
Saat jam pulang, Vino sudah menunggu Hasna dengan mobilnya di depan kantor Keanu.
Hasna yang turun dengan Keanu yang mengikutinya dari belakang, langsung berlari memeluk Vino. Jelas Vino sangat senang karena reaksi Hasna yang bahagia melihatnya, terutama di depan Keanu. Dia pun mengangkat dahinya menyombongkan kedekatan mereka.
Keanu hanya diam memperhatikannya. Dia berjalan mendekat dan menyapanya.
"Hai! " seru Keanu.
Hasna melepas pelukannya dan berbalik, dia merapikan rambutnya dan tersenyum pada Keanu.
"Hi, Bos!" jawab Vino.
"Aku tidak sabar menunggu kembalinya kau ke pekerjaan mu dan bekerja sama dengan ku" ucap Keanu.
Vino menatap Hasna yang juga menatapnya, mereka tak mengira Keanu akan mengatakan hal itu.
"Ya, terimakasih! " jawab Vino.
Hasna tersenyum, begitupun Keanu. Namun lain hal dengan pikirannya. Keanu menatap Vino dengan pemikiran tentang dirinya yang sedang dia selidiki.
Hasna dan Vino pergi, Keanu menatap kepergian mereka di dalam mobilnya. Tangannya meremas stir mobil karena kesalnya melihat kemesraan mereka.
"Seharusnya aku bisa membuat Hasna jatuh cinta dalam beberapa bulan ini. Tapi rasa cintanya pada Vino lebih kuat dari apapun. Tanpa dia tahu niat Vino yang sebenarnya" gumam Keanu.
Tak berapa lama suara ponselnya membuyarkan lamunannya. Keanu menjawabnya.
"Ya, katakan apa yang kau temukan? " tanya Keanu.
"10 Januari Pak, belum pasti dimana tempatnya, tapi Vino sudah mengetahuinya dan diminta untuk membawa korban" ucap pria yang Keanu jawab telponnya.
"Istrinya? "
"Entahlah Pak, Vino seperti sedang merancang sebuah rencana, dia banyak menemui orang hari ini"
"Rencana apa? " gumam Keanu.
Keanu menatap ke arah jalan dengan semua pemikirannya yang mengumpulkan semua kemungkinan yang Vino rencanakan.
***
Sampai di apartemen, Hasna langsung mandi dan Vino mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya.
"Tidak, kau harus mengikutinya selama aku tidak bisa melakukannya. Nanti pada saatnya, aku yang ambil alih semuanya" ucap Vino.
Hasna yang baru keluar dari kamar mandi, terdiam mendengar ucapan suaminya. Vino berbalik dan sadar Hasna sudah mendengar ucapannya.
Vino tersenyum untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. Juga berusaha meyakinkan Hasna bahwa dia sedang membicarakan pekerjaannya.
"Ya, aku akan mengambil kasus itu pada saatnya. Untuk beberapa waktu ini aku ingin bersama istri ku. Aku sedang ingin selalu di dekatnya" ucap Vino sambil menatap Hasna.
Hasna ikut tersenyum mendengar ucapan Vino. Kemudian dia berisyarat untuk Vino juga mandi. Vino melambaikan tangannya dan menolak. Dia malah menarik tubuh Hasna dan dipeluknya sambil bicara di telpon.
"Ya, ya, kerjakan tugas mu dengan baik. Semua harus sesuai dengan jadwal yang aku berikan" ucap Vino sambil mencium pundak Hasna.
Hasna memukul tangan Vino yang melingkar di perutnya. Vino melempar ponselnya dan membalikkan tubuh Hasna kemudian mulai mencumbunya.
"Kau belum mandi tapi sangat wangi" ucap Hasna.
"Aku sudah mandi sebelum datang menjemput mu" bisik Vino mendekat ke telinganya.
"Pantas saja aku suruh mandi tapi malah menarik tangan ku" keluh Hasna.
"Kau juga wangi" bisik Vino lagi seraya mengendus leher Hasna.
"Kau beli sabun ku juga" ucap Hasna.
"Ya, aku suka wangi mu. Parfum ini kau gunakan sejak SMA. Aku sangat hafal dan membelikannya untuk mu tadi"
"Terimakasih"
"Tidak sayang, jangan selalu berterimakasih. Kita ini suami istri, sudah kewajiban ku membuat mu nyaman tinggal bersama ku"
Vino membelai rambut Hasna yang keluar dari ikatannya.
"Kau cantik sekali"
Hasna tersipu.
"Kau selalu mengatakan itu sejak SMA"
"Ya, kau tahu aku begitu menyukaimu sejak SMA tapi tak pernah menganggap perasaan ku" keluh Vino.
