
Tiba di rumah sakit, Beno melihat Hasna dan Vino duduk di kursi tunggu di luar ruang rawat Fajri. Mereka terkantuk dan saling menyandarkan kepala ke bahu masing-masing. Beno berjalan perlahan agar mereka tak terbangun.
Dia masuk perlahan ke ruang di sebelah ruang ICU. Tak ada siapapun di sana, suster pun mungkin sedang kembali ke ruangannya. Beno leluasa masuk ke ruang ICU tanpa menggunakan alat pelindung diri.
"Fajri, maafkan aku"
Ucap Beno sambil menyentuh tangan Fajri.
"Maaf untuk apa?"
Hasna tiba-tiba ada di belakang Beno. Dia terkejut kemudian berbalik.
"Hmm, maaf...karena...aku baru datang sekarang" jawab Beno terbata-bata.
Mata Hasna memperhatikan cara bicara dan raut wajah Beno, yang dia yakini sedang berbohong.
"Aku kira maaf karena kau telah mengkhianatinya"
Ucapan Hasna membuat mata Beno membulat tajam menatapnya.
"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti"
Beno berbalik membelakangi Hasna, tak kuasa menatap matanya yang seolah tahu semuanya.
"Aku melihat mu di dekat rumah Bima Sebastian beberapa waktu yang lalu. Aku kira kau datang bersama Fajri, tapi ternyata sepertinya kesepakatan yang kau ambil dengan Bima Sebastian, Fajri bahkan tidak mengetahuinya"
Hasna bergerak mendekat ke sisi ranjang Fajri.
"Dengar! Aku tidak mengerti apa yang coba kamu utarakan sekarang. Aku benar-benar tidak mengerti. Kesepakatan, pertemuan ku dengan Bima. Aku tidak mengerti!"
Beno meninggikan nada suaranya. Hasna tertunduk lalu tersenyum.
"Beno, aku tahu jauh sebelum ini semua terjadi. Aku masih memaafkan mu yang selalu menghancurkan bukti tentang Bima sebastian karena aku sangat tahu betapa sulit menjalani hidup ini tanpa banyak uang. Tapi jika apa yang terjadi pada Fajri hari ini ada kaitannya dengan mu, aku tidak akan segan-segan membuat mu membayar semua kesalahan yang kamu lakukan selama ini. Tanpa ampun"
Mata Hasna mantap menatap mata Beno yang bergerak karena gugup.
"Dengar Nyonya Pengacara, aku tidak peduli apa yang kamu katakan. Aku ke sini hanya untuk menjenguk rekan kerja ku. Itu saja, permisi"
Beno melangkah pergi meninggalkan ruang ICU. Sementara Hasna masih diam menatap kepergiannya hingga hilang di pintu keluar.
Sesekali dia menghela nafas saat melihat keadaan Fajri. Teringat semua kenangan saat mereka bersama. Saat Fajri selalu ada untuknya. Selalu menemaninya saat kesedihan menyelubung di hatinya.
"Bangunlah, ini permintaan ku untuk pertama kalinya. Tidak ada lagi. Aku hanya butuh kau hidup. Aku mohon!" ucap Hasna sambil memegang tangannya.
###
Beberapa hari menunggui Fajri di rumah sakit, Hasna mengabaikan kasus yang dia tangani. Vino bolak balik memperingatkan Hasna untuk kembali ke rumah dan bekerja seperti biasanya. Tapi Hasna tetap kekeh ingin menunggui Fajri hingga dia sadar.
Momen ini digunakan Bima untuk membuat Vino kecewa dan meragukan kesetiaan Hasna.
Pagi itu, Vino bangun pagi untuk sarapan. Bima pun sarapan bersamanya.
"Mana istri kamu?" tanya Bima.
Vino menelan makanan yang ada di mulutnya kemudian minum.
"Di rumah sakit, menunggui Fajri, kakak angkatnya yang jatuh dari tangga" jelas Vino.
"Kakak angkat atau kekasih tak sampai?" ucap Bima dengan ekspresi datar dan sambil makan.
Vino berhenti makan, dia meletakkan pisau dan garpu kemudian menatap ayahnya.
"Apa yang sedang ayah coba sampaikan?" tanya Vino.
Bima melap mulutnya dan menatap Vino.
"Ayah dengar, Fajri sering melamar Hasna. Tapi Hasna selalu menolaknya dengan alasan menganggapnya kakak. Ayolah, Hasna hanya anak asuh. Mereka pasti punya hubungan lebih dekat sebelumnya" Bima memancing Vino untuk berpikir kotor tentang Hasna.
Vino tersenyum menertawakan ucapan ayahnya.
"Ayah juga tahu bahwa mereka selalu mesra sebelum Fajri menyatakan perasaannya" lanjut Bima.
