
Pagi yang cerah, Vino sarapan bersama Bima di meja makan.
"Besok, aku dan Hasna akan menikah di kantor urusan agama. Soal resepsi, aku dan Hasna sepakat akan melaksanakannya setelah kasus yang Hasna tangani selesai" ucap Vino.
Bima berhenti makan, sendok dan garpunya dia letakkan menangkup di atas piring. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri.
"Apa?" tanya Bima.
"Aku..."
"Apa tidak ada wanita yang lebih baik darinya?" tanya Bima tanpa menatap Vino.
Vino menatap ayahnya dengan perasaan aneh. Tapi kemudian dia berpikir bahwa ayahnya belum mengenal Hasna dengan baik.
"Ayah, aku tahu dia pernah berusaha melawan ayah untuk kasus pak Dudung, tapi ayah, dia satu-satunya wanita yang aku cintai sejak SMA. Dia orang yang sangat kompeten di bidang ini, dia bahkan menangani beberapa kasus dengan sangat bertanggung jawab. Kasus pak Dudung, dia hanya terlalu fokus pada korban. Hanya karena sesama wanita, dia merasa sangat tak adil jika semua wanita diperlakukan seperti pak Dudung lakukan" jelas Vino berusaha mengubah pemikiran ayahnya.
"Cinta pertama, apalagi SMA, itu hanya cinta monyet. Kau akan sadar setelah mengenal gadis lain. Ayah akan kenalkan gadis lain, jangan dulu mengambil keputusan untuk menikahinya" ucap Bima.
Dia berdiri dan hendak pergi tanpa mendengar jawaban Vino. Namun Vino menahannya.
"Aku akan tetap menikah dengannya meski ayah tak setuju. Kita baru bertemu setelah kau mengabaikan aku beberapa tahun. Kau tidak terlalu berhak mengatur gadis mana yang patut aku nikahi" ucap Vino.
Bima melangkah dengan kesalnya. Dia masuk ke ruang kantornya dan menggebrak mejanya.
"Sialan! Aku tidak bisa mengatakan kalau gadis itu sudah aku nodai dua kali" ucap Bima dengan tangan mengepal, mata merah dan nafas tersengal.
Dia sangat kesal dengan keputusan Vino. Hal itu akan membuatnya menjauh dari Bima. Dia akan kembali ke apartemen dan kesempatan Bima mengambil kuasa atas semua harta yang diatasnamakan Vino dari ibunya akan gagal.
"Ayah, aku pergi!" seru Vino dari luar.
Bima menatap pintu, dia malas menjawab pamit dari Vino. Tapi suara mobil Vino sudah terdengar menyala dan suara pagar terbuka. Petugas pos pun terdengar menyapanya.
Bima menelpon seseorang dan menunggu jawabannya.
"Kenapa kau belum membunuhnya?" tanya Bima.
"Maaf Pak, Hasna pindah ke apartemen. Penjagaan diperketat dengan memasang beberapa CCTV di depan pintu dan sekitar apartemennya"
"Apa kau sepayah ini? Aku membayar mu sangat mahal. Kau tak bisa membuat wanita selemah dia mati? Cepat lakukan, atau aku yang akan membunuh mu" ucap Bima.
Dia melempar semua berkas yang ada di atas mejanya. Kekesalannya sangat memuncak, dia benar-benar merasa sudah tak punya kesempatan untuk mencegah pernikahan Vino dan Hasna.
###
Vino sampai di apartemennya, dia masuk dengan memasukkan pin yang dia sepakati bersama Hasna akan dipakainya. Namun Vino tak tahu bahwa Hasna baru saja selesai mandi. Dia melihat Hasna hanya memakai handuk dengan rambut yang basah.
Matanya membulat, menatap Hasna dari ujung rambut sampai ke kaki. Saat menyadarinya, Vino berbalik dengan wajah memerah karena malu.
"Maaf! Aku nggak tahu kamu lagi mandi" ucap Vino sambil berjalan mendekat ke pintu.
Hasna hanya dia menatapnya.
"Tunggu saja di sofa. Aku akan segera ganti pakaian" ucap Hasna.
Wajahnya datar, seolah sudah merasa tak berarti tubuhnya itu terlihat atau tidak oleh seorang pria. Dia merasa dirinya sudah tak berharga. Sehingga membuat dirinya datar dengan situasi yang cukup memalukan bagi orang biasa.
Vino menelan salivanya. Dia tak berani berbalik, tapi Hasna dengan santai menyapu seluruh tubuhnya dengan body lotion. Pagi ini angin kencang sekali, ac di apartemen itu pun menyala di 19 derajat. Tapi Vino merasa kegerahan setelah mengingat tubuh Hasna yang sudah terekam di otaknya.
Vino membenahi dasinya, Hasna yang sudah selesai memperhatikannya.
"Ayo, aku sudah selesai" ucap Hasna yang tiba-tiba ada di dekatnya.
Vino terperanjat, dia tak berani menatap Hasna karena gugup.
Tapi Hasna mengaitkan tangannya di lengan Vino setelah pintu lift terbuka. Vino menatap wajahnya, kemudian beralih pada rambutnya yang masih basah.
"Kau tidak mengeringkan rambut mu?" tanya Vino terbata.
"Aku tidak pernah mengeringkan rambut ku, kau lupa?" jawab Hasna.
