
Hasna menatap Maya yang tertidur setelah meracau semalam.
"Dia mabuk dan datang ke rumah ku lalu mengeluh tentang Vino. Lain kali aku akan mengusirnya saja" ucap Hasna.
Hasna menyelimuti nya dan masuk ke kamar untuk melihat perkembangan penyelidikan nya.
Cukup lama dia menatap laptop yang menunjukkan cctv yang dia pasang di dekat pintu gerbang rumah Bayu. Tak ada pergerakan yang berarti. Dia juga tak melihat Nina keluar bersama Bayu.
Tiba-tiba, Hadi menghubungi.
"Pengacara! Aku mendapat kabar casting itu akan diadakan di hotel JM besok malam"
"Ini benar-benar akurat? " tanya Hasna tak yakin.
"Aku mengikuti Bayu tadi, dia membicarakan nya dengan seseorang di telpon di dekat taman. Dia juga ditemani seseorang yang berbadan tegap di sana" jelas Hadi.
Hasna berpikir, mungkin dia lengah saat Maya datang.
"Kenapa kau menelpon ku bukannya Fajri? " tanya Hasna seraya memeriksa rekaman CCTV.
"Fajri sudah tahu, tapi dia tak tahu perihal Nina. Kau yang tahu tentang nya, aku rasa dia akan... "
"Dijadikan alat oleh ayahnya? "
"Ya, semacam itu"
Hasna menutup telponnya. Dia mencari informasi tentang hotel JM. Dan akhirnya dia pun mendapatkan informasi tentang denah dan lokasi yang akan dipakai untuk casting itu.
Semalam suntuk dia mengerjakan semuanya, hingga tertidur di meja dengan laptop yang sudah dia tutup sebelumnya.
Maya terbangun pagi sekali, dia memegang kepalanya merasa pusing karena semalam teralu banyak minum. Dia juga mengingat apa saja yang sudah dia katakan pada Hasna tentang Vino. Dia menepuk jidat mengingatnya.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan? " ucapnya menyesal.
Maya mengetuk ke pintu kamar Hasna, tapi tak ada jawaban. Dia membuka pintu kamar Hasna namun tak bisa.
"Dia mengunci pintunya? " gumam Maya.
Dia tak menyangka Hasna termasuk pribadi yang tertutup.
"Apa dia membawa pria masuk? " Maya malah berpikir yang lain-lain.
Dia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Belum sempat sampai meraih gagang pintu kamar mandi, Hasna keluar dari kamar dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Maaf aku sudah tidak tahan! " ucapnya seraya menyalipnya.
Maya cukup terkejut, dia menatap pintu kamar Hasna yang terbuka. Karena penasaran, dia masuk dan melihat isi kamarnya.
"Tak ada apapun, lalu apa yang membuatnya mengunci pintu kamar selagi ada aku yang menginap di rumahnya" gumam Maya.
"Kau mabuk, aku takut tiba-tiba kau masuk dan membicarakan betapa bucinnya kau terhadap Vino" jawab Hasna yang sudah ada di belakangnya.
Maya terkejut, dia mundur dan menatap Hasna. Dia memasang wajah yang merengut kesal mendengar Hasna menganggapnya bucin.
"Aku cuma tak menyangka. Meskipun kau terus menyakitinya, dia tetap menganggap mu cintanya" ujar Maya mendelik pada Hasna yang duduk di kursi kerjanya.
"Aku berencana untuk bercerai dengannya saat dia keluar dari penjara. Tapi kali ini aku harus fokus untuk mencari pekerjaan. Beberapa orang menawarkan menjadi rekan di firmanya. Yang lainnya meminta menyelidiki sesuatu. Tabungan ku juga menipis"
"Ya, aku tahu. Tak mudah jadi dirimu. Aku akan mencoba melupakan Vino. Kau mau bercerai atau tidak itu takkan jadi masalah bagi ku"
Maya berjalan keluar kamar tapi langsung berhenti dan berbalik.
"Aku akan pulang setelah sarapan, kau tidak keberatan membuat sesuatu untuk sarapan ku kan? " ujar Maya.
Hasna tersenyum kemudian mengangguk.
***
Sementara itu di rumah Bayu.
Bayu melempar gaun berwarna merah ke ranjang. Nina dipaksa memakai baju seksi untuk acara nanti malam.
"Pakai ini untuk nanti malam, kau harus terihat meyakinkan. Ini semua tentang hidup dan mati kita" ucap Bayu.
"Tapi kenapa aku pak? " tanya Nina dengan wajah penuh tangis.
