My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
98



Fajri mengendarai mobilnya menuju kantor, dia masih melamun memikirkan apa yang telah terjadi. Semua momen dimana Wira selalu ada dalam situasi genting entah itu penangkapan atau memergoki sebuah pertemuan rahasia, juga semua foto yang membuktikan bahwa dirinya memang bagian dari sekte itu, terlintas dalam benaknya.


Teringat saat dia menerima semua tawaran dari Wira karena sangat ingin membuat Hasna menjadikan dirinya andalan di setiap langkah hidupnya. Fajri kini menyesal, Hasna bahkan tak pernah memandangnya sebagai seorang pria. Dia hanya akan selalu menjadi kakak laki-laki baginya.


'Seharusnya aku tidak menerima tawaran nya. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa lepas darinya dan bisa membongkar semuanya' ucap hati Fajri.


"Tapi kenapa ayah meminta ku untuk menemui Wira jika aku menemui kesulitan dan menginginkan sesuatu? Jelas-jelas dia menuliskan surat itu di kotak. Apa ayah juga sama pernah terlibat sekte ini? " gumam Fajri.


Fajri memutar balik arah mobilnya, dia pergi menuju rumah ayahnya.


***


Di ruang kerja Keanu.


Hasna memeriksa sebuah berkas. Dia terlihat sangat lelah tapi bertekad untuk menyelesaikan semuanya.


Keanu semakin terpesona dengan wajahnya yang tetap cantik dalam keadaan apapun. Dia terus menatap, memperhatikan Hasna.


Tak sengaja, tatapan mereka beradu. Hasna tetap diam menatapnya, tapi Keanu mengalihkan pandangannya.


'Dia terus memperhatikan aku. Bagaimana aku bisa berpikir hal lain setelah dia menyatakan perasaannya di depan Fajri. Hufft, aku harus bersikap seperti apa? Dia atasan yang menyukai ku, orang yang dia rekrut sendiri untuk bekerja di sampingnya' keluh Hasna di hatinya.


Hasna memeriksa ponselnya, ponsel khusus untuknya bekerja.


"Pak! " seru Hasna tanpa menoleh pada Keanu.


Keanu sendiri langsung menoleh dengan mata membulat seolah ketahuan telah memperhatikannya sejak masuk kerja.


"Ya! " jawabnya.


"Klien kita ingin membatalkan gugatannya? " ucap Hasna yang kemudian menatapnya.


"Apa? Siapa? " Keanu terkejut.


"Nyonya Williams, dia mengirimkan pesan formal ini" tunjuk Hasna sambil mendekat padanya.


Keanu mengambil ponsel Hasna, dia mengerutkan dahinya kemudian menghela.


"Maaf! " ucap Hasna.


Keanu menatapnya.


"Karena aku memberikan saran pada mereka, beberapa klien mu membatalkan gugatannya" lanjut Hasna.


"Apa maksud mu? Aku justru senang jika seseorang tidak jadi bercerai. Bukankan itu bagus? Perceraian bukan jalan keluar satu-satunya bukan? " Keanu menjelaskan agar Hasna tak merasa bersalah.


Lain halnya dengan Hasna, dia malah berpikir dan teringat dengan Vino, suaminya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Hasna kembali duduk dan memeriksa pekerjaan lainnya.


Keanu heran dengan sikapnya, dia berdiri dan mendekat padanya seraya menyodorkan ponselnya.


"Mau makan siang di mana? " tanya Keanu.


Hasna diam saja.


"Hei! " Keanu menyentuh bahunya.


Hasna menoleh dan menatapnya sejenak.


"Hmmm?" dia malah bertanya.


"Ayo makan siang! " ajak Keanu tanpa mempermasalahkan Hasna yang mudah tertegun akhir-akhir ini.


"Ouh, ya. Ayo! " Hasna berdiri dan mengikuti permintaannya.


Keanu memintanya untuk berjalan lebih dulu. Lagi-lagi, diam-diam dia memperhatikan Hasna dari belakang.


'Awalnya aku khawatir dengan hubungan pernikahan mu, tapi setelah mengetahui kabar dari Armand kau kembali mengajukan gugatan mu, aku jadi tenang dan akan menggunakan kesempatan ku kali ini dengan baik'


Keanu bicara dalam hati dengan tersenyum sendiri. Tiba-tiba Hasna berbalik dan melihatnya yang sedang tersenyum.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Hasna.


"Tidak, tidak ada? " jawab Keanu tergagap.


"Lalu apa aku terlihat lucu dari belakang? " tanya Hasna lagi.


"Tidak, aku hanya berpikir.... "


"Apa anda pikir saya pantas ditertawakan? " Hasna mencecar Keanu.


