
Fajri pamit pada anak-anak setelah dia memasang CCTV. Dania dan anak-anak melambai ke arahnya yang berjalan menjauh dari panti asuhan.
"Aku melihat beberapa pria mengawasi panti itu semalam, apa tidak apa-apa meninggalkan mereka sekarang? " tanya Hadi sambil tetap berjalan mengikuti langkah Fajri.
"Aku sudah minta Danu menunggu di belakang rumah bersama dua orang lainnya. Masih ada yang harus kita lakukan selain menjaga mereka. Kau juga harus mengawasi rumah Venus bukan? " jawab Fajri.
"Siap Pak! Sesuai perintah anda" jawab Hadi.
Fajri berbalik lagi di belokan terakhir, matanya menatap ke arah rumah panti asuhan. Anak-anak sudah masuk, yang tersisa hanya pemandangan sebuah rumah tua yang cukup besar.
'Hasna mengambil tanggung jawab yang terlalu besar. Seharusnya dia mengatakan semuanya, setidaknya pada seseorang' ucap hati Fajri.
"Pak! " seru Hadi memastikan atasannya berjalan kembali.
Fajri menoleh dan kemudian melangkah lagi.
Sampai di depan rumah Hasna, dia melihat Hasna sudah siap berangkat bekerja dengan Vino yang sedang berdiri di depan rumahnya.
Fajri turun dan menyapa mereka.
"Kau mau berangkat? " tanya Fajri.
"Ya, kau sudah kembali? " Hasna balik bertanya.
Fajri menatap Vino, menyapanya dengan mengangkat kedua alisnya beberapa kali. Vino pun hanya berisyarat dengan melambaikan tangannya.
"Jangan mengatakan apapun pada Vino, aku belum mengatakan apapun padanya tentang panti asuhan" bisik Hasna dengan gestur tubuh seolah tak mengatakan apapun.
"Hhmmm! " jawab Fajri singkat.
Vino mendekat dan menyela kedekatan mereka.
"Kau mau membahas apa dengan istriku? " tanya Vino dengan tangan memeluk pinggang Hasna.
Fajri memperhatikan gerakan tangan Vino.
"Ahhhh, kau mulai percaya diri menyebutnya istri. Dia pasti sudah menerima mu sekarang!" seru Fajri mengeieknya.
"Ya, aku bersyukur itu semua terjadi sekarang. Setelah aku keluar dari penjara" jawab Vino riang.
"Ya, syukurlah! " jawab Fajri.
Hasna diam saja. Mereka diam dan mulai canggung untuk bicara sesuatu pun.
"Jadi, apa yang mau kau katakan? " tanya Vino.
"Tidak, aku hanya memastikan dia baik-baik saja. Meskipun aku tidak tahu darimana kau mengetahuinya, aku bersyukur kau datang dan menemaninya saat aku sedang tidak bisa melakukannya" jelas Fajri.
Vino terdiam, dia ingat lagi dengan ucapan Wira dengan segala ancamannya.
Fajri hanya bisa memperhatikan raut wajahnya, kecurigaannya semakin menjadi.
'Dia menunjukkan sikap yang aneh, Tuhan, jangan sampai kekhawatiran ku menjadi nyata' ucapnya dalam hati.
"Sudah ya, aku terlambat. Aku sudah menunda pekerjaan ku kemarin. Pasti sudah menumpuk lagi pekerjaan lainnya di meja ku" keluh Hasna.
"Kalau cape tidak usah kerja, aku kan sudah bilang" ucap Vino.
"Tidak, Keanu sudah baik mau memberikan pekerjaan di masa sulit ku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas budi baiknya" jawab Hasna.
"Suami mu sudah menjamin, berhenti jika kau sudah merasa cukup membalas budi" ucap Fajri.
Vino mengacungkan jempol padanya, Fajri menangkis dan bergumam.
"Jempol apanya! " ucap Fajri.
Vino tersenyum.
"Ya, ya, kalian memang tidak suka padanya, aku tahu itu. Aku akan memikirkan saran dari kalian" ucap Hasna menyelesaikan pembicaraan tentang Keanu.
Fajri dan Vino malah beradu tos saat mendengar ucapan Hasna.
"Aku pergi! " ucap Hasna.
"Mau ku antar? " tanya Fajri.
"Ya, ikutlah dengannya. Aku akan siapkan pakaian mu dan sore ini kita pulang ke apartemen" ucap Vino.
"Kalian jadi pindah? " tanya Fajri.
"Ya, malam kemarin aku lihat ada dua orang pria yang terus mondar-mandir di depan rumah" ucap Vino
"Benarkah? Aku tidak tahu" ucap Hasna.
Vino menelan salivanya, dia lupa untuk menyembunyikan nya dari Hasna. Fajri menepuk bahunya.
"Pindah saja, bukan karena alasan apapun, hanya karena untuk keselamatan Hasna. Aku sedang banyak pekerjaan" ucap Fajri.
