My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
36



Frans menunggu Hasna dengan ekspresi sangat kesal. Hasna masuk dengan terengah, wajahnya merah, dahinya berkeringat. Frans yang awalnya hendak marah padanya menjadi diam saat menatap Hasna datang dengan keringat mengucur di wajahnya.


"Ada apa?" tanya Frans sambil berbisik.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Ini berkasnya, lanjutkan sidangnya" ucap Hasna dengan terengah.


Frans melanjutkan sidangnya, namun pikirannya tak bisa lepas dari apa yang dia lihat pada leher Hasna.


Selesai dengan sidang, Frans datang mendekat pada Hasna yang duduk di ruang tunggu. Mata Frans menatap ekspresi wajah Hasna yang seperti biasanya. Namun dia lebih terlihat sedang mengendalikan diri.


"Kau baik-baik saja?" tanya Frans.


Meskipun Hasna pernah menjadi rivalnya dalam persidangan dan membuatnya kalah, tapi Frans tetap mengakui Hasna sebagai pengacara yang handal. Dia juga memperhatikannya seperti pada anak sendiri.


"Iya Pak, aku baik-baik saja. Sidang yang akan datang, anda harus membawa saksi kunci bukan?" Hasna malah membahas tentang sidang.


"Ada apa dengan leher mu? Ada memar merah dan luka cakar di dekat telinga mu. Ada seseorang yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada mu?"


Insting Frans sebagai pengacara langsung menuju pada penyerangan.


"Tidak ada, aku tidak sengaja melukai diri ku sendiri karena terburu-buru datang kemari. Lain kali jangan menyuruhku secara mendadak, aku jadi tergesa" jawab Hasna datar.


Dia berdiri dan hendak meninggalkan Frans.


"Kau akan pergi? Kamu tidak mengikuti sidang, bagaimana kamu merangkum sidang tadi? Bukankah kita harus mendiskusikannya?" Frans menahan kepergiannya.


Hasna menoleh dan menatap Frans, seniornya yang sangat kompeten itu. Dia menghela dan menatap ke arah berkas yang dia pegang.


"Aku sedang menangani sebuah kasus, apa bisa aku bolos hari ini? Aku akan kembali ke kantor dan tempat yang menjadi tempat kejadian. Kasus ini harus segera aku selesaikan" jelas Hasna.


"Kasus apa?" tanya Frans yang tak mendapat kabar dari Armand tetang kasus apapun.


"Kasus cukup besar dan berbahaya, bukan untuk orang yang punya banyak tanggungan seperti anda dan Pak Armand. Karena akan banyak ancaman yang keluar tertuju pada orang yang menyelidiki kasus ini" jawab Hasna sambil merapikan tas nya.


"Jangan main-main, meskipun kau hidup sebatangkara, tapi banyak yang peduli pada mu. Jangan sia-siakan hidup mu hanya untuk mencongkel batu yang tertanam dalam tanah" Frans mencoba memberinya pengertian.


"Batu itu hanya sebuah batu, aku hanya ingin menyingkirkannya karena membuat kaki ku terluka. Hanya sampai rata saja dengan tanah, tidak lebih" jawab Hasna.


"Jika ingin jadi pengacara sukses, kau harus menurut pada yang lebih berkuasa" Frans masih mencoba.


Hasna tertawa, Frans menatapnya dengan aneh.


"Ternyata benar, sulit menjadi jujur dan benar-benar berada dalam jalan kebenaran. Tapi tenang saja, apa yang aku lakukan, semuanya adalah hal tidak baik. Aku akan mempertahankan prinsip kalian yang satu itu" ucap Hasna menyindir Frans.


"Hasna, jadi pengacara itu baik...."


"Tapi cara kalian, maksudku kita, semua salah. Aku tidak mau berdebat, aku harus pergi"


Hasna pergi meninggalkan Frans yang terlanjur berapi-api untuk berdebat dan dia sama sekali tak memperdulikannya.


###


Fajri datang ke hotel dimana sebuah rekaman menunjukkan seorang pengusaha dilayani oleh seorang wanita panggilan mereka. Fajri dan Beno datang dengan penampilan berbeda.


Seorang resepsionis menyapa mereka dan bertanya. Fajri dan Beno menyewa sebuah kamar. Kamar yang mereka tuju, namun ternyata kamar itu sedang dipakai.


"Kapan selesai?" tanya Fajri santai seolah dia sudah tahu bahwa kamar itu selalu dipakai sebentar.


Resepsionis itu menatapnya curiga. Dia menatap Fajri dan Beno bergantian.


"Kau ini...!" Beno mengeluh dengan menarik bahu Fajri.


"Kenapa? Memang benar kan? Mau apalagi menginap di hotel seperti ini. Pasti hanya mau menyewa perempuan, kita juga akan melakukannya kan! Cepatlah! Aku sudah sangat ingin melakukannya" ucap Fajri bertingkah sesuai perannya.