"Astaga, tidak salah kau mendapat julukan pengacara cantik yang luar biasa, kau bertanya tanpa henti dengan wajah yang rupawan" jawab Keanu dengan memasang ekspresi kagum padanya.


Hasna menghela, dia mulai tak nyaman dengan semua pujian yang selalu Keanu lontarkan.


Keanu tak begitu jelas mendengarnya.


"Apa?" tanya Keanu.


"Tidak, aku teringat ada janji dengan kakak ku. Aku tidak bisa ikut makan siang dengan mu. Permisi! " Hasna langsung meninggalkan nya.


Di juga langsung menghubungi Fajri.


"Hallo, kau dimana? Jadi kan ketemu hari ini?" Hasna bicara dengan suara yang lantang.


Keanu hanya menganga menatap kepergian nya.


"Aku ditinggalkan lagi? " gumam Keanu.


Hasna pergi ke arah parkiran di depan gedung kantor Keanu. Dia menunggu Fajri yang menjawab akan lewat ke depan kantornya sebentar lagi.


Tak begitu lama menunggu, Fajri pun sampai dan berhenti tepat di depan tempat Hasna berdiri.


"Masuklah! " pinta Fajri.


Hasna masuk dan memasang sabuk pengaman.


"Kau sedang tidak bekerja atau memang sedang sidak di daerah sini?" tanya Hasna.


"Aku mau ke rumah ayah, kau mau ikut kan? Sekalian kita makan siang di warung nasi langganan ayah" jawab Fajri tanpa menoleh padanya.


Hasna memperhatikan raut wajah Fajri yang serius.


"Apa ada hal yang penting sampai kau harus ke sana? Untuk kasus apa? Bukankah ayah hanya menyelidiki Bima saja selama ini? " Hasna kembali mencecar pertanyaan bertubi-tubi pada orang di dekatnya.


"Berisik!" cecaran Hasna tak mempan pada Fajri.


"Kau... ! " keluh Hasna.


"Ikut saja, sekarang kau hanya wanita yang sedang berburu makan gratis, jadi jangan banyak bertanya" ucap Fajri mengejeknya.


"Heiii...! " seru Hasna tak terima diejek seperti itu.


"Aku bilang diam atau makan siangnya batal!" ancam Fajri.


Hasna ingin melawannya, tapi perutnya sudah keroncongan sejak tadi, dia pun diam menahan diri dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.


Fajri tersenyum melihat reaksinya.


"Semiskin itu kau sekarang? " Fajri mengejeknya lagi.


Hasna tak memperdulikan ucapannya, dia diam saja menatap ke arah jalan.


"Wah... sekarang pun kau mudah tersinggung" Fajri mencoba merayunya.


"Berisik! " Hasna mengulang ucapan Fajri.


"Haahhahaha! " Fajri tertawa terbahak-bahak.


"Aku bilang berisik! " Hasna membalas semua ejekan Fajri dengan amarahnya.


"Kau tidak makan siang dengan bos tampan mu? " tanya Fajri.


"Tidak" jawab Hasna singkat.


"Kenapa? " tanya Fajri dengan raut wajah serius.


"Tidak ada alasan, lagipula bukan urusan mu bukan?" Hasna menjawab dengan ketus.


"Selama kau selalu memanggilku untuk menghindar dari Keanu atau Vino, itu menjadu urusan ku. Kau selalu merepotkan begini kenapa kau bersikap seolah tak pernah membuatku terus khawatir padamu" Fajri menancapkan gasnya lebih cepat lagi.


Hasna kesal dengan ucapannya yang ternyata memang benar. Dia selalu lari pada Fajri saat dia menghindari Keanu dan Vino.


'Dulu tidak, saat aku masih berpikir dan hidup hanya untuk diri ku sendiri. Kali ini tidak, aku hidup untuk anak-anak itu, aku harus lebih bisa menahan diri. Terlebih untuk saat-saat menyebalkan seperti ini' ucap hati Hasna.


Fajri menoleh sebentar kemudian berpikir untuk menanyakan hal yang sedang dia pikirkan.


"Apa kau mendapatkan surat dari ayah di sebuah kotak? " tanya Fajri.


"Tidak, ayah tidak memberikan apapun sebelum meninggal" jawab Hasna tanpa menoleh.


"Ohh! " Fajri merespon dan berusaha untuk bersikap biasa saja.


Tapi Hasna jadi berpikir dan mengingat apa yang akan dilakukan Fajri sekarang. Apa itu berhubungan dengan surat yang dia maksud?


Hasna menoleh dan menatap Fajri dengan tajam. Fajri sadar dengan tatapan tajam Hasna. Dia berusaha untuk tak menunjukkan kepanikannya.