
Wisnu berlari keluar kamar rawat Nabila saat dia membuka matanya lagi. Fajri dan Beno buru-buru masuk dan melihat keadaannya. Namun suster meminta mereka untuk menunggu diluar. Dokter datang untuk memeriksanya.
Fajri dan Beno menunggu dengan gelisah. Mereka takut Nabila kembali tidur seperti sebelumnya. Hal itu akan membuat proses penyelidikan ditunda terus menerus.
Sementara itu, Wisnu mengirim pesan pada Hasna. Fajri mendekat dan mengambil ponsel Wisnu secara tiba-tiba. Wisnu terkejut namun hanya bisa diam.
"Aku sudah bilang, jangan memberikan informasi tentang Nabila selain pada polisi" Fajri marah.
Dia memeriksa kepada siapa Wisnu mengirim pesan. Dia terdiam saat melihat nomor yang tertera atas nama Agung ayahnya.
"Aku memberitahu ayah mu" jawab Wisnu pelan.
Fajri menghela karena sudah salah mengira. Dia memberikan ponselnya kembali. Namun Wisnu menolaknya.
"Simpan saja, aku tidak mau diperlakukan seperti pencuri lagi" ucap Wisnu sambil berjalan mendekat ke ruangan rawat Nabila.
Fajri mengusap wajahnya. Dia sudah terlalu paranoid karena sikap Hasna. Dia takut Hasna benar-benar menyelidiki tentang Bima Sebastian lagi.
Sementara itu, Hasna sedang menatap Bima dari kejauhan. Dia sudah mendapatkan pesan dari Wahyu juga mendapatkan alamat Bima yang baru. Dia mencatatnya dan pergi kembali ke kantornya.
Hari ini dia takkan langsung ke rumah sakit, Wisnu melarangnya. Dia meminta Hasna datang saat Fajri tak ada di sana. Karena bila Beno yang menjaga dia sering ketiduran dan itulah waktu yang tepat bagi Hasna datang dan melihat Nabila.
Hasna sampai di kantor, dia memasukkan alamat Bima ke email dan mengirimnya ke email pribadinya. Tak lama kemudian, Vino datang dan tersenyum padanya.
"Kau marah?" tanya Vino merasa bersalah karena kepulangan ayahnya.
Hasna memalingkan wajahnya, dia buru-buru menghapus pesan dan nama email pribadinya. Kemudian dia kembali merespon Vino.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu berlebihan" ucap Hasna datar.
"Aku tahu kamu marah, tapi dengar. Ayahku titip salam. Dia bilang untuk tidak mengacuhkan Vino. Atau dia sendiri yang akan melamar mu untukku" ucap Vino menggodanya.
Hasna berdecak, dia tak suka lelucon Vino. Dia belum mau membicarakan masalah itu. Dia hanya ingin fokus pada kasusnya, yang orang lain sama sekali tak tahu.
"Vino!" seru Hasna.
"Hmmm?" jawab Vino dengan senyum.
"Nabila sadar. Kita harus kesana malam ini" ucap Hasna mengalihkan pembicaraan.
Vino terpancing, dia juga senang mendengar Nabila sadar.
"Benarkah? Kenapa malam? Sekarang saja!" ajak Vino.
Hasna diam saja tak berkutik saat tangannya ditarik Vino.
"Kalau sekarang, Fajri masih disana mengawasi mereka" ucap Hasna.
Vino berhenti dan terdiam saat mendengar nama Fajri. Dia tak suka Hasna begitu takut saat bertemu Fajri bila bersamanya. Tapi dia juga tak mau Hasna sering bertemu dengannya. Jadi dia diam dan menunduk.
"Kenapa?" tanya Hasna.
"Kalau begitu, hari ini kita kencan saja!" ucap Vino sambil menyentuh tangan Hasna.
"Kencan apanya? Kau sudah meninggalkan pekerjaan mu sampai-sampai aku tak bisa mengerjakan pekerjaan ku. Tidak ada kencan, lagipula kita juga bukan pasangan kekasih" jawab Hasna sambil kembali bekerja.
Vino menganga mendengar Hasna bicara tanpa henti. Dia menghela dan pergi dari meja Hasna dan kembali ke mejanya. Hasna melirik dan melihat kepergiannya.
Dia membuka kembali ponselnya, memeriksa semua yang dia dapatkan hari itu. Dia juga mendapatkan beberapa bukti dari rekaman CCTV yang terpasang dari beberapa pemilik tempat dan mobil yang selalu diparkir di sana.
Sore tiba, keadaan Nabila sudah mulai membaik. Dia mengenali Wisnu dan Agung, kemudian sedikit demi sedikit bicara. Fajri tersenyum melihatnya, dia memegang tangan Nabila yang sangat dia kenal sedari kecil. Nabila meneteskan air mata, terharu mendapatkan dukungan darinya yang menjadi polisi idolanya.
Beno melihat kepedulian Fajri terhadap kasus ini. Dia sangat bekerja keras untuk memecahkan kasus ini. Seolah sudah tahu siapa pelakunya, namun Beno melihat Fajri tersendat bukti yang seolah sulit didapat.
Fajri pulang untuk istirahat juga memeriksa kembali semua bukti yang sudah dia dapat. Beno bersiap dengan segelas kopi di tangannya.
"Aku akan kembali tengah malam, tenang saja!" ucap Fajri sambil menertawakan wajah Beno yang menunjukkan rasa lelahnya.
Sampai di rumah sakit, Hasna melihat Beno sudah mulai terkantuk karena kopi yang dia minum sudah ditambahkan sedikit obat tidur. Hasna dan Vino berjalan melewatinya. Mereka masuk ke ruangan rawat Nabila.