Vino tersenyum baru teringat.
"Kau gugup karena sudah melihat ku setengah telanjang?" tanya Hasna to the point.
Vino menghembuskan nafasnya ke arah wajahnya sendiri yang terasa panas.
"Sayang, kau terlalu fulgar, aku merasa kepanasan" ucap Vino seolah menyerah.
"Ok, aku tidak akan membahasnya" jawab Hasna datar.
##
Fajri mengumpulkan semua bukti, dia menyimpannya dalam sebuah kotak dan hendak menyimpannya di loker di bagian penitipan barang di kantor dalam. Namun saat dia hendak memeriksa kembali semua berkas yang dia lihat, dia kehilangan beberapa berkas yang cukup penting.
Mata Fajri menatap ke arah Beno yang sama sekali tak memperdulikan dirinya. Dia sangat ingat sudah meminta Beno menyimpan berkas itu, tapi dia ingat dengan ucapan Hasna yang memintanya untuk tak percaya pada siapapun.
~Apa Beno yang sengaja menghilangkan bukti selama ini? Tidak mungkin, dia bekerja dengan ku sudah sejak lama. Aku yakin dia tak melakukan itu~ hati Fajri menolak semua pemikiran buruk tentang teman seperjuangannya itu.
"Aku hanya terlalu fokus pada ucapan Hasna, aku harus fokus pada bukti-bukti ini" gumam Fajri.
Fajri menyimpan semuanya di loket penitipan kantor dalam. Beno menatap kepergiannya. Kemudian duduk kembali setelah melihat Fajri kembali.
Fajri menatap pesan yang masuk ke ponselnya. Alisnya terangkat, pesan Vino tentang jam jadwal pernikahan mereka membuatnya terdiam cukup lama.
Beno melihatnya, dia merangkul bahu Fajri dari belakang.
"Ada apa bro?" tanya Beno.
"Hasna menikah dengan Vino besok" jawab Fajri.
"Waaah, dia sudah tak membutuhkan restu mu sebagai saudara angkat" ucap Beno sengaja membuat Fajri merasa kesal.
"Aku sudah tahu, dan aku akan pergi besok. Jadi lakukan semua tugas sendiri besok, karena aku akan pergi seharian" ucap Fajri.
"Ouh, begitu ya. Baik bro serahkan semua sama aku" ucap Beno sambil tersenyum.
Fajri juga ikut tersenyum.
###
Hari yang dinantikan tiba, pagi sekali dia sudah siap. Hasna berdandan dengan memakai kebaya dan riasan sederhana. Dia sedang menunggu Vino untuk menjemputnya di apartemen. Matanya tak lepas dari pesan yang Fajri kirim padanya.
[Aku tak bisa datang apalagi menjadi saksi dari pernikahan yang jadi bagian rencana mu. Aku juga harus melakukan sesuatu yang menjadi bagian dari rencana ku. Hati-hati lah, hanya itu yang ingin aku sampaikan]
~Dia sudah tahu, dia sudah mengerti. Itu sudah cukup Hasna, lakukan semua sesuai dengan rencana baru mu~ ucap hati Hasna pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama, Vino datang. Tak ada yang berubah dari penampilannya, dia yang selalu tampan dan gagah dengan jasnya. Tapi wajahnya terlihat sangat bahagia hari itu.
Mata Vino meraba ke seluruh tubuh Hasna yang terlihat sangat cantik. Dia sangat terpesona dengan penampilan Hasna.
"Kamu cantik banget" ucap Vino memuji.
"Semua perempuan itu cantik" jawab Hasna.
"Tapi cuma kamu yang bikin aku jatuh cinta selama bertahun-tahun" Vino kekeh.
Hasna sama sekali tak berekspresi. Vino sudah terbiasa dengan sikap dan respon Hasna. Dia tetap jatuh cinta dan malah semakin yakin Hasna takkan berpaling darinya.
Mereka masuk ke mobil dan meluncur menuju kantor urusan agama. Armand dan Bianca yang menjadi saksi dari pernikahan mereka sudah menunggu, dan dari pihak Vino ada dua orang dari kantor barunya.
Sampai di sana, Vino senang melihat semua orang siap menunggu mereka. Penghulu dan petugas KUA juga sudah menunggu karena giliran mereka sudah akan dimulai.
Vino mengucapkan ijab kabul dengan tegas dan mantap. Bianca merekam momen membahagiakan itu. Dia juga sedikit terharu karena Hasna yang menikah yang sudah tak punya ayah dan ibu. Bahkan ayah angkatnya pun sudah meninggal belum lama ini.
Bianca memberikan ucapan selamat, kemudian memeluknya dengan erat juga mengusap punggungnya beberapa kali. Perasaan Hasna mulai terpancing untuk menangis, situasi ini seharusnya menjadi momen bahagia baginya. Tapi hatinya penuh dendam dan amarah. Kebahagiaan itu lenyap dan yang tersisa hanya dendam.
Vino menatap Hasna dengan penuh kasih sayang, dia sangat bahagia sudah menjadi bagian penting dari hidup Hasna sekarang, suaminya.
"Sekarang kau milik ku sepenuhnya. Berhati-hatilah!" bisik Vino di dekat telinga Hasna saat mereka akan mengambil foto.
Hasna tak bereaksi, pikirannya hanya teringat pesan Fajri jika dia mendengar kata "hati-hati".