Mereka berdua menatap kepergian Hasna kemudian saling menatap.
"Wira membantu mu keluar lebih cepat, pasti ada maunya" ucap Fajri.
Vino terdiam.
"Bicarakan dengan ku, aku juga terlibat dalam perkumpulan itu. Kuharap tujuan kita sama" lanjut Fajri.
"Hmmm" jawab Vino singkat.
Fajri melambaikan tangan kemudian pergi.
Vino sendirian, dia masuk dan merapikan rumah juga menyiapkan pakaian Hasna untuk dibawanya ke apartemen. Satu-satunya tempat yang menurutnya jauh dari jangkauan anak buah Venus, Wira ataupun siapa saja.
***
Sampai di kantor, Hasna langsung menemui Keanu di ruangannya, tapi dia tak ada di sana.
Hasna ingin bertanya pada sekretaris nya, tapi melihat raut wajahnya yang kesal, dia mengerti bahwa Keanu sedang meeting di ruangan lain. Hasna menunggu di mejanya yang berada di dalam ruangan Keanu.
Beberapa berkas menumpuk, Hasna mulai berkerja, memeriksanya dan menyelesaikan permasalahan.
Cukup lama, hampir makan siang, Keanu baru kembali dengan raut wajah yang tegang. Dia membuka pintu dengan keras dan duduk tanpa menatap Hasna.
Hasna hanya memperhatikan tanpa berkomentar ataupun menyapanya. Dia kembali bekerja merasa percuma juga menyapa Keanu yang sedang terlihat kesal seperti itu.
Tak berapa lama, ponsel Keanu berdering. Dia merogoh sakunya dan menjawab telponnya.
"Ya! " seru Keanu.
Mendengarkan beberapa saat dengan tatapan menatap jendela ruangannya.
"Kapan pertemuan mereka akan diadakan lagi?" tanya Keanu pada seseorang di ujung telpon.
Hasna melirik, kemudian menoleh perlahan.
"Apa yang dia janjikan? Tak mungkin jika dia mengorbankan orang yang terlihat sangat dicintainya" ucap Keanu.
Dahi Hasna mengerut, dia berjalan mendekat dan mendengarkan pembicaraan Keanu.
"Ya, itu mungkin. Aku pun akan melakukannya jika jadi dia, hanya dia satu-satunya yang bisa membuka jalan menuju....."
Mata Keanu menatap ke arah orang yang dia rasa sedang mendekat padanya. Dia melepaskan ponselnya dan berdiri karena terkejut melihat Hasna di hadapannya.
"Apa yang sedang kau bicarakan? " tanya Hasna dengan suara pelan.
"Hasna kau di sini? " Keanu terlihat sangat terkejut.
"Kau bicarakan apa? Siapa dia yang kau maksud? " tanya Hasna lagi.
Keanu tak bisa menjawabnya, dia diam saja dengan mata berpaling dari wajah Hasna yang begitu menyiratkan banyak pertanyaan.
"Pertemuan apa? Siapa yang harus jadi korban? " Hasna terus bertanya.
"Hasna ini hanya... "
"Kau gugup dan tak bisa menjawab pertanyaan ku" Hasna semakin mendesaknya.
Keanu diam, sesekali dia menggigit bibirnya sendiri karena tak tahu apa yang harus dia katakan.
Hasna menatap ponsel yang dia pegang, suara seseorang masih bicara di sana. Hasna mengambilnya, Keanu terkejut dan hendak mengambilnya kembali. Tapi Hasna sudah menempelkannya di telinga.
"Pak, kasus penggelapan uang ini harus segera diselesaikan. Para pejabat itu pasti akan menjadikan seseorang kambing hitam jika kita tak melakukan tindakan.... " ucapnya.
Hasna menelan salivanya dan menyerahkan ponselnya pada Keanu. Dia langsung bicara pada orang yang sedang dalam panggilannya.
"Maaf Pak, aku mendengar semuanya dan aku mengarang cerita tentang penggelapan uang para pejabat"
"Ya, baiklah. Terimakasih! " ucap Keanu dengan mata menatap Hasna yang tertunduk.
Keanu mematikan panggilannya dan menaruhnya di meja.
"Aku minta maaf.... "
"Tidak masalah, kau pasti menyangka pertemuan yang ku bicarakan adalah pertemuan sekte sesat itu kan? " Keanu berusaha membuatnya tak merasa bersalah.
"Ya, meski sudah berbulan-bulan berlalu, tapi aku masih dihantui oleh mereka" ucap Hasna.
Keanu hendak meraih tangan Hasna dan menenangkannya, tapi Hasna berbalik dan kembali ke mejanya. Keanu hanya bisa menatapnya.
"Aku takkan melakukannya lagi, aku benar-benar minta maaf! " ucap Hasna sekali lagi setelah berbalik lagi.
Keanu tersenyum dan mengangguk.