Wisnu berdiri setelah pintu terbuka dan melihat Hasna juga Vino. Dia tersenyum dan menyambut mereka dengan jabat tangan. Nabila yang masih terbangun menatap Hasna.
Hasna menyentuh dan menggenggam tangannya, tak terasa matanya mulai berair. Nabila berusaha bicara, namun Hasna melarangnya.
"Jangan dulu bicara, kamu harus mengumpulkan semua tenaga kamu untuk hari dimana kamu menghadapi manusia jelmaan iblis itu. Kamu harus kuat, sembuhkan semuanya, jiwa dan raga kamu. Aku akan selalu di sisi kamu sampai akhir" janji Hasna pada Nabila.
Nabila tak bisa membendung tangisnya lagi. Dengan masker oksigen di mulutnya, dia menangis dan menggenggam erat tangan Hasna. Vino menaruh tangannya di bahu Hasna.
Vino tak pernah mendengar alasan mengapa Hasna begitu menggebu mengurus kasus ini. Tapi dia berusaha menjadi orang yang bisa diandalkan olehnya.
Tak lama kemudian Fajri sudah kembali dan sedang berjalan dari tempat parkir. Penjaga terlambat memberi tahu karena Hasna tak membuka pesannya. Fajri yang sudah ada di dekat ruangan membangunkan Beno. Suaranya terdengar oleh Hasna dan Vino. Wisnu juga ikut panik. Dia menyuruh Hasna dan Vino bersembunyi di kamar mandi. Mereka bergegas masuk dan mengunci mulut mereka.
Fajri masuk dan melihat keadaan Nabila. Wisnu menatapnya dengan penuh perasaan takut, jantungnya berdegup kencang. Nabila masih diam dengan mata yang masih menangis.
"Dia nangis?" tanya Fajri.
"Iya, mungkin ada yang sakit. Aku bilang sama dia buat nggak banyak ngomong dulu biar nanti nggak pingsan lagi pas ditanya" ucap Wisnu.
"Kenapa ditahan? kalau mau ngomong yang ngomong aja. Sakit sebelah mana dek!" tanya Fajri menyentuh kakinya.
Nabila menggelengkan kepalanya dan membuka mulutnya seolah hendak bicara. Wisnu mendekatkan telinganya dan mendengarkan. Dia mendengar Nabila minta Fajri mendengarkannya.
"Dia mau kamu dengerin kesini" ucap Wisnu.
Fajri mendekat dan mendengarkan.
"Aku mau pulang!" ucap lirih Nabila.
Dia berpura-pura agar Fajri tak curiga. Sementara Fajri tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Ok, kalau sudah pulih kita pulang, aku janji bakal anterin kamu pulang" ucap Fajri.
Wisnu tersenyum, Nabila mengerti Hasna dan Vino menghindari Fajri. Dia ikut berpura-pura untuk menyelamatkan Hasna. Namun sayang, mereka tak bisa keluar hingga Fajri pergi dari depan ruang rawat Nabila. Dia berdiri hingga pagi karena Beno malah tertidur pulas.
Saat Beno bangun dan menatap rekannya sedang melipat tangan, dia menggosok matanya dan menggeliat. Fajri menendang kakinya dan pergi ke kantin untuk membeli kopi. Sementara Beno hendak masuk ke kamar mandi kamar rawat Nabila. Wisnu buru-buru mencegahnya.
"Ada apaaaa?" tanya Beno yang sudah tak bisa menahan ingin kencing.
"Rusak! Toiletnya rusak!" ucap Wisnu.
Beno buru-buru pergi ke kamar mandi yang cukup jauh. Wisnu segera mengetuk pintu kamar mandi dan menyuruh Hasna dan Vino yang terkantuk menunggu, untuk keluar.
"Cepet, mumpung Fajri ke kantin" seru Wisnu.
Vino memegang tangan Hasna dan membawanya keluar. Mereka mempercepat langkah kaki mereka. Namun sayang, Fajri keluar secara tiba-tiba dari lift. Vino langsung memeluk Hasna dengan posisi membelakangi Fajri yang lewat.
Fajri menatap mereka namun tak bisa melihat wajah mereka. Dia mengerutkan dahinya merasa heran dengan mereka. Namun mendengar suara tangisnya, dia berpikir bahwa mereka baru kehilangan seseorang.
Farji berjalan meninggalkan mereka. Dia mengumpat karena tak melihat Beno di kursi. Kemudian memeriksa Wisnu yang masih duduk di samping Nabila yang masih tidur.
Hasna dan Vino sudah masuk ke lift. Fajri melihat ke arah mereka tadi, tapi tak melihatnya. Sementara itu, Fajri masuk ke kamar mandi ruang rawat Nabila.
Beno yang sudah keluar dari kamar mandi, langsung kembali ke tempat duduk. Dia menganga menatap Fajri yang baru saja keluar dari kamar mandi yang dikatakan Wisnu sedang rusak.
Fajri meraup wajah Beno yang menganga, dia duduk dan meyeruput kopi dengan nikmatnya.
"Tadi, katanya rusak!" ucap Beno.
"Rusak? Kata siapa? aku pakai, lancar kok!" jawab Fajri.
"Wisnu, makanya aku ke kamar mandi di sana!" ucap Beno menunjuk.
Fajri berpikir, dia melihat ke arah lift. Dia ingat dengan pria dan wanita yang saling memeluk. Dia juga berpikir Wisnu menyembunyikan sesuatu. Namun dia hanya bisa menghela.