
Pagi hari Hasna sudah siap untuk berangkat kerja. Dia yang biasanya berangkat pukul 7, sekarang harus berangkat pukul 6 karena takut ketinggalan bis.
Namun saat bercermin, dia ingat kejadian kemarin siang. Saat dia mendesak Keanu mengakui perasaannya. Tapi Hasna malah mengingat Vino.
"Tak peduli dengan masa lalu ku? Yang benar saja. Tidak ada yang mudah memaafkan kesalahan masa lalu. Sendiri lebih baik, tak perlu Vino ataupun pria lain. Lagipula sekarang aku sibuk mengurus anak-anak. Yup, aku tidak usah pedulikan mereka"
Hasna bicara sendiri.
"Tapi apa Keanu tersinggung dengan ucapan ku kemarin? Apa dia masih menerima ku sebagai asisten nya?" tanyanya sendiri.
Tak berapa lama, suara bel pintu rumahnya berbunyi. Hasna melangkah menuju pintu untuk membukanya.
Matanya membulat saat melihat Fajri berdiri dengan pakaian rapi sedang memasang arlojinya.
"Mau apa? " tanya Hasna dengan ketus.
"Nganter kamu ke Reaves Firma Hukum" jawab Fajri seraya masuk begitu saja ke rumahnya.
"Tidak usah, aku sudah terbiasa pergi sendiri" jawab Hasna menolak.
"Aku baru tahu kau menjual mobil mu. Aku jadi mengerti kenapa kau menerima tawaran Keanu untuk menjadi asistennya" Fajri terus bicara sambil menyeduh kopi.
"Itu kopi terakhir ku" keluh Hasna dengan mata yang malas memperhatikan tingkah Fajri.
Fajri terdiam dan membalas tatapannya.
"Ya, nanti aku ganti" jawab Fajri kesal.
Hasna mendelik dan masuk ke kamarnya. Fajri mengacuhkannya.
"Dia mulai pelit sekarang, itu karena dia sangat bodoh tak mau menerima uang Vino sebagai nafkah. Coba kalau dia terima, dia tak usah bekerja sekeras itu" gumam Fajri.
Hasna mendengar dan menghampirinya.
Plakkk!
Hasna memukul lengan kekar Fajri. Tak ayal Fajri meringis kesakitan karena pukulannya cukup keras.
"Bicara sekali lagi ku usir kau dari rumah ku" ancam Hasna.
"Hei, ini sakit sekali" keluh Fajri.
Hasna tak memperdulikan nya.
"Sejak kemarin kau sangat sensitif, kenapa? Ada masalah? Apa karena aku mengabarkan kebebasan Vino? " tanya Fajri bertubi-tubi.
Hasna terdiam, dia ingat kemarin dia hanya sedang khawatir dengan anak-anak. Mereka perlu orang untuk menjaganya. Hasna menghela tak tahu harus bagaimana. Dia menatap Fajri yang menunggu jawabannya.
~Apa aku beritahu dia, kalau aku mengambil alih tugas Wulan di panti? Ah tidak, dia mana mengerti. Dia juga akan beralasan tak bisa membantu karena sibuk menangani kasus. Dia juga terlalu cerewet~ ucap Hasna dalam hatinya.
"Ya, bicara pada hati mu sendiri saja. Tidak usah beritahu aku. Aku hanya orang lain di hidup mu bukan? " Fajri kesal menunggu jawabannya.
Tapi Hasna masih diam menatapnya.
"Aish, bahkan setelah aku marah begini kamu masih bicara dalam hati mu! " keluhan Fajri menjadi.
~Lihat kan, dia mudah marah. Aku tidak akan beritahu apa-apa~ Hasna memutuskan dalam hatinya.
Pintu bel rumahnya berbunyi lagi, hal itu membuat aksi saling tatap mereka berakhir. Hasna membuka pintu dengan bertanya dalam hatinya siapa yang datang di pagi hari begitu selain Fajri.
"Hai, sudah siap berangkat? " tanya Keanu dengan penuh semangat.
Namun ekspresi wajahnya berubah saat melihat Fajri mendekat sambil minum kopi.
"Hai, belum siap. Hasna tidak jadi minum kopi karena kopinya aku habiskan" Fajri yang menjawabnya dengan tersenyum manis.
Keanu menatapnya dari kepala hingga kakinya.
~Jika aku tidak mengenal pria ini sebagai kakak angkat Hasna, aku sudah cemburu dan kesal dengan tingkahnya. Tapi sabar Keanu, kau harus bisa meyakinkan Fajri bahwa kau layak untuk Hasna~ Keanu berkompromi dengan dirinya.