"Karena ibu mu masih di penjara. Dia melakukan kesalahan fatal. Seharusnya dia tak membunuh tamu yang malam itu datang. Sekarang kau yang harus menanggungnya" ucap Bayu.
Bayu duduk mengusap kepala dengan kedua tangannya. Dia juga menangis mendengar jeritan putri terkasihnya.
~Seandainya aku bisa, aku akan menggantikan posisi mu sayang~ ucap hati Bayu.
***
Fajri sudah duduk di lobi hotel, dia membaca koran dengan mata penuh kejelian menatap siapa saja yang datang.
Kemudian matanya menatap seorang wanita yang datang menuju lobi, dia memakai hoodie dan kacamata hitam. Fajri cukup curiga, dia yang sedang memata-matai bersama beberapa anak buahnya, langsung meminta salah satu anak buahnya untuk mengikuti nya.
Hadi yang kebetulan dia minta untuk mengikuti wanita itu. Hadi masuk ke lift bersamanya.
Wanita itu berbalik menghadap Hadi, dia mengangkat kacamatanya dan mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
Hadi menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, memberi isyarat pada Hasna untuk diam agar Fajri tak mendengarkan.
Mereka bicara dengan gerakan bibir. Hadi berisyarat untuk membuat Fajri yakin bahwa Hasna hanya tamu biasa.
"Permisi nona! "
Sapa Hadi padanya.
"Kau menuju ruang suitroom? " tanya Hadi.
"Bukan, aku mengunjungi kakak ku di kamar ekonomi. Kau tidak tanya pada resepsionis, suitroom ada di lantai berapa? " Hasna mengubah suaranya.
Mereka bersandiwara dengan mata mengintai ke segala arah.
"Oh ya aku lupa, terimakasih! " ucap Hadi.
Hadi mengedipkan sebelah matanya, Hasna mendelik sambil keluar dari lift.
"Pintar, kau bertanya seperi orang bodoh" ucap Fajri dari alat komunikasi dua arah mereka.
Glekk...
Hadi cukup kesal mendengar sindiran komandannya itu.
"Kembali ke posisi mu, aku harus pergi ke ruangan di sebelah ruangan yang akan dipakai. Kabari aku tentang orang-orang yang kau kenal yang datang ke hotel" perintah Fajri.
"Baik Pak! " jawab Hadi.
Beberapa orang bergerak mengikuti Fajri, yang lainnya bergerak santai mengubah posisi agar tak teralu mencurigakan.
Hadi menatap pintu kaca lobi, dia menyipitkan matanya seolah melihat seseorang yang sangat dia kenal. Matanya membulat saat dia sadar dan mengenal orang yang masuk ke dalam hotel. Dia membalikkan badannya dan menelpon Hasna.
"Wira, aku melihat Pak Wira datang, anak buah Venus berjalan di belakang nya. Aku ulangi, Pak Wira datang ditemani anak buah Venus" ucap Hadi berbisik.
Hasna mendengar ucapannya dengan jelas. Matanya membulat, dia ingat saat Pak Wira meminta bantuannya untuk masalah pribadinya.
~Apa yang dia lakukan di sini? Apa ini semua ini berhubungan? Permintaannya, casting itu?~ Hasna berdiskusi sendiri.
Sementara itu, Fajri bersiap. Dia sudah menduga Wira akan datang. Dia jelas melihat Wira dan Bima menjadi bagian dari perkumpulan itu. Dia meminta anak buahnya bersiap.
Wira masuk ke dalam lift dan menuju ruang suitroom yang menjadi tempat casting diadakan. Hasna mendengar Wira melewati ruangannya. Dia memeriksa dengan mengintip.
Fajri pun bersiap di sisi lain ruangan suitroom itu. Tangannya memegang senjata dan meminta beberapa anak buahnya bergerak sesuai arahan telunjuk nya.
"Tunggu, Bayu dan Nina baru datang. Anak itu dirias dengan sangat cantik" ucap Hadi.
Hasna dan Fajri berhenti bergerak. Mereka terdiam dan berpikir.
"Aku akan membawa Nina pergi dari sini" ucap Hadi.
"Tidak! "
Fajri dan Hasna bicara bersamaan.
"Kendalikan diri mu Hadi, jika Nina tidak ada, acara ini takkan berlangsung, kemudian mereka akan keluar dari segala pintu yang ada" ucap Fajri.
Hasna membulatkan matanya.
~Fajri sudah mengerti alurnya, dia tahu sesuatu yang tidak aku ketahui~ ucap hati Hasna.