
Hasna sampai di depan lapas. Matanya menatap ke arah para petugas lapas yang berlarian. Ada yang keluar dan ada juga yang sibuk menelpon.
Fajri yang datang setelahnya pun terheran menatap mereka yang seolah ada keributan. Fajri mendekati Hasna.
"Ada apa? " bisiknya di sisi Hasna.
Hasna menoleh dan menatap Fajri kemudian menggelengkan kepalanya.
Fajri menarik tangan seorang petugas yang berlari ke arah mobil dekat dengan mereka.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian panik? " tanya Fajri.
"Seorang warga binaan wanita membakar diri di dapur. Semua orang panik" jawabnya.
Fajri langsung menatap Hasna. Mereka berlari menuju kantor depan.
Seorang petugas yang biasanya menerima permintaan kunjungan, menahan mereka sebelum masuk. Fajri dan Hasna diam, mereka tahu, mereka tak bisa masuk begitu saja ke sana.
"Siapa? Siapa yang membakar diri? " tanya Hasna dengan terengah.
Petugas itu menatap Hasna dan diam sejenak.
"Tidak tahu, kami belum bisa katakan apa yang terjadi" ucapnya.
"Nunik dan Wulan baik-baik saja kan? " tanya Hasna.
Petugas itu kembali diam kemudian mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Sebaiknya kalian pergi. Tidak ada jam kunjungan hingga perintag selanjutnya diturunkan"
Petugas itu menunjuk ke arah pintu keluar. Mereka berjalan perlahan dan berhenti di depan, memandangi ke arah dalam.
"Kau tidak berpikiran buruk seperti aku kan? " tanya Fajri.
Hasna menoleh padanya kemudian menelan salivanya.
"Aku berusaha untuk tidak berpikir" jawab Hasna seraya mengalihkan pandangan nya.
"Tapi aku tetap takut wanita yang mereka maksud adalah Nunik"
"Cukup, aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang" Hasna menyela ucapannya.
Tak berapa lama, sebuah blangkar berjalan di iringi beberapa petugas yang mendorongnya. Tubuh wanita yang membakar dirinya itu keluar dan dibungkus daun.
"MINGGIR! " teriak seorang petugas.
Hasna yang masih diam, ditarik lengannya oleh Fajri. Mata Hasna tetap fokus melihat wanita itu.
"Siapa dia? Katakan padaku! SIAPA DIA? "
Hasna histeris, dia melihat bagian celana yang tidak terbakar yang dipakai wanita itu adalah celana yang dia berikan pada Wulan.
Fajri menarik tangan Hasna yang berusaha membuka daun yang menutupi wajah korban.
"Tenangkan dirimu! " ucap Fajri.
"Aku memberikan celan itu pada Wulan, tolong tanyakan pada mereka. Aku mohon, katakan bahwa itu bukan Wulan" Hasna menangis.
"Baiklah, aku akan menanyakannya. Tapi kau tetap di sini" pinta Fajri.
Hasna menunggu. Tapi tatapan matanya tertuju pada seorang wanita yang menangis di ujung ruangan dalam.
"Wulan! " ucap Hasna.
Bukan Wulan yang membakar dirinya. Hasna lega kemudian tersenyum. Tapi gerakan mulut Wulan membuat senyum Hasna buyar.
Hasna berbalik ke arah ambulans, dia berlari setelah menyadari arti gerakan bibir Wulan. Yang membakar diri adalah Nunik. Hasna hilang kendali dan menghentikan blangkar itu masuk.
Fajri tak bisa menghentikannya. Tangan Hasna langsung membuka daun yang menutupi wajah Nunik yang hangus. Hasna terduduk lemas, dia sudah memastikan bahwa wanita itu adalah Nunik.
Para petugas memasukkan blangkar itu ke ambulans dan pergi. Sementara Hasna masih diam terduduk ditemani Fajri yang diam melihatnya.
***
Di kantor.
Hadi masuk ke ruangan mereka dan hendak duduk setelah dia kembali dari membeli kopi panas. Tapi dia tak jadi duduk dan menjatuhkan gelas plastik berisi kopi panas di tangan nya.
Matanya menatap ke tubuh Bayu yang terkapar di dalam ruang tahanan.
