My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
124



Keanu sadar, dia meraba seluruh ruang rawatnya dengan sesekali mengedip perlahan. Seorang suster yang hendak memeriksanya, mengetahui dan kembali untuk memanggil dokter.


Keanu bangun dan langsung duduk. Teringat dengan semua yang terjadi. Dia langsung mencabut infus di tangannya dan hendak keluar.


"Mau kemana? " tanya Revan yang berpapasan dengannya di pintu.


"Hasna.... " jawab Keanu dengan terengah.


"Dia baik-baik saja, tenanglah. Kau harus istirahat, kondisi mu belum baik" ucap Revan.


"Dimana dia? " Keanu tetap bersikeras menanyakannya.


"Di ruangan sebelah, astaga, kau bahkan melepas infusan mu" keluh Revan melihat punggung tangannya yang terluka.


"Apa yang terjadi pada Vino, Fajri dan Hadi" tanya Keanu.


Revan terdiam menatapnya.


"Kami meninggalkan mereka di sana, seharusnya anak buah Venus bisa membawa mereka" dia terus bicara.


"Selain kau harus berbaring, kau juga tidak boleh banyak bicara" ucap Revan seraya menyuntiknya.


Keanu mengatur nafasnya.


"Katakan bahwa Hasna baik-baik saja. Dia tertembak saat... "


Dia tak melanjutkan ceritanya, merasa percuma karena Revan tak tahu apa yang telah terjadi.


"Pelurunya hanya merobek bahunya, luka luarnya bisa cepat sembuh" jelas Revan.


Keanu tiba-tiba mengantuk, dia kembali tidur dengan kening masih mengerut seolah rasa khawatir tak bisa lepas dari pikirannya.


Revan menghela. Dia langsung pergi ke ruang rawat Hasna.


Hasna masih tertidur, efek samping obat penenang yang Revan berikan.


***


Di rumah Armand.


Bianca langsung memeluk suaminya saat dia sampai di sana.


"Aku takut sekali" ucap Bianca dengan derai air mata.


"Aku sudah kembali. Aku sudah mengikuti apa yang mereka mau. Kau tidak usah khawatir" ucap Armand menenangkannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka tak mau kita berurusan dengan Hasna?" tanya Bianca.


Armand terdiam, dia melihat anak-anak mereka mengintip di dinding ruang kamarnya.


"Istirahat dulu, bawa anak-anak kembali tidur. Besok aku akan jelaskan semuanya" ucap Armand.


"Vino dikabarkan meninggal, begitu juga Fajri dengan anak buahnya" ucap Bianca.


Armand yang hendak duduk, kembali berdiri dan menatap istrinya.


"Darimana kau tahu? " tanya Armand yang memang baru mengetahui kabar itu.


"Vania, petugas yang sering bersama Fajri. Aku menelponnya, dia menangis dan mengatakan semuanya" jawab Bianca.


Armand terduduk lemas di sofa. Mengingat semua ucapan Revan, tentang Hasna yang menjerit meneriakkan nama Vino.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka begitu ingin Hasna celaka? " Bianca mendesak Armand.


"Bianca tolong, Hasna tidak akan pernah celaka. Aku hanya diminta menjaga jarak darinya"


"Jelas mereka mengancam mu dengan mendatangi kita di rumah, pasti hanya karena mereka menginginkan keburukan untuknya" Bianca terus mendesak.


"Sayang, aku mohon. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Jika tiba-tiba aku mencari tahu, mereka akan mencelakai kalian! " Armand tertekan.


Bianca menghela keras, kemudian tatapannya beralih pada kedua anak mereka.


"Jika kau tak bisa mencarinya, aku bisa membantu mu. Aku akan pergi menemui Vania" ucap Bianca kemudian pergi.


Armand memejamkan matanya, menghela keras dan gusar.


'Aku harus apa Na?' tanya hatinya.


***


Di rumah sakit.


"Dia belum sadar" ucap Revan pada para petugas berwajib yang datang.


"Ya, kabari kami jika dia sudah sadar. Hari ini kami akan memeriksa Keanu terlebih dahulu" ucap petugas itu.


Petugas itu berbalik dan hendak masuk ke ruang rawat Keanu. Revan berpikir dan mulai bicara lagi.


Petugas itu tidak berbalik, tapi dia berhenti melangkah.


"Bukan dua orang, tapi hanya satu, yaitu Vania. Dia baik-baik saja, sekarang dia di kantor sedang memberikan kesaksiannya" ucapnya.


