
Fajri membantu Hasna duduk di dekat Agung.
"Ada apa?" tanya Agung.
"Asmanya kambuh di swalayan tadi, aku diberhentikan pegawainya di jalan" ucap Fajri.
Beno masuk dan duduk di kursi lain. Fajri mengambil air minum untuk Hasna.
"Wajahnya sangat pucat, apa harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Agung khawatir.
"Nggak Yah, aku baik-baik saja. Aku sudah baik-baik saja" ucap Hasna dengan nafas kembang kempis.
"Ayah juga kenapa? Sakit kok nggak nelpon, untung aku di perintahkan Pak Rahmat ke sini, jadi tahu ayah sakit" ucap Fajri.
Dia membantu Hasna minum. Agung menatap wajah Fajri yang sangat khawatir. Dia begitu telaten membantu Hasna yang masih gemetar.
"Makasih!" ucap Hasna.
"Istirahatlah! Ayah sama aku juga Beno mau bicara di dalem, atau.... kamu mau istirahat di dalem aja?" tanya Fajri yang duduk di depan Hasna.
"Aku masih lemes buat jalan ke dalem" ucap Hasna.
"Ok, disini aja" ucap Fajri sambil membelai wajah Hasna.
Agung dan Beno bereaksi sama, mengangkat kedua alisnya dan mengalihkan pandangannya. Fajri melihat mereka berdiri sambil berekspresi aneh. Beno pun kena pukul di kepalanya saat dia berjalan menuju kamar.
Hasna menatap kepergian mereka, dia berpikir, mengapa atasan Fajri memintanya menemui ayahnya. Mereka juga bicara di dalam, seolah Fajri tak mau dia mendengarnya.
Hasna perlahan berdiri dan mendekati pintu, dia ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Ayah diminta untuk membantu kami di kantor. Kasus ini harus bisa dipecahkan. Pak Rahmat merasa penjahat itu sangat kejam dan mulai meresahkan. Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan pada petugas jika hal ini berlarut-larut" ucap Fajri.
"Jadi ayah harus ke Jakarta?" tanya Agung.
Fajri mengangguk, Beno juga ikut mengangguk.
"Tinggal dengan mu di rumah sempit itu?" tanya Agung sekali lagi karena enggan tinggal bersamanya di kontrakannya yang sempit.
"Ayah, sewa kontrakan yang besar berarti harus mengeluarkan uang yang cukup besar. Aku sedang tidak punya uang" keluh Fajri.
Kemudian dia menatap Beno, dia ingat padanya yang rumah kosnya lebih besar dan nyaman. Fajri tiba-tiba tersenyum pada Beno, dia terheran dan mundur.
"Kenapa? Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Beno.
"Kosan kamu kan gede, ayah aku...nginep di tempat kamu ya" ucap Fajri tersenyum lebar.
"Nggak, nggak bisa Jri. Gua suka bawa cewek Pak!" Beno memberi alasan.
Hasna mundur perlahan untuk duduk kembali. Dia mengatur nafasnya lagi. Dengan tenang menutup mata sejenak.
"Beres!" ucap Fajri.
Fajri tertawa sambil keluar. Beno terus menolak, namun dia tak mendengarkannya, dia hanya menatap Hasna yang terlihat sedang tertidur. Tangan Fajri menutup mulut Beno. Kemudian dia mendekati Hasna.
"Hei, pindahlah ke kamar!" bisik Fajri.
Hasna membuka matanya dan berpura-pura telah terlelap.
"Tidak, sepertinya ayah membaik, aku akan pulang saja" ucap Hasna.
"Baiklah, aku antar" ucap Fajri tanpa basa-basi.
Dia menggandeng Hasna keluar.
"Bawa ayahku bersamamu! Ini perintah!" ucap Fajri.
Beno membuat wajah jelek saat Fajri keluar, dia kesal dengan perintahnya namun tak bisa menolak. Setelah membantu Pak Agung mengemasi pakaiannya, dia keluar dan menyusul Fajri.
Di mobil, Fajri tak bicara apapun. Hasna juga diam saja memandangi pepohonan yang dilewati mereka.
"Dia ada di swalayan itu. Pria tua yang menatapku itu dia. Bima Sebastian" ucap Hasna sambil meneteskan air matanya.