Hasna tersenyum menertawakannya.
"Kau senang membuat ku memohon padamu"
"Tidak, aku tidak suka saat kau memohon"
Hasna menyentuh wajah Vino.
"Aku suka saat kau berusaha terus bersama ku bagaimanapun keadaannya"
Vino mengangkat dahinya.
Hasna mengusap dada Vino.
"Jadi aku berhasil membuat mu jatuh cinta? "
Vino membanggakan dirinya sendiri. Hasna kembali tersipu. Vino mengangkat dagunya dan mulai mendekatkan bibir satu sama lain.
Hasna diam dan memejamkan matanya. Vino tersenyum merasa Hasna juga ingin melakukannya. Semakin dekat bibir mereka dan hampir bersentuhan, Hasna tiba-tiba membuka matanya.
"Aku lapar! " ucap Hasna di depan bibir Vino yang mulai maju.
Vino menggigit sedikit bibirnya setelah Hasna melepaskan pelukannya dan berjalan menuju dapur kecil nya.
Hasna tersenyum sambil membuka lemari es. Dia memeriksa bahan makanan yang mungkin bisa dia masak dalam waktu singkat tapi mengenyangkan.
Vino berdecak karena tak jadi membangun suasana romantis dengan Hasna. Tapi dia menyusul Hasna untuk membantunya menyiapkan makanan.
"Kau mau masak atau pesan online saja? " tanya Vino yang berdiri di sampingnya.
"Entahlah, tapi ku rasa aku terlalu lelah untuk memasak"
Hasna tersenyum kemudian mengangkat alisnya beberapa kali.
"Kau tahu menu yang bisa dipesan dan sangat enak? " ucap Hasna.
"Tentu saja sayang ku, aku akan pesankan makanan untuk mu" jawab Vino sambil mengusap kepalanya.
***
Fajri duduk di meja kerjanya, berkas di tangannya adalah berkas milik Venus dan informasi tentang semua usahanya.
Tak berapa lama kemudian ponselnya berdering, Fajri menatapnya, Danu, salah satu anak buahnya yang mengawasi panti asuhan menelponnya.
"Ya! " seru Fajri.
"Pak, kami tidak bisa menemukan Dania" ucap Danu.
"Apa? " Fajri terperanjat dari kursi.
"Tadi sore dia pamit membeli tepung untuk membuat makanan, dia bilang hanya ke warung yang dekat, tapi setelah lima belas menit aku menyusulnya, penjaga toko mengatakan bahwa dia tidak kesana" jelas Danu.
"Kalian itu bertiga, kenapa salah satu dari kalian tidak menemaninya? " Fajri mulai meninggikan nada suaranya.
"Tadi dia bilang hanya sebentar Pak, jadi kami... "
"Aish... kalian ini benar-benar... " Fajri mulai kesal.
"Maafkan kami Pak! " ucap Danu.
"Cari terus, kabari aku lagi" ucap Fajri.
Dia menutup telponnya dan melempar berkas Venus ke meja.
"Apa yang harus aku katakan pada Hasna, dia pasti akan marah" gumam Fajri.
Dia melakukan panggilan lagi pada Hadi.
"Kau ke panti asuhan, Dania hilang, bantu Danu mencarinya. Minta dua orang lainnya menjaga panti selama kalian mencari" perintah Fajri.
"Dania hilang! Baik Pak, aku akan ke sana" jawab Hadi.
Fajri menatap ponselnya setelah menutup telpon Hadi. Nomor Hasna di depan matanya, baru kali ini dia sangat berat untuk menelponnya.
"Sshhhh, bagaimana aku mengatakannya" gumamnya lagi.
Tapi tiba-tiba justru Hasna yang menelponnya. Fajri terkejut dan hampir saja melempar ponselnya.
"Aishhh, ponsel ini benar-benar...!" keluh Fajri.
Terpaksa dia mengangkat panggilan Hasna.
"Hai Na! "
"Kau dimana? " tanya Hasna.
"Di.... kantor" jawab Fajri ragu.
"Kenapa? Kau terdengar gugup, kau sedang bersama seorang wanita? " tanya Hasna mengolok-olok.
"Tidak,... itu.... Dania.... "
"Kenapa? Ada apa dengan Dania?" Hasna mulai serius.
Fajri menarik nafasnya dalam-dalam.
"Dania hilang" ucap Fajri pelan.
Tak ada jawaban dari Hasna, hanya suara Vino yang terdengar membangunkan Hasna dari diamnya.
Fajri menutup telponnya, dia segera ke panti untuk membantu mencari Dania.