
Fajri melamun menatap komputernya. Beno menepuk bahunya membangunkannya dari lamunan.
"Hei, kok jadi nggak fokus gitu?" tanya Beno.
Fajri hanya melirik saja.
~Hasna begitu merasa sakit karena Vino adalah putra Bima. Apa dia memang punya perasaan padanya?~ ucap hati Fajri.
"Ini ada telpon!" ucap Beno memberikan telponnya.
Fajri menempelkannya di telinga.
"Ya, hallo!" sapa Fajri.
"Ada seorang wanita yang membeli obat ini tanpa menunjukkan identitasnya. Dia hanya mengatakan akan membongkar rumahnya. Penjual memberikan rekaman. Kau mau melihatnya?" ucap temannya.
"Wanita? Ya aku ke sana!" jawab Fajri.
Dia mengambil jaket lalu keluar tanpa bicara. Beno hanya menganga menatap kepergiannya.
Sampai di toko besar penjual bahan kimia yang dimaksud temannya. Mereka melihat rekaman CCTV yang resolusinya kurang bagus. Mereka harus melihat beberapa kali dan memperbesarnya.
"Aku sih nggak yakin, cuma dia beli cukup banyak. Ada pria yang bersamanya, dia yang membawanya setelah membayar" jelas teman Fajri.
Fajri melihat tas Hasna. Ya, itu tasnya. Tas yang dia berikan saat ulang tahunnya. Hasna yang memintanya, Fajri harus mengumpulkan uang untuk membelinya. Fajri ingat itu, dia mulai lemah dan hilang keseimbangan membayangkan apa yang sudah Hasna lakukan selama ini.
Fajri meminta rekaman itu, dia meminta temannya merahasiakan penyelidikan mereka. Mereka berdua berpisah, Fajri menemui Hasna malam itu juga.
Hasna belum pulang, Fajri menunggunya. Dia mulai tak sabar, mendendang-nendang batu kecil yang ada di sana untuk melawan bosannya.
Tak lama kemudian, mobil Hasna datang dan parkir. Hasna melihat Fajri dengan malas. Dia mengira Fajri akan membahas tentang Vino dengannya.
Fajri berdiri di depan pintu menghadangnya yang jelas menghindari pandangannya.
"Mau apa sih? Mau tanya soal aku nangis? Bisa nggak sih nggak di bahas. Males tahu!" ucap Hasna kesal.
Fajri melonggarkan tangannya agar Hasna bisa masuk. Dia juga ikut masuk, dia mulai terbiasa masuk ke rumah setelah banyak masalah yang muncul. Fajri menutup pintu rumah Hasna dengan keras. Hasna berbalik dengan membulatkan matanya.
"Kamu ini kenapa? Gak perlu banting pintu kan?" Hasna kesal.
Fajri melempar rekaman CCTV toko bahan kimia ke sofa. Hasna mulai marah dengan sikap Fajri.
"Apa ini?" tanya Hasna menahan amarahnya.
"Kamu beli bahan kimia sebanyak itu dan nyuruh orang 'menyuntikkan' nya ke pondasi sisi sungai perumahan itu" ucap Fajri dengan suara yang menahan tangis.
Hasna diam membeku, dia terduduk di sofa dan menatap kosong ke arah rekaman itu.
Hening sebentar menyerang ruangan yang hanya ada Fajri dan Hasna itu. Tak terasa Fajri menangis menatap Hasna.
Dia tak menyangka Hasna akan melakukan hal keji seperti itu. Hasna yang dimatanya wanita lemah dan hanya punya semangat untuk pekerjaannya saja.
"Mereka acuh saat ayahku berkeliling meminta mereka mengatakan melihat aku dipanggil Bima ke rumahnya. Mereka nggak mau jadi saksi untuk memberatkan Bima karena dia selalu membantu mereka perihal pembangunan jalan perumahan. Mereka diam saja melihat aku hampir mati dan dirawat di ruang ICU selama berhari-hari" Hasna mulai menangis.
"Tapi apa harus sampai begini?" tanya Fajri.
"Aku sudah baik membantu mereka mendapatkan surat tanah dan rumah mereka kembali dari Rusdiawan Pratama. Tapi bagaimana cara menghukum mereka? Mereka semua tak bisa tersandung kasus secara bersamaan dan waktu ku takkan cukup untuk membuat satu persatu dari mereka mendapatkan ganjarannya. Aku hanya mempercepat rasa sakit mereka. Dan menyembuhkan luka ku"
"Ini bukan Hasna yang aku kenal. Hasna ku nggak begini" Fajri menunduk di pangkuannya.
"Aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Tepat saat pertama kali aku melihat 'iblis' itu masih bisa tersenyum setelah semua yang terjadi dalam hidupku. Darah ku mendidih saat menatapnya, aku merasa sesak karena belum bisa menghukumnya"
Fajri mendongak menatap wajah Hasna.
"Aku menjadi petugas yang berwajib dan kau jadi jaksa. Itu semua untuk menghukumnya, tapi kenapa kamu bisa tega melakukan hal besar seperti ini? kamu membuat 43 rumah hancur. Beberapa orang terluka bahkan mungkin mereka tak bisa membangun kembali rumahnya"
"Aku juga hancur Jri, aku nggak bisa bangun rumah ku lagi. Rumah yang ada ibu dan ayah ku lagi. Rumah yang bisa jadi tempat ku pulang. Bahkan aku nggak bisa menyingkirkan mimpi di setiap malam ku saat 'iblis' itu melakukan semuanya padaku"
Fajri baru mengetahui Hasna masih bermimpi buruk. Selama ini dia berbohong agar Agung mau mengizinkannya pindah ke rumah ini.
Farji terduduk di lantai mengusap kepalanya dengan perasaan yang campur aduk. Hasna menahan sedu sedannya.
"Kau mau menangkap ku karena hal ini? Lakukanlah! Tapi berjanjilah padaku kau akan membuat 'iblis' itu mendekam di penjara selama hidupnya"
Hasna meraih tangan Fajri dan menaruhnya diatas kepalanya, memintanya berjanji atas mama dirinya. Fajri hanya bisa menatapnya dengan sedih, dia melepaskan tangan Hasna dan berdiri hendak pergi.
"Kenapa? Kau kecewa padaku? Kenapa diam saja?" tanya Hasna.
"Kau sudah tidak percaya padaku, semuanya percuma. Sekuat apapun aku mengatakan aku bisa dan kita akan mendapatkannya, kau tidak akan pernah percaya padaku" ucapnya tanpa berbalik.
Hasna terdiam. Fajri pergi meninggalkannya.
###
Vino datang ke rumah Bima yang ada di Jakarta. Pengacaranya menunggu sambil membicarakan apa yang harus mereka lakukan.
Vino memeluk ayahnya dan menyapa pengacara itu. Mereka membahasnya hingga malam. Bima menunjukkan ekspresi santainya karena sudah tahu apa yang akan terjadi di kantor polisi nantinya.
Vino menatapnya kagum, dia bisa tetap tenang meskipun kasus ini bisa saja mencemarkan namanya. Dia semakin percaya diri bahwa ayahnya tak bersalah.
"Kita harus hati-hati. Jaksa penuntut adalah seorang yang sangat kompeten dan tak mudah menyerah. Meski dia baru memulai debutnya di persidangan, tapi dia sangat kompeten. Lawannya tak bisa lepas darinya dengan mudah" ucap Jefri.
"Siapa?" tanya Bima yang tak mengenalnya.
"Hasna, Hasna Maulida Fadilah" jawab Vino dengan lamunan di matanya.
Bima mengangkat alisnya merasa pernah mendengar nama itu. Tapi dia tak yakin dan hanya mengangguk.
"Wanita?" Bima menegaskan dari nama yang dia dengar.
"Ya, wanita tangguh. Dia sangat berprestasi di kampusnya, makanya bisa jadi jaksa di usia mudanya. Dan dia membuktikannya di setiap kasus yang dia tangani. Barusan dia bahkan mengirimkan pesan berisi solusi untuk kasus artis yang sedang kamu tangani Vino!" ucap Jefri.
Vino terkejut, pasti Armand yang memintanya. Dia suka mengambil keputusan tanpa bicara. Vino semakin kesal dengan situasi ini. Tapi dia masih berharap Hasna bisa mengubah pemikirannya dan kembali mencintainya.
Bima menatap wajah Vino yang terlihat gusar.
"Kau baik-baik saja? Tidak usah khawatir, biar Jefri yang mengurus ini. Kau fokus saja dengan pekerjaan mu" ucap Bima dengan bijaksana.
"Tidak ayah, aku mau membuktikan pada Hasna kalau ayah tidak bersalah. Kami harus menyelesaikan kesalahpahaman kami" jelas Vino.
Bima mengerti dari ucapan Vino. Hasna adalah wanita yang dia ceritakan padanya. Bima tersenyum, dia harus memastikan Dudung mau melakukannya.