"Hai kakak ipar, lama tidak bertemu" jawab Keanu riang.
"Oh ya, sebaiknya kita cepat berangkat. Sidangnya dijadwalkan pagi, aku belum menerima laporan mu kemarin lusa" ajak Keanu seraya menunjuk arlojinya.
"Sidang apa? Hasna bahkan belum punya izin profesinya lagi" ucap Fajri sinis.
"Pihak pengadilan sudah tahu Hasna menjadi asisten ku. Kami sudah berjanji takkan melanggar batasan yang sudah mereka berikan. Aku juga beralasan agar Hasna tak begitu canggung saat dia memulai lagi pekerjaan nya nanti. Syukurlah mereka mau mengerti" jelas Keanu.
Fajri menatap Hasna seolah menanyakan kebenaran ucapan Keanu. Hasna pun mengangguk kecil.
"Santai Jri, jika Hasna bersama ku, dia akan lebih aman dan nyaman di bidang ini" ucap Keanu menjamin kebersamaan mereka.
"Apa maksud mu? " Fajri menyalak.
Keanu terkejut dan terdiam dengan mata membulat.
"Hasna masih istri Vino, kemungkinan mereka kembali bersama lagi karena Hasna mencabut gugatannya dulu. Jangan hina dia dengan menganggapnya mudah kau dapatkan. Apalagi mudah kau kendalikan" ancam Fajri.
Hasna ikut menatap Fajri yang tegas membela kehormatannya.
"Aku tidak bermaksud menghinanya Jri" Keanu berkilah.
"Jangan kau pikir karena masa lalunya yang suram, dan dia adalah istri dari seorang narapidana, kau jadi mudah mengendalikannya. Kau salah, Hasna bahkan tidak membutuhkan pekerjaan ini. Aku kakaknya masih mampu membiayainya jika dia menganggur seumur hidup" jelas Fajri dengan menepuk dadanya sendiri.
Hasna semakin terkejut lagi dengan semua pembelaannya.
"Ok, maafkan aku jika cara bicara ku terdengar merendahkan Hasna. Aku hanya merasa aku jauh lebih bisa melindunginya" jelas Keanu.
"Kalian akan bertengkar sekarang karena aku? " Hasna melerai dengan sindirannya.
Keanu dan Fajri diam seraya menghela. Hasna mendorong Keanu untuk keluar.
"Ayo kita berangkat! " ajaknya.
Keanu tersenyum merasa menang ke arah Fajri.
"Kunci pintunya! " seru Hasna pada Fajri.
"Memang dia tahu passcodenya? " tanya Keanu merasa tak suka.
Hasna terdiam saat hendak masuk mobil, dia menatap ke arah Fajri yang melihat mereka dari ambang pintu.
"Tentu saja, dia kakak ku. Dia tahu semua tentang ku" jawab Hasna.
Keanu tak suka dengan cara Hasna menatap Fajri.
Fajri ditinggal sendiri dengan kopi di tangannya.
"Apa ini? Dari tangan Vino dia menuju tangan Keanu. Semua pria tampan dan kaya, aku masih begini saja, menjadi kakak angkat yang baik" gumam Fajri.
Ponselnya berbunyi, Hadi menghubunginya.
"Hallo! " seru Fajri.
"Pak, ada perkembangan baru dari kasus kemarin. Mereka menemukan salah satu pelakunya" jelas Hadi.
"Benarkah? Ok, aku segera kesana" jawab Fajri.
***
Sementara itu, Vino sedang memilah semua yang akan dia lakukan setelah dia keluar penjara. Matanya menatap semua daftar yang dia tulis.
Teringat kembali ucapan Wira tentang pengorbanan Hasna.
"Perkumpulan itu harus aku hancurkan. Hanya dengan melibatkan Hasna semua itu bisa terjadi. Tapi apa Hasna masih bisa percaya dan mau tetap bersama ku? " gumam Vino.
Vino ragu tentang hubungannya dengan Hasna. Meskipun hatinya tak bisa melepaskan cinta untuk Hasna, tapi dia tak bisa membiarkan Hasna tetap di sisinya karena perkumpulan itu.
Ada sedikit penyesalan karena dia sudah mengambil perjanjian sebelumnya. Perjanjian tentang tidak kehilangan semua harta yang di miliki ayahnya, Bima.
"Aku mendapatkan harta dan kekuasaan dengan cara itu. Sekarang aku menyesalinya dan tak bisa leluasa mencintai mu" gumamnya lagi seraya mengusap foto pernikahannya.