My Beautiful Lawyer

My Beautiful Lawyer
13



Hasna pulang, dia tak menemukan Fajri di sana. Dia menelponnya, lama tak diangkat kemudian mencoba kedua kalinya baru diangkat.


"Kau dimana? Tidak ada di rumah!" ucap Hasna.


"Nanti malam aku ke rumah, aku sedang melihat tempat kejadian longsor" ucap Fajri dengan keras karena berisik suara reporter.


Hasna membulatkan matanya, dia menutup telponnya.


"Sudah masuk berita?" gumamnya sambil menyalakan Tv.


***


Fajri terdiam menatap rumah Hasna yang ambruk setengah badan bersama 40 rumah yang berjajar di pinggiran sungai.


"Aneh, kenapa rumah yang di hulu sungai tak bergeming" ucap Beno.


Fajri diam saja, dia mengambil ponsel dan memotret pemandangan mengerikan itu beberapa kali. Kemudian mengirimnya pada ayahnya.


Belum ada balasan, Fajri memeriksa beberapa rumah lagi dan bertanya pada beberapa orang saksi.


Beno juga sama sibuknya. Dia bahkan turun ke sungai dan hendak memeriksa ke lebih dalam lagi. Namun Fajri melarangnya.


"Hei Beno, naiklah!" pinta Fajri.


Beno naik dan menepuk-nepuk celanannya.


"Kenapa? Kau khawatir padaku?" tanya Beno.


Fajri menyeringai dan menunjukkan sesuatu.


"Lihat, air akan datang dari atas" ucap Fajri.


"Haah? Airnya baru turun?" ucap Beno heran.


Fajri baru paham ucapan Beno.


~Jika airnya baru turun, kenapa rumah-rumah ini sudah jatuh sebelumnya?~ ucap hati Fajri.


"Jangan katakan kalau kau berpikir seperti apa yang aku pikirkan!" ucap Beno.


"Belum ada bukti, suruh petugas konstruksi memeriksanya" ucap Fajri.


Dia pergi meninggalkan tempatnya menuju rumah Hasna.


Pikiran Fajri masih penuh pertanyaan tentang longsornya rumah Hasna yang dulu. Tak sadar dia mengetuk pintu yang terbuka.


"Hei, kamu mau ketuk muka aku?" tanya Hasna.


Fajri menatap datar wajah Hasna. Dia masuk dan duduk. Hasna menatapnya, dia berpikir sangat tumben Fajri langsung masuk dan duduk di rumahnya. Dia juga sudah berjanji takkan membiarkan Fajri masuk jika hatinya belum menerimanya. Tapi dia tersenyum dan mendekat.


"Mau minum kopi?" tanya Hasna.


"Ya, kopi hitam" ucap Fajri.


Hasna berdiri dan mencari kopi untuk di seduhnya. Namun Fajri berdiri dan baru tersadar dia sudah masuk dan duduk di rumah Hasna. Dia lupa dan mundur hingga ambang pintu. Hasna terkejut melihatnya.


"Hei, aku baru mau buat kopi mu!" seru Hasna.


"Aku pulang, nanti kita bicara di telpon" ucap Fajri sambil terburu-buru pergi.


Hasna tersenyum.


"Dia pasti baru teringat akan sumpahnya" gumam Hasna sambil menutup pintunya.


Fajri buru-buru berlari, dia berhenti di gedung yang masih dekat dengan rumah Hasna. Dadanya kembang kempis, mengatur nafas karena lelah berlari.


Dia ingat dengan ucapan Hasna yang takkan mengizinkannya hingga dia benar-benar bisa membuka hatinya untuk Fajri.


"Lalu tadi, apa itu artinya dia sudah membuka hatinya untukku?" tanya Fajri pada dirinya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Hasna menelpon, Fajri panik, dia mengatur nada suaranya dan mencoba terdengar tak gugup.


"Hei, kenapa langsung pulang?" tanya Hasna.


"Apa?" Fajri malah semakin gugup.


"Kau meninggalkan jaket mu" ucap Hasna lagi.


"Ouh pantas saja sedari tadi aku merasa kedinginan" ucap Fajri dengan tawa konyolnya.


"Kau sudah sampai mana? biar aku antarkan" Hasna menawarkan jasanya.


"Tidak, aku sudah hampir sampai. Besok saja kau bawa saat makan siang, sekarang tidurlah!" ucap Fajri merasa aneh saat menyuruhnya tidur.


Fajri menghela nafas lega.