Fajri menatap wajah Hasna saat dia bicara. Dia memperlambat laju mobilnya. Kemudian menepi sebelum masuk tol dalam kota.
"Dia menyentuh ku sebelum maju ke meja kasir. Aku marah dan kesal, tapi, tak bisa mengatakannya" lanjut Hasna.
"Butuh pelukan? Dadaku sedang kosong, kosong hingga ke dalamnya" ucap Fajri menghibur.
Hasna tersenyum dalam tangisnya. Dia memeluk Fajri dan menangis.
Sampai di rumah Hasna, Fajri berhenti di ambang pintu. Hasna berbalik menatapnya.
"Kemarin kamu masuk dan tidak masalah, masuk saja!" ajak Hasna.
"Tidak, aku tidak akan masuk sampai kamu benar-benar membuka hatimu untukku. Dan jika saat itu sudah tiba, aku tidak akan melepaskan mu. Lihat saja!" ucap Fajri.
Hasna hanya menatap dan menghela.
"Itu, itu jaket ku, bawakan, aku akan pulang sekarang. Aku harus memastikan ayah tidur di kamar, bukan di sofa" ucap Fajri.
"Ambil saja sendiri!" ucap Hasna.
Hasna berbalik, dia berjalan menuju kamarnya tanpa bicara lagi. Fajri menatapnya dengan bingung, dia sudah berjanji, tapi sangat memerlukan jaketnya.
"Huhff, dasar Hasna" keluh Fajri.
Dia pergi tanpa mengambil jaketnya. Kepergiannya dilihat Vino dari mobilnya yang terparkir di dekat rumah Hasna.
Vino menelpon Hasna.
"Kau dimana? Tadi aku ke rumah mu dan kau tidak ada" tanya Vino.
"Ayah angkat ku sakit, aku pergi ke rumahnya sejak pagi. Sekarang aku di rumah, dadaku sesak, aku mau istirahat" jawab Hasna.
"Oh, ya, istirahatlah!" ucap Vino kemudian menutup ponselnya.
Hasna mengerutkan dahinya menatap ponsel, dia sedikit heran dengan respon Vino yang tak biasanya begitu.
Tapi dia tak peduli, dia membaringkan tubuhnya dan mengusap dadanya untuk meringankan sakit yang masih terasa.
Sakit yang selalu terasa semenjak dia melihat Bima Sebastian duduk di mobil tempo hari. Sakit yang sulit diungkapkan. Hari ini malah dia disentuh olehnya di swalayan.
~Waktu itu, aku merasakan sakitnya cukup lama, tapi hari ini kenapa mulai membaik setelah aku menangis di pelukan Fajri?~ keluhnya dalam hati.
Sementara itu, Fajri yang naik taksi, teringat dengan ucapan Hasna yang sangat ketakutan melihat Bima Sebastian.
Fajri hanya melihatnya satu kali saat masih SMA. Hasna hanya menunjuknya, tanpa kata kemudian pingsan. Pria itu gagah, seorang pria dengan badan yang tegap dan yang cukup olahraga. Jika melihat wajah dan gayanya, takkan ada yang menyangka bahwa dia seorang pelaku pelecehan seksual.
~Dia pasti sangat ketakutan, masa-masa itu pasti muncul bersamaan dengan dia melihat pria itu. Oh Hasna, andai saja kau bisa melupakan semuanya~ ucap hati Fajri.
***
Sampai di rumah Beno, Agung sedang duduk di sofa menunggunya. Fajri datang dan langsung cerewet memarahi Beno.
"Hei Beno, kamu nggak izinkan ayahku tidur di kamar!" seru Fajri.
"Beno nggak ada, dia ke kantor" ucap Agung sambil menatap keluar pintu.
"Ouh, aku kira ada di dalam" ucap Fajri.
"Hasna lihat dia, iya kan?" ucap Agung.
Fajri duduk di kursi sambil meminum air botol yang dia ambil dari kulkas Beno.
"Beno yang ngasih tahu, kok ayah bisa bilang itu dia?" ucap Fajri santai.
"Dia yang ayah maksud, sama dengan dia yang kamu maksud. Dan hanya ada Bima Sebastian yang selalu jadi dia diantara pembicaraan ayah, kamu dan Hasna" Agung sedikit marah.