My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
48



Vino menunggu Hasna pulang, Bima memperhatikannya di kursi sambil melihat laptopnya.


"Aku sudah bilang dia bukan wanita yang baik, kau masih saja bersikeras padanya" ucap Bima.


Vino menghela, dia menatap ayahnya dan mengingat ucapan demi ucapan yang Ryan katakan padanya tadi. Tapi kemudian hatinya menolak dan tetap percaya pada ayahnya.


Vino beranjak dari kursi dan pergi ke kamarnya. Bima menatap kepergiannya dengan rasa puas telah mengatakan apa yang dia ingin katakan.


Di kamar Vino menghubungi Hasna dengan ponselnya.


"Ya sayang!" jawab Hasna.


Vino lega mendengar sapaan Hasna yang masih mesra dan membuatnya nyaman.


"Kau masih bekerja?" tanya Vino pelan.


"Ya, masih banyak berkas yang harus aku lengkapi agar kejakasaan agung tak mengembalikannya" jawab Hasna.


Vino ingin menanyakan perihal kasus yang Hasna tangani. Dia juga ingin bertanya tentang cerita yang Ryan sebut yang membuatnya lebih berani melawan ayahnya sendiri.


"Sayang!" ucap Vino.


"Hmm?" jawab Hasna.


"Aku kirim makanan ya?" ucap Vino.


Dia berniat menanyakannya langsung pada Hasna.


"Tidak usah! Aku sudah membelikannya. Aku tidak mau kau datang dan memata-matai pekerjaan kami" ucap Armand dari kejauhan.


"Hei, kenapa dia yang jawab" keluh Vino.


"Sudahlah, Bianca membawakan suaminya makanan lebih banyak karena tahu aku ikut lembur. Jadi jangan khawatir" jelas Hasna agar Vino tak cemas.


"Hei Vino, istirahat saja. Aku dengar kasus baru mu lebih melelahkan. Kumpulkan semua tenaga mu untuk menyelesaikannya"


Suara Bianca melepaskan rasa cemasnya. Padahal mereka sedang di hubungkan oleh telpon Armand.


"Baiklah, aku tidak akan cemas lagi. Kabari aku jika kau akan pulang" pinta Vino.


"Ok, selamat malam sayang" ucap Hasna pamit.


"Selamat malam" jawab Vino polos.


Hasna menutup telponnya. Vino baru sadar Hasna mengucapkan salam untuk tidur, berarti dia takkan pulang. Vino kesal, dia juga belum mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


###


Fajri menatap langit malam dari jendela rumah sakit. Sesekali menghela mengingat Hasna tak sekali pun mengabarinya tentang kelanjutan kasus Bima dan bisnisnya. Dia terus memikirkan keselamatan Hasna sampai tak sadar Vania sudah ada di sampingnya.


"Melamunkan apa Pak?" tanya Vania.


Fajri meloncat mundur, sikutnya mengenai tembok dan membuatnya mengerang kesakitan.


"Hati-hati Pak!" seru Vania sambil meraih tangan Fajri kemudian mengelusnya.


Fajri merasa canggung dengan situasi itu, dia melepas tangan Vania perlahan. Vania menatap tangan Fajri yang melepasnya. Dia mengerti Fajri tak ingin didekatinya.


"Aku heran dengan Hasna, mengapa meminta mu menjaga ku, alih-alih mempekerjakan suster sungguhan" keluh Fajri.


"Itu karena Pengacara Hasna tahu kalau aku perawat saat menjalankan tugas di kota Baru dulu" ucap Vania membanggakan diri.


"Darimana dia bisa tahu?" tanya Fajri yang sebenarnya tertuju pada dirinya sendiri.


"Dia itu lulusan terbaik, nilai yang didapat karena dia mampu mengimplementasikan pengetahuan dengan tindakan yang harus diambil. Mana mungkin dia tidak peka terhadap apa yang ada di sekitarnya. Aku ini adalah penggemarnya semenjak SMA, dia pasti sangat tahu aku" jelas Vania.


Fajri menertawakan cara Vania memuji Hasna.


"Kenapa tertawa?" tanya Vania sedikit kesal dan merasa bodoh.


"Kau sangat tahu dia tapi tidak tahu kalau aku ini..."