Saat mereka mencari keributan, Hasna datang. Dia melewati mereka yang dandanannya tak dia kenali.


Fajri menatap Hasna yang hari itu berpenampilan sangat menarik. Beno pun tak bisa melepas pandangan darinya.


Resepsionis itu menghubungi kamar Tuan Takeshi Yamada.


"Maaf nona, siapa namanya?" tanya resepsionis itu.


"Maia!" jawab Hasna.


Fajri dan Beno saling menatap terkejut, Hasna menggunakan nama samaran. Beno menelan salivanya kemudian berusaha menahan Fajri yang hendak bicara pada Hasna. Fajri menatap Beno dengan membulatkan matanya seolah bertanya mengapa dia menghalanginya.


Resepsionis itu memberikan secarik kertas pada Hasna. Kemudian Hasna pergi ke arah lift untuk segera menuju kamar milik Takeshi Yamada.


"Berikan kamar yang mana saja yang dekat kamar tadi. Ini sedikit untuk membeli pulsa, jangan katakan kami meminta hal ini" Fajri memberikan uang untuk resepsionis itu.


Resepsionis itu memberikan kamar yang tepat berada di depan kamar yang Hasna tuju. Mereka buru-buru masuk ke dalam lift sisi lain untuk menyusul Hasna.


"Bro, kita mau menyelidiki prostitusi elite, bukan mau menguntit pengacara Hasna"


"Diam kau!" jawab Fajri sambil meraup wajah Beno.


Beno menghela dan sedikit mendelik, dia tak bisa menolak apa yang Fajri lakukan, dia harus selalu setuju.


Sampai di lantai 5, Fajri melihat Hasna berjalan menuju sebuah kamar. Fajri mendekat, tapi Hasna sudah masuk dan menutup pintu. Sekilas, Fajri melihat seorang pria Jepang yang hanya memakai handuk.


Fajri emosi dan hendak mendobrak, namun Beno memeluknya dari belakang dan menariknya ke dalam kamar.


"Hei...kendalikan dirimu" ucap Beno sambil terengah.


"Pria itu tak memakai pakaian. Dia hanya memakai handuk, Hasna, bisa saja dia melakukan sesuatu padanya" ucap Fajri terengah karena emosi.


Beno menatapnya dengan mengerutkan dahi. Dia tak bisa menahan Fahri untuk khawatir, Hasna adalah orang terdekatnya.


"Diam dulu, kita bisa cari tahu nanti. Dia kan baru masuk" ucap Beno menahannya.


Tak berapa lama menunggu, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari dalam kamar itu. Fajri dan Beno saling menatap, mereka keluar dengan terburu-buru.


Mereka mendobrak pintu itu dan menemukan pria jepang itu sedang diserang dengan tamparan oleh seorang wanita jepang. Di sisi lai seorang wanita yang hanya memakai selembar kain seprai berdiri ketakutan di sudut ruangan.


Fajri memeriksa kamar mandi, tapi tak menemukan Hasna. Dia mencari keluar dan memeriksa lift, tapi tak ada yang turun. Beno mengikutinya, kemudian mereka saling bertatapan.


Mereka berdua berlari ke tangga darurat, menduga Hasna menggunakan tangga darurat untuk pergi karena mengetahui istri pria jepang itu datang. Namun sayang, setelah berlari dan memeriksa, mereka sama sekali tak menemukannya.


Beno kembali ke kamar pria jepang itu dan melerai mereka yang masih bertengkar. Istrinya terus bicara dalam bahasa jepang dengan ekspresi yang sangat marah.


Beno hanya bengong, dia tak mengerti ucapannya. Tak lama kemudian Fajri datang.


"Bawa dia keluar!" ucap Fajri menunjuk pada wanita jepang itu.


"Kau pakai baju mu di kamar mandi. Jangan keluar sebelum aku meminta" Fajri juga meminta WTS itu pergi.


Mata Fajri menatap pria jepang itu dan mengeluarkan sebuah kartu anggota petugasnya.


"Aku Fajri, dari bagian kriminal. Kau Takeshi Yamada? Apa yang kau lakukan di sini bersama wanita yang bukan istrimu?" tanya Fajri.


Pria jepang itu menundukkan kepalanya. Kemudian dia menjelaskan kronologi kejadian pada Fajri.


Dia datang karena menerima jamuan dari Bima Sebastian atas proyek baru mereka. Proyek sebuah pulau baru untuk membuka kota baru dengan konsep elite.


"Awalnya hanya seorang wanita yang menyambut ku di kamar. Tapi seorang wanita lagi datang dan bergabung. Belum sempat aku mencoba wanita itu, istriku datang dan melakukan semua itu di depan kalian" jelas Takeshi dengan kesal.


Fajri lega mendengar apa yang dia katakan. Tapi tetap saja berpikir tentang apa yang dilakukan Hasna.