~Astaga! Kapan aku harus merasa gugup seperti ini. Padahal aku yang selalu menggodanya, kenapa giliran pikiranku mengatakan bahwa dia menerima ku aku jadi gugup. Padahal belum tentu, dia bicara seperti biasanya Fajri tak ada yang berubah~ ucap hati Fajri menenangkan diri.


***


Hasna membuka laptopnya, dia mencoret ke 43 nama yang tertulis.


"Selesai! Aku hanya tinggal menghancurkan mu Bima Sebastian. Serapih apapun kau menyembunyikan kejahatan mu, aku akan berusaha dengan keras membongkarnya. Lihat saja, aku akan menghukum mu habis-habisan" ucap Hasna pada foto Bima sebastian yang sedang dalam mobil.


Hasna merasa sesak setelah dia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Dia menutup laptopnya kemudian keluar dan duduk di sofa menyandarkan kepalanya ke belakang.


Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintunya.


"Itu pasti Fajri, dia pasti mau mengambil jaketnya" gumam Hasna.


Namun dia sangat terkejut saat yang dilihatnya adalah Vino.


"Hai, lama nggak ketemu, aku merindukan mu" ucap Vino tersenyum.


"Ah, Vino. Masuklah!" ucap Hasna.


Vino masuk dengan menjinjing sebuah bungkusan makanan. Hasna langsung mengambilnya.


"Ini untuk kita makan kan?" tanya Hasna.


Dia mengambil dua piring dan dua sendok kemudian menyiapkan makanannya. Vino tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil jika melihat makanan.


Mereka makan dengan lahap.


"Aku sedang berpikir untuk keluar mencari makan tadi, kau datang seperti malaikat membawa makanan kesukaan ku. Manis sekali!"ucap Hasna.


"Ini ucapan terimakasih ku, untuk tempo hari" ucap Vino.


Hasna tersenyum dan menepuk lengan Vino juga membuat bulatan dengan jari telunjuk dan jempolnya. Dia melahap makanannya dengan cepat.


"Pelan-pelan, nanti tersedak!" ucap Vino.


Dia melihat ada sedikit makanan di sisi bibir Hasna dan mencoba menghapusnya dengan tisu. Hasna mengerti dan mendekatkan wajahnya pada Vino untuk dihapuskannya. Vino terpesona menatap wajah Hasna. Dia mendekat dan hendak menciumnya. Namun Hasna memundurkan dada Vino.


"Tidak, jangan. Jangan membuat mood ku yang sedang baik menjadi buruk" ucap Hasna.


"Apa ciuman ku membuat mood mu menjadi buruk?" ucap Vino merapikan piringnya.


"Ya tentu saja, kau sudah tahu kalau aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa" ucap Hasna sambil meletakkan piring di wastafel.


"Apa ini karena masa lalu mu, atau Fajri?" tanya Vino.


Hasna terdiam, dia meletakkan piring yang hendak dia cuci.


"Aku tidak mengatakan apapun, entah itu tentang masa lalu ku atau tentang Fajri. Ini yang membuat mood ku menjadi buruk" ucap Hasna dengan nada kesal.


"Ok, maafkan aku. Aku salah" ucap Vino.


"Mood ku sudah buruk, sekarang kau harus melakukan sesuatu" ucap Hasna dengan wajah kesal.


"Ok, aku siap. Es krim kan?" ucap Vino dengan mengerlingkan matanya.


Hasna mengambil cardigannya dan berjalan keluar, Vino tersenyum melihatnya kemudian menyusulnya.


"Tunggu! Aku meninggalkan kuncinya di rumah mu" ucap Vino kembali ke rumah Hasna.


Hasna berdiri di dekat pintu bersiap mengunci pintu. Vino mengambil kunci di kursi, dia baru sadar ada jaket pria di sana. Dia melihat-lihat dan merasa mengenali jaket itu.


"Jaket Fajri!" gumam Vino.


Vino terdiam sejenak.


"Tidak ketemu?" tanya Hasna.


Vino terbangun dari lamunannya, dia keluar dengan tersenyum.


"Ketemu!" ucap Vino dengan menunjukkan kuncinya.


"Aku mau es krim yang dekat mall itu, biasanya jam segini masih buka. Es krimnya enak dan rasanya juga banyak" ucap Hasna tanpa jeda.


"Ya, tuan putri. Semuanya akan aku kabulkan semua permintaan mu" ucap Vino.


Dia berusaha untuk tak membuat Hasna kembali marah dan membuat momen manis bersamanya kacau.