Vino terdiam, dia minum kemudian menjawab semua ucapan ayahnya.
Vino pergi meninggalkan meja makan dan Bima yang sangat kesal dengan sikap Vino. Mereka tak menghabiskan sarapannya. Bima memanggil asisten rumah tangganya.
"Hei, kalau sudah selesai datang ke kamarku!" ucapnya.
Asisten rumah tangannya menunduk dan mengerutkan dahinya seolah enggan melakukan perintah Bima.
###
Di rumah sakit, Vino melihat Hasna sudah rapi dan menatap Fajri yang masih terbaring tak sadarkan diri meski sudah dipindahkan ke ruang rawat. Hasna menoleh ke arahnya dan tersenyum. Dia mendekat dan meraih tangannya.
"Dokter bilang dia sudah baik-baik saja. Dia akan segera sadar kan?" tanya Hasna sambil menatapnya.
Vino ingin sekali protes tentang sikap Hasna yang lebih memikirkan Fajri dibandingkan dirinya. Tapi dia takut Hasna kecewa padanya, dia mengalah lagi dan membuat Hasna merasa nyaman dengannya.
"Ya, semoga saja dia cepat bangun. Kamu makan dulu, ini aku bawakan sarapan" ucap Vino.
Hasna tersenyum dan mengambil kotak makanan yang Vino bawa dan memakannya. Vino menatapnya sambil tersenyum, dia sudah merasa senang dengan melihat Hasna tersenyum dan menuruti perkataannya.
###
Di kantor, Beno hendak mengambil semua bukti yang Fajri simpan di penitipan di kantor dalam. Petugas begitu saja memberikannya karena Fajri memang sedang tak bisa mengurus kasus itu.
Namun, mata Beno membelalak menatap kotak itu kosong. Tak ada satu pun berkas ataupun falshdisk yang menjadi incarannya. Beno meremas tangannya sendiri karena kesal.
Tak lama kemudian, Vania datang dengan memperhatikan keadaan sekitar.
"Sthhh, Beno!" seru Vania.
Beno menatapnya dengan malas.
"Apa?" jawab Beno ketus.
"Aku mau tanya" ucap Vania.
"Tentang apa?" lagi-lagi Beno ketus.
"Aku melihat pengacara cantik itu selalu menjaga Fajri. Apa hubungan dia dengan Fajri?" tanya Vania sambil duduk di kursi Fajri dan di dekatkan pada Beno.
Beno berhenti mengetik, dia berpikir kemudian menatap Vania.
"Kau menyukainya?" tanya Beno.
Pertanyaan Beno membuat Vania mengalihkan pandangan dan tersipu malu.
"Tidak, maksudku, tentu saja. Kita kan rekan kerja"
Tiba-tiba Vania tersadar bahwa jawaban Beno tidak menjawab pertanyaannya.
"Tunggu! Aku bertanya apa hubungan Pengacara itu dengan Fajri. Kenapa kamu bilang aku suka dia?"
Vania menatap Beno dengan kesal. Tapi Beno hanya menyeringai.
"Kau menanyakan hal itu karena cemburu. Tapi rasa cemburu mu memang tepat. Fajri sangat menyukainya, lebih tepatnya cinta"
Beno tersenyum pada Vania.
"Huh kamu ini, mana mungkin Fajri menyukai wanita yang sudah bersuami"
Vania menertawakan ucapan Beno.
"Itulah kenyataannya, meskipun sudah menikah dia masih sangat mencintai pengacara cantiknya. Lihat saja dia yang selalu menemaninya, lagi pula Fajri belum tentu bisa kembali sehat. Dokter mengatakan dia bisa saja lumpuh karena kecelakaan itu. Jadi, simpan atau buang perasaan mu itu jauh-jauh" ucap Beno.
Vania mengerutkan dahinya merasa tak suka dengan ucapan Beno.
"Ucapan mu kasar sekali. Fajri itu rekan kerja mu, kalian bahkan dijuluki partner kerja terbaik. Kenapa sekarang terdengar kau sangat lega dia tak sadarkan diri? Apa kau merasa dia adalah saingan mu? Ahh....ternyata ada juga ya orang seperti itu"
Beno menatap Vania yang berdiri dan berjalan pergi menjauh dari mejanya. Hela nafasnya keras terdengar sangat kesal. Tapi dia mereda saat melihat pesan dari suster tentang Fajri yang mulai sadar.
~Akhirnya, aku lega mendengar kau sudah sadar meskipun kau masih belum bisa berjalan. Maafkan aku Fajri, sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menghancurkan semua bukti tentang Bima Sebastian. Hanya tentang dia saja, yang lainnya aku berjanji akan memperjuangkan semuanya dengan mu lagi~ ucap hati Beno.