
Keanu membuka pintu tanpa mengetuk, Revan yang sedang menerima pasien langsung menatapnya.
"Mana Hasna? " tanya Keanu.
Revan tak menjawab, dia hanya memberikan isyarat dengan tangannya untu Keanu menunggu di sofa.
Pasien yang sedang ditangani Revan pun terkejut dan memperhatikan Keanu yang terlihat mengendalikan dirinya.
Cukup lama Keanu menunggu hingga akhirnya pasien itu keluar. Revan merapikan berkas dan siap mendengarkannya.
"Kau tahu apa maksud ku" ucap Keanu.
"Ya, sangat tahu"
Revan berdiri.
"Dia pulang, tapi tak mau siapapun tahu" ucap Revan.
"Kemana? Ke rumah Venus? " Keanu panik.
Revan masih santai duduk dimejanya dengan tangan bersandar ke meja.
"Kenapa dia tak mau aku tahu kalau dia pulang? " Keanu semakin kesal.
Tak lama kemudian, Venus datang dengan raut wajah dan pertanyaan yang sama.
"Dimana Hasna? " tanya Venus.
Revan merasa ini waktu yang tepat, daripada harus menjelaskan satu persatu, mereka berdua kebetulan datang bersama dengan pertanyaan yang sama.
"Hasna tak ingin kembali pada siapapun, dia ingin sendiri. Memulai hidupnya yang baru sendiri" ucap Revan.
"Tapi kenapa? " tanya Keanu.
Venus malah diam dan berpikir bahwa Hasna sudah mengerti bahwa dirinya bukan kakak kandungnya. Dia memilih untuk menghindar dan pergi dari ruangan Revan.
Keanu dan Revan terkejut dengan reaksi Venus. Tapi mereka menyangka bahwa dia akan mencari Hasna sendiri.
"Tidak, tidak. Hasna mengabaikan aku dan perhatian ku? " Keanu tak percaya dengan keadaan ini.
"Beri dia ruang dan waktu, kau tidak bisa menekannya! " ucap Revan.
Keanu berpikir.
"Hah, Beno. Polisi itu yang membawanya kan? " Keanu menebak.
Tapi Beno datang dengan cara yang sama, membuka pintu tanpa mengetuk.
"Hasna sudah pulang? Aku lihat Venus keluar dengan kesal tadi? " tanya Beno.
Keanu menghela, pertanyaannya sudah dijawab oleh pertanyaan Beno, dia mendelik padanya. Beno sendiri merasa heran dan menatap Revan yang tersenyum.
***
Rumah Hasna.
Dia duduk di sofa dengan teh hangat di tangannya. Tv menyala dengan memperlihatkan berita penculikan dan pembunuhan beberapa anak.
Hasna mendengarkan dengan perhatian penuh, dengan sesekali menatap laptopnya. Dia menunggu balasan emailnya yang mengajukam permohonan pembatalan pembekuan izin profesinya.
Tak lama kemudian, sebuah telpon dari nomor tak dikenal menepolnya. Hasna menatap seluruh nomor yang memang tidak dia ketahui. Dengan ragu dia menjawabnya.
"Hallo! " jawab Hasna.
"Hallo! " suara seorang pria terdengar.
Suaranya terdengar lemah dan terengah.
"Hasna ini aku! Aku ada di kedai dekat pantai" ucapnya.
Mata Hasna langsung menbulat. Suaranya mulai dia kenal, terlebih saat dia mengatakannya.
Hasna langsung keluar dari rumah dan mencarinya. Dia berlari menuju tempat yang dikatakannya. Hasna berlari seperti orang gila, dia bahkan tidak perduli bahwa dia baru saja keluar dari rumah sakit.
Suara yang dia dengar, suara orang yang sangat dia tunggu kedatangannya. Orang yang pertama kali menggenggam tangannya penuh dengan kasih sayang.
Orang yang menyemangatinya tanpa lelah. Yang selalu memberikannya senyuman meski hatinya terluka. Yang selalu rela mengorbankan nyawanya untuk nya.
Sampai di depan kedai yang dia ketahui, Hasna berhenti dan mengatur nafasnya. Dia menean saliva dan merapikan rambutnya.
Langkah perlahan maju dan membuka pintu kedai itu. Matanya langsung tertuju pada pria yang memakai mantel di meja di sudut ruangan.
"Fajri! " gumamnya.
Hasna tak sanggup menahan air matanya. Langkahnya dipercepat dan kemudian memeluk Fajri dengan erat.
