My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
90



Salah seorang dari mereka mendekat dan bicara pada Hasna.


"Nyonya! " ucapnya dengan berlagak.


Hasna meresponnya dengan menggerakkan alisnya.


"Jalan itu tidak bisa dibuka untuk mobil" ucapnya.


Hasna mengert, mereka tak mau mengerjakannya. Dia juga menyadari mungkin dia terlalu sok berkuasaberkuasa. Dia menoleh pada Pak Danu yang kembali merapikan tanaman di pekarangan rumahnya.


"Baiklah, maaf mengganggu kalian" ucap Hasna menyerah.


Hasna berbalik dan hendak masuk kembali ke mobil. Namun salah seorang yang lain, mendekat.


"Kami akan bantu mengangkat barang belanjaan anda jika anda sampai nanti" serunya.


Hasna menoleh, menatap wajahnya kemudian tersenyum.


"Terimakasih! " jawab Hasna.


Dia pun pergi berbelanja dengan Dania. Mereka sampai di sebuah pasar. Daerah itu masih belum ada supermarket. Mereka pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan untuk satu bulan.


"Dimana ATM nya ya? " gumam Hasna.


Dania yang sedari tadi menatap wajah Hasna tetap diam memperhatikan tingkahnya.


Hasna berhenti di depan sebuah bank dan melakukan penarikan. Dania ikut bersamanya, dia tetap menatap wajah Hasna yang kini terdiam menatap struk atmnya.


~Aku lupa tabungan ku tinggal sedikit, jika aku membelanjakan semuanya, lalu bagaimana kebutuhan mereka bulan depan?~ Hasna bicara dalam hati.


Perhatian Hasna beralih pada mata Dania yang membulat menatapnya. Seolah bertanya tentang apa yang terjadi. Hasna tersenyum kemudian mengajaknya keluar.


"Ayo, kita harus belanja semua keperluan kalian" ajaknya.


Dania menurut, mereka berbelanja. Sembako, keperluan kebersihan, bahan makanan juga makanan yang akan mereka makan sekarang.


Setelah hampir satu jam berbelanja, akhirnya mereka kembali dan berhenti di depan jalan yang sama.


Hasna terkejut melihat para pria itu sedang menunggu di pinggir jalan.


~Mereka benar-benar menunggu~ gumam Hasna.


Hasna dan Dania keluar dari mobil. Mereka mendekat dan bersiap setelah Hasna membuka bagasi mobil yang berisi semua bahan sembako.


Mereka membawakan semuanya sekali jalan, selain mereka berlima, mereka juga membawa setidaknya dua macam barang per orangnya.


Sampai di rumah panti, mereka menaruu semuanya di dapur. Mata mereka berlarian menatap seisi rumah panti itu. Ada yang berbisik mengira mereka sudah meningg karena diabaikan orang sekitar.


"APA? " seru Hasna yang mendengar bisik-bisiknya.


Temannya menyenggol lengan pria yang bicara.


"Kalian sengaja mengabaikan mereka? " Hasna mendekat dengan wajah kesal.


"Bukan begitu... " jawabnya.


Hasna menatap satu persatu dari mereka. Kemudian dia ingat, bahwa mereka adalah para pria yang tadi dia cegat untuk menanyakan alamat panti itu.


"Ahhhh, benar. Kalian yang tadi mengabaikan aku yang bertanya dimana panti ini" ucapnya.


Para pria itu bergegas menaruh semua barang. Mereka hendak buru-buru pergi lagi, takut diomeli Hasna. Tapi Hasna mencegahnya, dia mengeluarkan dompet dan memberikan mereka beberapa lembar uang.


"Ini, terimakasih! " ucap Hasna dengan nada ketus.


Mereka terkejut, dengan perahan mengambil uang dari tangan Hasna kemudian pergi secepatnya.


"Astaga, lingkungan ini sangat buruk. Bagaimana bisa mereka sengaja mengabaikan panti dengan banyak anak di sini? " Hasna mengomel sendiri.


Semua anak menatapnya, Hasna tersadar kemudian tersenyum.


"Ayo kita makan! " ajaknya.


Mereka semua makan dengan lahap. Hasna senang melihat mereka menghabiskan semua makanan. Dania yang terakhir selesai makan, dia merapikan semua piring yang digunakan dan hendak mencucinya.


"Biar aku saja" ucap Hasna seraya menggulung lengan bajunya.


"Tidak Nyonya, aku bisa melakukannya" jawab Dania.


"Tidak, aku membantu Nyonya saja" ucapnya.


