
Beberapa minggu terlewati tanpa ada perkembangan dari kasus yang ditangani. Fajri dan Beno menyandarkan kepala ke kedua tangannya masing yang saling mengait.
"Huuhhhf, susah juga ya. Udah ngubek TKP, ngumpulin CCTV sampe nanya-nanya orang sekitar, masih aja belum ada pencerahan" keluh Beno.
Fajri menggosok kepala belakangnya kemudian mengambil ponsel. Sudah berhari-hari Hasna tak menghubunginya. Dia mengirim pesan untuk mengajaknya makan malam bersama.
Pesannya terbaca, namun Hasna tak membalas. Fajri tak sabar, dia menelpon untuk memastikan.
"Ya hallo!" jawab Vino.
Fajri terdiam sejenak dan memasang wajah malas.
"Mana Hasna? Kenapa kamu yang jawab?" tanya Fajri kesal.
"Lagi....kasih tau nggak ya?" Vino mengejeknya.
Fajri menyeringai tapi semakin kesal.
"Katakan saja dimana dia!" seru Fajri nada suaranya meninggi.
"Tenanglah, dia baru saja keluar dari ruangan ku dan melupakan ponselnya" ucap Vino.
"Cepat berikan ponselnya!" Fajri masih kesal.
"Tidak mau, nanti saja. Nanti juga dia balik lagi" tolak Vino.
Fajri memutuskan telpon dan melempar ponselnya ke meja. Beno menatapnya dengan wajah heran, Agung yang baru bergabung pun merasa heran dengan sikap Fajri.
"Ada apa dengannya?" tanya Agung pada Beno.
"Nggak tahu Pak, tiba-tiba aja gitu" jawab Beno dengan mengangkat bahunya.
Beberapa saat kemudian, Agung mendapat telpon dari kantor polisi tempatnya bekerja.
"Apa?" seru Agung.
Fajri dan Beno menatapnya heran. Mereka penasaran dengan apa yang didengar Agung di telponnya.
Mata Agung membulat saat mendengarkan penjelasan rekan kerjanya. Dia hanya mengangguk-angguk dan mencatat sebuah nomor di sebuah kertas.
"Ada apa Yah?" tanya Fajri saat melihat Agung menutup telponnya.
Mata Agung menatap Fajri dan Beno bergantian.
"Wisnu, adiknya" ucap Agung terbata.
Fajri dan Beno menatapnya dan menunggu kelanjutan ucapannya.
"Adiknya ditemukan sekarat di sawah di pinggiran tol" lanjut Agung.
Fajri dan Beno saling menatap.
"Sekarang sedang di rumah sakit pusat, dia masuk ICU" jelas Agung.
Fajri meraih ponselnya dan melempar kunci mobil ke arah Beno. Mereka pergi setelah Agung menceritakan luka yang ada di tubuh Nabila, adik Wisnu.
Ciri-ciri luka sama dengan mayat yang ditemukan terakhir dan kasus 10 tahun lalu. Fajri merasa mendapat pencerahan dari kasus itu. Mereka buru-buru ke rumah sakit untuk memastikan dan berharap Nabila bisa bertahan hidup.
Hasna yang mendapatkan informasi dari teman perawatnya, sudah ada di sana memandangi Nabila yang berbaring penuh dengan alat kesehatan menempel di badannya.
Vino memegang bahunya, dia menoleh dan tersenyum.
"Sudah selesai, mereka akan memastikan Nabila dirawat dengan baik. Aku juga sudah minta dua orang bodyguard untuk menjaganya dengan secara diam-diam" bisik Vino.
Hasna kembali melihat Vino yang begitu baik padanya. Mengabulkan semua permintaannya. Hasna memeluknya dengan rasa terimakasih yang banyak. Vino senang Hasna memeluk dengan erat.
"Terimakasih. Kamu baik banget" ucap Hasna setelah melepas pelukannya.
Tapi Hasna hanya diam menatap Nabila dengan tatapan yang selalu Vino lihat. Seolah kosong dan hanya berpikir pada satu hal yang tak pernah diketahuinya.
"Tapi aku akan mencoba mengerti tanpa jawaban dari mu" lanjut Vino.
Dia berbalik dan hendak meninggalkannya sendiri. Tangan Hasna meraih tangannya dan memegangnya erat, meski tak menoleh padanya. Vino menatap Hasna kemudian tangan mereka yang saling menggenggam. Kemudian dia diam berdiri di samping Hasna yang menyandarkan kepalanya di dadanya.