Fajri menelan salivanya, kemudian tersenyum sambil menatapnya keluar. Fajri kembali menatap langit kemudian mengingat saat pertama kali Hasna mau diajak sekolah lagi.


~Tangan mu yang gemetar, aku yang menggenggamnya saat itu. Wajah mu yang kau sembunyikan, dada ku yang jadi tempat sembunyinya. Kau masih mengatakan aku hanya kakak angkat mu. Sampai kapan aku harus bersabar?~ ucap hati Fajri.


###


Armand menatap Hasna yang masih mengetik di laptopnya. Seolah sedang dikejar deadline sebuah berita yang akan ditayangkan besok pagi.


"Mau aku pijat?" tanya Armand.


"Tidak usah Pak, aku baik-baik saja" jawab Hasna fokus.


"Aku bisa bantu mengetik beberapa halaman" ucap Armand menawarkan jasanya.


Hasna berhenti dan menatapnya.


"Tidak, sedikit lagi selesai" ucap Hasna berhati-hati.


Dia tak mau Armand melakukan kesalahan dengan menumpahkan kopi atau hal lain sehingga dokumennya hilang.


"Aishh, kau benar-benar sangat perfeksionis" keluh Armand sambil menjauh darinya.


Hasna tak menjawabnya, dia tetap fokus mengetik dan akhirnya menyelesaikannya.


"Selesai!" seru Hasna.


Tapi dia melihat Armand sudah tidur dengan nyaman di atas meja yang dia tata agar nyaman untuknya tidur.


"Astaga, Bapak Armand, apa tidak bisa anda tidur di kursi saja" keluh Hasna.


Hasna menyusun kembali semua berkas. Meskipun belum lengkap, ini sudah menjadi laporan setengah jadi. Hasna menyimpannya di dalam lemari rahasianya.


Hingga pagi tiba, Hasna yang baru saja menundukkan kepalanya untuk sebentar tertidur, sudah kembali duduk tegak dan menyalakan laptopnya.


Penjaga kantor datang dan memintanya keluar karena Vino sedang menunggunya di depan. Hasna membulatkan matanya terkejut tak menyangka dia sudah ada di kantor sepagi ini.


Hasna cepat-cepat keluar dan menemuinya. Karena tak ingin membuat Armand mengoceh saat melihatnya, Vino mengajak Hasna untuk sarapan di parkiran di mobilnya.


Vino menyuapi Hasna dengan pelan dan memperhatikan wajahnya yang tak sedikit pun pucat meski kerja lembur.


"Apa aku menikah dengan putri seorang Vampire?" tanya Vino sambil tersenyum.


Mata Hasna membulat mendengar ucapan Vino.


"Apa ini? apa karena aku tak pulang? Kau datang sepagi ini dan membawa sarapan" Hasna balik bertanya.


"Ayah menanyakan dan menyindir ku, katanya istri ku tidak tepat untuk ku dan begini dan begitu" keluh Vino.


Hasna merapikan pakaiannya dan bercermin, seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan Vino.


"Sayang!" keluh Vino.


"Apa?" tanya Hasna dengan wajah tak peduli.


"Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Vino baru ingat dengan apa yang sangat ingin dia katakan.


"Cepat, aku harus masuk lagi" Hasna membuat Vino tak jadi bertanya.


"Ya sudah masuk lah, aku akan tanyakan nanti saat kau pulang ke rumah" Vino menyerah.


"Kau marah karena aku lembur?" tanya Hasna tapi dia masih terlihat tak peduli karena masih berdandan.


"Tidak, aku tidak marah. Masuklah, nanti kau terlambat" ucap Vino kemudian mencium keningnya.


"Ok, aku pergi. Bye!" pamit Hasna.


Vino menatap kepergiannya. Tapi Hasna tersenyum dan bicara dalam hatinya.


~Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan, tapi bukan hari ini, bukan besok atau lusa. Aku akan membuat mu meledakkan semua pertanyaan mu padaku di saat yang tepat. Bersabarlah Vino, masih ada hal-hal yang harus kau tahu dari semua tindakan yang aku lakukan. Beberapa akan membuat mu mengatakan menyesal karena sudah menikah dengan ku~