Hadi berusaha menenangkan diri dengan beranggapan Bayu sengaja melakukannya. Dengan perlahan dia melangkah mendekat ke dekat pintu dan memperhatikan tubuh Bayu.
"Astaga! Apa dia mati? "
Hadi semakin panik, dia melihat busa keluar dari mulut Bayu.
"SESEORANG BANTU AKU, PANGGIL AMBULANS! " teriak Hadi.
Dengan gemetar dia membuka ruang tahanan itu. Dan selalu gagal. Tak berapa lama seorang petugas lain membantunya. Mereka memeriksa keadaan Bayu.
"Ku rasa dia sudah mati" ucap teman nya.
Hadi menatap temannya dengan gelisah.
"Fajri pasti akan mencekik ku" gumamnya.
Mereka saling menatap dalam diam. Tak berapa lama, petugas lain ikut masuk dan memeriksa.
Hadi keluar dari ruang tahanan untuk menghubungi Fajri, namun tak dijawab nya. Dia kembali menatap tubuh Bayu yang masih terkapar. Hela nafasnya semakin keras mengingat dia sudah meninggalkan Bayu sendirian tadi.
"Aku benar-benar sial! " gumamnya.
***
Di sebuah lorong sepi yang diapit pertokoan.
Nina mundur perlahan sambil menatap pria yang mendekat dengan perahan juga padanya.
"Kau mau apa? " tanya Nina dengan suara parau hendak menangis.
"Kau tahu, kau tidak bisa melakukan apa yang perkumpulan minta" ucap pria dengan jas rapi itu.
"Aku menelpon mu agar aku bisa kembali dan melakukan permintaan perkumpulan" ucap Nina dengan gemetar.
"Tidak, itu tidak perlu" jawab pria itu dengan ekspresi datar.
"Aku mohon, bawa saja aku ke perkumpulan sekarang. Aku akan melakukan apapun, asalkan kalian bisa melepaskan kedua orang tua ku" Nina memohon.
"Bayu juga mengatakan hal yang sama tadi. Tapi perkumpulan meminta agar kalian semua mati hari ini"
Mata Nina membulat mendengar pria itu telah mendatangi ayahnya.
"Apa yang kau lakukan pada ayah ku?" Nina marah.
"Aku meminta dia meminum racun. Dan dia meminumnya setelah meminta keselamatan mu yang jadi jaminannya" jawab pria itu.
Nina tumbang, dia jatuh terduduk, lemas mendengar ayahnya telah tiada.
"Ku rasa ibu mu juga sudah membakar dirinya sendiri" ucap pria itu.
Nina menangis histeris.
"Tidak, tidak mungkin! " Nina tak bisa mengendalikan diri.
Dia mendekat dan meraih jas pria itu dan menariknya berkali-kali. Memukul dada dan lengannya dengan sekuat tenaganya.
"Kalian membunuh kedua orang tua ku! " seru Nina.
Tapi pria itu tak bergeming. Dia diam saja dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Sekarang minumlah ini, kau akan menyusul mereka secepatnya" ucap pria itu.
Nina mundur, dia menatap dengan ketakutan melihat botol kecil berisi racun yang dia tunjukkan.
"Tidak. ..!" ucap Nina menolak.
"Kalian semua harus mati" ucap pria itu seraya mendekat perlahan.
Nina semakin munduk hingga dia tak bisa lagi bergerak karena jalan buntu.
Pria itu meraih tangan nya, Nina melawan. Namun sayangnya Nina kalah kuat. Pria itu menekan kedua tangannya kebelakang hingga dia terduduk dengan wajah menengadah ke atas karena rambutnya ditarik.
Seorang pria lain datang dan membantunya memasukkan racun ke mulut Nina. Seketika Nina menelannya. Pria itu melepaskannya dan membiarkannya merangkak dengan tangan memegang lehernya.
Nina merasakan panas di tenggorokannya, dia merangkak menjauh dari mereka yang juga pergi meninggalkan nya. Air matanya jatuh saat dia tak kuasa merasakan racun merasuk ke dalam darahnya.
Mata Nina terbuka dengan satu tangan memegang lehernya, dan tangan lainnya seolah meraih kepergian kedua pria itu.