"Jangan Nyonya, panggil dengan sebutan lain. Nama ku Hasna, kau boleh memanggilku... "


"Ibu! " ucap Dania menyela.


Mata Hasna diam menatap wajah Dania yang berharap dirinya setuju. Hasna berbalik kearah cucian piring.


"Boleh, panggil saja aku ibu. Sekarang pergilah main! " ucap Hasna tanpa menatapnya.


"Terimakasih Ibu! " ucap Dania dengan riang.


Dia pergi dengan langkah yang gempita. Hasna menoleh sebentar dan menghela.


"Apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana aku bisa merawat mereka? Aku bahkan tidak punya pekerjaan sekarang" gumam Hasna.


Dia menyelesaikan pekerjaannya kemudian merapikan meja. Beberapa barang dia letakkan di tempat yang cukup bersih.


Hasna mencoba menyalakan lemari es yang teriht sudah lama tak dipakai itu. Tapi dia terheran karena colokannya masih tertancap.


"Lalu kenapa tidak menyala? " gumam Hasna.


Dania datang dan berdiri di sampingnya.


"Sudah lama kami tidak membayar listrik" ucap Dania.


Hasna berdiri dan menghela.


"Ahhh, pantas saja. Ya sudah, nanti aku akan bayarkan" ucap Hasna.


Hasna kembali merapikan bahan makanan dan keperluan kebersihan lain. Kali ini Dania membantunya.


"Aku akan kembali ke rumah ku dulu, sekalian membayar listriknya. Kau jaga adik-adik mu dulu. Jika ingin makan, masih ada bahan masakan di lemari. Aku menyimpan untuk malam ini. Aku usahakan untuk kembali sebelum jam 10 malam" ucap Hasna mengarahkan.


Dania mengangguk saja, senyum terus tersungging di bibirnya saat memperhatikan Hasna bicara. Lama kelamaan, Hasna menjadi malu karena Dania begitu terlihat terpersona.


"Cukup, jangan menatap ku seperti itu. Kau membuat ku malu" ucap Hasna.


"Ibu cantik" ucap Dania.


"Kau ini" Hasna tersipu.


Baru kali ini dia merasa malu saat dipuji akan kecantikannya. Sangat berbeda saat para pria yang memujinya, Hasna begitu acuh bahkan tak ingin mendengarnya.


Tiba-tiba, Dania memeluknya. Tubuh kurus itu menempel di pelukan Hasna. Dia terkejut, namun perlahan mengusap punggung Dania.


"Kenapa? " bisik Hasna.


"Terimakasih sudah mau datang dan mengurus kami" ucap Dania dengan suara parau karena menangis.


"Kau tadi riang tersenyum padaku, sekarang menangis. Sudah jangan menangis! " ucap Hasna seraya menepuk punggungnya perlahan.


Beberapa anak lain melihatnya, mereka ikut memeluk dan akhirnya semua anak memeluk Hasna.


"Sudah cukup, aku mulai sesak! " keluh Hasna.


Mereka semua tertawa, kemudian melepaskan pelukannya. Hasna tersenyum lebar menatap satu persatu dari mereka.


"Ok, sekarang aku ingin tahu nam kalian semua. Satu persatu datang pada ku dan menyebutkan namanya dengan cara masing-masing" ucap Hasna.


"Cara masing-masing? " Dania tak mengerti.


"Ya, kalian harus membuat ku ingat nama kalian dari cara kalian menyebutkan nya. Jadi aku mudah hafal" jelas Hasna.


"Ohhhhh! " seru mereka.


"Kalian pintar" puji Hasna.


Akhirnya satu persatu dari mereka mendekat dan menyebutkan nama mereka satu persatu. Mereka juga membuat sebuah ciri khas sendiri masing-masing. Ada yang tersenyum lebar dengan gigi ompongnya, ada yang mencium pipi Hasna setelah menyebut namanya, ada pula yang membuat tos dengan Hasna. Tapi lebih banyak dari mereka terdiam dan menunduk saat menyebutkan namanya.


"Ok, hanya Haris, Dian, Dania, Meli, Galih, Bagas, Fadil dan Dino yang melakukan ciri khasnya. Kalian lihat, aku mudah hafal karena cara yang khas yang kalian lakukan. Yang lainnya, aku akan berusaha lebih dekat lagi dengan kalian" ucap Hasna.


Hasna berusaha, jelas dia sangat berusaha melakukannya. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehnya. Bertemu dengan dua belas anak yatim yang terlantar. Titipan Tuhan melalui Wulan.