Tak ada kata yang keluar, Hasna menangis di pelukannya. Fajri pun hanya diam dan mengusap rambutnya.
***
Di rumah sakit.
Keanu terus mendesak Revan untuk mengatakan kemana Hasna pergi dan dengan siapa.
Revan menatapnya.
'Dia tidak berpikir Hasna kembali ke rumahnya? ' ucap hati Revan.
"Dia tak ada di rumah lama atau pun rumah Vino. Dia benar-benar meninggalkan masa lalunya" ucap Keanu seolah membalas ucapan hati Revan.
Revan membulatkan matanya.
"Ya, aku ke sana. Tapi tak ada siapapun. Aku memanggilnya terus menerus. Tapi tak ada yang menjawab"
Keanu benar-benar panik. Revan menghela, dia merasa kasihan tapi lebih kasihan lagi jika Hasna dipaksa membalas perasaannya.
***
Di dalam mobil, Venus memukul stir mobil dan berteriak keras.
"Aku bukan siapa-siapa dia, tapi kenapa saat dia menghindar dari ku, aku merasa sangat kesal dan tak ingin dia melakukannya" ucap Venus pada dirinya sendiri.
Paras wajah Hasna yang pucap pasi, terbaring di kamar rumah slkit, terus terbayang.
Momen saat Hasna mendapatkan pertolongan karena keracunan dan hal lainnya muncul seolah menjadi bayang-bayang yang tak mau hilang.
Venus geram, tak pernah dia merasakan hal ini sebelumnya. Dia yang selalu dingin dan terus fokus terhadap bisnis dan pekerjaannya. Kini menjadi marah karena dihindari seorang wanita.
Venus merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel untuk menelpon anak buahnya.
"Cari dia, cari sampai dapat" ucap Venus.
Dia kemudian menutup telpon dan melempar ponselnya ke dashboard mobil.
***
Vania duduk di sudut kamarnya dengan mata sembab karena menangis. Isak tangisnya pun sesekali terdengar terutama saat dia mengingat semua kehidupan yang dia rencanakan dengan Fajri.
"Kenapa Jri? Kenapa kamu pergi? "
Vania terus meratapi kepergian Fajri.
***
Sementara itu, di dalam pesawat menuju negara yang Fajri pilih untuk mereka pindah dan memulai hidup baru.
Fajri menggenggam tangan Hasna yang menatap ke arah awan diluar.
Hasna menoleh, Fajri tersenyum dan merapikan rambutnya yang menutupi matanya.
Tak berapa lama seorang pramugari menawarkan makanan. Mereka pun memilih apa yang hendak mereka makan.
Layaknya pasangan yang hendak berbulan madu, Fajri melayani Hasna dengan manis. Dia tam berhenti menatap senyuman Hasna yang selalu manis.
Impian Fajri terwujud kali ini, Hasna mau menuruti semua keinginannya untuk pindah dari kota yang menyakitinya itu.
Kali ini lebih jauh dari apa yang dibayangkan. Meninggalkan orang-orang yang memaksakan perasaan dan keinginannya pada mereka.
"Terimakasih" ucap Fajri.
Hasna mengangguk dan tersenyum. Dia bersandar di bahu Fajri hingga terlelap.
***
Sampai di sebuah rumah kecil dikelilingi halaman luas dengan tanaman yang indah. Beberapa anak kambing berada di tanah yang dipagari.
Setiap rumah berjarak jauh, dihalangi lapangan luas.
Fajri keluar dari gudang membawa penggaruk tanah di bahunya. Dia melambai ke arah Hasna yang juga melambaikan tangan memanggilnya untuk makan siang.
Hasna masuk setelah mendengar suara notifikasi pesan yang terdengar dari smartphonenya.
Dia membukanya.
{Izin atas nama Hasna Maulida Fadilah di buka, selamat Nyonya Bastian}
Hasna tersenyum kemudian menaruh smartphonenya di laci setelah sebelumya dia matikan.
Fajri datang dan langsung mencuci tangannya.
"Wah... wangi sekali!" puji Fajri.
"Aku masak Pépian, akhirnya berhasil" jawab Hasna senang.
Fajri memeluknya dari belakang saat dia hendak menyiapkan piring untuknya.
"Bukan pépian, maksud ku kamu yang wangi" bisik Fajri.
Hasna berbalik dan membalas pelukannya.
"I love you" bisik Fajri.
Hasna tak menjawab, dia hanya memeluk Fajri dengan erat.
TAMAT