Petugas itu pergi.


"Aish, dia bahkan tidak berbalik. Sombongnya! " keluh Revan.


Sementara itu di ruang rawat, Keanu terkejut dengan kedatangannya.


"Beno? " ucap Keanu.


"Hai, sudah baikan? " tanya Beno, si petugas itu.


"Kau naik jabatan dan diberi tugas untuk menyelidiki ledakan itu? " Keanu bangun dari ranjangnya.


"Ya, persis seperti yang kau katakan" ucap Beno.


"Baguslah! " ucap Keanu dengan senyum tipis.


Siang itu Beno memberikan cukup banyak pertanyaan pada Keanu. Dia pun mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dan keluar dari ruang rawat Keanu dengan wajah yang puas.


Revan yang menunggunya di lorong rumah sakit, langsung berdiri.


"Sudah selesai? " tanya Revan.


Beno berhenti dan menatapnya.


"Sudah! " jawab Beno.


Dia hendak berjalan kembali, namun mengurungkan langkahnya dan melirik ke arah ruang rawat Hasna.


"Tolong jaga dia, aku juga akan menambahkan dua personil di sini untuknya. Pastikan dia sadar dan bicara dengan ku setelahnya" ucap Beno.


"Ya, baiklah. Aku akan menjaganya" jawab Revan.


Beno meninggalkannya, Revan mengantarnya dengan tatapan, hingga dia menghilang di koridor.


Revan ingat bagaimana Hasna meminta dengan sangat untuk kesembuhan Dara, adik Beno. Dia tersenyum, kebaikan Hasna sedang berbalik padanya.


***


Di penjara.


Venus sedang duduk menunggu di depan ruang kepala lapas. Pengacaranya sedang mengurus berkasnya yang akan keluar dari penjara setelah ini.


Ledakan yang terjadi di hotelnya membuat semua bukti yang tertuju padanya hilang. Beberapa pejabat tertinggi menjadikan Wira sebagai tersangka utama.


Venus diam mengingat semua ucapan Keanu yang nengatakan bahwa Hasna adalah adik kandungnya. Dia tersenyum tipis, dia ingat Hasna adalah wanita yang pernah akan dia habisi, istri Vino.


'Tapi, kenapa mereka bisa berpikir kalau aku adalah kakak kandungnya? ' tanya hati Venus.


"Tuan Gerald, selamat! Anda bebas hari ini" ucap pengacara setelah keluar dari penjara.


Venus berdiri dan menjabat tangan pengacaranya.


"Terimakasih, aku senang sekali" jawab Venus.


"Bagaimana dengan hal yang anda ceritakan pada ku tempo hari, masihkah anda ingin kepastiannya? " tanya pengacara.


"Tentu saja, lakukan dengan baik tanpa drama. Oh ya tolong beritahu Aswin kalau malam ini aku menginap di rumah sakit" pinta Venus.


"Kau akan mengunjunginya? " tanya Frans.


"Ya, aku akan melihat perkembangan kesehatan adik ku" ucap Venus dengan membuat tanda kutip dengan kedua jarinya.


Frans tersenyum, sedikit menertawakan kata adik.


"Kau sudah tahu kalau semua itu hanya bualan Keanu. Tapi kau menanggapinya, apa yang kau rencanakan? " tanya Frans.


"Venus tidak berencana, Venus selalu mengambil langkah sesuai keinginannya. Aku hanya penasaran, apa yang membuat Hasna, pengacara cantik itu istimewa. Vino mencintainya dengan seluruh hidupnya, Wira menginginkannya hingga dia rela mati dalam ledakan, dan.... "


Venus terdiam menatap mobilnya.


"Fajri! " ucap Frans menebak.


"Haaa, ya, Fajri, petugas sombong itu. Dia begitu melindunginya. Banyak orang penting di sekelilingnya, yang begitu melindunginya. Termasuk Keanu Reaves, anak dari pengacara terkenal Marvin Reaves" lanjut Venus.


"Tapi...., apa yang dilakukan Wira dengan mengatakan semua bisnis mu menjadi alasan sekte itu.... "


"Ya, omong kosong itu terjadi karena aku diam. Sekarang pun Venus akan diam, dia hanya akan bergerak di dalam tanah. Takkan ada yang mengetahuinya" ucap Venus seraya membuka pintu mobilnya.


"Salut untuk mu Bro, good luck! kau memang hebat!" puji Frans.


Mereka pergi dengan mobil masing-masing ke tujuan masing-masing.