangat untuk adiknya.