Saat hendak pulang, Hasna menemui Wisnu untuk mengabari Agung dan Fajri. Dia meminta Wisnu untuk merahasiakan siapa yang membantunya mengurus administrasi rumah sakit.
"Kenapa?" tanya Wisnu yang tahu bahwa Hasna adalah anak angkat Agung.
"Ayah suka nanya-nanya uangnya dari mana. Aku belum ngenalin pacar aku yang ini sama dia. Dia suka minta langsung nikah. Ribet Bang!" ucap Hasna.
Dia mencari jawaban yang mungkin dan akan dirahasiakan Wisnu dari Agung. Vino yang menunggunya di dekat lift, tersenyum mendengar alasan Hasna.
"Ok, makasih ya Hasna. Semoga kalian bisa jadi pasangan seumur hidup" ucap Wahyu.
"AAAMIIINNN!" seru Vino.
Hasna dan Wisnu terkejut kemudian menoleh padanya yang tersenyum lebar. Hasna tersipu melihat tingkahnya. Tak disangka dia mendengarnya bicara. Wisnu juga tersenyum.
"Aku pergi dulu ya Bang" pamit Hasna.
"Iya hati-hati!" ujar Wisnu.
Hasna masuk lift bersama Vino. Saat pintu lift tertutup, Vino mendekat dan mengaitkan tangannya di lengan Hasna.
"Pacarku, aku lapar. Kita makan dulu ya sebelum ke kantor!" ucap Vino merayu.
Hasna membulatkan matanya menatap Vino.
"Kita belum pacaran" ucap Hasna sambil melepas tangan Vino dari lengannya.
"Nggak mau! Pokoknya mulai sekarang kita pacaran. Kamu sendiri yang bilang kalau aku ini pacar kamu sama Bang Wisnu. Itu sudah jadi bukti" Vino merengek.
Hasna menghela dan tersenyum mendengar cara bicara Vino yang seperti anak kecil manja yang menginginkan sesuatu.
Pintu lift terbuka, mereka sampai di basemen. Hasna berjalan lebih dulu meninggalkan Vino.
"Pacarku, tunggu!" seru Vino menggodanya.
Hasna tersipu dan tak ingin Vino melihatnya. Dia berjalan lebih cepat. Vino berlari menyusulnya kemudian menarik lengannya dan bersandar di mobilnya.
Hasna terkejut, Vino ada berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya menengadah menatap wajah Vino. Kemudian dia menunduk, mengalihkan pandangannya. Vino memegang dagunya dan mendekatkan wajahnya ke Hasna.
Jantung Hasna berdegup kencang, Vino menciumnya dengan lembut.
"Aku sayang banget sama kamu" ucap Vino di depan wajahnya.
Hasna menutup matanya menyambut bibir Vino, dia pun mencium Hasna kembali lebih lama.
Sementara itu, Fajri dan Agung datang dan berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Mereka berlari menuju ruang ICU dan menanyakan ruangan yang dipakai oleh Nabila.
Fajri terheran dengan petunjuk suster yang mengarahkan mereka pada ruangan VIP. Fajri menatap wajah ayahnya yang juga heran. Dia melihat ke sekitar mencari seseorang yang mungkin mereka kenal, yang membiayai perawatan Nabila yang masuk kelas VIP.
Tak ada siapapun, Fajri dan Agung mencari Wisnu. Mereka menemukannya, Fajri memberitahu posisi mereka pada Beno yang memarkirkan mobil di basemen.
Wisnu memeluk Agung, dia sudah menganggap mereka keluarga karena intens memperhatikan kehidupan mereka setelah ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya. Wisnu menangis di pelukannya, Fajri menunduk, berbelasungkawa atas apa yang menimpa Nabila.
Wisnu menatap Fajri kemudian juga memeluknya. Beno datang, dia langsung bergabung.
Mereka bertiga menghela nafas menatap Nabila dari luar kaca pintu ruang ICU. Agung jadi ingat dengan Hasna, meski mereka tak melihat keadaan Hasna saat seperti ini. Dia membayangkan gadis yang ada di ranjang ICU itu adalah Hasna. Kemudian tak terasa menangis.
Fajri paham saat melihat ayahnya berkali-kali menghapus air matanya. Dia sangat tahu, ayahnya akan ingat dengan Hasna saat melihat Nabila seperti itu.